Menjadi Korban

1335 Kata
Baca sampai halaman terakhir ya, selamat membaca ^⁠_⁠^ *** Hari-hari menyakitkan harus dilewati oleh Namari meskipun begitu berat. Hatinya masih belum ikhlas perihal suaminya yang menceraikannya begitu saja. Namari masih tidak menyangka bahwa ia menjadi istri kedua dari lelaki bernama Hilmi itu. "Nana, ini Hayi nangis. Coba kamu kasih ASI dulu," suruh Herliza. Namari menggeleng, "Air s**u aku gak keluar lagi, Bu. Kasih aja s**u formula yang kemarin udah aku beli." "Tapi Hayi gak mau, dia gak terbiasa." Namari menghela napas. Masalah yang ia hadapi saat ini begitu membuat suasana hatinya buruk dan itu berdampak pada produksi air susunya. Namari bahkan jarang mengurus Hayi maupun Rajen, semuanya ia serahkan pada Herliza. "Nak, kamu gak bisa seperti ini terus. Rajen dan Hayi gak punya salah. Mereka masih kecil dan gak ngerti apa-apa, kamu harusnya jangan dendam sama mereka." "Siapa yang dendam sih, Bu? Aku cuma gak sanggup aja lihat mereka, mereka itu darah dagingnya Mas Hilmi. Laki-laki yang udah menyakiti aku. Kalau lihat mereka aku tuh sedih, aku jadi terbayang lagi gimana manisnya Mas Hilmi waktu itu. Aku jadi susah lagi mau ikhlas tuh," gerutu Namari. "Hey, sadar Nak. Kamu itu udah dikuasai dendam. Anak-anak kamu tidak bersalah." "Udah deh, Bu. Jangan bikin aku nanti malah jadi benci anak-anak. Kayaknya aku bakalan ambil tawaran Andra buat kerja di kota," ujar Namari dengan mantap. "Namari!" hardik Herliza marah. "Terus mau gimana, Bu? Aku udah gak mungkin mengandalkan uang yang dikasih sama Mas Hilmi. Uang itu buat Rajen sama Hayi aja. aku juga perlu uang, Bu. Aku juga mau senang-senang," pekik Namari kemudian meninggalkan Herliza yang terdiam dan hanya bisa menghela napas. ___ Namari dengan semangat mengemas baju-bajunya ke dalam tas besar. Sore ini ia akan berangkat untuk mencari pekerjaan di kota. Di sampingnya ada Herliza yang sudah pasrah dengan anak perempuannya itu. Namari benar-benar keras kepala, seperti ayahnya yang saat ini sudah meninggalkan Herliza. "Na, kamu yakin dengan keputusan kamu?" Namari mengangguk, "Aku kalau di sini terus gak akan maju, Bu. Rajen dan Hayi akan semakin tumbuh besar dan biaya buat mereka gak sedikit. Aku gak akan bisa untuk mengandalkan uang yang dikasih Mas Hilmi terus, lagian dia juga udah punya anak lain, Bu. Pasti nanti juga dia akan lupa sama Rajen dan Hayi." "Ya sudah, Ibu gak akan bisa memaksa kamu karena kamu ini memang keras kepala. Tapi Ibu mohon ya, sering-sering pulang dan tengok anak-anak kamu. Mereka masih butuh kamu sebagai ibunya." Namari mengangguk, "Pasti, aku juga akan rajin kirim uang buat keperluan mereka kok." Tiba-tiba suara tangisan terdengar dari luar, Namari begitu hapal itu adalah suara Rajena, anak pertamanya. "Ibu..." panggil Rajena, dengan cepat Namari menemui Rajena dan melihat anak lelakinya menangis. "Kenapa anak Ibu?" tanya Namari. "Ibu mau pergi ya?" tanya Rajena dengan tangisan yang masih belum berhenti. "Ibu harus kerja, sayang." "Ibu bakalan pergi kayak Ayah ya?" Namari menggeleng, "Gak sama sekali, sayang. Ibu akan sering pulang kok. Nanti kalau Ibu pulang, Ibu akan bawa baju baru yang bagus untuk Rajen dan Hayi." "Tapi Rajen gak mau pisah sama Ibu, Rajen gak mau kehilangan Ibu lagi." "Duh sayang, dengerin Ibu. Kita itu butuh uang, Ibu harus kerja karena Ibu udah gak sama Ayah lagi." "Rajen gak bisa ikut?" "Gak bisa, sayang. Nanti kalau Ibu kerja yang jagain Rajen siapa? Di sini kan ada Nenek, jadi nanti Rajen sama Nenek ya jagain adik Hayi juga." Saat Rajen masih menangis, suara ketukan pintu terdengar. Hayi melihat bahwa itu adalah Andra, sahabatnya sejak ia duduk di bangku putih biru. Wanita dua anak itu langsung menyuruh sahabatnya masuk. "Sini masuk dulu, Andra. Sebentar ya, ini Rajen nangis. Katanya gak mau aku tinggal." Andra mengangguk lalu tersenyum, "Masa jagoan nangis sih. Kan kalau ibunya kerja nanti enak bisa punya uang buat beli mainan dan baju baru yang banyak. Nanti Rajen bisa jajan eskrim yang banyak, Ibu nanti beli kulkas buat tempat eskrimnya." Mendengar kata eskrim, mata Rajena berbinar. Ia sangat menyukai makanan manis nan dingin itu. "Eskrim?" "Iya, nanti Rajen bisa sepuasnya makan eskrim." "Hm, kalau gitu Ibu boleh deh kerja. Tapi Ibu janji ya beliin mainan, baju baru dan eskrim sering-sering buat Rajen?" Namari mengangguk, "Ibu janji, sayang." Setelah itu Namari berpamitan pada Herliza karena ia harus segera pergi. Wanita itu menggendong Hayissa, bayi yang sudah berumur empat bulan itu. Matanya berkaca-kaca ketika ia harus meninggalkan bayinya ini. Tapi ia pun tak bisa terus di sini karena ia akan teringat dengan semua kenangannya bersama Hilmi. "Bu, aku titip anak-anak ya. Doakan aku supaya aku sukses, nanti Ibu dan anak-anak aku bawa tinggal sama aku." Herliza mengangguk lalu memeluk anak semata wayangnya itu, "Jaga diri di sana ya. Jangan sampai sakit." "Andra, Ibu titip Namari sama kamu ya. Tolong jangan biarin dia makan pedas terlalu banyak, pokoknya kalau dia udah keterlaluan kerja tolong ditegur." "Siap Ibu, nanti aku marahin kalau Namari nakal," ujar Andra. Setelah itu Namari benar-benar pergi dari sana, meninggalkan kedua anaknya yang masih sangat membutuhkan dirinya. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa, tapi harus menjadi korban peliknya kisah cinta kedua orang tuanya. ___ Sudah satu tahun lamanya Namari berada di kota, namun perempuan itu masih belum mendapatkan pekerjaan. Ia malu untuk pulang ke rumah ibunya. Selama ini ia hanya tinggal di apartemen milik Andra, seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Andra. Ternyata sahabatnya itu adalah seorang pengusaha yang meneruskan bisnis orang tuanya, rumah yang lelaki itu tinggali di desa adalah milik kakek dan neneknya. Saat ke desa memang penampilan Andra tidak mencerminkan seperti orang kaya, makanya Namari tidak tahu jika sahabatnya ini adalah seorang pengusaha. Dulu saat SMP Andra tinggal di sana bersama kakek dan neneknya, maka dari itu mereka bisa satu sekolah dan menjadi sahabat. Orang tua Andra dulu terlalu sibuk hingga akhirnya Andra harus tinggal di desa. "Andra, tapi kenapa kalau kamu di desa tuh kayak biasa aja gitu. Gak menunjukan kalau kamu adalah pengusaha?" tanya Namari penasaran. "Gak ah, di desa kita tuh seram. Mereka suka pinjem uang hahaha. Nanti ditagih pada gak mau ganti, aku kan dulu udah lihat pengalaman Nenek yang suka kasih pinjam uang." "Ih kamu tuh! Tapi gimana ya, Ndra. Udah setahun aku masih belum dapat kerja dan aku gak pulang ke rumah. Aku beneran malu." "Gak apa-apa, kan aku yang bantu kirim uang buat anak-anak kamu." "Aku gak enak." "Enakin aja lah..." "Kamu gak ada lowongan kerja gitu di kantor kamu? Jadi tukang bersih-bersih aja gak apa-apa." "Ada sih." "Eh, aku mau.." "Jadi istri aku," jawab Andra serius. "Ah kamu tuh becanda terus!" "Aku serius, Nana. Coba sini," ajak Andra pada Namari lalu membawa wanita itu untuk duduk di pangkuannya. "Aku serius aku cinta sama kamu dari lama. Bahkan aku rela menunda untuk menikah demi nunggu kamu. Aku hampir putus asa saat tahu kamu sama Hilmi menikah, tapi akhirnya penantian aku gak sia-sia ternyata Hilmi melepaskan kamu." "Aku udah pernah menikah, Andra." "Dan akhirnya bercerai kan?" "Aku ada anak-anak." "Aku gak peduli, menikah sama aku ya, Na? Kita mulai hidup baru yang indah dan bahagia." Nana menatap Andra dengan serius. Sejujurnya satu tahun belakangan ini ia juga terbawa perasaan akan sikap Andra padanya. Ia suka saat Andra memperlakukannya bagaikan ratu. Namari meletakan kedua tangannya di bahu Andra, posisinya masih ada di atas pangkuan lelaki itu. "Kamu gak masalah sama statusku?" Andra menggeleng, "Aku cinta kamu apa adanya." Akhirnya Namari mengangguk, dengan mudah ia menerima permintaan Andra untuk menjadi istri dari lelaki itu, "Aku mau, Ndra. Tolong beri aku kebahagiaan." Andra tersenyum, kemudian ia menyatukan bibirnya dengan bibir Namari. Lelaki itu memperdalam ciumannya hingga tanpa sadar Namari sudah berada di bawahnya. "Minggu depan kita menikah, tapi aku mau kamu sekarang boleh?" mohon Andra pada Namari. Tanpa ragu Namari mengangguk dan menyetujui permintaan Andra. Ia kalungkan tangannya di leher Andra dan lelaki itu langsung melanjutkan tujuannya. Selanjutnya di ruangan itu, hanya ada suara sahutan desahan nikmat antara Namari dan Andra. Tubuh keduanya bergerak berirama di atas sofa apartemen Andra. Namari dan Andra merasakan perasaan bahagia yang begitu membuncah. Namun Namari tak sadar, jika akan ada korban dari keputusannya ini. Iya, Rajena dan Hayissa akan menjadi korbannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN