Mereka Egois

1030 Kata
Baca sampai halaman terakhir ya, selamat membaca ^⁠_⁠^ ___ Tawa Hayissa terdengar nyaring di telinga Herliza yang saat ini sedang berlari ke sana ke sini di halaman rumahnya untuk mengejar capung. Herliza mengintip dari jendela, ia melihat Hayissa yang begitu bahagia ditemani Rajena. "Abang, bantuin aku tangkap capungnya!" pekik Hayissa pada Rajena. Namun sesaat kemudian ia teringat akan semua janji-janji yang diberikan oleh Namari. Anak perempuannya berjanji akan sering pulang, namun pada kenyataannya hari di mana Namari berpamitan untuk pergi mencari kerja di kota adalah hari terakhirnya ia melihat anaknya itu. Sudah sepuluh tahun berlalu, Namari tak kunjung pulang. Di tahun pertama, Namari masih sering mengirim uang untuk keperluan Rajena dan Hayissa. Tapi setelah itu, Namari bagaikan hilang ditelan bumi. Rajena yang dijanjikan banyak hal oleh Namari harus menelan bulat-bulat janji manis ibu kandungnya itu. Dulu Rajena memang sering bertanya kapan Namari akan pulang, Herliza hanya bisa berkata sabar untuk cucu lelakinya itu. Hingga akhirnya Rajena sudah lelah, anak lelaki itu tak lagi menanyakan kapan ibunya pulang. Herliza tahu, rasa benci sudah tumbuh di hati anak lelaki itu. Puncaknya adalah saat Rajena menurunkan semua foto-foto Namari dan juga Hilmi lalu membakarnya karena ia marah ketika Hayissa menangis saat pulang sekolah karena anak itu dirundung oleh teman-temannya dengan cara dijauhi karena tidak punya orang tua. "Namari, jangan menyesal jika nanti anak-anakmu membenci kamu. Kamu adalah Ibu yang sangat buruk," gumam Herliza tajam. ___ "Nek," panggil Rajena pada Herliza yang sedang memasak telur dadar di dapur. "Kenapa Jen, butuh sesuatu?" sahut Herliza. Rajena duduk di kursi kayu yang ada di dapur, "Kayaknya Rajen mau berhenti sekolah aja, Nek." Herliza mendengar itu langsung membulatkan matanya kemudian ia segera mematikan kompor dan duduk di hadapan cucu pertamanya itu, "Heh maksud kamu gimana?" "Aku tahu, Nek. Keuangan kita lagi memburuk, aku bukan anak kecil lagi. Ayah aku udah gak kirim lagi uang untuk keperluan aku dan Hayi kan? Kebutuhan aku di sekolah juga banyak, Nek." "Jangan dong, Jen. Kamu baru aja masuk SMA. Kamu juga dapat bantuan dari pemerintah buat sekolah, masa harus berhenti?" "Tapi Nek, bantuan kan cuma biaya sekolahnya aja. Sedangkan aku ke sekolah juga butuh uang buat jajan, buat ongkos juga. Belum lagi banyak keperluan buat tugas, semuanya berat di biaya." Herliza mengusap kepala Rajena dengan lembut, "Kamu gak usah pikirin itu, Nenek masih sanggup mencari uang kok buat kebutuhan kamu dan juga Hayi." "Nenek udah tua. Nenek gak bisa kerja yang berat-berat." "Apa sih kamu, Nenek masih kuat. Nenek masih sanggup untuk cari uang, kamu tenang aja ya." Kemudian Rajena memeluk neneknya dengan erat, "Nek, tolong panjang umur ya. Doain Rajen dan Hayi bisa sukses supaya kita bisa balas semua kebaikan Nenek. Kayaknya Rajen bakalan sedih kalau kehilangan Nenek dibanding kehilangan Ayah dan Ibu." ___ Hayissa terlihat santai memakan pisang goreng yang baru saja ia beli di warung depan rumah. Anak perempuan sepuluh tahun itu baru saja tiba ke rumah usai main bersama teman-temannya sejak tadi siang. "Kenapa udah pulang jam segini, Dek? Biasanya kamu pulang kalau Abang nyusulin," ujar Rajena sambil duduk di samping Hayissa. Hayissa menatap Rajena dengan sedih, kemudian menunduk, "Teman-teman aku pada datang ke ulang tahun Melly, anaknya yang punya grosir besar itu. Aku gak diundang." "Kenapa gak diundang?" "Ada yang bilang katanya kalau aku kasih kado selalu yang murah dan jelek, padahal makanan yang didapat di pesta pada mahal." "Siapa yang bilang gitu?" tanya Rajena marah. "Gak tahu, tapi aku dengar ada yang bilang gitu." "Gak usah berteman lagi sama mereka, masih kecil tapi sifatnya udah kayak gitu." "Aku kan emang gak ada teman, semuanya jauhin aku karena aku gak punya Ayah dan Ibu. Tapi aku berusaha buat lupain wajah Ayah dan Ibu biar kalau suatu hari aku ketemu mereka secara gak sengaja, aku gak akan nangis," ujar Hayissa. Rajena langsung merangkul Hayissa, "Jangan nangis, mereka gak pantas ditangisi sama kamu. Selama ada Abang dan Nenek, semuanya akan baik-baik aja." Hayissa mengangguk, "Hayi sedih, tapi lebih sedih kalau gak ada Abang dan Nenek." ___ Herliza memanggil Hayissa dan Rajena untuk makan bersama. Wanita paruh baya itu sudah memasak kangkung dan tahu goreng beserta sambal kecap. Ini adalah menu sehari-hari yang mampu Herliza masak, karena pendapatannya sangat sedikit jadi ia harus berhemat. "Hm.. tahu lagi ya, Nek," keluh Hayissa. Anak umur sepuluh tahun itu memang belum mengerti akan kerasnya hidup. Jadi Herliza maupun Rajena sama sekali tidak marah akan sikap anak itu ketika ia sesekali mengeluh. "Iya, gak apa-apa kan? Nanti kalau uang Nenek ada lebih kita beli daging ayam ya," ujar Herliza menenangkan. "Kalau aja Ibu dan Ayah gak pergi, mungkin aku bisa makan enak ya, Nek? Aku bisa dirayain ulang tahunnya," keluh Hayissa sambil menuangkan nasi ke atas piring. Rajena tak berkomentar. Ia paham Hayissa masih kecil dan belum sepantasnya dihadapkan dengan hidup sekeras ini. Anak seusia Hayissa masih membutuhkan Ayah dan Ibunya. Harusnya Hayissa bisa mendapatkan apapun yang ia mau andai saja kedua orang tuanya tidak bercerai. Rajena jadi teringat hal-hal yang sudah terjadi beberapa tahun ke belakang saat Hayissa masih berumur enam tahun. Anak itu menangis hebat karena tidak mau makan dengan telur goreng. Hayissa ingin jajan sosis bakar yang biasa teman-temannya beli, namun saat itu Herliza benar-benar tidak ada uang. Semua uangnya telah habis untuk membeli beras dan membayar listrik. Rajena hanya bisa menangis mendengar tangisan pilu Hayissa. Bagaimana anaknya menangis hingga suaranya serak hanya karena ingin jajan sosis bakar. Akhirnya Rajena langsung merelakan sisa uang jajannya untuk membelikan Hayissa makanan itu. Setelah membelinya, Hayissa kembali tersenyum dan makan dengan lahap. "Makan dulu yang ada, di luaran sana masih ada orang yang gak bisa nemu nasi. Kita harus berterima kasih sama Nenek, karena ada Nenek kita masih bisa makan," ujar Rajeno dengan tegas. Hayissa mengangguk, "Terima kasih, Nenek. Maaf ya Hayi selalu ngeluh." Herliza tersenyum, "Gak apa-apa, maaf juga Nenek gak bisa masak makanan kesukaan Hayi ya." "Hayi suka kok kangkung dan tahu goreng," ujar Hayi berusaha menghibur sang Nenek agar tidak merasa bersalah lagi. Rajena tersenyum kecut. Sumpah demi apapun Rajena tidak akan pernah memaafkan Hilmi dan Namari. Jika suatu saat mereka membutuhkan dirinya dan Hayissa, maka ia tidak akan membantu dan ia juga tidak akan membiarkan Hayissa membantu mereka. Mereka terlalu egois dan Rajena membenci itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN