10. Pasar Festival

2707 Kata
            Memenuhi perjanjian tidak tertulis tadi pagi itu membuat Rika sudah berada di dapur Zain dengan celemek dan sarung tangan karet yang dimasukkan dalam kantong celemek untuk acara bersih-bersih rumah Zain.             “Aku semakin tenggelam Zain pake apron ini,”sungut Rika kesal karena tubuh mungilnya mengilang tertutup celemek hitam yang dipasangkan Zain.             Sambil memakai apron nya sendiri Zain melihat dan memeriksa keadaan Rika. Seketika Zain mengambil ponsel dan berusaha untuk memotret Rika. “ Rika...cepat bawa sapu di tangan kanan mu dan lap di tangan kiri, lalu berposelah seperti ini,” ujar zain sambil memperagakan pose kepada Rika yang bibirnya sudah semakin maju akibat kesal kepada Zain.             “Mau apa sih Kamu?” tanya Rika yang belum tahu maksud Zain menyuruhnya seperti itu.             “Tutup mata Rik!” ucap Zain lagi.             “Jangan macam-macam kamu Zain”             “Satu macam aja Rikaa...”             “1 ... 2 ... 3 ... Oke selesai!” ucap Zain ketika sudah berhasil mengambil foto dan menyembunyikan ponselnya kembali. Menjadi kejutan buat Nona Jepang nanti.             “Oke kita mau bersihin mana dulu Zain?” tanya Rika yang sudah siap dengan sapu dan lap nya.             “Mulai dari kamar deh abis itu ruang tamu dan dapur, abis itu ngepel dan setelah itu kita makan, gimana?”             “Asal dibantuin ga masalah”             “Iya dong, ga tega lah Aku juga” Rika memulai dari kamar Zain, kamar yang rapih untuk ukuran lelaki single. Satu Bed King Size  tanpa ranjang lalu lemari dan matras diatas karpet bulu. Rika mengagumi interior kamar Zain yang begitu rapih dan chic. Tempat tidur berada di dekat jendela besar dan yang membuat hal itu unik adalah perbedaan level ketinggian didalamsatu ruangan yang sama.             Rika merebahkan diri di kasur Zain, menatap langit ruangan yang didominasi warna coklat khas kayu. “ Kamar cowo rapih begini, apa kabar kamar gue yang super berantakan itu” lirik Rika pelan.             “Terima kasih atas pujiannya...,” sahut Zain. “Kamu ngapain Rik, bukannya bebersih malah tiduran,” sambungnya lagi lalu mendekat ke arah Rika.             “Hehehe ... Bentar dong Zain, enak rebahan di kasur kamu,” ucap Rika tanpa  malu.” Kamar kamu rapih amat sih, jadi malu Aku,” sambungnya lagi tanpa beranjak dari kasur Zain.             “Kamar kamu pasti berantakan ya. Kamu nya aja slebor begini,” jawab Zain menyombongkan diri.             “Iya, hahaha! Beberes kamar itu kalo kerjaan aku dah selesai, jangan ada yang ngerapihin kamar Aku kalo belum Aku suruh”             “Kok gitu?” tanya Zain sambil merebahkan diri juga di samping Rika.             “Proses otak Aku itu, sebenarnya Aku sedang Mind Mapping, membuat peta dalam otakku dan kamar yang terlihat berantakan lah hasilnya”             “Maksudnya memetakan pikiran kamu itu untuk memecahkan masalah?”             “Betul sekali, Kok tau?”             “Baca buku lah, karena di perusahaan ada istilah Mind Mapping juga kan,sesuai prinsip Kaizen”             “Kaizen banyak mengajarkanku, tapi seharusnya tidak seberantakan itu. Setiap orang memiliki hal unik untuk menginterpretasikan sesuatu dan begitu pula Aku”             “Kamu dan cara befikirmu memang unik. Tapi jika semua itu adalah kesuksesan, maka Kau seharusnya tidak berfikir itu masalah”             “Tapi kalo ngebandingin rapihnya kamarmu dengan berantakannya cara proses otak ku jadi bikin minder juga Zain”             “Ha ha ha, karena itulah dirimu Rik, ga akan bisa sama ma orang lain,” jawab Zain sambil tertawa yang diikuti pula dengan tawa Rika.             “Aku ingin mencium mu Zain setelah itu kita beberes, boleh?” ujar Rika yang langsung mendapat perhatian Zain.             “Kalo bilang ga boleh terus Kau mau apa?”             “Paling maksa, anggap aja bayaran buat tenagaku hari ini,” kekeh Rika sambil mengerlingkan mata.             “Heiiii ... ini saja sudah hukuman atas perjanjian yang tadi, masih mo nyangkal pula,” ucap Zain sambil menggelitik Rika.             “Ampun ... ampun Zain .... ga kuat Aku!” pinta Rika agar Zain berhenti menggelitikinya.             Akhirnya Zain berhenti tepat pada saat Rika berlabuh di dadanya. Dengan satu gerakan pelan Rika mendekatkan tubuhnya agar sejajar dengan mata Zain, menghirup aroma Zain dalam-dalam dan memetakannya dalam ingatan. Rika mencium sekilas saja bibir Zain lalu menjauhkan diri dan mengucapkan “Terima kasih. Karena membiarkanku melakukan ciuman pertamaku dengan  lelaki yang ku suka,” ujar Rika dengan senyum yang menawan.             Zain hanya terpaku, menyerap semua tindakan manis Rika pada dirinya, agresif memang tapi Zain suka. Namun instingnya sebagai lelaki tidak akan menerima begitu saja perlakuan Rika tersebut. Ego nya sebagai pria akan tersentil jika membiarkan Rika yang sudah dalam perangkap dibebaskan begitu saja, namun ini adalah ciuman pertama Rika dan Zain sebagai lelaki sejati harus hati-hati jika ingin menyempurnakan arti ciuman sebenarnya, yaitu dengan satu tindakan tipikal lelaki, membalas. Maka jarak yang dibentangkan Rika sesaat setelahnya direkatkan kembali dengan mengambil satu tindakan tegas yaitu menarik pelan tengkuk Rika untuk memberikan ciuman yang dalam.             “Ini baru Ciuman Pertama...,” sahut Zain menggoda tapi memakai ekspresi datar,” Ayo kita beberes, biar cepet beres Aku dah lapar soalnya,” sambung Zain dengan perintahnya.             “Siap Bozzz...” Mereka membersihkan kamar itu dengan cepat lalu melanjutkannya ke area ruang tamu dan dapur. Setelah menyapu dan mengepel akhirnya mereka membuka nasi padang bungkus yang sudah mereka beli sebelumnya.             “Aku lapar sekali Zain...”             “Sama aku juga,” sambil membuka celemeknya dan celemek Rika. Dan ketika membantu Rika membuka celemek, Zain mencium bau harum rambut Rika,” Kau pake shampoo apa sih? Enak wanginya,” ucap Zain sambil mengambil kepangan kuda rambut Rika dan menciumnya.             “Wangi ya ... Shampo dari Jepang, kebetulan cocok buatku. Kau suka wanginya?”             “Iya ... jangan ganti-ganti ya, wanginya unik kaya Kau” ujar Zain yang sudah sangat santai sekarang memperlakukan Rika.             “Romantis juga Kau ya ... sampai shampo aja ga boleh ganti, pusing tau belinya, melewati banyak negara,” ledek Rika.             “Nanti kalo lakinya ga romantis curhat lagi di medsos ... terus aku jadi gunjingan ibu-ibu dan bapak-bapak seantero Jambi ini,” balas Zain tak kalah sengit.             “Hahahaha ... Lucuuuu banget cowok gue ya ampuuunnn...!” teriak Rika sekencang-kencangnya tanda kesombongan.             “Udah ayo makan ih ... Aku lapar!” perintah Zain agar Rika diam dan meneruskan makannya. ............             Setelah makan siang bersama, Zain dan Rika memutuskan untuk jalan-jalan ke Pasar Festival yang semakin malam semakin ramai dikunjungi. Bagi Zain Pasar Festival   tahunan ini juga sebagai ajang silaturahim dengan masyarakat sekitar. Menyapa para tetua desa adalah hal rutin yang Zain lakukan, namun yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya adalah keberadaan Rika. Dari kejauhan Rika melihat interaksi Zain, hanya memandangnya dan tersenyum, “Lelakiku ini memang berbeda,”batin Rika yang senang dan terharu karena melihat lambaian tangan Zain untuk memperkenalkannya.             “Aku...?”ucap Rika tanpa bersuara dan hanya mengarahkan telunjuk ke dadanya.             Zain melambaikan tangan dengan instruksi mengajak ke arah Rika,”Iya ... Kesnii...!” perintah Zain tanpa mengeraskan suara lalu tersenyum setelahnya karena melihat Rika berjalan ke arahnya.             “Pak Muchtar, Pak Anwar, Pak Mustofa, Bu Aini,Bu Rohimah...perkenalkan ini Rika, atasan saya dari Jakarta,”ucap Zain yang mendapat cubitan langsung di pinggang Zain.             “Awwww ... sakit Rik,”sengit Zain pelan karena malu jika terdengar oleh para tetua desa.             “Selamat malam Bapak, saya Rika,” salam hangat Rika kepada tetua desa.             “Nak Rika, ayo duduk kita ngobrol-ngobrol sebentar,” ujar salah satu Ibu dengan ramah.             “Bu Rika maunya disuguhin makan Bu Aini,”ucap Zain asal yang kali ke dua dapat tatapan tajam dari Rika.             “Hahahaha...Iya-iya, masa tamu ga disuguhin ya,” jawab Bu Aini yang langsung ambil makanan ke stand makanan kepunyaannya.             “Ga usah Bu ... Beneran, Zain iseng aja itu,” balas Rika sambil tertawa.             “Ga papa Nak Rika, baru kali juga Zain bawa gadis ke sini jadi ya kita harus menyambutnya. Btul kan Bapak-bapak dan Ibu-ibu...,” sahut Bu Aini yang mendapat ucapan setuju dari para tetua yang lain.             “Aduh Bu, saya jadi merepotkan ini.”             “Engga kok, Nak...”             Malam hari itu dilalui dengan percakapan ringan namun berbobot versi Rika, karena jujur saja Rika baru mengalami suasana hangat penuh keakraban seperti ini. Rika sering ke perkebunan kopi di negeri ini, namun tak pernah sekalipun mengetahui adat dan kebiasaan atau budaya sekitar seperti saat berada di sini. Semua karena Zain memberi kesempatan bagi Rika untuk menambah pengalaman hidupnya, mencerahkan perjalanan dengan sisi yang belum terjamah. Mungkin bagi Zain hal ini adalah suatu hal yang biasa, namun bagi Rika maknanya sangat dalam. Rika yang terbiasa hidup dalam suasana kompetisi di keluarganya mengakui kurang dalam hal kehangatan antar keluarga. Tapi tetap rasa syukur diatas rasa sesal harus ditumbuhkan. Kekurangan adalah satu lubang yang harus dilengkapi, diisi, oleh siapa saja, positif itu yang pasti.             “Apa Kau merasa bosan?” tanya Zain saat menuju pulang dari pasar Festival.             “Sama sekali tidak. Justru Aku merasa kurang. Ingin lagi merasakan suasana hangat seperti itu,” jawab Rika sambil tetap menggenggam tangan Zain yang lebih besar darinya.             “Kamu kok kecil banget kaya gini sih Rika?” tanya Zain sambil memperhatikan lengan Rika yang berada di dalam genggamannya.             “Kamu yang ketinggian Zain, ukuran Aku normal tau, 164 cm berat 50 kg,”balas Rika lantang.             “Oh iya ya...Bener juga. Aku 178 cm, berat 70 kg. Aku ideal kan ya?”             “Kamu kegantengan Zain. Aku insecure tau.” Jujur Rika yang selalu Zain suka.             “Iya sih Aku tau, banyak yang bilang juga.”             “Nyesel Aku muji ... sumpah!”             “Ga usah nyesel, kamu hanya harus terbiasa,” jawab Zain dengan gaya sombongnya.             “Sombonggg beneeeerrr Bapak yaaaa.”             “Aku ga sombong Rik ... tapi fakta.”             “Iya tapi ga harus dipertegas juga Bapak.”             “Hahahaha ... Aku becanda ko Rik. Aku yang insecure sebenernya, berada di samping kamu yang notabene adalah Bos Aku. Ga ada sedikitpun mencoba mengambil perhatian kamu atau memanfaatkan hubungan kerja kita untuk merambah hal pribadi sebenernya. Aku ga tau apa yang sebenernya terjadi, tapi Aku rasa nyaman sama kamu. Aku harap kamu juga,” jelas Zain dengan wajah datar super seriusnya.             “Atasan dan bawahan hanya berlaku untuk di kantor dan lemari Zain.”             “Kok lemari?”             “Iya ... Atasan kaos dan bawahan rok atau celana. Bener kan Aku?”             “Huuuuu...,” kesal Zain yang melayangkan jitakan ke kepala Rika.             “Jangan macam-macam Zain ... Aku SP kamu.”             “Bodo amat...”             “Hahahhaha,” tawa Rika sambil tetap mengayunkan gandengan tangannya dan tangan Zain.             Bagi Zain, bersama Rika adalah suatu hal biasa yang menjadi kebiasaan. Karena sering mengerjakan pekerjaan bersama, ngobrol lama, membuat Zain merasa nyaman dekat dengan Rika. Ajakan bahkan ide untuk menjalin kasih pun sejak awal bukan menjadi tujuan bagi Zain. Ketertarikannya dengan Rika baru sebatas rekan kerja, namun saat ini ada hal yang membuatnya lebih dari sekedar rekan. Rika membawa alur tersendiri bagi alur hidup Zain Al Fatih. Zain belum bisa mendefinisikan itu cinta, namun yang pasti dia tertarik dan ingin terus tertarik dalam pusarannya.             “Aku balik ke Jakarta lusa Zain. Kamu antar aku ke bandara kan?”             “Pasti Rik. Jam berapa penerbangannya?”             “Jam 7 malem, tapi harus disana mungkin jam 5 an ya?”             “Iya siip. Jadi kesempatan kita hanya sampai besok dong?”             “Kesempatan apa?”             “Kesempatan untuk sama-sama. Kita main yuk besok?”             “Main kemana?”             “Percaya aja sama Aku. Kejutan.”             “Okelah. Jam 7 pagi besok?”             “Siap. Sekarang Aku antar ke motel?”             “Masih pengen sama Kamu sih sebenernya...,” ragu Rika karena memang jujur Rika masih sangat ingin bersama Zain. Malam yang cerah ini tidak akan dilewatkan begitu saja bagi Rika di kamar motel. Sedangkan dia tahu ada lelaki ganteng di sampingnya saat ini. Ragu memang, apakah Zain juga merasakan hal yang sama?.             “Sama ... hehehhe,” sahut Zain.”Kita ngopi yuk Rik? Mau?” sambungnya lagi.             “Mau...,”tegas Rika yang akhirnya mendapat jawaban dari ragunya.             Zain mengajak Rika ke warung kopi yang sangat otentikal. Gaya warung ini sangat didominasi dengan pahatan alur kayu mahoni. Kopi yang disuguhkan pun tak kalah nikmat dengan yang biasa Zain buat. Snack yang menemani sang kopi pun tak kalah dahsyat, makanan tradisional desa kayu aro seperti lemang tapai pun menjadi suguhan unik. Belum lagi panganan keripik membuat suasana menjadi meriah.             “Cakep kali lah kedainya...betul kan Zain?”             “Iyalah ... Lihatlah alur corak kayu Mahoni itu, cakep kan?”             “Iya ih ... kok bisa kek gitu ya...keren banget,”             “Lihat yang punya itu Rik,” sambil menunjuk seorang owner yang sedang melayani di meja tamu tak jauh dari meja Rika dan Zain.             Orang yang dimaksud Zain adalah seseorang bergaya maskulin, nyentrik dengan tato lengan yang sengaja ditunjukan dengan melinting lengan kemejanya, kunciran rambutnya menyatakan bahwa dia adalah seorang yang bebas, kalung perak dileher dan gelang tali di pergelangan tangan memperlihatkan sisi liar dan hangat dalam bersamaan, “Kau kenal dengannya?” tanya Rika penasaran.             “Michael...,”panggil Zain kepada cowok maskulin yang menyita perhatian Rika. Michael mendengar panggilan Zain dan segera menghampiri meja Zain dan Rika.             “Oh, what's up Bro, long time not see you. How are you?” salam Michael.             “I’m good bro. Thanks for asking, and how are you?”             “As like you have seen ... I’m just like this,” Michael dan gaya cuek andalannya.             “Hahaha! This is my girl. ‘Rika this is Michael’.             “Hai Rika!Wawww ... this a big step for you Bro?” ledek Michael yang sengaja ditujukan pada Zain. Michael, Zain dan Abi adalah tim sepak bola sejak di SMA, sempat menjadi liga utama tingkat SMA di Jambi membawa mereka bertiga menjalin sebuah keakraban. Setelah tamat Michael melanjutkan studinya di Belanda, menjadi arsitek seperti cita-citanya. Lalu kembali ke Indonesia karena perceraian orang tuanya. Michael bekerja sebagai arsitek di Jambi dan mempunyai kedai ini sebagai usaha sampingannya. Sama halnya dengan Zain dan Abi, kopi adalah sesuatu yang istimewa untuk Michael.             “Hai Michael, nice to meet you. Love your neckless by the way,” salam Rika sambil mengarahkan kedua tangannya.             “Oh really? You want it Rika?”             “Sure ... If you don't mind.”             “No Im not ... I like you, you are so frankly,”balas Michael yang langsung membuka kalungnya begitu saja dan memasangkannya kepada Rika.             “Thank’s for the honour and thank’s for the neckless,” ucap Rika tanpa malu-mau sambi memperhatikan cantiknya kaung silver ini.             “Lucky you man...!”ledek Michael lagi.             “Hahaha. Thanks ... I am. By the way, You are been invited to Abi's wedding Bro, next month I guess. He will contact you anyway.”             “Cool ... With who? That actress?”             “Yup ... never gave up!”             “Great man ever. I want it also.”             “Just stop being player Bro ... hahahahha!”             “I will ... So you want coffe or something else?”ujar Michael sambil memberi buku menu kepada Rika.             “Rika what do you want pretty?” tanya Michael kemudian.             “Michael, stop seducing my girl man...,” sahut Zain cemburu.             “Hahahha ... Now you’ve got jealous, Man!”             “I want coffee and cake maybe?”ujar Rika sambil tersenyum melihat tingkah kekanakan Zain.             “Sure ... I will take it for you.”             Seseorang unik lainnya selain Zain, dan itu sangat menggemaskan buat Rika,”Zain, bule mana dia?” tanya Rika setelah Michael pergi untuk membawa pesanan mereka.             “Kalo ga salah Belanda-Ambon. Ganteng banget ya Rik?”             “Banget, pasti cewe-cewe naksir berat ma tuh cowo. Player kayaknya tapi,” ujar Rika. Michael memiliki kulit yang sedikit gelap, rambutnya yang ikal keriting panjang dengan wajah menawan memang menjadi magnet.             “Emang, cewe nya mau. Dia sih namanya juga cowo,”jawab Zain memaklumi karena dia juga lelaki.             “Ya tentu. Laki-laki dan hormon nya memang tidak bisa dipisahkan.”             “Hahaha, Aku ga gitu Rik. Janji,” ucap Zain sambil mengerlingkan mata nya.             “Ga usah janji lah. Aku yang ga janji soalnya...hahahha!” urai Rika yang mendapat jitakan kepala dari Zain. Rika dan mulut ceplas ceplosnya memang tiada tandingan. Apa yang di otaknya sepertinya langsung dimuntahkan begitu saja. Untung saja Zain tahu bahwa tidak semua yang dimuntahkan Rika adalah suatu hal yang serius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN