Rencana pernikahan Abi dan Adel sudah sampai ke telinga Zain, hal terbaik dan keputusan terbaik yang Abi lakukan sekarang adalah segera menikahi Adel. Zain bisa bernapas lega jika Abi segera menikah karena kondisi Adel yang sedang sakit mengharuskan Abi untuk terus bersamanya, rasa prihatin yang sangat dalam dirasakan Zain mengingat bahwa kedua orang itu adalah sahabat terbaik Zain, yang selalu ada pada saat-saat tersakit Zain. Mereka berdua adalah orang pertama yang memberikan pelukan pada saat Zain kehilangan Bening, mereka berdua pula lah yang ikut terluka saat mengetahui luka yang diderita Bening.
Jika mengingat persahabatannya dengan Bening, Adel dan Abi yang sudah terjalin sejak mereka berumur 14 tahun sampai sekarang berumur 24 tahun memuat rasa bangga di d**a Zain. Sukar menemukan sahabat sejati dan nyata di jaman yang serba canggih ini, jaman dimana arus komunikasi begitu derasnya sejak diperkenalkannya Internet. Peralihan sistem yang konvensional menjadi digital tak pelak akan memulai prosesnya. Sedikit demi sedikit namun pasti semua sistem di lini kehidupan kita akan berubah dan keharusan beradaptasi adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
Kebiasaan dan petuah lama mungkin akan tergerus seiring waktu, tapi keinginan Zain untuk mempertahankannya pun semakin besar. Salah satu yang dilakukan Zain adalah tetap merayakan Festival Panen Raya, 10 tahun yang lalu Festival inilah yang mempertemukan mereka berempat. Menjalin asa dalam bingkai persahabatan, memperkuat jalinan pertemanan karena rasa saling membutuhkan, merawat hati untuk tidak saling mengecilkan adalah yang mereka lakukan.
Festival ini selalu membangkitkan rasa itu pada diri Zain, banyak yang bilang melankolis, kuno, sampai kata tidak move on disematkan padanya. Faktanya memang seperti itu, Zain tidak ingin mencoba menghilangkan kenangannya bukan karena Bening semata, namun prinsip untuk tetap membumi walau dihujani rayuan langit.
“Minum dulu Rika,” ucap Zain menawarkan kopi hangat untuk menemani malam dingin ini. Mereka duduk diatas bukit untuk melihat dari atas warna warni lampion yang tersebar di area festival.
Rika memperhatikan lalu lalang orang disekitar mereka, anak-anak berkejaran, pemuda dan pemudi yang berkumpul bercanda, tidak ada gadget di genggaman. Semua berbaur, bermain, bersenda gurau. “Aku paham rasanya sekarang, Zain...,”
Zain menengok ke arah Rika dan memperhatikan sosok itu dibawah temaram bulan, dari samping sangat terlihat garis mata khas wanita Jepang, unik,”rasa apa maksudmu?”.
“Saat Kau bilang tidak ingin pindah bukan karena ingin melupakan dan bukan karena seseorang tapi karena suasana ini tidak bisa dibeli dengan apapun. Rasa hangat walau diluar dingin,” urai Rika sambil menyesap kopi yang mulai menghangat.
Masih tetap dengan menatap wajah Rika yang memerah karena dinginnya udara malam ini, “betul sekali. Aku tidak ingin melupakan rasa itu rasa yang sudah terlanjur berakar, karena seperti yang Kau lihat, mungkin ada di tempat lain namun tidak akan sama.”
“Kau benar. Cukup dirasakan dan dikenang, maka kita akan merasa bahagia”
Zain memberanikan diri untuk melingkarkan lengannya melewati bahu kanan Rika, berusaha meraih pipi kanan Rika dengan telapak tangan kanannya dan telapak tangan kiri ke sisi kirinya. Tidak ada penolakan dari Rika hanya terkaget menyadari lembutnya Zain pada sisi ini. Sampai beberapa waktu terlewati, “Aku sudah hangat Zain,” ucap Rika sembari melepas tangan Zain dari pipinya dan lalu gantian memberikan kehangatan di wajah Zain melalui tangan mungilnya.
“Bahkan telapak tanganmu ini tidak bisa menutupi area wajahku Rika,” ujar Zain santai sambil menikmati uniknya wajah sang gadis Jepang.
“Karena mukamu terlalu lebar. Kurasa kau perlu senam muka untuk membuatnya sedikit lebih tirus. Berlaku adil lah dengan seluruh bagian tubuhmu Zain,” kekeh Rika cuek sambil mempertahankan posisinya tangannya.
“Saatnya Aku berlatih denganmu besok berarti. Aku jemput jam 6 pagi dan Kau harus menunjukan cara senam muka yang Kau bilang barusan Nona Jepang,” balas Zain kemudian.
Rika lalu menekan pipi Zain keras sampai bibir lelaki itu terlihat seperti ikan mas koki,”gemesshhhh pengen nonjok,” geram Rika yang paling malas saat Zain membahas olah raga.
“Awww...sakit Rik,” erang Zain kemudian.
Rika melepaskan tangannya lalu merapihkan rambut Zain yang berantakan terkena angin,”nah...lebih ganteng kalo gini, kamu punyaku aja ya Zain!”
“Punya apa maksudnya..?”
“PUNYAKU Zain...” ucap Rika setengah teriak.
“Emang Aku barang apa?”
“Barang bernyawa kan?”
“Ga mau ah, aku masih mo bebas...”
“Jadi kamu nolak Aku?”
“Emang ini pernyataan?”
“Terus Kamu kira apa?”
“Perintah...”
“Emang Aku Bos kamu apahh...,” sungut Rika dengan Raut muka yang mulai tak bersahabat.
Zain yang melihat perubahan ekspresi Rika langsung tertawa,” Hahahaha...muka lucu itu balik lagi. Udah...Kamu ga pantes manyun gitu Rik, pantesnya nyengir aja, jadi tuh mata tambah kelindes.”
“Jadiii...?” tanya Rika lagi memastikan dengan penuh penekanan.
“Jadi...besok Aku jemput kamu jam 6 pagi. Oke?” balas Zain untuk memutar arah pembicaraan.
“Oke Bozzz...!”
Rika paham untuk meluluhkan lelaki yang berada di hadapannya ini tidaklah mudah. Butuh kesabaran ekstra untuk mencairkan kebekuan hatinya. Rika cukup percaya diri untuk memulai, karena Rika memang berbeda. Rika tak akan surut walau dihempas gelombang penolakan, sekali Zain menolaknya maka akan ada 2 kali cara untuk menaklukannya.
Rika memang telah memilih Zain, dan percaya bahwa suatu saat Zain akan memilihnya juga. Penyebab timbulnya keyakinan itu dalam diri Rika adalah karena Zain memang layak diperjuangkan. Menggunakan insting analisa dan kecondongan perasaannya lah yang membuat Rika bisa memutuskan hal ini dengan cepat, sebelum keberangkatannya kembali ke Jakarta Rika harus menarik perhatian si manusia datar, tekad Rika Kurota Chaniago.
...............
Rika sudah siap berolah raga seperti janji mereka malam kemarin. Senyum terkembang saat mengingat kejadian pada saat pulang dari Festival, Zain menggenggam tangannya dengan alasan tidak ingin Rika merasa kedinginan, bagi Rika genggaman itu adalah kemajuaan untuk Zain si manusia datar. Kadang Rika tidak habis pikir dengan wajah tampan nan datar itu, dia bisa menjawab pertanyaan apapun tanpa ekspresi di satu waktu tetapi bisa juga menjadi hangat dengan senyum terkembang, diam di satu waktu yang lama dan juga bisa sangat cerewet di waktu yang lain. Inkonsistensi yang membuat Rika harus sering-sering mengurut d**a.
“Wahhh...kejutan! Karena Aku tak usah telepon Kau untuk turun,” ucap Zain saat melihat Rika yang sudah siap di area loby menunggu Zain dengan pakaian olah raga nya.
“Aku akan jadi anak paling manis untuk kamu Zain,” jawab Rika sambil menyunggingkan senyum nakalnya.
Zain membuka pintu mobil agar Rika bisa duduk nyaman sekaligus memasangkan seat belt, “Baiklah lets go! Kita akan naik bukit teh...siapkan kaki mu oke!” perintah Zain sambil menghidupkan mesin mobil jeep biru kebanggaannya.
“Perbukitan Teh, sounds great..,” ucap Rika dengan sangat senang. Menghabiskan waktu libur dengan olahraga di kebun teh apalagi ditemani dengan mahluk tampan nan gagah di sampingnya adalah sebuah keberuntungan yang tidak bisa didustakan.
“Kau memakai sepatu jogging mu, bagaimana Kau tahu kita akan jogging sekarang?”
“Feeling, karena kamu memang tergila-gila dengan jogging dan selalu mengejekku untuk hal itu”
“Hahaha...aku hanya ingin kau sehat Rik, ngomong-ngomong kapan Kau akan kembali ke Jakarta?” tanya Zain.
“Aku akan kembali ke Jakarta setelah Kau menerimaku menjadi kekasihmu tentu saja,” jawab Rika dengan ekspresi datar dan tenang.
“Kau bercanda kan? Kenapa harus Aku Rik?” tanya Zain serius.
“Karena Kau layak untukku dan begitu pula Aku sangat layak untukmu”
“Wow...percaya diri sekali Kau Nona! “
“Ya, sepertinya gen Ayahku mendominasi. Dan ingat aku dapat jabatan ini di perusahaan karena percaya diri,” sambil meledek Zain yang sedang menyetir.
“Ohohhoho....Baiklah Aku mengakui untuk satu hal tersebut, Kau memang atasan ku,”
“Terima kasih anak muda...” jawab Rika dengan tawa yang meledak.
“Baiklah Nona muda, kita sudah sampai. Jika kau sampai duluan di atas bukit itu Aku akan menerima tawaran mu,” urai Zain yang berfikir untuk bermain sedikit dengan Rika, memberikan perjanjian sepertinya akan sportif mengingat sifat Rika yang sangat kompetitif.
“Baiklah, dan satu lagi jika Aku sampai duluan Kau akan menggendongku untuk turun ke bawah,” usul Rika yang mendapat anggukan setuju Zain.
“Dan jika Kau kalah, maka Kau yang akan menggendongku, setuju?”
“Jika Kau setega itu sepertinya Aku akan menarik kembali tawaranku”
“Belum apa-apa sudah takut, dimana rasa percaya dirimu itu Rika?
“Aku realistis Zain, semoga Kau sadar tinggi badanmu saja sudah melaluiku”
“Ya sudah Aku ganti, jika Kau kalah Kau akan memasak dan membersihkan rumahku sampai Kau kembali ke Jakarta, bagaimana?”
“Baik..DEAL!”
Perbukitan Teh yang menjadi track mereka saat ini adalah track yang sering dilalui Zain, dibuat track jogging atas inisiasi beberapa warga yang ingin mengembangkan sektor pariwisata di Kayu Aro. Pemandangan hijau yang terbentang di kanan kiri track membuat suasana olah raga menjadi lebih menyenangkan, menghirup udara segar selalu menjadi cara jitu untuk membuat tubuh menjadi lebih berenergi. Itulah alasan utama Zain mengajak Rika kemari.
“Zainnnn, Aku menyerah...cape Zain..” lelah Rika ketika sudah hampir setengah jalan lagi menuju bukit.
Zain berpaling kebelakang, melihat Rika yang sedang membungkukan badannya sambil mengatur napasnya yang tersenggal, Zain menghampiri Rika dan mendorong punggungnya untuk terus maju sambil menahan tubuh mungil itu. “Ayoo Aku bantu Kau, udah tinggal setengah jalan lagi. Rugi kalo ga sampe ke atas,” ucap Zain menyemangati Rika.
“Masih jauh ga Zain?” tanya Rika kemudian.
“Sebentar lagi, semangat Rik, biarkan tubuhmu terlatih dengan sendirinya, jangan lupa atur napas...ambil lalu hembuskan”
“Seems like you are my gym trainer, I guess your class will full if you had open it!”
“Ha ha ha...Do you think so? Girls only forbidden for man...”
“Sama aja lakik tuh ternyta..”geram Rika.
“Lahhh...berarti Aku normal kan!”
“Belum tau sih Aku sebenernya, belom nyoba juga, ha ha ha...!”
“Ih... tuh kan Kamu mikirnya kemana-mana..”
“Ga munafik lah...Aku wanita dewasa Zain”
“Kaya si Adel, frontal kali omongannya kalo sama Si Abi, kadang Aku geli sendiri”
“Emang tau dari mana?” tanya Rika penasaran
“Abi lah...jujur dia kalo sama Aku”
“Masa? Emang Adel ngomong kek apa?”
“Ahh..malu Aku ngomongnya..hahahha!”
“Setidaknya Aku jujur ngomong apa adanya, polos juga kayaknya ya!”
“Tidak masalah Aku suka kejujuran seperti itu, setidaknya Aku tahu yang harus Aku lakukan sehingga tidak menyakiti hatinya secara tidak sadar,” jelas Zain sambil tetap menopang punggung rika dengan kedua tangannya.
Sesampainya di bukit benarlah apa yang dikatakan Zain, tepat ini sangat indah. Melihat langit biru ke atas seakan jauh lebih dekat, burung-burung yang terbang serentak seakan mudah digapai. Rika berloncatan kesana kemari berniat ingin menanggkap burung tersebut, tetapi tak urung dapat, Zain hanya duduk saja bersandar pada pohon besar itu dan melihat Rika yang begitu bahagia ketika burung-burung mendekatinya.
“Gadis Jepang itu sangat terus terang, semua yang ada di pikiran dan hatinya tidak segan untuk dimuntahkan. Dia juga sangat ceria dan pintar. Dia adalah atasanku, tapi Dia suka padaku, dan apakah Aku suka? Aku sepertinya juga suka. Aku sering memikirkannya, siapkah Aku bersamanya? Layak kah Aku untuknya? Apakah Aku sudah melupakan Bening? Tapi Bening seperti apa sekarang ku tak tahu, apakah Bening akan menyukaiku yang seperti ini? Untuk apa aku menunggunya? “ monolog Zain
“Kau senang sekali Rika. Kaya tak pernah main saja!” teriak Zain.
“Ini menyenangkan Zain...” sahut Rika sambil terus melompat berusaha menangkap burung yang mengelilinginya.
“Duduklah...Kau cape nanti Rika..!”
Rika berhenti lalu berlari menghampiri dan sengaja menabrakan dirinya ke arah Zain. “Bruuuughhh... ha ha ha...Maafkan Aku Zain,” Rika berlabuh di dekapan d**a bidang Zain yang lebar yang sering Rika impikan untuk bersandar.
“Anak nakal, sini kau tidak akan aku lepas” ucap Zain sambil terus mengkungkung Rika dalam dekapan nya.
“Lepasss...Lepas zain Aku menyerah, haaaaa,” teriak Rika lemas karena Zain sengaja mengencangkan pelukannya sampai Rika terangkat dan hampir tak bernapas.
“Nyerah..?”
“Nyeraaaahhhhhh....” teriak Rika yang diikuti gelak tawa Zain.
Zain melonggarkan dekapannya tapi tetap berada di lingkaran pinggang Rika,” Kau mau bersabar menghadapiku Rika? Aku belum bisa melupakan Bening sahabat kecilku, tapi Aku ingin juga bersamamu,” ucap Zain sambil mengambil kepala Rika untuk terus bersandar di dadanya.
“Kau tidak harus melupakannya, Kau hanya harus menjalani hidup yang ada di hadapanmu saat ini, biarkan waktu yang menjawab dan biarkan Tuhan bekerja menggariskan takdir untukmu,” sahut Rika sambil menatap Zain lekat.
“Waktu yang menjawab dan Takdir yang menentukan, mungkin itu jawabannya” guman Zain. ”Semoga Kau tetap seperti ini, dan jika suatu hari Aku menyakitimu tolong ingatkan Aku, dan mungkin Aku akan goyah di tengah jalan, namun Ku ingin Kau tetap disampingku, Aku akan egois tapi kumohon sadarkan Aku,” urai Zain penuh harap, mungkin ini adalah curahan hati terdalam Zain. Kegundahan yang selama ini menggelung bagai terjangan ombak yang tak berkesudahan. Kini hanya dengan satu dekapan Zain bisa meluapkan segalanya.
“Tentu saja, Aku pun demikian. Aku tak sempurna, Aku banyak kekurangan tapi Aku akan setia disisimu Zain Al Fatih,” jawab Rika dengan sepenuh hati.
“Terima Kasih Rika,” ucap Zain sambil terus memeluk Rika. “Karena Kau kalah Kau harus memasak dan membersihkan rumahku sampai Kau kembali ke Jakarta,” sambung Zain yang mendapat injakan kaki dari Rika.
“Sakit Rik...Kau hobi sekali memukul dan menendangku,” Kesal Zain sambil menggosok kakinya yang habis diinjak Rika.
“Kirain dah lupa Zain, belum sampe 5 menit yang lalu kita romantis Zain, buyar udah!” geram Rika yang mendapat ejekan dari Zain.
Zain mengambil lengan Rika lalu memeluknya kembali, “ kamu harus gemukin sedikit Rik, biar montok.”
“Sial Kau Zain...”
“Ha ha ha...Aku lelaki normal Rika walau Kau belum mencobanya,” derai tawa Zain menguar begitu saja.
“Maunya lah...ngerayu...dasar playboy cap kaki buaya”
Mengawali hal yang selalu dihindari membutuhkan keberanian ekstra, dan itulah yang dirasakan Zain. Terlalu mudahkah Zain berpaling dan menyerah atau mungkin rasa itu tidak begitu besar untuk dipertahankan, karena apa yang dilakukan Zain adalah tetap menjalani apa yang ada dihadapannya saat ini.