8. Tragedi

2215 Kata
(FlashBack On)                      Kehidupan Abi yang mulai membaik di Ibu kota Jakarta pun berlanjut pada saat Abi diberi kepercayaan untuk mengelola restoran seafood milik Pak Prima, terletak di bilangan Jakarta Utara restoran itu berkembang pesat atas bimbingan Pak Prima. Berawal bekerja di bagian promosi dan online marketing membuat Abi bisa dengan seksama mempelajari sifat konsumen dan cara mengelola restoran. Mempelajarinya dengan cepat adalah salah satu keunggulan Abiyaksa dan hal itu sangat disukai oleh Pak Prima.             Saat perjumpaan pertama kalinya dengan sang bintang di restoran, Abiyaksa hanya bisa menatap dari jauh. Siluet Adelia saat itu sudah membuat Abi yakin bahwa itu adalah kekasih hatinya, seseorang yang membuat dia berani mempertaruhkan hidupnya di tempat yang sama sekali tidak pernah terbersit di pikirannya. Setiap anak lelaki di Kayu Aro selalu di doktrin untuk memajukan daerah sendiri dengan belajar segala hal yang berbau Kopi, teh dan parawisata. Tak pelak itulah yang diimpikan juga oleh Abiyaksa dan Zain. Abiyaksa ingin menjadi pengusaha di bidang pariwisata sehingga dia belajar ilmu multimedia untuk menunjang usahanya nanti, sedangkan Zain sejak awal memang menyukai kopi yang membuat dia akhirnya totalitas terjun di dunia kopi.             Abi memerhatikan wajah Adel yang sedang tertawa di kerumunan orang-orang yang menurut Abi adalah para kru film, mungkin hari ini adalah hari penyelesaian syuting dan mereka memilih restoran seafood untuk merayakannya. Abi sengaja mendatangi kerumunan tersebut untuk mencatat pesanan mereka.             “Selamat malam Bapak dan Ibu, apakah sudah siap untuk memesan?” tanya Abiyaksa.             “Siap mas, saya pilih kerang rica-rica dan teh manis panas, saya pilih kerapu asam manis dan teh tawar panas, “ Abi mencatat pesanan semua orang hingga tiba giliran Adel memesan pesanannya. Adel melihat wajah Abiyaksa dengan raut muka yang sangat terkejut, mencoba bersikap tenang dan berfikir cepat untuk setidaknya berakting.             “Ehmmm ... saya pilih...,” ujar Adel yang terdiam sesaat.             “Del ... woiiii ... sampe terpesona gitu loh del. Mas ini emang ganteng Del, hahahah!” sahut temannya lagi.             “Eh ... Eh ... apa sih lo ... saya pesan cumi bakar dengan capcay tahu dan air jeruk panas, ya mas,” ucap Adelia dengan terbata dan menahan malu.             “Baik nona ... ada tambahan  lagi?” tanya Abi dengan ramah.             “Ada mas ... No Hape mas dong di share ke kita, “ ucap salah satu teman wanita Adel sambil tersenyum menggoda.             “Idih apaan sih lo norak banget..” sungut Adel Kesal.             “Baiklah, saya akan kembali dengan pesanan Bapak dan Ibu ,saya permisi!” ujar Abiyaksa dengan membungkuk tanda hormat kepada pelanggan nya tersebut.             Adel mengekori Siluet Abiyaksa sampai hilang dari pandangannya, menyadari kebenaran bahwa yang dilihatnya adalah Abiyaksa mantan kekasihnya. Sejak tadi Adel sudah merasa tidak asing dengan suara pelayan yang mencatat pesanan teman-temannya, namun urung melihat ke arah suara karena harus memilih menu yang ingin dimakannya hari ini. Betapa terkejutnya Adelia saat tahu bahwa pemilik suara itu adalah Abiyaksa Purnama.             “Ya Tuhan.  Aku harus menyusulnya” monolog Adel.             “Ada yang mau ke toilet ga genks?” tanya Adel kepada teman-temannya, yang ditanggapi tidak oleh teman-temannya. Adel bergegas ke toilet yang sebenarnya adalah ingin bicara kepada Abiyaksa. Saat terasa agak jauh dari kerumunan teman-temannya Adel lalu menghampiri salah satu pelayan di resto tersebut.             “Permisi mas, mau tanya mas Abiyaksa dimana ya?” tanya Adelia kepada salah satu pelayan.             “Oh Pak Abi ada di office mungkin Bu, mau saya antar?”    ucap pemuda tersebut.             “Boleh mas, terima kasih,” ucap Adel ramah.             Adel berjalan menyusuri lantai 2 yang merupakan tempat kantor Abi, setibanya di kantor tersebut hati Adel sangat tidak menentu, “bagaimana jika nanti Abi marah, bersikap acuh padanya, apakah aku sanggup menghadapinya” guman Adel. Namun tekad kuat Adel untuk bertemu lebih kuat daripada kekhawatiran hatinya.             Tok...tok...tok...             “Silahkan masuk...”             Adelia masuk dan mengucap salam,” Assalamualaikum Abi...”             “Walaikumussalam Del, silahkan masuk,” ucap Abi datar dan dingin.             “Apa kabar Bi? Kenapa tidak memberitahu kalo kamu ada di Jakarta?” tanya Adel takut. Adel menyadari Abi pasti sangat marah kepadanya, namun sekarang harusnya berbeda, mereka sudah lebih dewasa sekarang.             “Tidak perlu kurasa,” ucapnya tanpa ekspresi.             “Maaf Abi. Aku takut ... Aku..” Adel tidak bisa menyelesaikan perkataannya lagi.             “Tak apa karena kulihat kau bahagia sekarang dan baik-baik saja. Sudahlah kembali ke teman-temanmu, mereka pasti menunggumu. Jangan sampai kau ketahuan ada di sini, karena ku tak mau digosipkan macam-macam,”             “Aku tak seburuk yang terlihat di info gosip itu Bi, percayalah padaku!”             “Aku percaya atau tidak kuyakin tidak akan ada efek yang berarti bagimu,”             “Abi jangan berkata seperti itu, Kau sangat penting bagiku,” ucap Adel sambil mengikis jarak yang terbentang di antara mereka.             “Aku tak apa Del, sungguh...” ucap Abi lalu berbalik membelakangi Adel.             Adel mendekat dan mendekap tubuh yang sangat dirindukannya itu, “Aku sangat merindukanmu Abi, bicaralah padaku,ku mohon...,”urai Adel dan terisak tak tertahankan.             “Apa Aku bagimu Del, hanya seorang yang ingin kau peluk saat kau ingin, atau seseorang yang ingin kau ajak bicara saat kau ingin, kau dan keegoisanmu...,” Abi tak kuasa menahan emosi yang ada di dalam hatinya dan ikut terisak.             “Abi ku mohon ... maafkan Aku, aku sungguh tak ada hubungan dengan siapa pun, itu hanya setingan berita untuk popularitas film ku, tak lebih ... percayalah Abi ... ku  mohon...!” beber Adel sambil terisak keras.             Cukup lama Adel dan Abi berada dalam posisi itu sampai saat ponsel Adel berbunyi dan melepaskan dekapannya dari Abi untuk membalas teleponnya. Abi segera beranjak pergi meninggalkan namun tangan nya yang berayun di tahan oleh Adel, dengan mata memohon untuk menunggu sebentar dan jangan pergi.             “Ya ... Ada apa?”             “Del ... lo dimana? Makanan dah dateng nih, ke toilet lama amat”             “Iye gue kesana, gue lagi ngerokok sebentar di luar”             Adel masih menggenggam tangan Abi lalu berkata,”mana ponselmu sayang?” ucap Adel mengintimidasi. Abi hanya menurut memberikan ponselnya, Adel selalu bisa meluluhkan hatinya separah apa pun hal itu sangat menyakitkan buat Abi. Adel lalu memasukkan nomornya ke ponsel Abi lalu memeluknya sekali lagi,”hubungi Aku, ku mohon,” ucap Adel yang berbicara dari ceruk leher Abiyaksa. Lelaki ini memang lelaki yang sangat dicintainya, bagaimanapun juga belum ada pengganti yang bisa seperti Abiyaksa.             Abi melepas pelukan Adel dan berucap,”Kembalilah kepada temanmu. Nanti kuhubungi lagi” ucap Abi dan lalu mencium dalam bibir Adelia yang sangat dirindukannya juga.             “Terima kasih sayang, I love you,” ucap Adel lalu meninggalkan Abi sendiri. Adelia kembali ke meja bersama temannya lalu menyantap makanan yang sudah tersedia di meja. Bersenda gurau  sampai tak terasa waktu semakin larut. Masing-masing temannya sudah pergi meninggalkan Adel yang sedang menunggu taxi online. Mengeluarkan ponsel dengan niat untuk menelepon Abi sampai ketika ada mobil yang menghampiri Adel dan mengambil Adelia secara paksa,             “Lepasssss .... lepaskan Aku .... AAAAAA....” adelia teriak sekencangnya lalu mulutnya dibekap sampai Adel tidak bisa bernapas lalu kemudian pingsan.             Aku tak tahan untuk tidak mencobanya, dia seperti artis ya? Lihat paha putih mulusnya itu...! Adel sayup-sayup mendengar pembicaraan 2 orang lelaki yang sedang mengegerayangi tubuhnya tanpa henti, mencoba menahan napas tidak berontak agar mereka meyakini Adel masih pingsan. Ketakutan Adel semakin menjadi saat ciuman bertubi-tubi yang diterimanya berubah menjadi tindakan yang lebih dari seharusnya, ingin menangis rasanya saat lelaki itu mencoba membuka paha dan meraba intinya. Sekuat tenaga Adel ingin teriak dan lari namun ikatan di tangan dan kaki mencegahnya. Apakah Adel harus pasrah dengan keadaannya saat ini, sambil berdoa Adel meminta pertolongan Tuhan dan memanggil Abiyaksa dalam hatinya. Seketika Tuhan menjawab rintihan doa Adel saat dia melihat Abi datang dan menerjang para pelaku yang mencoba hal tak senonoh kepadanya.             “Abiiii ... tolong Aku...”isak adel yang sangat ketakutan.             “Sudah sayang jangan khawatir ada Aku,” Abi memeluk Adelia yang lemas dan berakhir dengan pingsan kembali.             Abiyaksa membawa Adelia ke Apartemennya, membopongnya ke dalam kamar tidur agar bisa beristirahat dengan nyaman. Berusaha agar gadisnya tidak terbangun, membaringkannya dengan perlahan sambil menitikkan air mata di sudut matanya. Tidak menyangka dengan waktu 5 menit saat abi meninggalkan ponselnya bisa mengakibatkan trauma panjang untuk gadisnya.             Pesan masuk,             5 menit yang lalu: Adelia                    : Apartemen Ayodhya unit 120.share lock.             : Aku menunggumu. Love you.            Abi seketika pergi ke bawah untuk melihat apakah gadisnya masih ada disana untuk mengantarnya pulang, ketika sesampainya di sana melihat Adelia diculik, berbalik mengambil mobil dengan terburu dan mencoba mengikuti mobil penculik itu dari belakang, sempat tertinggal dan berakhir dengan kejadian yang Abi alami saat ini.             “Setidaknya Aku telah berusaha semampuku” monolog Abi.             “Jangan pergi,” tangis Adel kembali pecah.             “Tidak akan sayang,” sambil memeluk Adel dengan kuat             “Kita bersihkan dulu badanmu ya, Aku siapkan air hangatnya,” ujar Abi lalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.             Kisah pilu malam ini menjadi saksi bahwa sejak pertemuan pertama yang penuh tragedi adalah awal pijakan baru bagi hubungan Adel dan Abi, harapan akan bersama dalam satu ikatan suci sudah terpatri dalam benak Abi tapi belum tentu untuk Adel.             (FlashBack Off) ...........             Pekan ini adalah saatnya pemeriksaan kedua setelah temu janji dengan Dokter Alisya pekan kemarin. Sesuai dengan janjinya kepada Dokter Alisya bahwa Abi akan menemani Adelia melakukan pemeriksaan untuk memutuskan pengobatan tahap pertama yang akan dilakukan.             “Bagaimana hasilnya Dok?” tanya Abi selepas melakukan pemeriksaan.             “Hasil Laboratorium kemarin sudah ada dan telah saya bandingkan dengan hasil USG hari ini, dapat disimpulkan kita harus menjalani pengobatan hormonal dahulu untuk melihat kereaktifan kista, jadi hari ini saya akan memulai proses pengobatannya ya Pak,” jelas Dokter Alisya yang mendapat anggukan dari Abi dan Adel.             “Baik Dok, saya sudah siap,”             “Bagaimana dengan Nona Adel? Apakah ada keluhan dari semenjak pekan kemarin?” tanya Dokter Alisya memastikan kondisi Adelia.             “Saya hanya merasa cepat lelah dok, kadang Abi pulang pun saya tidak tahu karena sudah tertidur,” ucap Adel.             “Maaf sebelumnya jika berbicara ke ranah pribadi. Saya harap frekuensi untuk melakukan HB dikurangi dahulu saat ini ya Pak, karena seperti yang nona Adel keluhkan kelelahan adalah salah satu efek samping penyakit ini sehingga akan menyebabkan kondisi pasien lebih buruk,” urai Dokter Alisya.             “Hemmm .... Baik Dok,” ucap Abi dengan tegas. Abi tidak ingin membantah prasangka sang dokter mengingat kondisi yang terjadi adalah memang Abiyaksa tinggal sementara di rumah Adel, sehingga prasangka ke arah hubungan intim tidak terelak. Adelia yang seorang artis akan selalu menjadi 2 mata sisi pisau yang sama tajam, jika tergelincir di keduanya sama-sama akan berdarah. Baik dan buruk akan menjadi bahan pembicaraan entah positif atau negatif akan terkena.             “Baiklah, kita kontrol pekan depan lagi ya, seperti biasa ke unit farmasi lalu saya sarankan untuk kurangi aktivitas fisik, olahraga teratur dan makan makanan sesuai dengan resep yang telah saya berikan juga”             “Baik Dok selamat siang,” ucap Adel dan Abi.             “Selamat siang, semangat nona,” sahut Dokter Alisya sambil memperlihatkan senyum menawannya. Kembali ke Apartemen adalah hal yang dilakukan mereka berdua. Istirahat sangat dibutuhkan Adel saat ini, sambil berkendara Abi mulai mencoba membangun komunikasi yang menyenangkan.             “Makan nya delivery aja gimana?” tanya Abi.             “Boleh deh, Aku harus istirahat ya sayang?” melas Adel dengan Manja.             “Yup, kamu denger tadi kata Dokter alisya, kita aja ga boleh HB katanya,” kekeh Abi.             “Padahal belom pernah...,” ucap Adel malu-malu.             “Mau?”             “Mau tapi kata kamu kan nanti...,” Sahut Adel dengan sifat apa adanya.             “Aku mau sekarang sebenernya.Nikah aja yuk!” ucap Abi langsung.             “Dari dulu kek, Aku nunggu-nunggu,”             “Hahaha ...l agian ga bilang?”             “Masa iya Aku ngomong gini..Bi nikah yuk, aku pengen HB soalnya ma kamu. Kan ga mungkin sayang,” ucap Adel dengan polosnya.             “Hahahahha ... Aku nya kan kudu cari uang dulu sayang,” tawa Abi terbahak             “Aku ga minta juga, uang ku juga ada”             “Aku kan laki-laki, masa iya Aku ga punya modal buat nikahin artis?”             “Iya juga sih...,”             “Zain juga bilang gitu kemarin tuh.Aku disuruh nikahin kamu secepatnya, ga baik tinggal bersama tapi belum halal,” ujar Abi lagi.             “By the way...Aku kemarin teleponan juga sama Bening,”             “Whatt ... dimana dia sekarang?”             “Jakarta juga...”             “Kerja Apa sekarang?”             “Akunting...”             “Kita temuin mereka yuk ...gimana?             “Setuju...,” ucap Adel dengan yakin, lalu melanjutkan pertanyaan kepada Abi karena rasa penasarannya, “ kamu kok ga membantah ucapan dokter tadi tentang HB itu?” tanya Adel lagi.             “Buat apa? Toh dia tahu kita tinggal bareng, klo dah tinggal bareng ya pasti suka begituan kan. Aku aja suka sebenernya makanya sukanya nyiumin kamu terus kabur ke kamar mandi,” kekeh Abi lagi tanpa malu-malu.             “Aku tersiksa kamu gituin terus Bi...,”             “Aku tahu ... sengaja ... biar kamu tahu sakitnya ditinggalin selama bertahun-tahun,” ledek Abi asal.             “Balas dendam ternyata, terus nikah kapan Bi?”             “Pekan depan aja ya, kita ke KUA langsung lalu resepsi kecil di resto Aku,”             “Oke...” Ketika hati sudah bertaut, tidak ada lagi yang menjadi penghalang. Kesungguhan lah yang akan menjadi saksi bahwa cinta itu ada dan nyata.             ‘             ‘             ‘                       ‘             (Enak banget jadi Abi dan Adel, iri Aku sama kalian)    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN