Abi sedang berada di kantor Restoran Purnama Seafood, saat mendapat telepon dari Adel bahwa dia sedang berada di Rumah Sakit Bunda.
“Hallo, Assalamualaikum Bi”
“Walaikumussalam, kamu dimana sayang?”
“Aku lagi di Rumah Sakit Bunda Bi, kamu bisa kesini?”
“Astagfirullah, kamu kenapa sayang?”
“Kesini aja dulu Bi, ke Poli Kandungan, nanti aku cerita...cepet ya!”
“Iya, baik aku segera kesana”
Abi segera memanggil Manajer Resto untuk mengambil alih kepengurusan Resto selama dia tidak ada di kantor dan komunikasi hanya bisa lewat pesan saja karena kemungkinan Abi harus selalu berada di sisi Adel saat ini. Abi melajukan mobilnya dengan sedikit cepat agar bisa segera sampai di Rumah Sakit Bunda, namun sayang sekali karena kondisi jalanan hari ini di Jakarta sangatlah padat membuat Abi harus mencari jalan lain agar sampai lebih cepat.
Saat sudah sampai di Rumah Sakit Bunda, Abi segera mencari tahu arah menuju Poli Kandungan. Berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Bunda membuat Abi sangat berfikir banyak tentang apa yang sebenarnya menimpa Adel sang kekasih hati. Tibalah Abi di ruangan dokter kandungan, Dokter Alisya Subandi, Spog.
Tok...tok..tok...
“Silahkan masuk,” ucap Dr. Alisya.
“Siang Dokter, saya dengan kekasihnya Nona Adelia,” balas Abi lagi.
“Baik Pak. Mari duduk.”
Abi segera duduk di samping Adelia, memegang tangan Adel untuk memberikan ketenangan walau yang sebenarnya adalah untuk menenangkan dirinya pribadi.
“Hemmm...jadi begini Pak Abi, Nona Adelia pasien saya telah melakukan pemeriksaan kandungan sekitar satu jam yang lalu”
“Baik dok lalu?”
“Dari hasil USG nya, terdapat Mioma atau bisa juga disebut Kista, sehingga mengganggu terhadap kesuburan kandungan Nona Adel, saran saya adalah kita melakukan terapi pengecilan mioma terlebih dahulu lalu kita observ kembali. Sampai disini jelas Pak?” tanya Dokter Alisya kepada Abi.
“Baik Dok saya mengerti sampai sini, lalu bagaimana selanjutnya Dok?”
“Namun selama proses terapi ini akan ada perubahan hormonal dan emosional yang dialami oleh Nona Adelia. Tadi saya sempat bertanya apakah ada yang menemani Nona Adelia selama proses terapi ini dan beliau menjawab Anda sebagai calon suaminya yang akan menemani”
“Betul Dok, saya calon suaminya”
“Baiklah Pak Abi, saya bersyukur jika Nona Adelia ada yang menemani, karena pada proses ini memang akan berbeda-beda pada setiap pasien tergantung ketahanan dan metabolisme tubuh juga, namun dari kasus yang banyak terjadi adalah, perubahan emosi sangat signifikan terjadi”
“Baik Dok saya paham situasinya sekarang. Saya 100% akan mensupport Adel untuk bisa menjalani terapi ini,” Abi menatap Adel untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Baiklah, jika semua sudah oke kita mulai pemeriksaan lagi pekan depan ya Nona Adelia, sekalian dengan Pak Abi nya agar informasi dan komunikasi antara kita baik ya!”
“Baik Dok, pekan depan saya akan ikut menemani”
“Ini saya beri resep anti nyeri dahulu untuk sementara dan silahkan tebus di unit Farmasi ya,” lanjut Dokter Alisya.
“Baik Dok, saya permisi,” ucap Adel dan Abi.
Abi dan Adel berjalan dengan gontai menuju unit Farmasi, tidak ada kata-kata yang terucap hanya sebuah genggaman erat sebagai pengganti kata. Setelah menebus obat, Abi mengambil mobil di parkiran untuk menjemput Adel di lobi menuju pulang ke Apartemen Adel di kawasan Jakarta Selatan.
“Sayang, kita makan dulu yuk!” tanya Abi memecah keheningan, karena sejak tadi Adel hanya menatap ke arah luar jendela tanpa sedikitpun memandang balik Abi.
“Kemana?”
“Kamu maunya makan dimana?” tanya Abi kembali.
“Talaga Sampireun aja deh, pengen maen aer” jawab Adel sekenanya.
“Oke nyonya Abiyaksa Purnama...kita meluncur!” kekeh Abi untuk menghibur sang pujaan hati.
Abi mengemudikan mobil dengan santai, menghidupkan music slow berharap Adel akan tertidur. Abi sangat tahu bahwa Adel luar biasa lelah hari ini, ditambah sebuah informasi yang diberikan dokter Alisya tadi sungguh membuat hati wanita manapun mencelos. Hanya ini yang bisa Abi lakukan sebagai kekasih Adelia Anastasia. Ketika akhirnya sampai ke Talaga Sampireun pun, Adel belum terbangun dan Abi tidak berniat untuk membangunkannya. Sambil menunggu Adel bangun, Abi menghubungi Zain.
“Assalamualaikum Zain,”
“Walaikumussalam Bi, lagi dimana Kau?” tanya Zain.
“Aku lagi sama Adel, abis nemenin dia dari Rumah Sakit”
“Adel kenapa pula?”
“Kemarin tuh dia bilang perutnya sakit sekali, lalu hari ini di periksa ke dokter kandungan”
“Eh, hamil dia?”
“Engga. Pikiran Kau itu kalo dah kandungan hamil aja. Ada mioma atau kista ternyata Zain”
“Maklumlah aku tak paham kawan. Ya Allah, terus gimana Bi?” tanya Zain lagi. Rika yang sedang disamping Zain ikut mendengarkan, karena penasaran sambil mendekatkan kupingnya ke ponsel Zain dan membuat Zain terkejut karena sangat intim perlakuan Rika tersebut. Akhirnya Zain mengaktifkan Loud Speaker di ponselnya tersebut.
“Kau lagi sama siapa Zain?” tanya Abi yang penasaran karena terdengar suara bisik-bisik perempuan dari arah sana.
“Hai...Aku Rika...,”ucap Rika menjawab pertanyaan Abi.
“Dan siapa nya Zain?” kekeh Abi yang tertahan karena senang karena akhirnya ada wanita di sisi teman gantengnya itu.
“Temen kantor aja lah...sekarang...mungkin nanti..tak tau lah!” urai Rika tertawa yang buat Zain geleng-geleng kepala liat tingkah Rika yang begitu terus terang kepada temannya Abi.
“Wahhhh....Akhirnya bujang lapok kita laku juga. Hahahhaha ...”
“Sialan Kau Bi, aku laku tau dari dulu”
“Tapi ga ada yang nyangkut...tanya-tanya aja kan? Untung aja ga dipegang-pegang”
“Emang kau kira Aku barang dagangan apa?”
“Hahaha...”
“Jadi...Adel gimana?”
“Pekan depan diperiksa lagi, jadi selama bolak balik ke RS nanti sama Aku,” jawab Abi sambil melihat bahwa kekasihnya masih saya terlelap.
“Baeklah...nanti aku telp Kau lagi ya..aku mo antar si Rika dulu ini”
“Bye Abi...salam buat Adel ya...,” ucap Rika ramah.
“Iya..makasih ya Rik...jagain Zain ya disana, kasian kali kulihat dia jadi bujang lapok!”
“Ha ha ha..oke pasti..sampai ketemu nanti di Jakarta kalo kau dah balik ya,” ujar Rika kembali.
“Siap, kabarin aja Rik ya!”
“Wassalamualaikum Bi..Baek-baek Kau ya!” ucap Zain.
“Walaikumussalam warohmatullah..”
Adel yang masih terlelap akhirnya dibangunkan Abi karena waktu sudah semakin sore, dan karena perut Abi sendiri sudah keroncongan.
“Sayang...bangun yuk!” ucap Abi sambil menggoyangkan lengan Adel.
“Oh udah sampe ya Bi?”
“Iya...dari tadi...Yuk kita makan dulu...lapar sayang,”
Mereka bejalan masuk ke arah resto dan memilih tempat di tengah danau. Suasana pedesaan dengan obor bambu yang menambah kesan syahdu.
“Semoga kamu merasa nyaman, udah ga usah dipikirin lagi ya. Ada Aku!” jelas Abi dengan tatapan hangatnya.
“Tapi Bi...Ada satu hal yang belum Aku ceritain ke kamu,”
“Apa...?”
“Kalo ini berakhir dengan tumor maka Aku akan sulit punya anak Bi, terus kita gimana?” urai Adel sambil menahan tangis.
Ternyata ini yang sedari tadi menjadi pikiran Adel, “tak apa lah Del, jangan Kau pusingkan hal macam tuh, kita cuma bisa berusaha, tak elok kita mendahului ketetapan Allah kan,” sahut Abi mencoba meyakinkan Adel.
“Iya sih Bi, tapi namanya Aku wanita juga pengen punya anak Bi”
“Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, semua hak perogatif Allah. Ada atau tak ada anak Aku tetap setia,” sambil tersenyum sekali lagi mencoba menenangkan Adel.
“Terima kasih Bi...kamu selalu ada untuk Aku”
“Ngomong-ngomong, tadi Aku telepon si Zain”
“Terus...”
“Tak taunya dia lagi sama perempuan Del, senang kali Aku dengernya tadi,” urai Abi sambil makan makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya pada server.
“Yang bener? Si muka datar itu? Sudah lupa kah dia sama si Bening?”
“Semoga...,” harap Abi sambil tersenyum menerawang mengingat percakapannya tadi dengan Zain.
“Orang mana Bi..gadisnya si Zain?” tanya Adel kemudian.
“Teman kerja katanya, tapi Aku tak tahu asalnya dari mana. Tadi dia cuma bilang sampe jumpa di Jakarta, gitu ja” sahut Abi dengan logat melayu yang kental. Jika sudah bertemu dengan teman sedaerah pasti akan saling nyaman untuk memakai bahasa daerah.
Setelah makan malam dan ngobrol banyak, Abi mengantar Adel ke Apartemennya. Profesi Adel sebagai artis ibukota memang adalah yang dicita-citakan sejak mereka remaja, dan ketika tercapai hal yang paling membahagiakan tentunya Abi. Bersama wanita secantik Adelia Anastasia, bersanding dengannya adalah sebuah tujuan. Rasa yang dipupuk sejak lama diharapkan akan tumbuh dan berkembang. Tautan kasih yang semoga tidak akan lepas walau banyak badai yang mendera. Jika itu adalah sebuah doa, maka hanya harapan lah yang sekarang dipegang. Demi mengingat akan masa lampau, layaklah jika mereka berakhir bahagia.
(Flash Back On)
Tujuh tahun yang lalu....
“Aku akan ke Jakarta Bi”
“Kau akan meninggalkanku disini?”
“Kita masih bisa tetap berhubungan lah, ada telepon pun”
“Tapi aku tak bisa memandangmu Del, dan itu menyiksaku”
“Aku pun seperti itu, maka ayo bersamaku!”
“Aku belum punya uang untuk kuliah disana Del...”
”Aku harus mengejar cita-citaku Bi, Kau tau aku teramat ingin menjadi aktris. Aku harap kau mengikhlaskan Aku pergi”
“Lalu bagaimana hubungan kita? Janji kita?”
“Jika terasa memang sangat menyakitkan...Aku rasa kita lebih baik berpisah Bi”
“Tega Kau Adel, tak ada sikit pun pertimbangkan ku dalam langkah yang kau ambil”
“Maafkan Aku, jika tali itu masih bertaut Aku yakin kita akan bertemu”
Perpisahan memang menyakitkan apalagi jika masih saling cinta, namun keputusan sudah diambil dan semua resiko harus diemban. Adelia dengan semua cita-citanya harus melepas Abi sang kekasih pujaan yang selama 3 tahun ini bersamanya. Abi harus rela melepas Adel untuk membuatnya bahagia, alasan itu lah yang membulatkan tekadnya untuk tidak terlalu lama menahan Adel di sisinya. Hidup harus berjalan walau kisah ini berhenti.
Tidak bersama Adel memang membuat Abi kehilangan warna, rasa yang mengikatnya terlalu dalam. Tekad yang setadi ada untuk melupakan seakan sirna ketika melihat sang pujaan di layar kaca. Adel dengan kecantikan alaminya tentu saja banyak membuat pihak terpesona dan ingin mengajak kerjasama. Melihat lelaki yang dipasangkan dengan wanitanya itu membuat marah Abiyaksa, walau itu hanya sekedar akting belaka. Pemberitaan dan gosip tentang mereka berdua seakan tidak terhenti sampai disitu saja, para pencari berita tak berhenti mengekspose kebersamaan mereka, membuat lelaki nan jauh di sana meradang tak tertahan.
Abi membulatkan tekad untuk menyusul pujaan hatinya, berbekal ijazah Multimedia berharap akan ada pekerjaan menanti di Jakarta. Apalah daya yang diingin tak terlihat jua, pekerjaan tak ada dan uang menipis membuat Abi terpaksa bekerja serabutan. Memulai karir sebagai penjaja Koran, lalu beralih menjadi kuli angkut di pasar, dilanjutkan menjadi supir angkot sudah dilakoni Abi hanya untuk menyambung hidup di kota Metropolitan ini. Kerasnya hidup di Ibu kota memang benar adanya, tanpa koneksi tanpa uang jangan harap jalan yang dilalui akan mudah.
Sampai pada satu kesempatan ketika Abiyaksa yang pintar memperbaiki mobil ini kedatangan satu tamu di bengkel tempat dia bekerja.
“Mobilnya kenapa Pak?” tanya Abi dengan ramah.
“Ini Bang ...kecepatannya kok seperti menurun ya, biasanya dengan kecepatan 100km/jam saya bisa nyampe ke kantor dl waktu 40 menit namun skrg bisa 1 jam setengah. Padahal speedometer menunjukkan angka yang sesuai namun kenyataannya seperti kurang daya,” jelas sang pelanggan dengan panjang lebar.
“Oh baiklah Pak, saya akan melihat mesin nya dulu ya Pak,” jawab Abi sambil membuka Kap mesin mobil.
Sambil mengitari Kap mobilnya sang pelanggan bertanya kepada Abi,” masalahnya apa ya Bang?”
“Biasanya ada penumpukan oli Pak di ruang bakar mesinnya. Tapi saya liat dulu ya Pak,” ujar Abi yang mendapat anggukan setuju dari pelanggannya.
Setelah berkutat dengan mesin hampipr 2 jam, akhirnya mobil tersebut bisa diperbaiki juga. Mengambil alat tes speedometer, Abiyaksa memulai pengecekan. Hasil yang didapatnya pun memuaskan, dan semoga pelanggan puas.
“Sudah selesai Pak,” ujar Abi kepada sang pelanggan.
“Oh sudah, jadi yang rusak apanya Bang?” tanya beliau penasaran.
“Iya Pak memang sesuai dengan perkiraan saya ada kotoran oli yang menyumbat dan ada ini,” sambil menunjukan pakaian Barbie yang ternyata masuk ke alat pembakaran mesin dan menyumbat.
“Astagfirullah! Ha Ha Ha... Ya Allah ada pakaian Barbie, ini pasti ulah anak saya Bang,” ucapnya dengan tertawa terbahak.
“Iya Pak saya juga tadi kaget ko ada renda-renda, lalu setelah saya cuci ternyata pakaian Barbie,” ujar Abi yang ikut tertawa.
“Terima kasih ya kamu sudah memperbaiki mobil saya, nama kamu siap ngomong-ngomong?”
“Abiyaksa Purnama Pak,” jawabnya sambil memberi jabatan tangan.
“Bang Abi, ini kartu nama saya, saya sangat senang dengan hasil kerja anda, boleh lah kita ngobrol nanti di kantor saya...ngomongin mobil!” tawarnya dengan ramah.
“Baik Pak, kebetulan saya juga sedang mencari pekerjaan. Semoga Bapak bisa ngasih saya saran harus bagaimana,” urai Abi dengan sikap rendah hatinya.
“Loh kamu memang lulusan apa?”
“Multimedia Pak,” jawab Abi dengan cepat dan bangga.
“Waduhh....ternyata sarjana...Baiklah kita ngobrol besok, kamu datang ke kantor saya pukul 11 siang ya, alamatnya ada di kartu nama itu”
“Baik Pak , terima kasih banyak atas kesempatannya, insya Allah jam 11 saya sudah berada di kantor Bapak,” ucap Abi dengan mata berbinar.
Maka keesokan harinya, Abiyaksa datang menemui kantor pelanggannya yang bernama Prima Abdinagara Direktur PT.Laut Intan. Perusahaan yang bergerak dalam ekspor impor hasil laut ini adalah tempat Pak Prima bekerja, dan sekarang Abiyaksa sedang menunggu kedatangan Pak Prima di kantornya tersebut. Setelah berbicara banyak diketahui bahwa perusahaan tersebut memerlukan tenaga ahli dengan kualifikasi seperti Abi, dan akhirnya Abi memulai karir pertamanya di perusahaan Laut Intan.
Kerja keras dan doa adalah senjata Abi saat itu, sehingga pada akhirnya Abi sukses menjadi pengusaha karena bantuan Pak Prima dan masih berhubungan baik dengan beliau hingga saat ini. Pertemuan penuh tragedi dengan Adelia pun terjadi saat itu,
“Stoppp...pergiiii...pergiii sanaa....,”
‘
‘
‘
‘
(ada apa ya dengan masa lalu Adel?)