6. KayuAro Cofee

1726 Kata
“Aku berharap perusahaan akan merealisasikan LAB ini, bagaimanapun aku merasa kebutuhan ini Primer mengingat standar analisa yang dipakai saat ini masih analisa konvensional. Menurutmu kek mana Rik?” ucap Zain yang sudah mulai merasa nyaman memakai bahasa santai daerahnya. “Pasti realisasi aku jamin, karena akan jadi satu satunya LAB untuk beberapa partner kita juga. Toh seperti yang kau tahu, persaingan semakin sengit dan satu-satunya cara adalah meningkatkan mutu,” jelas Rika kembali. Tak lama, Rika sudah tenggelam dengan Pak Dani dan Zain berjibaku dengan produksinya di site. Waktu istirahat tiba, seperti biasa Zain dan para pekerja berada di Chill Out Area. “Akhirnya Aku menemukanmu Bung,” ujar Rika dengan tepukan keras di bahu sehingga mengagetkan Zain yang sedang menutup mata sambil mendengarkan sesuatu di earphone. “Kau rupanya Rik ... Sini tanganmu,” Zain mengambil tangan Rika dan meletakkan di jantungnya, “Hahahaha ... Maaf ... Maaf Zain, kau kaget banget ya!” Zain lalu menjitak kepala Rika menumpahkan rasa kesal. “Eh! Jangan macam-macam kau Zain, laporkan kau nanti ke atasanku, ku kasih SP kau nanti,” Rika melancarkan aksi ancaman agar Zain berhenti menjitaknya. “Halah ... Mana ... Mana BOS mu itu, tak takut aku, sini kau Rika,” Zain mengejar Rika yang sudah lari sambil mengejeknya. Para pekerja lain yang notabene Bapak-Bapak itu tersenyum simpul melihat 2 manusia di hadapan nya itu. Bagaimanapun posisi jabatan Rika lebih tinggi dari Zain tapi terkikis sudah jika berada di luar Pabrik. “Hahahaha ... Hahahah ... Sudah ... Sudah ... Aku lelah, Aku kalah!” Rika menyerah meminta ampunan Zain yang mulai memiting kepalanya. “Sudah 3 kali dalam sehari kau mengagetkanku. Jahil banget ternyata kau. Kenapa tak Pak Dani saja sih yang kau jahilin?” “Tak seru lah kalo sama Dia, nanti ketauan Istrinya diamuk Aku, di Viralkan. Dikasi judul ... PELAKOR PABRIK TAK TAHU MALU!” Rika dengan omongan super cepatnya mengalahkan kereta api Jepang. “Kau dan bibir tipis itu mengalahkan tajamnya pisau di dapurku,” Zain membalas omongan Rika tak kalah sengit. Namun Rika hanya tertawa saja mendengar itu. “Zain ... Apa mimpimu dan fokus terdekat mu saat ini, kalo Aku boleh tahu!” Rika menanyakan hal yang sudah masuk ke ranah pribadi Zain sebenarnya. Saat bersama Pak Dani tadi ada beberapa hal yang kebetulan menyangkut pekerjaan Zain. Lalu Pak Dani secara Implisit memberikan tips untuk membawa Zain ke ranah lebih terbuka. Pak Dani ingin Rika yang duluan mendekati Zain si manusia datar. “Untuk perusahaan aku ingin merampungkan analisa yang sedang kukerjakan, menyangkut rasa baru hasil gilingan kopi. Untuk pribadi aku ingin membuka cafe, KayuAro cofee.” “Wahhh, kedua hal yang sangat bagus dan membuatku angkat dua jempol untukmu. Dimana Kau akan membuka cafe mu itu?” “Jakarta, untuk lokasinya aku menyerahkan kepada partner dan juga sahabatku Abiyaksa.” “Restoran Purnama Sea Food...Mungkin kau pernah dengar?” “Ya tentu saja Aku tahu restoran itu, Aku sering kesana karena menu sea food nya selalu juara dan selalu ada yang baru. Kenapa dengan restoran itu Zain?” Rika penasaran kenapa tiba-tiba Zain bertanya hal itu. “Abiyaksa yang punya restoran itu, dia sahabat karibku, Abiyaksa Purnama, asli putra daerah Jambi,” Zain senang akan pencapaian Abi yang luar biasa itu dan membanggakan sahabatnya di depan teman-temannya juga sesuatu hal yang sering dilakukannya. “Wahhh ... dobel wahhhh ... Kau bekerja sama dengannya karena memang ini adalah mimpi kalian berdua?” Rika sangat baik memahami hal tersirat dari pernyataan Zain dan melontarkan pertanyaan yang bisa mengorek lebih dalam sisi seorang Zain Al Fatih. “Ya betul sekali, dan bagaimana Kau tahu itu adalah mimpi kami?” “Insting, dan juga analisa cepat, Aku terbiasa berfikir Analitikal, mungkin karena hidupku berputar di hal-hal seperti ini membuatku terbiasa mengumpulkan poin dari suatu materi, mencapai simpulan hanya dari pernyataan yang tersirat. Kurasa itu salah satu keuntungan belajar Analisa,” urai Rika yang lulusan Analisa Statistik di Nagoya University, tidak cumlaude hanya mahasiswa biasa yang kadang semangat dan banyak tidak semangatnya, tetapi Rika bertanggung jawab atas semua pilihan yang sudah dia putuskan sehingga Rika tetap lulus dengan hasil yang baik. “Pantas saja kau sudah Manager di umurmu yang masih segini, Padahal tadi Aku sempat mengira bahwa mungkin kau seorang dukun cantik yang masih ada di abad 21 ini,” ucap Zain dan kelakar asal nya memang tidak terpisahkan. “Pernyataan dari seorang yang logis tetapi kurang percaya diri di saat yang sama. Apa Aku benar Zain?” sekali lagi kecerdasan Rika Kurota Chaniago menyentil jiwa inferior Zain. Zain terdiam beberapa saat, memikirkan ucapan Rika barusan. Seorang Rika yang selama 2 hari ini intens berinterakasi dengannya sangat mudah mengetahui sisi inferior dirinya dan tanpa Zain sadari fakta itulah yang selama ini sedang Zain perjuangkan untuk merubahnya. “Kau seorang Analis yang sangat baik Rika. Itulah hal yang sedang aku perbaiki” “Good Luck, Kau pasti bisa memperbaikinya! Aku yakin itu, berjanjilah satu hal” “Apa..?” “Ketika kau sudah selesai memperbaikinya, Aku lah orang yang pertama tahu...Deal?” “Deal!” Zain tersenyum mendengar apa yang diutarakan Rika, ada desiran aneh di hatinya saat ini, Zain belum bisa mengartikan itu. “Ayo kita kembali bekerja, 5 menit lagi istirahat selesai. Aku akan menunggumu di tempat biasa nanti ya.” “Okey BOS Zain!” Keceriaan Rika yang selalu bisa membuat Zain tersenyum bebas, sudah sangat lama rasanya Zain tidak merasa seperti ini, Zain mulai merasa apa yang dikatakan teman-temannya memang benar adanya, dan yang dilakukan Zain saat ini adalah hanyalah sebuah penyangkalan demi penyangkalan. ........... Sesampainya di kamar, Rika merebahkan diri ke kasur, memejamkan mata dan mulai menyadari sesuatu. Percakapan pada saat istirahat siang dan percakapan pada saat Zain mengantarkannya pulang membuat Rika merasa ingin berbuat hal yang lebih kepada Zain. Sadar bahwa dirinya menyukai Zain dan ingin bersamanya karena dia pantas diperjuangkan. Namun di saat yang sama Rika menyadari ada satu bejana yang belum tertuntaskan di hati Zain. Rika tak tahu itu apa tapi semoga seiiring dengan waktu dan kedekatan mereka, bejana itu akan penuh dengan sendirinya. Rika sangat paham hanya waktu yang bisa mengurai makna dibalik peristiwa. Pesan masuk ke ponsel Rika, (muka datar) [Ayo cepat mandi Rika dan minum s**u hangat, Aku tahu kau masih rebahan di kasur itu dan belum membersihkan diri, benar kan?] (nona Jepang) [Ya ampun Tuan Bawel sedang orasi ya, belum puas tadi wejangan Pak Dani?] (muka datar) [Aku tak dengar dan cenderung tak peduli sebenarnya, ayo nona pemalas, kau tidak jawab pertanyaan, berarti analisaku benar. Bukan hanya kau yang bisa membaca tapi aku juga...hahahaha.] (nona Jepang) [Silahkan mengejekku terus Tuan...Ingat laporan PERFORMA KINERJA PEGAWAI ada padaku.] (muka datar) [Ingat juga sekarang dokumen itu ada padaku.] (muka datar) Poto dokumen yang Rika tertinggal di Jeep Zain. Sial! Aku selalu jadi pelupa akan barang-barang sekitarku saat kelelahan. (nona Jepang) [Tidaaaaaakkkkkkkkkkk] Pagi ini Zain sengaja membawa beberapa helai roti untuk dimakan Rika saat di mobil nanti, satu hal yang diketahui Zain bahwa melupakan sarapan adalah kebiasaan buruk Rika dan informasi itu dia dapatkan dari Pak Dani yang mendapat pesan dari Mister Kurota untuk mengingatkan Rika sarapan dan mandi, karena dia bisa tidur sampai pagi dengan sepatu yang masih menempel. Walau hal ini bukanlah Job Desk nya tetapi Zain tidak bisa menutup mata begitu saja, apalagi jika menyangkut kesehatan dan pembiasaan baik. Rika yang 4 tahun lebih tua darinya ternyata seorang yang sangat urakan, malas berolahraga, melupakan sarapan, dan tidur seharian saat libur adalah hal yang membuat Zain gemas kepada Gadis Jepun ini. “Ohayoo! Rika Chan, O genki desu ka?” ucap Zain gegayaan pake bahasa Jepang sambil membuka pintu Jeep nya untuk Rika walau sebenarnya Rika bisa masuk sendiri, tapi Zain tetaplah Zain lelaki dengan Good Manner. “Hait, Genki desu, domo arigato!” dengan logat wanita khas Jepang. Tone rendah yang sedikit mendesah merayu, membuat Zain tersenyum lebar karena Rika sangat baik menerima kelakar Zain. “Dan ini adalah sarapan anda nona Rika gadis Jepun,” ledekan Zain yang berhasil menyita perhatian Rika. “Perasaan aku tak ada pesan untuk bawakan sarapan kan Zain?” Rika mengecek lagi pesan di HP nya karena seingatnya dia hanya mengingatkan Zain untuk membawakan Berkas yang tertinggal. Semburat kemerahan tidak mau dia tunjukkan mengingat perhatian kecil seperti ini adalah hal yang menghangatkan hati. Terbuai terlena dengan perlakuan Zain sekaligus waspada dan takut campur jadi satu setelah mengenal sosoknya. “Tidak, tapi Aku tahu kau belum sarapan dan Kau akan melupakan sarapan dan langsung bekerja dengan perut kosong, itu tak baik ngomong-ngomong,” Zain dan petuahnya. Perlu diingat, Zain tidak pernah melupakan Push Up sebanyak 50 kali dan Sit Up sebanyak 50 kali juga sehabis Shubuh, dan perut berkotak itulah hasilnya. Julukannya adalah Mister ABS. “Iya benar, dan ini adalah hal yang harus diperbaiki juga.” “Berjanjilah satu hal...” “Apa?” “Jika kau sudah selesai memperbaikinya, Aku yang pertama tahu,” Zain membalik omongan Rika kemarin dan hal itu sontak memancing gelak tawa Rika. “Bisa saja Kau Tuan Zain Al Fatih” “Berapa Bahasa yang Kau bisa Rik?” Zain penasaran dengan kepintaran wanita di sebelahnya ini. “Inggris, Jepang, sedikit Jerman, Indonesia, Melayu jika boleh ditambahkan,” Rika menjawab sambil mengunyah Roti di mulutnya. “Ya ampun!! Telan dulu Rik rotinya, baru Kau ngomong, itu liat remahan roti beserak di jok ku.” Zain geleng kepala melihat tingkah urakan Rika. “Maaf ... Maaf...,” sambil mengutip remahan roti di Jok. “Haha ... Haha. Kau sangat luar biasa jorok Rika!” Ejekan yang membuat Zain mendapat pukulan keras di bahunya. Diikuti cemberut Rika setelahnya. “Tapi kau sangat hebat, bahkan Kau bisa bahasa Jerman. Kenapa harus Jerman?” “Karena alat produksi kita kan banyak dari Jerman, aku harus paham bahasanya untuk bisa menilai performa mesin itu kan!” “Oh Iya! Benar juga ya” sahut Zain takjub. Perjalanan menuju kantor yang sangat berbeda ini dirasakan Zain. Betapa Rika yang urakan itu bisa serta merta menyentil perasaan Zain yang sepi. Belum terdefinisikan namun kenyamanan berada di samping Rika dirasakan Zain sangat nyata. Harapan untuk dapat mencintai dan menyayangi seorang wanita selain Bening memang selalu menjadi topik hangat yang selalu berkecamuk dalam hati Zain. Mau dan tidak selalu menjadi hal yang bertolak belakang. Bening dan Rika memang berbeda, tapi ada satu kesamaan dari mereka berdua, yaitu bisa menorehkan rasa nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN