Kulepas belenggu diri dan melihatmu, Tersenyum berjalan ke arahku dengan langkah pelan, Inginku bergegas menarikmu tergesa, Kakiku terikat sebuah janji yang dalam. Perlahan Zain melihat kembali potret dirinya dalam gelap, mencoba menimbang rasa. Merasa yakin bahwa keputusannya bukan karena logika semata namun benar karena adanya cinta. Penyangkalan sering kali mendobrak pertahanan, namun kalah ketika melihat wajahnya. Zain sangat gelisah sampai tidak bisa memejamkan mata, masih ada yang terganjal dalam pikirannya,“Rik ... kau dah tidur?” tanyanya ragu sambil menimbang apakah harus berbicara atau diam. Rika menangkap kegelisahan Zain dengan sangat jelas namun tetap mencoba untuk tidak bertanya lebih jauh, “Kenapa ... kamu ga bisa tidur?” sahut Rika sambil duduk bersandar menghadap

