BAB 3

1171 Kata
BAB 3 Hari ini tidak seperti kemarin. Matahari bersinar cerah, tapi mendung justru menggantung di wajah Naya. Tidak sengaja melihat sosok Gasta kemarin, dengan cepat mengubah hidupnya. Entah sudah berapa pelanggan yang komplain akibat kecerobohan Naya sejak pagi. Naya hampir merasa dirinya baik-baik saja setelah sekian lama tidak bertemu dengan Gasta. Rasa bersalah Naya terhadap cinta pertamanya itu perlahan sirna meski tidak mengubah pribadinya yang masih tertutup akibat pengkhianatan sahabatnya. Namun, kini rasa bersalah Naya terhadap lelaki itu kembali menghantui. Membuat Naya kurang fokus dalam bekerja. Pak Husain yang melihat keanehan dalam diri Naya, memerintahkan perempuan itu untuk beristirahat lebih awal dan memanggil pegawai lain untuk menggantikan Naya bekerja. Vicko yang mendengar cerita Laras tentang Naya, datang lebih awal untuk memastikan keadaan perempuan itu. Dia menemui Naya yang masih tidak bergeming di ruang istirahat, duduk memeluk lutut dan bersandar pada tembok bercat biru muda yang bertambah dingin karena pendingin ruangan. “Nay,” sapa Vicko saat dilihatnya netra Naya yang terpejam, lalu duduk di sebelah Naya tanpa diminta. Naya membuka mata saat mendengar sapaan Vicko. Lelaki itu mengangsurkan secangkir cokelat hangat yang langsung disambut Naya tanpa protes seperti biasa. Vicko menarik kedua sudut bibirnya ke atas saat melihat Naya meneguk minumannya hingga tandas. Dia menerima dengan suka rela saat perempuan itu mengangsurkan cangkir yang sudah kosong kembali ke tangannya. “Kamu sakit, Nay?” Naya hanya menggeleng sebagai jawaban. Vicko meletakkan cangkir di meja yang terletak di sebelahnya. “Mau aku anter pulang?” tanya sang barista untuk kedua kalinya yang lagi-lagi hanya dijawab dengan gelengan. Vicko menarik napas panjang. “Kamu pucet banget, Nay.” “Aku nggak apa-apa, kok,” sanggah Naya dengan senyum paksa. Derap langkah terdengar mendekati ruang istirahat. “Gimana, Nay? Kamu sakit?” tanya Pak Husain begitu sampai di ruang istirahat. Naya menggeleng perlahan. “Saya nggak sakit, Pak. Mungkin Cuma kecapaian aja,” jawabnya kemudian. “Tapi kamu pucat sekali, Nay. Sebaiknya kamu periksa dulu. Biar Vicko yang antar, ya?!” kata Pak Husain. “Nanti biar saya yang bayar dokternya,” imbuhnya. “Makasih, Pak. Tapi beneran, saya nggak apa-apa, kok. Setelah istirahat, nanti juga baikan.” Naya tersenyum samar. Pak Husain menggeleng-geleng melihat Naya yang tetap menolak untuk periksa. “Ya sudah, lebih baik kamu pulang sekarang! Biar Vicko yang antar,” paksa Pak Husain yang tidak bisa lagi dibantah. “Yuk!” ajak Vicko yang mulai berdiri. Naya membereskan tas sebelum akhirnya beranjak mengikuti langkah Vicko keluar kafe. *** “Makasih ya, udah dianter pulang,” ujar Naya begitu tiba di tempat kos. Dia melenggang begitu saja tanpa menghiraukan Vicko yang sedang memarkirkan motor di halaman. “Nay,” panggil Vicko. Empunya nama berhenti dan menoleh ke arah suara. Vicko pun mendekat dan mengangsurkan makanan yang telah terbungkus rapi kepada Naya. Naya menggigit bibir bawahnya sebelum membalas, “Aku nggak mau merepotkan Kak Vicko. Maaf, bukannya nolak. Tapi—“ Ucapan Naya terhenti ketika tiba-tiba Vicko meraih tangannya dan meletakkan bingkisan itu di sana. “Seenggaknya kamu nggak perlu repot-repot keluar sendiri dengan kondisi seperti itu, Nay,” ucap Vicko. “Nggak usah merasa nggak enak. Kalau nggak enak kasihkan kucing aja,” tambahnya ketika melihat kucing ibu kos melintas di sebelah mereka. Naya pun terpaksa menerima. “Makasih, ya?” suaranya terdengar samar. Vicko tersenyum. Meski tahu bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, lelaki itu tidak ada bosannya memerhatikan Naya. “Sama-sama. Kalau butuh apa-apa, nggak usah sungkan hubungi aku, ya?” Vicko menawarkan bantuan. “Paket data masih berlaku, kan?” tanya Vicko yang disambut senyum Naya yang masih berdiri di depannya. Mungkin aku terlalu egois. Memaksakan pemilik senyum membuka hati untuk orang yang sama sekali tidak dia inginkan. Mungkin memang seharusnya cukup seperti ini saja. Bahwa hubungan kita, tidak bisa lebih dari sekedar teman. Vicko membalas senyum Naya. “Ya udah. Aku cabut, ya? Biar kamu bisa langsung istirahat,” pamit Vicko sambil berlalu menghampiri motornya. “Makasih banyak, ya?” “Sama-sama,” balas Vicko sambil melambaikan tangan kemudian melaju dengan motor sport-nya. *** “Pernah denger nggak, Nay? Kata orang, kalau ada sepasang anak yang saling suka, dan ketika udah besar mereka jadian, cinta mereka bakal awet.” Gasta membuka suara. “Masa, sih?” Gasta mengangguk-angguk. Naya menatap Gasta lekat-lekat. “Tapi kan cuma aku yang suka kamu dari kecil. Dulu kamu nggak kenal aku, kan? Bahkan sampai sekarang, kamu nggak ingat sosok aku waktu kecil. Kamu cuma ingat Faya gendut yang dulu sekelas sama aku. Bukan aku,” protes Naya. “Ya maaf, tapi yang penting, kamu orang pertama yang bisa mengisi kekosongan hatiku, Nay,” tegas Gasta sembari mencubit pipi Naya yang merah merona. “Aduuuh ... sakit, tahu?” Naya kembali protes sambil menggosok-gosok pipinya yang terasa panas. Gasta terkekeh sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Sesaat kemudian, Naya melihat Gasta mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. “Kamu mau ngapain?” tanya Naya basa-basi. “Mau merokok, masa mau ngapain? Emang kenapa?” Gasta balik bertanya. “Aku nggak suka cowok perokok.” Jawab Naya sekenanya. “Ya udah.” Gasta mengembalikan sebatang rokok ke dalam bungkusnya. “Nggak jadi kalau gitu,” ucapnya. “Kenapa?” tanya Naya sambil menaikkan sebelah alisnya. “Katanya kamu nggak suka,” jawab Gasta yang tetap terlihat tenang. Naya tersenyum melihat Gasta yang menahan diri untuk tidak merokok hanya karena Naya tidak menyukainya. “Kenapa senyum-senyum?” tanya Gasta yang hanya dibalas gelengan Naya. “Aku rasa, aku mau melakukan sesuatu dan butuh dukungan kamu,” lanjutnya. “Melakukan apa?” tanya Naya bingung. “Karena kamu nggak suka cowok perokok, lebih baik aku berhenti merokok.” Gasta melempar sebungkus rokok yang sejak tadi digenggamnya ke dalam tempat sampah. Dahi Naya mengerut. “Kamu serius?” “Masa iya, aku bohong?” Gasta terlihat meyakinkan. “Semangatin, dong!” pintanya kemudian. Naya meraih tangan Gasta ke dalam genggaman. “Makasih banyak, ya? Nggak salah, aku milih kamu,” katanya sembari menyandarkan kepala di bahu Gasta dan mempererat genggamannya. Hari pertama Naya keluar bersama Gasta begitu mengesankan. Tidak salah Naya memilih lelaki itu. Lelaki yang dikagumi sejak kecil dan selalu bisa membuat Naya tersenyum dengan caranya sendiri. *** Naya menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. Kepalanya kembali berdenyut ketika tiba-tiba dirinya teringat masa lalunya dengan Gasta. Selama berhubungan dengan Naya, Gasta adalah sosok penyayang yang tidak pernah sekali pun membuat hatinya terluka meski Naya berkali-kali membuatnya marah. Gasta tetap saja sabar menghadapinya. Selalu memenuhi apa pun permintaan Naya. Naya beranjak dari pembaringan dengan gusar. Disibakkannya gorden yang menutup jendela dengan kasar. Rasa penyesalan Naya yang telah melukai hati Gasta tidak pernah hilang begitu saja dari ingatan. Dinginnya angin malam terasa menusuk tulang ketika Naya membuka jendela kamar lebar-lebar. Dalam kegelapan itu, hanya sosok Gasta yang terlintas dalam pikiran. Wajah Naya terasa memanas, seiring dengan butiran kristal yang mengalir menganak sungai, membasahi pipinya yang merah merona. “Kamu di mana, Gas? Maafin aku,” gumamnya dalam isak tangis yang tidak dapat lagi ditahan. Angin malam yang dingin tak hentinya menampar wajah Naya dalam kegundahan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN