BAB 14 Suasana Berbeda Naya mulai terbiasa dengan celoteh dan canda tawa teman-temannya. Tak jarang, dirinya ikut tersenyum. Hari-hari Naya sudah tidak lagi diliputi rasa kecewanya terhadap Gasta. Meski terkadang bayangan Gasta masih saja terlintas dalam benaknya, Naya berusaha sebisa mungkin untuk tidak larut di dalamnya. “Senyummu itu lho Nay, bikin geregetan,” canda Fatih dari balik meja bar. Septa ikut tertawa, “Kamu jangan senyum-senyum. Nanti si Fatih jadi meleleh!” “Apa aku harus nangis?” ujar Naya. Dia hanya menggelengkan kepala melihat kedua baristanya yang kocak. Fatih memperlihatkan muka sedihnya. “Aduh! Kalau kamu nangis bahaya. Bisa-bisa aku digantung sama Bapak kamu,” candanya. “Jangan nangis ya Bi, senyum aja!” lanjutnya. Lagi-lagi Septa tertawa. “Ciyeeehhh ... Bi,” s

