Mata Humaira membelalak. Bagaimana bisa pria idaman Rainy yang kerap diceritakan itu ternyata adalah Akram. Mereka sudah sangat paham bagaimana Rainy sangat mengaguminya bahkan saat ia sendiri tak yakin bisa bertemu lagi atau tidak. “Suratnya tentang apa?” tanya Humaira tak lagi fokus pada foto Akram. Mia menelisik lebih dalam amplop itu. Ia menemukan secarik kertas dan mengangkatnya, “Sepertinya rahasia, Kak.” “Ya sudah kamu baca sendiri saja. Kakak tidak ikut campur.” Mia mengangguk kecil. Tentu tak elok jika ia membuka surat itu di depan Humaira. Pastilah Rainy pun tak akan berkenan. Mia menutup paket dari Rainy itu. Ia harus segera membersihkan dirinya setelah perjalanan yang tak sebentar itu. “Are you okey?” cegah Humaira mengerti betul apa yang dirasakan Mia. “Okey, Kak.” “Be

