Bab 70: Satu Bulan Lagi

1447 Kata
Hari pun berganti. Setelah melakukan perawatan intensif di rumah sakit, satu minggu berselang Mia diperbolehkan untuk pulang. "Yakin bisa ngurus sendiri, Kram?" tanya Sufi setelah mereka sampai di rumah. Ada kekhawatiran mendalam tentang bagaimana cara Akram merawat Mia nantinya. "Yakin, Bu." "Apa ndak sebaiknya Mia ikut kami?" tanya Agit yang juga khawatir saat tidak ada orang lain yang membantu Akram. Pasti sangat merepotkan. "Tidak perlu, Pak. Nanti Akram bagi waktu sambil di toko," ujar Akram sambil membantu Mia duduk di tepian ranjang. Agit mengangguk. Meski ragu ia berusaha memercayai menantunya. "Makasih, Mas." "Iya, Dik." Akram tersenyum gemas. Sontak membuat pipi Mia memerah. "Hmmmmm Dak, dek," celetuk Agit. Sufi menepuk lengan suaminya. "Bapak!" "Sakit, Bu." "Lagian aneh aja." "Pengen dipanggil Dik juga?" goda Agit. Sufi menggeleng. Suaminya kalau sudah ketemu orang selalu saja bercanda. Sufi pun ikut duduk di sebelah Mia. "Apa Mbok De diminta buat di sini aja, ya, Pak?" Sufi terpikir akan sebuah solusi. "Nah, iya. Cocok itu, Bu." "Ndak usah, Bu. Nanti ibu repot, di rumah nggak ada yang bantu," tolak Mia. Ia tidak ingin terus-terusan menjadi beban orangtuanya. Terlebih setelah ia sudah menikah. "Nggak apa-apa. Kamu pasti belum bisa beres-beres juga. Biar Mbok De yang di sini." Sufi bersikukuh dengan pendapatnya. "Iya, Bapak setuju. Tiap pagi Bapak yang nganter nggak apa-apa." Agit mempertegas pernyataan Sufi dengan pendapatnya. Mia terus menggeleng. Hal itu hanya akan menambah repot keluarganya. Ia tidak mau. "Nggak usah, Bu. Mia bisa." "Iya, Pak, Bu, kami bisa. Nanti biar Akram yang beres-beres. Bapak, Ibu tidak perlu khawatir." Sufi diam sejenak. Ia mempertimbangkan ucapan anak dan menantunya. "Piye, Pak? Ibu nggak tega," rajuk Sufi. "Oh, Apa Frans aja gantian ke sini. Dia di toko cuma ngawasin tiap harinya. Nggak sibuk banget," usul Agit. "Nggak, Pak!" seru Mia dan Akram bersama. Sontak membuat Sufi dan Agit tersentak. "Nggak usah, Pak. Saya sebagai suami Mia bisa ngurus istri saya. Bapak percaya saja," tegas Akram. "Kamu kenapa, Kram?" tanya Agit. Menantunya itu baru saja membentak. "Maaf, Pak. Maksud Akram, Akram bisa jagain Mia sambil kerja. Bapak ndak perlu khawatir." Mia menatap tak percaya pada Akram yang baru saja melontarkan sebuah pengakuan. Istri saya? Menjaga? Hal itu tak pelak membuatnya senang. "Yow, yow, ya udah. Bagaimana enaknya kalian aja, lah. Yang penting kalau ada apa-apa kabarin terus." Sufi menyudahi keinginannya. "Nggih, Bu," sahut Akram. Setelah orang tua Mia meninggalkan rumah mereka, Akram mulai membereskan beberapa hal. Dania sudah tidak lagi menumpang karena Malka sudah pulang. Namun, Akram masih belum mengembalikan barang-barangnya lagi seperti semula. "Mas," panggil Mia. Ia masih belum nyaman berdua saja dengan Akram di dalam kamar. "Apa?" "Maafin aku, ya, Mas." "Maaf kenapa?" tanya Akram cuek. Ia tengah mengeluarkan baju kotor Mia dari dalam tas. Nantinya ia juga akan mencucinya. "Jadi Mas yang bersih-bersih. Harusnya aku." Akram menggeleng. Ia tak menyahut dan tetap melakukan aktivitasnya tanpa beban. "Makasih banyak, Mas," tutur Mia. "Sudah sepantasnya. Kamu nggak usah sungkan." Akram mengangkat tas itu dan meninggalkan kamar Mia. Pintu itu pun tertutup rapat. Mia menatapnya dengan tatapan hampa. Rasa tak nyaman itu kembali muncul ketika Akram menjadi semakin baik. Jangan-jangan suaminya hanya kasihan. Semua ini terjadi hanya karena keadaan. Bisa saja setelah ia pulih, Akram kembali ke sifat aslinya. "Astaghfirulloh, mikir apa kamu, Mi," ucapnya sambil memukul pelan kepalanya. * Di dapur, Akram sibuk mengolah bahan makanan yang ada. Meski tak pandai memasak, ia tidak buta dengan aktivitas rumahan yang kerap dilakukan perempuan itu. Hari ini Akram sengaja mengambil izin tidak bekerja di toko demi menemani istrinya. Satu piring nasi goreng 'mawut' tersaji. Ia beri nama itu mengingat isian dari nasi goreng yang ia buat cukup komplit. Pun caranya memasak yang sebagian kecil dari butiran nasi itu keluar dari penggorengan. Menjadi tidak rapi dan dalam bahasa jawa khas daerahnya adalah mawut. Akram tersenyum sendiri. Ia puas dengan apa yang ia kerjakan. Mulai dari membersihkan rumah, menjemur pakaian sampai membuatkan menu makan siang. Ia sengaja tidak memanggil Mia turun, ia akan mengantarkannya. "Masuk, Mas," jawab Mia. "Loh, ngapain kamu?" tanya Akram kaget. Istrinya tengah menaiki sebuah kursi kecil. "Nyari buku, Mas." "Buku?" tanya Akram seraya meletakkan nampan di atas meja. "Iya." "Buku apa sampai disimpen di atas gitu," keluh Akram. "Mana ya?" ucap Mia. Ia lupa menaruhnya karena sudah cukup lama. "Minggir!" ujar Akram. Apa yang dilakukan Mia cukup riskan. "Aku bisa sendiri, Mas." "Turun sekarang!" peritah Akram. Ia tidak suka dibantah. Mia pun beranjak turun dari kursi itu sambil berpegangan pada badan lemari. Padahal, ia ingin mencarinya sendiri. Akram menggantikan posisi Mia. Ia dengan postur tubuh yang tinggi, ditambah kursi kecil itu sudah bisa membuatnya melihat bagian atas lemari. Di sana ada empat sampai lima buku yang tidak tertumpuk. "Ambil yang mana?" tanya Akram seraya menunduk. Mia tengah menyandarkan punggungnya. Dipanggil Akram, ia pun mendongak. "Yang mana?" "Iya. Ini ada beberapa," jawab Akram. Kembali ia melihat ke atas lemari. "Semuanya aja, Mas." Akram mengangguk. Ia julurkan tangannya untuk mengambil semua buku. Kemudian, turun dari kursi kecil itu. "Uhuk! Uhuk!" Debu yang berterbangan membuat Mia terbatuk. "Berapa tahun disimpen?" kelakar Akram. Ia berjalan ke dekat pintu di mana ada tempat sampah, lalu menepuk-nepuk permukaan buku milik istrinya. Sekilas ia bisa melihat nama di bagian sampul buku tersebut. Ia membacanya. "Mia dan Frans," lirihnya. Ia berusaha mengabaikan dan terus membersihkan kelima buku yang semuanya memiliki nama sama. Setelah selesai ia memberikan pada istrinya. "Nih." "Makasih, Mas," ujar Mia senang. Akram mengangguk. Ia perhatikan mata Mia yang berbinar. Dalam hati ia berdecak kesal. "Eh, Mas udah masak?" tanya Mia. Fokusnya teralihkan oleh wangi nasi goreng. "Iya." "Kenapa dibawa ke sini, Mas? Aku bisa turun." Mood Akram menjadi buruk. Respons Mia saat melihat buku dan nasi goreng sangat berbeda. "Aku juga nggak tau kenapa aku bawa ke sini," jawab Akram. "Heh?" "Itu buku apa? Buku sekolah?" tanya Akram. Ia telanjur penasaran. Mia mendudukkan diri di tepian ranjang. Ia perlihatkan satu per satu buku-buku itu. "Ini ada novel, ada dreams book, ada buku desain sama ini buku referensi kampus asing," terang Mia. "Punya kakak kamu?" selidik Akram. "Ya. Ini lebih ke warisan ya. Beberapa kak Frans yang ngasih. Kalau ini punya aku sendiri." Mia menunjuk buku dengan tulisan dreams book. "Oh. Kamu mau kuliah ke luar negri? Ke mana itu? Zurrrr?" "Zurich?" tanya Mia dengan pelafalan aksen swiss yang sempurna. "Ya itu." Mia menggeleng. "Nggak, Mas. Aku nggak minat ke sana. Itu dulu kampusnya Kak Frans." "Oh. Sekarang ada rencana ke sana? Frans bilang begitu." Meski Akram tahan, ucapan itu terlontar juga. Lebih baik ia tahu sejak awal. Mia terdiam. Rupanya kakak angkatnya sudah menjalankan sesuai rencana. Sekarang gilirannya. "Kak Frans bilang begitu?" Akram mengangguk. "Waktu launching D and M. Dia minta ijin." "Apa Mas bakal ijinin?" Akram sedikit mengernyit. Ia tak menyangka selugas itu Mia menanyakannya. Hatinya mencelos. "Ya, jelas. Kalau emang kamu pengen kenapa nggak." "Serius?" "Iya. Lagian aku bukan tipe laki-laki yang bakal nutup mimpi istrinya. Aku fair aja, meski mimpiku udah kandas." "Maksud, Mas?" Akram lupa Mia belum tahu mimpi besarnya. Ia belum pernah membahasnya barang berdua. Ia membahas itu dengan orang lain. "Nggak apa-apa. Lupain aja. Yang pasti kalau kamu mau kuliah ya sana. Aku nggak ngelarang." Entah mengapa jawaban Akram yang seperti itu justru membuat Mia sedih. Ia berpikir Akram akan mempertahankannya. "Kita bakal LDM, Mas," lirih Mia. Sesuatu yang harusnya menjadi ketakutan bagi pasangan suami istri. "Nggak masalah. Toh sejak awal juga seperti itu." Akram tak mampu mengendalikan ucapannya. Ia juga tidak pantas melarang Mia. Yang bisa ia lakukan hanyalah bersikap kasar. Raut wajah Mia berubah sendu. Keputusannya pergi dari suaminya sendiri memang yang paling benar. Tidak mungkin ia bertahan jika terus terabaikan. "Satu bulan lagi aku berangkat, Mas." Akram terbelalak. "Satu bulan?" Mia mengangguk. Ia akan mengikuti beberapa kelas musim panas atau mungkin kelas bahasa. Ia belum siap sepenuhnya menjadi mahasiswa. "Sama Frans?" tanya Akram sekadar menguatkan dugaanya. "Iya. Kak Frans yang bakal bantu urus." "Kalian hanya berdua? Kalian bukan mahram." Akram mulai tidak terima. "Aku ke Irlandia, Mas sama saudara perempuanku. Kak Frans di swiss." "Irlandia?" Mia mengangguk lagi. Salah satu tempat yang ingin ia kunjungi ada di sana. Dulu, ia sempat memikirkannya datang bersama orang tersayang. Akram meraup wajahnya kasar. Obrolan mereka terlampau berat. Ia belum siap. Akram pun berdiri. Ia perlu memikirkan semua ini seorang diri. "Meski kita selalu berjarak sejak awal, tolong pertahankan komitmen ini, Mas. Setidaknya sampai aku siap bilang ke Bapak, Ibu kalau diantara kita hanya sebatas...." Kalimat Mia terhenti. Tatapan Akram menghunjam. "Kita bahas lain kali," tukas Akram seraya mengayunkan langkah. Mia tertegun. Ia tahu ini semua keliru. Seharusnya jika akan pergi ia tawarkan perpisahan. Namun, ia terlalu ciut nyali untuk sekadar berbicara pada ayah ibunya jika suaminya tak pernah mencintainya. Setitik air bening lolos dari pelupuk mata Mia. Ini salah, tapi ia tak bisa meluruskannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN