Bab 69: Sehangat Kuah Bakso

1220 Kata
Akram kembali ke kamar inap Mia dengan perasaan campur aduk. Ada kepuasan tersendiri saat akhirnya bisa mengusir Frans, tapi ada perasaan aneh juga di mana ia memikirkan mengapa melakukan hal itu. Akram menggeleng. Ia tepis semua pikiran yang bersliweran dan mendorong pintu kamar inap tersebut. "Udah selesai?" tanyanya saat mendapati Mia tengah duduk di sofa. "Udah, Mas. Mas dari mana?" "Oh, ini!" ucap Akram sambil mengangkat kresek hitam di tangan kanannya. Ia berjalan cukup cepat seraya meletakkan bungkusan itu. "Apaan, Mas?" "Bakso." Mata Mia membulat. "Bakso?" Akram mengangguk kecil. Ia ambil mangkuk beserta sendok yang sudah ia persiapkan di laci. Tadi sebelum pergi ia sempat meminjamnya. "Mas beli di mana? Emangnya boleh?" "Beli di tukang bakso, lah. Masa iya di toko bangunan," celetuk Akram. Tangannya lincah membuka simpul plastik pembungkus bakso. Mia meneguk salivanya. Sejak siang nafsu makannya berkurang. Namun, melihat semangkuk bakso di meja tiba-tiba ia menjadi lapar. "Kenapa? Mau?" goda Akram. Ia memang ingin meledek istrinya. Mia mengangguk kecil. "Boleh?" "Pakai sambel nggak, Neng? Kecap juga?" seloroh Akram sambil menyunggingkan senyum. Hal itu sontak membuat Mia tersipu malu. "Dikit," jawab Mia. "Oke. Bakso sapi lengkap dengan mie campur sambel dikit lima rebu ya, Neng," ujar Akram seraya menyerahkan mangkuk tersebut. Mia terus tersenyum. Akram mengajaknya bercanda. "Murah amat?" "Yang penting nggak murahan," kelakar Akram. Ia membuka satu bungkus lagi, menuangnya di mangkuk dan tanpa tambahan apa-apa mulai menyantapnya. "Sueger," ucapnya puas. Mia kembali mengulas senyum. Akram sangat manis bila seperti ini. "Doa dulu, Mas." "Udah bismillah dalam hati." Makan malam yang sudah lewat jamnya itu pun menjadi cukup hangat. Sehangat bakso kuah yang dibeli Akram. Mia terus tersenyum. Ia mencoba cita rasa olahan daging itu dan mengangguk puas. "Mantep, kan?" "Iya, Mas." "Ya udah ini, habiskan." Akram mengambil satu bakso bulat miliknya untik Mia. "Eh, kebanyakan." "Biar cepet sembuh. Nggak kangen rumah?" tanya Akram sambil menoleh. Mia menghentikan gerakan tangannya. Ia tatap wajah bersih Akram. Hidung mancung, rahang yang proporsional dan bibir....Mia menggeleng. "Iya, Mas." Keduanya pun fokus menghabiskan satu porsi bakso masing-masing. Aktivitas Akram hari ini cukup padat. Sebenarnya ia ingin berehat. Namun, Mia masih terlihat belum ingin tidur. "Mas tidur dulu nggak apa-apa," ujar Mia. Sejak tadi suaminya sudah menguap. Akram menggeleng. Ia tahankan kepalanya agar tidak menyentuh bantal meski sangat ingin. "Enggak, Mi." "Kalau begitu duduknya di sofa aja, Mas. Biar ada sandaran." Akram menggeleng lagi. "Sini dulu aja, nggak apa-apa. Kalau kamu udah rebahan baru aku pindah." Ya. Mia masih asyik duduk tegak di brankarnya. Setelah kenyang dan mengambil obat malam, ia memilih membaca sebuah buku yang kemarin sempat ia mintakan dari Frans. "Dikit lagi, ya, Mas." "Ya. Sampai pagi juga boleh." Akram bersedekap. Ia berusaha menghilangkan rasa kantuknya. "Mas." "Hmmm." "Tadi siang acaranya lancar?" Mia sadar ia belum menanyakannya. Sejak kedatangan Akram tak sempat topik itu terlontar. "Lancar." "Banyak yang datang?" Akram mengangguk. Ia benar-benar sudah mengantuk tapi ia tahan-tahankan. "Rame?" "Ya rame, lah." "Siapa aja yang datang? Mas kenal?" Akram mengganti posisi duduknya. Kali ini ia menopang dagu dengan tangan. "Yang kenal ya cuma keluarga aja. Tambah Mas Danang sama Rios." "Serius, Mas?" Akram menganguk. Ia sangat ngantuk. Ia tak mau terlalu menanggapi pertanyaan Mia. "Beneran hanya itu?" "Iya. Lagian juga tamu banyakan tamu kakak kamu. Mana aku paham." "Tak satu pun?" "Iya." Mia tersenyum samar. Ia sedang ingin melihat kejujuran Akram. Apa susahnya, Mas? "Kenapa nanyain? Udah selesai baca bukunya?" Mia mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin tertangkap basah sedang mengamati wajah Akram. Mia pun menutup buku itu seraya meletakkannya tepat di samping kiri di mana posisi Akram lebih dekat dengan buku tersebut. Universitas Zurich? Akram mengejanya. Namun, ia enggan menanyakan. Mungkin, maksud dari perkataan Frans tentang Mia yang akan melanjutkan kuliah, bisa jadi ke sana. "Kamu kenapa nggak lanjutin sekolah, Mas?" tanya Mia tiba-tiba. Ia masih ingin bertukar pikiran dengan suaminya. Akram tersenyum samar. "Nggak ada biaya." "Bukannya bisa lewat jalur beasiswa, Mas?" Akram menggeleng kecil. Jika ia kuliah, mana mungkin ia menikahi gadis di depannya. Aneh saja. "Huammmmm!!!" "Udah ngantuk, Mas?" "Belum." "Pindah, aja." "Kamu udah mau tidur?" Mia pun mengangguk. Ia tidak mungkin memperpanjang percakapan mereka. Sigap Akram berdiri. Ia bantu istrinya memposisikan diri dengan baik. "Hati-hati. Nanti ketarik." Mia pun mengangguk. Sangat pelan, Akram memegangi bahu Mia hingga gadis itu bisa berbaring dengan nyaman. Ini kali pertama ia memperhatikan gadis itu dalam posisi rebah. Sejenak Akram berdiam diri. Ia lesakkan tatapan tepat di bola mata Miana Agya. Perempuan yang menjadi istrinya sudah lebih dari enam bulan dan belum ia...Akram menggeleng. Bukan waktunya memikirkan hal-hal semacam itu. "Tidur yang nyenyak," ujarnya. "Iya, Mas." Sekuat hati Mia mengatur ritme detak jantung. Sedekat itu bersama Akram, ditambah kedekatan mereka di kamar mandi sebelumnya, membuatnya sulit menguasai diri. Beruntung Akram segera beranjak menuju sofa. Ia menghamburkan tubuhnya dan terlelap begitu saja. Mia pun bisa bernapas lega. * Akram tersentak di pagi hari. Saat ia terbangun, keluarga Mia sudah berada di sana. "Eh, Pak, Bu," ujar Akram gugup. Ia bahkan tak mendengar alarm dari ponselnya dan malah bangun terlambat. "Capek, Kram? Mia susah diatur, ya," kelakar Agit. Akram menggeleng. Ia murni kelelahan bukan karena Mia. "Ndak, Pak. Ndak begitu." "Capek habis nerima tamu ya, Kram. Bapak kamu kalau bikin acara suka nggak perhitungan." Giliran Sufi yang menebak. Ia percaya penyebab Akram bangun kesiangan karena itu. Akram menggeleng lagi. Ia tidak bermaksud memgambinghitamkan acara. "Permisi bentar, Pak, Bu." "Ya. Silakan." Akram mencuci mukanya di kamar mandi. Menggosok gigi dan merapikan pakaiannya. Benar-benar memalukan saat harusnya menjaga istrinya justru bangun kesiangan. "Selamat pagi Bapak, Ibu. Selamat pagi Mbak Mia," sapa perawat yang datang membawakan sarapan. "Pagi, Sus," jawab Mia. "Jam sepuluh nanti ada kunjungan, ya. Pastikan sarapannya dihabiskan dan obat sudah diminum." "Baik, Sus." Perawat itu pun mengambil nampan semalam dan tersenyum samar mendapati dua mangkuk di atasnya. "Wah, giliran bakso habis ya, Mbak Mia?" selorohnya. Mia tersenyum simpul. Perawat tersebut paham apa yang dilakukannya semalam. "Makasih, Sus," bisiknya. Perawat itu pun tersenyum. Mereka berdua bermain kode yang seolah hanya bisa dipahami keduanya dan membuat Agit serta Sufi tertegun. "Nanti salam buat suaminya, ya, Mbak," goda perawat itu seraya berlalu. Akram keluar dari kamar mandi dan seketika menjadi pusat perhatian. Agit, Mia, Sufi kompak melihat ke arahnya. Ia merasa ada yang salah. "Bagus, Kram. Pinjam mangkuknya ke perawat sekalian biar ketahuan," ujar Agit seraya terbahak. Mia tak sampai hati mengikuti gelak tawa ayahnya, ia hanya tersenyum sedikit. "Wes, wes, sama aja kalian itu. Orang disuruh nurut dulu malah dikasih bakso," timpal Sufi. "Enak, kok, Bu. Mia jadinya mau makan. Coba yang jaga Ibu. Mana ada," protes Agit. Ia juga melakukan hal sama di hari sebelumnya. Mia hanya tersenyum. Ia malu karena ketahuan suka sekali dengan olahan daginh itu. "Nambah punya Akram, Pak. Padahal Akram yow laper," tutur Akram. Sufi menggeleng sambil berdecak. "Kamu itu!" Mia hanya cengengesan. Baik ayah maupun suaminya memperlakukannya dengan sangat baik. Pagi di kamar inap itu menjadi cukup ramai. Candaan yang dilontarkan Akram juga mengasyikkan. Ia sudah mulai bisa membawa diri. Mereka berempat membaur layaknya keluarga yang selalu ada satu sama lain. Tanpa pernah menyadari bahwa di luar, tepatnya di balik pintu kamar inap Mia, Frans memerhatikan interaksi mereka. Ia menatap Mia dari celah kaca pintu. Bagaimana gadis itu nampak begitu bahagia. Frans sadar diri. Ia pergi meninggalkan kamar inap itu meski hanya perlu selangkah lagi. Di genggaman tangannya juga terdapat satu buket bunga yang tidak bisa ia berikan pada Mia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN