bc

Dua Garis Rahasia

book_age18+
82
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
family
HE
teacherxstudent
age gap
fated
forced
opposites attract
friends to lovers
arranged marriage
badboy
kickass heroine
heir/heiress
drama
bxg
bold
city
office/work place
secrets
teacher
wild
like
intro-logo
Uraian

[Laut X Iluka]

••••

Iluka Winandari tidak pernah tahu bahwa dirinya ternyata anak dari hasil hubungan gelap orang tuanya, bahkan Iluka tidak tahu siapa mereka. Yang dia tahu, kedua orang tuanya sudah meninggal dan menitipkannya kepada tetangga samping rumah.

Saat itu, Iluka masih seorang siswi kelas 3 SMA. Awal petaka yang membuat kehidupannya tidak pernah damai karena kemunculan seseorang yang begitu membencinya.

Sabiru Laut Semesta, putra sulung tetangga sekaligus guru olahraga di sekolah Iluka. Tatapannya selalu dingin, ucapannya tidak pernah lembut, dan perlakuannya kerap membuat Iluka terluka.

Di satu titik, Laut menikahi Iluka tidak lebih dari sekadar kepatuhannya terhadap orang tua yang iba kepada gadis itu. Sementara, Iluka tak merasa punya pilihan.

Karena itulah, Laut dan Iluka membuat satu kesepakatan ... yakni sebuah perceraian. Belakangan Iluka menemukan fakta bahwa Laut ternyata sudah memiliki tambatan hatinya sendiri.

Lantas, apakah hubungan mereka benar-benar akan berakhir sesuai kesepakatan? Atau, Laut justru berbalik mencintai Iluka?

Dan jika perceraian seharusnya menjadi akhir, lalu mengapa di hari itu Laut justru bersikap seolah tak akan pernah melepaskan istrinya?

***

chap-preview
Pratinjau gratis
1 | Sana Nikahi Dia!
“Kalau memang perempuan itu yang Abang inginkan, sana nikahi dia!” Iluka menahan air matanya. “Toh, pernikahan kita cuma siri. Nggak ada yang tahu aku istri Abang. Jadi, sana!” Laut terdiam. Sementara itu, ponselnya kembali berdering. Cessie. Nama itu membuat Iluka menekan kuat-kuat gerahamnya, sekuat hati yang menahan buncahan perasaan. Bohong kalau dia bilang dirinya baik-baik saja sekarang, nyatanya hati itu telah jatuh dan rasanya menyakitkan. Sabiru Laut Semesta, pria yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu bahkan tidak pernah menganggap hubungan rumah tangga ini ada. Bagi Laut, Iluka hanya sebatas putri tetangga yang begitu merepotkan. Laut sendiri yang bilang. Iluka hanyalah seonggok beban. Lagi, dering ponsel pria itu nyaring memenuhi rongga mobil yang melesat cepat membelah keheningan malam. “Angkat aja, Bang. Cewek Abang nunggu, tuh.” Namun, Laut justru mematikan panggilan itu. Dan dia menepi. Iluka masih belum selesai menebak di dalam kepalanya, apa yang akan dilakukan sang suami? Laut lebih dulu bilang, "Turun." Detik itu. Iluka memusatkan pandangan ke wajah pria berusia 28 tahunan di sisinya, dan Iluka tahu bahwa Laut memang membencinya, tidak pernah benar-benar dari hati saat bersikap baik kepadanya—termasuk sekarang. Laut menjemputnya dari rumah teman sehabis kerja kelompok. Oh, tentu. Iluka juga tidak pernah dianggap atau menganggap dirinya sebagai istri pria itu. Hanya saja .... "Turun, Iluka." Sorot mata Laut begitu runcing kepadanya. Iluka terhenyak. "Abang nggak lihat di luar udah gelap?" Laut pun tahu. Ini malam. "Turun." Tapi dia tetap berkata begitu. Iluka mengeraskan rahang. Menatap penuh tudingan kepada sang suami. "Oh. Abang mau ke tempat Bu Cessie, ya? Tapi bisa turunkan akunya di tempat yang—" "Keluar sekarang." Rasa perih merambat lebih merata ke seluruh rongga di dadaa. Iluka terdiam. Tak perlulah sebagai istri. Sebagai anak gadis saja, atau sebagai putri tetangga. Apa Laut tidak memiliki sedikit pun kekhawatiran padanya? Bagaimana kalau Iluka bertemu orang jahat di luar? Bagaimana kalau Iluka tidak tahu jalan pulang? Ini di mana memang? Lihatlah jam, sudah pukul berapa sekarang. Namun, fine! Iluka tidak perlu diusir sekali lagi untuk segera buka pintu, lalu turun dari mobil suaminya. Suami, huh? Blam! Iluka menutup pintu mobil sekuat tenaga. Biar saja! Dan dia tidak berkata apa-apa, Laut juga tidak. Yang mana sedetik berlalu, mobil hitam tersebut telah melesat meninggalkannya. Tega, ya? Sangat tega. Iluka menggigit kuat bibir bagian dalamnya, sekuat dia menahan desakkan panas di mata. Tidak. Iluka tidak menangis. Tapi tumit dan jari kelingking kakinya terasa nyeri saat dia terus melangkah, belum lagi ponselnya mati—bahkan saat masih di rumah temannya tadi. Iluka lupa. Sial. Air matanya tumpah. Lelaki sialan! Sementara itu, di sebuah rumah berdinding krem, orang-orang mulai berdatangan satu per satu. Sebuah bendera kuning ditancapkan di depan halaman, menjadi penanda bahwa pemilik rumah itu telah berpulang. Dan di ruang tamu, jenazah ayah Iluka terbujur kaku. Pria yang menitipkan putrinya kepada Laut. Malam ini, ketika napas terakhirnya telah berhenti, Iluka justru tidak ada di sana. Dia masih berdiri sendirian di jalan asing. Baru saja diturunkan oleh suaminya sendiri. Iluka meringis, berjalan di trotoar sambil berharap ada warung, kafe, atau apalah untuknya bisa singgah sebentar sekadar mengisi baterai. Lalu bisa Iluka hubungi ayahnya. Yah .... Bang Laut jahat, Yah. Jahat .... Tolong jemput Lulu, Yah. Lulu nggak tahu ini di mana. Ayah .... *** "Eh, Mas ... saya kira nggak bakal datang." Ada yang tersenyum kikuk di sana. Cessie Niella. Rekan kerja Laut di sekolah, wanita berkebaya abu-abu itu adalah seorang guru Bahasa Inggris. Tentu. "Kan, saya sudah janji." Laut membalas senyuman itu. Cessie makin mengembangkan dua sudut bibirnya naik. "Orang tuamu ada?" "Hm?" "Saya perlu izin dulu mau bawa anak perempuan mereka keluar malam-malam, kan?" "Oh ...." Cessie terkekeh. "Langsung aja, ah, Mas. Kalau ketemu orang tuaku dulu, yang ada ditanya kapan lamarnya." Ehm. "Jadi, berangkat sekarang?" Laut melirik jam tangan. Harusnya Iluka sudah pulang. Zaman sekarang tak perlu khawatir soal kendaraan umum, ada ojek online. Cukup buka aplikasi, lalu datang ojeknya. Lagi pula, tadi tempatnya tidak jauh dari kawasan rumah meski mungkin terasa asing bagi anak itu. "Ayo, Mas. Ngomong-ngomong ... makasih, ya." Laut langsung mengalihkan perhatiannya ke Cessie. Sesuai apa yang pernah dia sanggupi, yakni menjadi partner kondangan wanita ini. Yang Laut bukakan pintu mobilnya, tepat di sisi kemudi. Di jok yang sebelumnya Iluka duduki. "Kan, tujuan kita sama." Laut pun menginjak pedal gas. Melenggang dari sana. "Paling nanti gosip soal kita makin santer di sekolah. Apalagi yang suka cie-ciein." Laut senyum lagi. "Kamu masalah?" Wanita itu mengerjap, lalu menunduk dan senyum malu-malu. "Kalau Mas Laut nggak, aku juga bisa biasa aja." Begitulah. Sampai pukul setengah sembilan malam Laut habiskan waktunya bersama Cessie. Dan tidak berlama-lama lagi, Laut pamit pulang. Sudah. Di sisa perjalanannya, Laut hubungi kontak Iluka. Namun, tidak tersambung. Laut ganti dengan panggilan yang memakan pulsa, tetapi justru operator yang jawab. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan—" Apa Iluka memblokir nomornya? Kekanakan sekali. Makin dalam pedal gas yang Laut injak sembari memikirkan jawaban apa kalau orang tuanya mengoceh: 'Kok, Lulu pulang sendiri, Bang? Bukannya Abang pergi jemput dia tadi?' Hingga tidak terasa, perjalanan Laut berakhir. Sudah sampai di depan rumah, yang mana tampak ramai sekali di tetangga. Tunggu sebentar. Laut melihat ada bendera kuning di sana. Oh, segera saja dia turun. Bahkan Laut dihampiri langsung oleh sang mama yang melongok-longok ke dalam mobil. "Mana Lulu?" Laut masih mencerna. Wajah mama kelihatan begitu sembap. "Abang. Lulu mana?" Iluka? "Belum pulang, Ma?" Muncul kernyitan bingung di raut sang mama. Yang lalu mendorong-dorong Laut seraya berkata, "Cari! Cari istri Abang sekarang! Tapi jangan kasih tahu dulu kalau ayahnya meninggal, biar Mama." Apa—? "Cepet cari Iluka!" Ayahnya meninggal? ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

MAMA PACARKU BUDAK SEKSKU

read
54.3K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
10.9K
bc

GAIRAH LIAR SANG JENDRAL

read
136.6K
bc

SIMPANAN OM SAGARA

read
4.7K
bc

Pak Bos Gila Jadi Jodohku

read
112.1K
bc

Malam Pertama Sebelum Bercerai

read
11.9K
bc

Tetanggaku, CEO Bucin!

read
4.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook