12. Salah Tingkah

1732 Kata
"Kenapa kamu malah ke sini?” Ayah menatapku dengan tajam, padahal baru saja dia membuka pintu kamarnya untukku. Sebenarnya sambutan Ayah sudah kuduga akan sedingin ini tapi tetap saja hatiku yang lemah ini terasa nyeri mendengar nada dingin di ucapan Ayah. “Naya ngantuk banget,” jawabku sambil bergegas masuk sebelum Ayah berubah pikiran dan menutup kembali pintu kamarnya. "Kamu, kan bisa tidur di rumah Rana. Kenapa harus ke sini?" Suara Ayah terdengar tidak senang, tapi aku pura-pura nggak mendengar dengan berlalu begitu saja di hadapannya. “Lalu Bunda siapa yang nemanin?” tanya Ayah. Cuma Bunda yang Ayah pikirkan, bagaimana dengan aku. Putrinya yang juga butuh tidur dan beristirahat. Jika aku pulang ke rumah Rana, saat ini pasti banyak orang di sana, dan aku nggak bakalan bisa istirahat dengan nyaman. “Kan, ada Mas Dirga.” Aku meluruskan kakiku di kasur. Lumayan bisa menghilangkan badanku yang terasa pegal karena beberapa hari terakhir ini hanya fokus mengurus Rana dan melupakan kehidupan pribadiku. Kasur Ayah ini lumayan empuk juga. Aku menepuk-nepuk kasur tempatku duduk dan tidak sadar jika dari tadi Ayah menatapku dengan tatapan mata tajam. Lagi-lagi Ayah bersikap seperti itu padaku, seolah apa yang aku lakukan kali ini salah besar. Hanya numpang tidur sebentar kok Ayah bersikap seperti aku telah melakukan sebuah kesalahan besar. Padahal kuantitas kami bertemu bisa dihitung dengan jari. Walaupun jarak Yogya-Semarang dekat, tapi nggak setiap libur aku pulang. Demikian halnya juga dengan Ayah dan Bunda, nggak setia bulan mereka mengunjungiku, hanya saat kebetulan jika Ayah ada tugas atau pun seminar di Yogya. “Sana, kembali ke acaranya Rana. Kamu gangguin tidur Ayah saja,” katanya dengan nada kesal. Aku tersenyum masam dan tidak merubah posisiku. Ayah mau enaknya sendiri, masa hanya dia yang boleh merasakan betapa nyamannya bisa tidur di tengah acara yang begitu melelahkan. “Nggak mau, Naya ngantuk banget, Yah. Dari kemarin kurang tidur." Lali ini aku pura-pura memejamkan mataku. “Nanti malam saja kamu ke sini, sekarang Ayah lagi malas ngobrol. Ayah juga lelah banget dan baru memejamkan mata tapi kamu malah datang.” Ayah masih belum menyerah juga untuk mengusirku. “Naya juga lagi nggak pengen ngobrol sama Ayah kok. Tuh Ayah kalau mau tidur juga di sofa saja. Naya tidur dulu ya." Aku memejamkan mataku. Padahal waktu kecil dulu aku yang paling sering tidur bersama Ayah. Kali ini permintaanku buat bisa tidur bersamanya nggak sering aku pinta, kami aja jarang bertemu. Nggak bisakah Ayah mengalah sedikit saja. “Ya sudah mumpung kamu di sini, gimana kabar skirpsimu? Sudah sampai bab berapa?” Sepertinya Ayah benar-benar tahu cara jitu mengusirku dan membuat tidur siangku batal. “Baik, Yah,” jawabku singkat. “Baik apanya? Tiap ditanya, jawabannya pasti selalu begitu. Sebenarnya kamu serius kuliah nggak sih? Ayah dan Bunda sudah mati-matian kuliahin kamu,” kata Ayah panjang lebar. Sepertinya sesi permohonan maaf atas segala kesalahanku akan segera dimulai. “Kamu lihat kakak-kakakmu yang sudah sukses. Apa kamu nggak malu? Sedangkan kamu dari dulu begini-begini saja." Kali ini Ayah menarik napas panjang. Aku malah harus mengembuskan napas panjang dulu sebelum membalas perkataan Ayah. Mas Krisna dan Mas Dirga adalah tolak ukur keberhasilanku. Selama aku belum bisa menyaingi mereka, itu artinya aku belum sukses sebagai anak Ayah. Padahal setiap anak tentu dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Tapi memang sih jika ditelusuri, aku lebih banyak kekurangannya. Oke skip, nggak penting dibahas yang buat sedih kayak gini. Aku heran, kenapa ya Ayah nggak bisa senang melihat aku bahagia. Selalu ada ikut campurnya yang membuat semuanya menjadi rumit. Dari masalah pendidikan, kehidupan pribadiku, hingga hal-hal terkecil lainnya. Tapi tetap aja nggak membuatku menjadi sukses menurut versinya. “Yah, kayaknya ada orang deh diluar.” Cara pertama, mengalihkan pembicaraan Ayah. Kalau cara pertama nggak berhasil, setelah ini mungkin aku akan pura-pura pingsan agar Ayah nggak bisa mengusirku dari kamarnya. Seperti biasa, tatapan mata Ayah setajam beling. Dalam hatinya pasti setengah nggak percaya dengan ucapanku. Dia melihatku sekilas dan segera beranjak menuju pintu. Aha, saatnya aku tidur! Aku segera memejamkan mataku berharap saat Ayah kembali nanti aku sudah lelap tertidur dan Ayah nggak bisa mengusirku lagi. “Maaf Om, kami mau jemput Naya.” Suara itu! Masa benaran ada orang sih, kan tadi aku cuma ngawur. Tak urung aku segera membuka mataku dan bangun dari tidurku. Ini benar-benar nggak masuk akal, dari balik pintu aku melihat dua sosok yang sedang berbicara dengan Ayah. Aku membuang napas kesal, mataku baru saja terpejam beberapa detik, tapi dua lelaki ini dengan sigap mencariku. Kenapa Mas Berni nggak menenangkan Bima dan membiarkannya berada di kamarnya selama beberapa jam saja? Mereka, kan bisa ngobrol atau apalah itu sambil menunggu aku bangun dari tidur. “Ngapain kalian ke sini?” tanyaku judes. Di hadapanku saat ini berdiri Bima dengan tatapan mata kesal dan Mas Berni yang cengegesan. Bisa kutebak jika Mas Berni memang sengaja membawa Bima ke sini agar nggak hanya dia saja yang meladeni Bima. “Kamu kok ninggalin aku berdua dengan dia,” bisik Bima kesal sambil arah matanya melirik ke Mas Berni. Mataku menyipit, pura-pura tidak mengerti dengan perkataan Bima. “Ya sudah pergi sana, kamu ditungguin tuh,” usir Ayah untuk kesekian kalinya. Aku menatap Ayah dengan tatapan mata iba, masa sih Ayah tega menyerahkan putri cantiknya kepada dua orang lelaki ini. “Kita baru saja ngobrol, Yah,” kataku pura-pura manja. Sebentar...sepertinya saat ini aku sedang menghadapi dua pilihan berat. Tetap tinggal di sini dan mendapatkan ceramah dari Ayah atau ikut dengan dua lelaki ini yang akan menyiksa batinku. “Nanti malam saja kamu ke sini lagi. Ayah sudah bilang tadi,” jawab Ayah nggak peduli dengan sorot mataku yang mengiba. Kalau nanti malam, aku sendiri pun nggak yakin akan datang ke hotel Ayah. Dengan kondisinya yang sudah segar, pasti Ayah memiliki banyak tenaga untuk menceramahiku. “Bawa saja Naya, Om juga mau istirahat dulu." Perkataan Ayah seperti kalimat penutup kalau dia nggak mau diganggu lagi. Sekali lagi aku menatap Ayah dengan tatapan mata memelas, masa sih Ayah tega membiarkan aku pergi dengan berondong genit dan om-om kurang kasih sayang seperti mereka ini. Aku menatap Ayah sekali lagi, berharap Ayah berubah pikiran. Tapi nihil, wajah Ayah tetap datar seperti tidak peduli dengan putrinya ini. Kenapa Ayah sekarang berubah, nggak perhatian seperti dulu lagi padaku? "Yah...," panggilku lagi sementara tanganku menarik ujung bajunya. “Kami pamit ya, Om." Kali ini Mas Berni menyentuh bahuku sekilas, dia seperti tahu jika Ayah mengabaikanku. Bima yang berada di sampingnya seperti tidak mau kalah, dia malah menarik lenganku. Kalau tidak sedang ada Ayah, sudah kujambak dan kubanting mereka berdua ini. “Naya pamit, Yah,” kataku dengan nada sedih dan dibalas Ayah dengan anggukan. Sungguh, Ayah tega banget kali ini. Biasanya Ayah paling tidak suka jika ada lelaki yang mendekatiku, kenapa kali ini Ayah seperti menyerahkan aku ke mulut buaya. Pintu kamar Ayah tertutup. Aku meradang dan berjalan dengan cepat meninggalkan dua orang lelaki yang nampaknya kesulitan mengejarku. Perasaanku rasanya campur aduk, antara merasa sangat kesal dengan dua lelaki ini dan juga merasa sedih atas sikap Ayah padaku. Di mata Ayah, aku adalah anak bandel yang nggak mau menuruti kemauannya. Disuruh mengambil kuliah di jurusan kedokteran malah nyasar di pendidikan sejarah. Diminta menyelesaikan skripsi dengan benar, yang ada malah mengarang kebohongan agar skripsi itu nggak perlu dikerjakan. “Aya....!” teriak Mas Berni berusaha mengikuti langkahku. “Kalian berdua ngapain sih ngikutin aku terus!” teriakku kesal. Aku ini kenapa sih, harusnya nggak perlu marah seheboh ini. Mas Berni dan Bima mana tahu apa yang sedang aku rasakan, mereka pasti merasa nggak melakukan kesalahan apa pun. Yang aneh justru aku. “Kamu juga ngapain sok-sokan nyariin aku?!” Aku menatap Bima tajam. “Kamu yang salah ninggalin aku berdua dengan dia!” jawab Bima tidak mau kalah. Argh! Mendengar ucapan Bima yang bernada emosi, membuatku bertambah emosi juga. “Sudah...sudah....” Mas Berni menengahi. “Sudah deh, Mas. Kalian berdua saja yang balik ke acaranya Rana. Aku lagi nggak mood,” kataku ketus. “Nay...,” kali ini Bima yang memanggilku. Aku tidak peduli. Yang kubutuhkan saat ini adalah tidur dan terhindar dari keributan dua lelaki ini. “Ya sudah, nanti aku antarin. Kamu mau kemana?” tawar Mas Berni dengan nada lembut berusaha menenangkanku. “Aku saja yang antar.” Bima tidak mau kalah. “Aku naik taksi saja,” jawabku ketus. “Ntar aku temanin,” tawar Bima. “Nggak perlu dua kali aku jelasin kan, aku bisa naik taksi!” kataku setengah berteriak. Mas Berni dan Bima saling berpandangan dengan wajah bingung. Sebelum mereka menahanku lagi, aku bergegas meninggalkan mereka. “Aku salah apa sih, kok kamu kesal banget sama aku?” Bima masih belum menyerah juga, dia menyejajarkan langkahku dengan setengah berlari. “Memang salah kalau aku kesal sama kamu?!” tantangku. Bima terdiam. “Bima, kamu di sini saja. Aku antarin Aya dulu,” kata Mas Berni dengan nada kalem. Memang deh, biasanya yang lebih berumur itu lebih tenang menghadapi yang seperti ini. “Aku antarin kamu pulang ke rumah saja ya? Kamu mau istirahat, kan?” Entah kenapa suara Mas Berni terdengar sangat menenangkan hatiku. Aku menarik napas panjang dan kemudian mengangguk mengiyakan. “Loh, kok?! Nggak...nggak bisa kayak gitu dong!” Bima tampak kesal. Tapi aku tidak memedulikannya. “Mas, mau buat masalah ya?!” ujarnya berusaha mengejar aku dan Mas Berni yang berjalan meninggalkannya. Aku menoleh pada Bima sejenak dan kemudian melengos pergi. Dasar bocah! Aku nggak peduli lagi pada Bima, entah dia pulang dengan siapa atau bagaimana cara dia mengambil mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Semuanya bukan urusanku. Di dalam mobil yang membawaku pulang ke rumah Rana ini, perasaanku sedikit lebih tenang. "Kamu baik-baik aja?" tanya Mas Berni setelah beberapa saat hening tidak ada suara. "Kok Mas nggak tanya arah rumah Rana? Memang ya tahu?" Bukannya menjawab pertanyaanku, aku malah balas mengajukan pertanyaan. "Nggak tahu sih," jawabku dan mau nggak membuatku menahan senyum. "Terus kenapa percaya diri banget mau antarin aku pulang?" tanyaku. "Daripada kamu bertambah nggak mood," sahutnya sambil terkekeh. Aku kemudian memberitahu arah jalan menuju rumah Rana padanya dan ditanggapi Mas Berni sambil tersenyum. Entahlah, rasanya senyumnya itu seperti sedang mengejekku. "Tenangin diri kamu. Kalau belum mau pulang ke rumah, aku bisa temanin kamu keliling Yogya kok," ucapnya. Kontan aku menoleh ke arahnya. Rasa kesal dan senang itu beda tipis ya. Barusan tadi aku merasa begitu kesal, tapi kok mendadak sekarang jadi senang ya? Dan satu lagi, rasanya aku jadi salah tingkah. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN