Rasanya baru saja aku melakukan hal terbodoh seumur hidupku. Setelah beberapa saat berdebat panjang lebar tentang di mana seharusnya kami berhenti, entah itu sekedar minum kopi atau cuma nongkrong kayak anak ABG. Yang terjadi malah Mas Berni dan Bima hampir bertengkar hebat karenanya. Aku yang cuma bisa diam dan tidak berniat menengahi perdebatan mereka karena rasanya sungguh tidak ada gunanya. Yang satu maunya ini, yang lain maunya itu. Sungguh aneh sekali rasanya aku sampai bisa berada di antara keduanya. Yang membuatku nggak habis pikir, kenapa nggak ada salah satu pun yang mengalah? Yang ada malah berdebat semakin hebat mempertahankan ego masing-masing. Okelah, kalau Bima aku bisa ngerti karena dia bisa dihitung masih remaja dan emosinya masih meledak-ledak. Tapi ini Mas Berni loh, harusnya dia bisa sedikit mengalah dan membiarkan Bima yang menentukan jalan. Tapi seperti yang terjadi saat ini, nggak ada yang benar menurutnya, pilihan Bima tetap salah dan dia yang benar. Mas Berni seperti sengaja memancing kekesalan Bima dengan menolak semua usulnya dengan berbagai alasan tidak masuk akal.
Rasanya begitu kesal, tapi tetap saja aku tidak bisa melampiaskannya. Kalau tahu seperti ini, lebih baik tadi aku sendirian aja, nggak perlu ditemani dua lelaki menyebalkan ini. Hanya menentukan tempat untuk singgah sejenak saja sesulit ini. Aku jadi membayangkan kayaknya menyenangkan jika aku bisa minum es buah di Pakunigratan. Walaupun lumayan jauh untuk ke sana, seenggaknya aku nggak perlu menjadi sangat kesal seperti ini. Ah! Tapi segarnya es buah itu hanya ada di angan-anganku. Dua orang ini mana ngerti segar dan leganya minum es buah di saat emosiku sudah sampai di kepala seperti saat ini.
Dari tadi setiap Bima mengemukakan usul tentang tempat yang ingin ditujunya, selalu ditolak oleh Mas Berni. Mereka berdua sudah seperti anjing tua dan kucing puber yang tidak akur dan tidak mau saling mengalah. Padahal Mas Berni sendiri yang tadi mengajakku nongkrong untuk minum kopi dengan tenang, bukan malah ke tempat seperti ini. Apa sih sebenarnya yang ada di dalam pikirannya? Apa sebenarnya dia memang ingin minum kopi sambil makan ayam goreng? Sama sekali nggak nyambung.
Dan setelah berdebat panjang lebar, ujung-ujungnya kami malah terdampar di restoran fast food yang ayam gorengnya nggak pernah berhasil kupraktekkan di dunia nyata. Aneh, padahal cuma ayam goreng, tidak ada istimewanya sama sekali.
Aku lelah menghadapi Mas Berni dan Bima. Buat apa capek-capek berdebat menentukan tempat nongkrong, tapi ujung-ujungnya malah makan di sini. Coba dari awal langsung aja bilang pengen makan ayam goreng, pasti langsung kubawa mereka ke gerobak ayam goreng dekat kampusku. Sudah murah, enak lagi. Ini malah mutar-mutar nggak jelas, melewati lebih dari lima lampu merah dan belum ada keputusan yang tepat. Mendadak aku menjadi benci dengan lelaki-lelaki plin-plan seperti keduanya ini.
“Kenapa malah ke sini sih?” Aku mendesis geram sambil menatap Bima yang sedang berusaha melepaskan ayam goreng dari tulangnya. Sedangkan aku sendiri nggak selera makan akibat tingkah dua lelaki menyebalkan ini. Padahal biasanya aku paling suka dengan makanan fast food seperti ini, tapi nggak kali ini. Selera makanku sedang berada di level terendah, selain karena aku juga memang baru menghabiskan makan di acara Rana tadi.
“Semua tempat yang aku usulin nggak ada yang cocok, ya sudah mending ke sini saja,” jawab Bima cuek. Dia memesan dua potong ayam goreng tanpa nasi dan segelas besar minuman soda. Terlihat menggiurkan memang, tapi yang lebih terasa saat ini adalah kemarahanku. Dan...bukannya tadi Bima juga baru menghabiskan makan bersamaku? Dia nggak merasa kenyang apa?
Kali ini pandanganku mengarah pada Mas Berni. Padahal dari tadi dia mati-matian menolak semua usul Bima. Tapi waktu disebutkan nama restoran fast food ini, dia nggak menolak. Sebenarnya nggak masalah jika mereka memang dari awal memang mau ke sini, aku sih oke-oke aja. Yang membuatku kesal, keduanya membuat perjalanan ke restoran fast food ini begitu panjang, seolah kami sedang berada di labirin yang nggak berujung.
“Sudah keburu lapar, jadi di mana saja boleh,” jawab Mas Berni tak kalah cuek. Lapar katanya? Tadi Mas Berni ngapain aja waktu di acara Rana, padahal banyak banget makanan tersedia di sana.
Dua lelaki beda generasi ini benar-benar membuat emosiku memuncak. Ini sih mendingan bantu kipasin Rana daripada berada di sini. Tapi kali ini aku lebih butuh kipas buat mendinginkan kepalaku yang sedang panas ini.
“Kamu nggak pesan apapun?” tanya Mas Berni. Aku menggeleng kesal.
“Mau aku pesanin?” Gantian Bima yang bertanya.
“Nggak selera!” jawabku ketus.
“Oiya, tadi kita, kan barusan makan sate,” balas Bima dengan bersemangat, seolah-olah dia baru saja menemukan hal yang menyenangkan. Sudah tahu barusan makan, kenapa malah dibawa ke sini? Tempat nongkrong yang bisa makan ringan tanpa merasa kenyang, kan banyak.
“Minum saja?” tawar Mas Berni. Aku mendelik ke arahnya. Ini juga gara-gara Mas Berni, semua tempat nongkrong yang diajukan Bima ditolaknya dengan alasan nggak cocok, nggak ini, nggak itu, banyak banget alasan. Bilang aja umurnya sudah nggak sesuai buat diajak nongkrong bareng anak-anak muda. Argh! Aku kesal banget sampai rasanya ingin berteriak sekerasnya.
“Nggak, aku mau pulang!” jawabku semakin ketus. Entah kenapa aku kesal sekali melihat kelakuan dua lelaki ini. Nggak ada satu pun yang membuatku merasa senang. Tadi hanya sebentar saja perasaanku terasa lebih baik saat bersama Mas Berni, setelah itu kembali ke awal. Dan duo lelaki menyebalkan ini sepertinya nggak sadar jika aku sangat kesal pada mereka.
“Sebentar, aku habisin ini dulu. Takutnya di hotel nggak ada makanan enak,” kata Mas Berni sambil buru-buru menelan makanannya. Katanya saja dokter, tapi hobi banget makan fast food. Kalau takut di hotel nggak makanan, kenapa tadi nggak bungkus aja makanan dari acara Rana.
“Aku mau ke hotel Ayah, kalian berdua makan saja,” kataku sambil beranjak dari kursiku. Aku nggak tahan lagi dengan membiarkan diriku hanya melihat aktivitas makan mereka, rasanya begitu mengesalkan. Setiap suapan ayam goreng mereka, membuat level kemarahanku bertambah. Begitu terus sampai napasku terasa sesak karena menahan kesal dari tadi.
“Hotel Ayahmu, kan hotelku juga. Ya sudah, ayo.” Mas Berni buru-buru mengelap tangan berminyaknya di tisu.
“Kalian mau kemana, tunggu!” Bima tampak panik menghabiskan makanannya. Dia buru-buru menelan makanannya dan kemudian dengan panik menghabiskan minumannya.
“Aku sendiri saja pakai taksi, kalian berdua habisin makanannya dulu. Sayang kalau nggak habis,” kataku.
“Kok buru-buru banget sih, tadi katanya mau nongkrong-nongkrong dulu.” Bima bersungut-sungut. Nongkrong apaan kalau kayak gini caranya.
“Kan, sudah aku bilang tadi, kalian berdua saja yang nongkrong di sini,” sahutku kesal. Siapa juga yang mau nongkrong lagi setelah mereka membuatku kesal seperti ini.
“Sudah...sudah..., ayo kita balik ke hotel.” Mas Berni menengahi. Sepertinya kesadarannya sudah kembali dan baru menyadari aku begitu kesal saat ini. Apa tadi dia benar-benar lapar sehingga nggak bisa berkonsentrasi dan menangkap kemarahanku?
“Maaf ya, Bim. Tapi sepertinya kamu pulang pakai taksi saja ya, kita nggak searah buat kembali ke jalan tempat kamu tinggalin mobilmu tadi,” kata Mas Berni pada Bima. Aku nggak bakal minta maaf ke Bima kalau jadi Mas Berni, salah Bima sendiri yang nekat ninggalin mobilnya di pinggir jalan hanya agar bisa mengikuti kami. Jalan kaki aja sana biar sekalian ngebakar lemak setelah menyantap fast food.
“Aku ikut kalian saja ke hotel,” katanya yakin. Nih bocah, ngapain mau ikut ke hotel segala. Memangnya dia mau numpang tidur siang?
“Terus nanti kamu ambil mobilmu gimana?” tanya Mas Berni.
“Gampang, bisa diatur nanti,” sahut Bima dengan wajah sombong.
Aku menghela napas panjang. Memandang dua orang laki-laki di hadapanku ini secara bergantian. Aku yang punya urusan bertemu dengan Ayah di hotel, kok malah mereka berdua yang sok sibuk.
“Kamu ngapain mau ikut ke hotel juga?” tanyaku tanpa basa basi.
“Ikut saja, daripada suntuk nggak ada kerjaan,” jawab Bima sambil nyengir.
“Sekalian mau silahturahmi,” lanjutnya lagi.
“Suka-suka kamu!” kataku ketus sambil beranjak pergi. Dua orang lelaki itu mengikuti jalanku dengan tertatih-tatih.
“Besok pesawatnya jam berapa, Mas?” tanyaku pada Mas Berni saat sudah berada di dalam mobil. Aku harus menghilangkan rasa kesalku dengan memulai perbincangan seperti ini.
“Pagi. Mau antarin?” Aku mengangguk mengiyakan. Mas Dirga memang sudah memintaku untuk mengantar mereka ke bandara besok.
“Kok Naya yang antar?” Nada pertanyaan Bima seperti tidak terima. Aku menoleh ke belakang dengan tatapan mata aneh. Apa salahnya aku mengantar Mas Dirga dan Mas Berni ke bandara.
“Aya yang mau kok,” sahut Mas Berni sambil tersenyum simpul.
Dasar bocah, apa dia lupa kalau Mas Dirga pasti bareng dengan Mas Berni pulangnya. Jadi yang ingin aku antar bukan Mas Berni. Dan...buat apa juga dia mempermasalahkannya.
“Ya sudah, kamu saja yang antar,” kataku sambil meliriknya sekilas.
“Kamu ikut nggak?” tanya Bima.
“Sudah ada kamu, ngapain aku ikut lagi,” kataku. Mas Berni tampak sedang menahan tawanya.
“Nggak jadi, kamu saja yang antar,” kata Bima akhirnya. Mas Berni sudah terkikik menahan tawa. Aku tetap cuek, tidak mau memperlihatkan kalau sebenarnya aku juga ingin tertawa melihat kelakuan bocah ingusan ini. Biarin, aku harus terlihat sedang sangat kesal saat ini, kesal sekesal kesalnya.
“Nah sudah sampai!” Mas Berni memarkirkan mobil di basement hotel.
“Kamu benaran mau ikut?” tanyaku pada Bima. Dia mengangguk dengan yakin. Tidak masuk akal rasanya jika aku membawa Bima ke kamar Ayah, yang ada Ayah akan merasa kesal karena tidur siangnya terganggu.
Kamar Ayah berada satu lantai di atas kamar Mas Dirga dan Mas Berni. Saat lift berhenti di lantai kamar Mas Berni, aku juga ikut keluar dari lift. Bima yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti dari belakang.
Mas Berni tidak menanyakan kenapa aku mengikutinya, dia tampak sibuk dengan ponselnya. Menelepon seseorang dalam bahasa asing. Saat pintu kamar dibuka oleh Mas Berni, dia masih tetap sibuk menelepon. Aku dan Bima ikut masuk ke kamarnya. Sebaiknya aku titipkan Bima di kamar Mas Berni saja, lebih baik seperti itu daripada aku membawanya ke kamar Ayah.
“Duh, aku lupa tasku ketinggalan di mobil!” jeritku tertahan sambil pura-pura panik.
Mas Berni yang sedang berkonsentrasi menelepon langsung menyerahkan kunci mobil saat aku memberikan isyarat meminta kunci padanya.
“Perlu ditemanin?” tawar Bima.
“Nggak perlu, aku nggak lama kok. Tunggu sebentar ya,” kataku sambil buru-buru keluar dari kamar Mas Berni. Semoga Bima nggak sadar kalau benda bernama tas itu dari awal hanya imajinasiku.
“Kalian yang akur ya,” kataku sambil menutup pintu kamar.
Aku masuk ke lift dan menekan tombol satu lantai di atas lantai ini, menuju kamar Ayah. Tawaku sudah hampir pecah saat keluar dari kamar Mas Berni tadi.
Nah, selamat berduaan, Bima! (*)