10. Hati-Hati Sama Dia

1730 Kata
"Dia naksir kamu, kan?” tanya Mas Berni dengan nada datar sambil menyalakan mobil. Kontan mataku menyipit. Aku ingin menjawab iya, tapi kayaknya Bima cuma main-main denganku dan semua yang dilakukannya itu hanya karena iseng. Aku akan terlihat seperti orang yang kege-eran jika kontan mengiyakan pertanyaan Mas Berni. “Nggak deh, Mas, memang seperti itu kelakuannya. Hobi banget ngerjain aku,” sahutku sedikit emosi. Bukan emosi karena pertanyaan Mas Berni, tapi emosi karena mendadak wajah Bima menari-nari di pikiranku. Saat mobil perlahan berjalan meninggalkan hotel dan juga Bima yang sedang mencari kunci mobil yang nggak berbentuk itu, di saat yang sama, aku juga merasa sangat lega. Mas Berni tertawa. Aku menatapnya bingung. Kenapa dia harus tertawa. Memang benar kok apa yang aku katakan. Atau malah aku yang terlihat seperti naksir sama Bima? Ih...! “Jadi kamu nggak tahu kalau dia naksir kamu?” Mas Berni bertanya lagi. Apa sih maksud pertanyaan Mas Berni, dari tadi membahas masalah Bima. Bima memang mengatakan jika ingin menjadi pacarku, tapi belum tentu dia naksir aku, kan? Bisa jadi dia sedang nggak ada kerjaan sehingga berpura-pura mengejarnya dan saat dia bosan nanti akan menghentikan perbuatan kurang kerjaannya itu. “Memang Mas teman dekatnya Bima?” Aku balik bertanya. “Maksudnya?” tanyanya bingung. “Kok kayaknya yakin banget kalau Bima naksir aku,” kataku dengan wajah serius. Mas Berni tertawa lagi. Aku sendiri aja nggak berani menyimpulkan jika Bima naksir padaku. Kalau hanya sebatas tertarik dan dia menggodaku, mungkin saja iya. Tapi sampai naksir dan jatuh cinta padaku, kayaknya nggak deh. Bocah kayak gitu, yang ada di pikirannya pasti hanya main-main. “Umurmu berapa sih sekarang? Masa ada cowok naksir kamu saja nggak ngerti,” katanya sambil tersenyum. Hampir saja aku mau dengan lantang menjawab pertanyaan Mas Berni. Tapi kuurungkan. Kok malah tanya umur sih, pertanyaan tabu. Gimana aku bisa ngerti, pacaran aja nggak pernah. “Mas Berni saja yang sok tahu. Sudah deh nggak usah bahas Bima lagi, buat emosi saja,” kataku akhirnya. Aku melirik ke arahnya “Emang kamu nggak tertarik sama Bima?” Lagi­-lagi pertanyaan Mas Berni berhubungan dengan Bima. Heran, sepertinya topik pembahasan Bima begitu menarik buatnya. Atau...jangan-jangan Mas Berni yang naksir Bima?! “Masih bocah, nggak level,” jawabku asal sambil pandanganku menatap ke jalan raya. Mobil yang dikendarai Mas Berni telah melaju meninggalkan hotel tempat resepsi pernikahan Rana. Aku nggak tahu dia akan membawa mobil ke mana, yang pasti tidak kembali ke hotel seperti tujuan awalnya. “Yang tua juga nggak mau, jadi kamu maunya yang gimana?” Aku menatap Mas Berni dengan tatapan bingung setelah dia menyelesaikan pertanyaannya. Sesaat tak melirik ke arah jalan raya. Mas Berni baru saja melewati pertigaan Maguwoharjo. Sebenarnya dia mau ke mana? Kenapa nggak bertanya arah jalan padaku? “Yang tua?” tanyaku bingung. Mas Berni tertawa lagi. Aneh, rasanya tidak ada yang lucu. Kali ini aku benar-benar nggak mengerti apa maksud pembicaraannya, entah kenapa aku merasa nggak fokus. Apa mungkin karena hari ini aku terlalu lelah? “Lama nggak ketemu kamu, ternyata nggak berubah ya,” kata Mas Berni di tengah kebingunganku. Aku menoleh ke arahnya. Maksudnya nggak berubah apanya ya? Penampilanku yang gitu-gitu aja? Atau kelihatannya aku yang masih ngebet banget sama dia? Semoga bukan karena itu. “Masa nggak ada yang berubah. Kita sudah lama banget nggak ketemu loh, Mas. Terakhir kayaknya pas aku mau lulus SMA. Terus setelah itu beberapa kali ketemu sih, tapi cuma sekejap, kayak iklan lewat aja,” balasku. Mas Berni tertawa. Dia selalu tertawa dari tadi, apa aku selucu itu di matanya? "Ya walaupun cuma kayak iklan lewat, tetap aja aku merhatiin kamu juga. Kamu aja yang kelewat sombong," ucapnya. Bukan sombong sih sebenarnya, yang ada aku selalu merasa salah tingkah saat melihat Mas Berni dan untungnya kali ini nggak begitu terasa lagi. Mungkin karena waktu yang terus berlalu dan membuatku nggak terlalu memikirkan ada apa di antara kamu dulu. Padahal memang nggak pernah ada apa-apa sih. Boro-boro mau pacaran, pernyataan cintaku dijawab aja nggak. "Nggak deh, mana pernah aku sombong," ucapku nggak terima. “Dulu kita nggak pernah bicara seakrab ini ya,” ucap Mas Berni menanggapi ucapanku. Tuh akhirnya dia sadar sendiri, kan. "Tapi bukan karena aku nggak mau ngobrol sama kamu," lanjutnya. Hampir saja aku tersedak air liurku. Entah kenapa suasana di dalam mobil saat ini terasa sangat romantis buatku. Walaupun pendingin di mobil Mas Dirga ini sedang rusak. Hangat-hangat romantis, begitu rasanya. Aku jadi penasaran apa alasannya dia nggak mau bicara denganku. Nggak mungkin dia grogi, seperti yang aku rasakan padanya. “Tapi memang Mas Berni nggak mau ngobrol sama aku, kan. Dulu aja langsung kabur saja waktu dapat surat cinta dari aku,” kataku berusaha mengungkit masa lalu kami agar aku tidak merasa canggung lagi saat bersamanya. Sudah lama berlalu dan dia juga hanya cinta monyetku. Jadi sudah saatnya sekarang kami bersikap seperti dua orang dewasa yang nggak memiliki perasaan apa pun lagi. Surat cinta dan semua kebodohanku itu hanya sisa-sisa masa remajaku dan yang harus aku pikirkan saat ini bukan masa lalu itu. “Kamu kali yang kabur,” kata Mas Berni nggak mau kalah. Aku melirik ke arahnya dengan cepat. Mau kabur gimana, aku malah nungguin terus dia nanggapin surat cintaku. Tapi nggak mungkin, kan aku menjelaskan hal itu pada Mas Berni saat ini. Bisa-bisa dia jadi kege-eran karena merasa begitu kuidolakan. “Bodoh banget ya dulu kok bisa-bisanya aku kasih surat cinta ke Mas Berni. Kayak nggak ada cowok yang lebih keren aja." Aku tertawa agar tidak terlihat seperti orang yang putus asa gara-gara cintanya pernah ditolak, eh...bukan ditolak tapi digantung. Jemuran aja bisa kering kalau digantung kelamaan, gimana nasib perasaanku yang digantung sampai sekarang? "Kok malah bilang bodoh. Harusnya aku yang kamu maki kayak gitu," balasnya dan membuat mataku membulat. Jadi Mas Berni bodoh karena mengabaikan pernyataan cintaku? Begitu yang seharusnya kukatakan? Ah! Mendadak jantungku berdebar karenanya. Nggak boleh! Aku nggak boleh terpengaruh hanya karena ucapannya tadi. Tenang, Aya. “Tapi ada bagusnya juga Mas Berni nggak nanggapin aku dulu. Kalau nggak, aku bisa jamin Mas Berni pasti bakal sengsara seumur hidup dikerjain Ayah terus." Aku terkikik membayangkan wajah Ayah yang selalu terlihat dingin saat berhadapan dengan teman lelakiku. Terkecuali Bima. Tapi dia bukan temanku sih. Duh! Kenapa malah mikirin bocah itu! “Pantasan sampai sekarang Dirga juga nggak pernah pacaran," timpal Mas Berni. “Kalau Mas Dirga sih memang nggak laku aja," kataku sambil tertawa. “Jadi, kita mau kemana nih?” Aku kemudian mengalihkan pembicaraan. Dari tadi kelihatannya mobil ini bergerak tanpa ada tujuan yang pasti. “Nggak tahu. Kan, tadi Bima yang mau nunjukin tempatnya,” jawab Mas Berni. Loh, jadi dari tadi Mas Berni juga nggak tahu mau ke mana? Tahu gitu aku kan, bisa nunjukin arah jalannya kalau cuma mau minum kopi. “Sssttt... jangan sebut nama dia lagi,” kataku dengan wajah serius. Selama beberapa menit terakhir ini aku merasa begitu tenang karena nggak menemukan Bima berada di dekatku. Jangan karena namanya disebut, perasaanku menjadi nggak nyaman lagi. “Aku rasa si Bima ini nempelin semacam GPS ke badan kamu deh." Mas Berni juga menatapku dengan wajah serius. “Tuh,” katanya lagi sambil memberi kode dengan arah matanya. Dengan gerakan pelan, aku memutar kepalaku ke kiri. Tepat di sebelahku, sebuah mobil yang juga sedang berhenti karena lampu merah membunyikan klakson berkali-kali. Bukan itu yang membuat aku terganggu, tapi wajah di balik kemudi yang menyeringai penuh kemenangan membuat aku ngeri. Bagaimana caranya dia bisa menemukan aku dan Mas Berni? “Benar kan?” Suara Mas Berni terdengar datar. Di saat seperti ini tiba-tiba saja aku berharap Mas Berni adalah seorang pembalap terkemuka. “Jangan dipedulikan, biarin aja,” kataku sambil cepat-cepat menutup jendela mobil. Tapi yang ada malah aku jadi kepanasan. Suara klakson masih terdengar berkali-kali sampai akhirnya lampu telah berubah warna menjadi hijau. “Dia ngikutin terus tuh,” kata Mas Berni sambil menatap spion. Sungguh, aku menyesal setengah mati bisa kenal dengan bocah gila ini. Rasanya aku tidak pernah berlaku buruk kepada lelaki, kenapa hukuman seperti ini yang diberikan. "Ayo buruan, tinggalin aja dia," pintaku penuh harap. Tapi bukannya menambah kecepatan mobil, mobil yang dikendarai Mas Berni ini malah semakin melambat. “Kok berhenti, Mas?” tanyaku bingung saat Mas Berni menepikan mobil. “Mungkin dia mau ikut kita nostalgia, nggak ada salahnya diajak,” kata Mas Berni. Mataku membesar, tidak terima dengan usulnya. Nggak bisa diajak kerja sama nih Mas Berni. Seharusnya tidak perlu peduli pada Bima, biarin saja dia terlihat seperti orang kerjaan yang menekan-nekan klaksonnya terus-menerus. Paling kalau sudah lelah, dia bisa berhenti sendiri. “Kok kalian ninggalin aku?” Baru saja mobil berhenti, tiba-tiba sosok Bima telah muncul dari balik jendela mobil. Wajahnya terlihat kesal dengan matanya yang mendelik menahan amarah. Maafkan aku jika di saat di menahan marah seperti ini, aku malah ingin tertawa dengan kerasnya. Baru kali ini aku melihat wajah Bima saat dia sedang marah, bukannya menyeramkan, wajah malah terlihat menggemaskan. Astaga! Menggemaskan? Aku sudah nggak waras sampai menyebut Bima menggemaskan. “Ternyata kunci mobilnya ada sama aku. Maaf ya, Bim,” ucap Mas Berni dengan wajah menyesal. Oke, sandiwara dimulai. “Kami kira kamu nggak mau ikut." Kali ini aku yang menimpali dengan menahan tawa. Lucu sekali melihat wajah Bima yang sedang menahan marah. Kalau kelakuannya nggak menyebalkan, mungkin sudah kucubit pipinya karena gemas. “Ya sudah, aku ikut,” kata Bima akhirnya. Ternyata dia nggak benar-benar marah. Cukup mengarang sandiwara seperti itu saja dia sudah percaya. Dia kemudian membuka pintu belakang dan duduk dengan manisnya. Padahal aku dan Mas Berni belum ada menawarkannya untuk ikut bersama kami. “Loh, mobil kamu gimana?” Mas Berni tampak kebingungan. “Tinggal saja, nanti pulang baru diambil,” sahut Bima enteng. Dasar bocah sok kaya, seenaknya saja meninggalkan mobilnya dimana-mana. Dipikirnya jika hilang satu bisa beli lagi. “Terus kita mau kemana?” Mas Berni menyalakan mobil. Aku tidak mau berkomentar panjang lebar soal Bima yang mendadak duduk di belakang Mas Berni. Nanti dikiranya aku perhatian banget. “Jalan saja, nanti aku yang tunjukin jalannya,” kata Bima dengan nada dingin. Beberapa detik hanya hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Aku dan Mas Berni hanya saling tatap sedangkan Bima nampaknya masih kesal. Dalam hati sebenarnya aku juga bingung harus kesal atau tertawa melihat tingkah Bima. Mas Berni kemudian berdehem pelan. Aku menoleh dan melihatnya memberi kode dengan kedipan matanya. “Kamu harus hati-hati sama dia,” bisik Mas Berni pelan. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN