9. Know You So Well

1739 Kata
Bagaimana mungkin Ayah bisa bersikap tidak adil seperti ini. Sedangkan selama ini Ayah tidak pernah menunjukkan itikad baiknya kepada semua lelaki yang pernah mendekatiku. Jangankan membalas sapaan mereka, sekadar tersenyum aja nggak pernah. Bagi Ayah, tidak ada namanya teman laki-laki buatku. Kalau pun ada, Ayah nggak akan segan untuk meneror hidupnya. Apa yang membuat Ayah merubah sikapnya seperti ini. Kali ini hanya bocah ingusan selevel Bima, Ayah sampai dengan teganya menyerahkan aku padanya. Apa itu artinya Ayah sudah mulai putus asa melihat kehidupanku dan kemudian nggak mau peduli lagi padaku? “Kamu mau kemana?” Lagi-lagi tangan itu menarik lenganku. “Aku nggak punya kewajiban buat lapor ke kamu,” sahutku dengan nada kesal. Acara pernikahan Rana belum selesai, tapi entah kenapa aku kehilangan mood jika lama-lama berada di tempat ini. Dan bocah di hadapanku ini menyempurnakan semuanya. Sepertinya Rana juga nggak terlalu butuh bantuanku lagi. Aku boleh, kan, keluar sebentar dari tempat yang terasa sangat sesak buatku ini? “Aku diminta ayahmu buat ngawasin ke mana pun kamu pergi,” ujarnya dengan muka tanpa dosa. “Ya sudah, kamu pacaran saja sama Ayah sana!” Aku tambah kesal melihat lelaki di hadapanku ini. Bocah ingusan yang mencari muka dengan membawa nama Ayah. Hanya gara-gara permintaan basa-basi Ayah tadi, dia membuat dirinya seolah-olah sangat berperan penting dalam hidupku. “Maunya sama kamu,” katanya dengan nada serius. Refleks kutendang tulang keringnya sampai dia meringis kesakitan. Rasain! Semua sikap Bima ini rasanya sangat keterlaluan buatku. Selama ini aku nggak pernah berhubungan dengan lelaki yang setipe dengan ini. Ini benar-benar di luar batas kesabaranku. “Jangan coba-coba merayuku,” kataku sinis. Bima mengelus-ngelus tulang keringnya dengan wajah kesakitan. “Kalian mau kemana?!” teriakku tertahan saat Mas Dirga dan Mas Berni berlalu di hadapanku. Aku tidak peduli jika sebelumnya tidak pernah bertegur sapa dengan Mas Berni. Bagiku saat ini lebih mendingan menghadapi Mas Berni yang dingin dibanding Bima yang kayak cacing kepanasan. Aku tidak memedulikan Bima yang masih meringis kesakitan. Yang aku tahu, aku harus meninggalkan gedung ini dan menghirup udara segar selama beberapa waktu. Dan dua orang yang sedang berlalu di hadapanku ini seperti membawa angin segar. “Mau balik ke hotel. Kamu mau ikut?” Kali ini Mas Berni yang menjawab. Tumben, biasanya dia selalu dingin jika bertemu denganku. Ini pertanda bagus, mungkin nasib baik memang sedang bersamaku. “Ikuuuut...!” jawabku senang. Aku benar-benar nggak mau tahu jika tawaran itu datang dari Mas Berni. Apa pun itu, yang penting aku bisa keluar dari tempat ini secepatnya. “Berni saja yang balik ke hotel, aku nggak,” kata Mas Dirga. “Disuruh Ayah nemanin Bunda,” lanjut Mas Dirga dengan wajah cemberut. Aku terkikik pelan. “Yaaah, nggak jadi ikut deh,” kataku akhirnya. Nggak mungkin aku berduaan dengan Mas Berni di hotel. Kali ini aku yakin, jika terjadi Ayah pasti akan menggantungku hidup-hidup. Lagi pula, apa juga yang bisa kulakukan jika hanya berdua dengan Mas Berni. Obrolan atau apa pun itu pasti akan terasa canggung. “Nggak balik ke hotel juga nggak apa-apa. Kita keliling-keliling saja, daripada bosan di sini,” kata Mas Berni sambil menatapku. Mataku mengerjap, apa kali ini aku sedang bermimpi? Aku hampir tidak percaya dengan kalimat yang diucapkan Mas Berni. Perlahan aku mengalihkan pandanganku ke Mas Dirga, mencari kebenaran tentang perkataan yang barusan saja diucapkan Mas Berni. Tapi Mas Dirga tampak acuh-acuh saja, seolah-olah memang sudah seperti itu sahabatnya. Apa yang membuat Mas Berni tiba-tiba bersikap ramah seperti ini? Apa karena kami sudah lama nggak bertemu sehingga dia sudah lupa dengan perlakuannya padaku dulu? Mengingat semuanya lagi-lagi membuatku salah tingkah. “Ya sudah aku ke tempat Bunda dulu. Kalian mau pergi, pergi saja." Mas Dirga beranjak menuju tempat Bunda berada dengan tidak bersemangat. Ayah pasti memintanya secara langsung untuk menemani Bunda dan sudah pasti dengan sedikit ancaman. “Ayo!” Suara Mas Berni terdengar bersemangat. Tidak mungkin! Tidak mungkin aku yang hina seperti ini bisa berduaan dengan Mas Berni! Ini pasti mimpi! Aku masih tidak beranjak dari tempatku berdiri karena merasa tidak yakin dengan ajakan Mas Berni. Jangan-jangan dia sedang mengerjaiku, semuanya terasa sangat tidak masuk akal buatku. Atau bisa jadi yang ada di hadapanku kali ini adalah orang lain yang sedang menyamar menjadi Mas Berni. Sekian tahun berlalu, hari ini adalah pertama kalinya Mas Berni menyapaku dengan seharusnya. Sejak kejadian memalukan itu, aku menjadi selalu salah tingkah jika tidak sengaja bertatapan langsung dengannya. Aku merasa setiap tatapan matanya sama artinya jika dia sedang mengejekku karena hal memalukan yang pernah aku lakukan dulu. Mungkin saja, kalau tidak aku yang sedang bermimpi, pasti Mas Berni yang sedang amnesia karena tiba-tiba berbaik hati dan mengajakku berbasa-basi. Dia tidak seperti Mas Berni yang dulu pernah aku kenal. Aku harap bukan hari ini saja dia bersikap ramah padaku. Semuanya sudah lama berlalu, semoga saja Mas Berni tidak mempermasalahkan masa lalu kami lagi, masa lalu yang bagiku begitu memalukan. “Kalau masih lapar, kita cari tempat makan yang enak dulu, gimana? Kamu jadi penunjuk jalannya ya,” kata Mas Berni lagi tanpa memedulikan aku yang masih terpana menatapnya. Wajahnya penuh senyum dan aku semakin tidak percaya pada diriku sendiri. Demi kakiku yang terasa kram karena high heels ini, ijinkanlah aku menarik napas dan meyakini jika semua ini adalah nyata. Aku masih nggak yakin jika Mas Berni sedang serius bersikap baik padaku. Mas Berni yang dingin dan sama sekali tidak pernah mau menyapaku itu kini jadi sosok yang begitu hangat. “Tadi barusan di dalam aku makan, masa makan terus sih,” sahutku sambil tertawa anggun. Seketika aku langsung berdehem, entah kenapa aku merasa geli dengan kelakuanku sendiri. “Kata Dirga, kamu hobinya makan,” jawabnya dengan muka tak berdosa. Wajahku terasa memanas. Awas saja Mas Dirga karena telah membocorkan aibku. Hobiku memang makan, tapi hanya kulakukan saat sedang marah. Selebihnya makanku biasa saja kok, nggak kalah sama model-model yang langsing itu. "Ya ... , hobi sih. Tapi tadi benaran aku baru habis makan." Dan banyak lagi. “Minum saja gimana? Ada, kan tempat ngopi yang asyik?” lanjutnya tanpa memperhatikan aku yang sedang salah tingkah. Aduh, gimana ya. Aku nggak suka kopi, sukanya s**u coklat hangat dan minumnya pakai gelas besar hadiah dari sabun cuci piring. Kalau minum di kafe-kafe, kan biasanya dikasih gelas yang imut. “Aku tahu tempatnya!” Tiba-tiba suara itu terdengar jelas di telingaku. Hampir bersamaan, aku dan Mas Berni menoleh ke sumber suara itu. Ah! Sial. Aku hampir melupakan si bocah pengganggu itu. Kupikir tadi dia sudah lelah dan pulang ke ibunya. “Mas mau ngopi, kan? Ayo aku antarin.” Bocah ingusan itu memamerkan senyumnya yang menyebalkan. Kenapa dia harus muncul lagi di saat seperti ini. “Oiya, boleh kalau gitu." Suara Mas Berni tidak terdengar kesal. Artinya, tadi dia mengajakku hanya sekedar basa-basi dan tidak terganggu saat kemunculan bocah ingusan itu. “Kalian berdua saja yang pergi.” Aku sudah terlanjur kesal pada dua orang lelaki di hadapanku ini. Satunya pemberi harapan palsu, sedangkan yang satunya lagi penghancur harapan. “Loh kok nggak ikut, ayo daripada bosan di dalam.” Nada bicara Mas Berni terdengar sungguh-sungguh. Hanya aku yang terlanjur kecewa. “Nanti biar aku yang ijin ke Ayah.” Kali ini Bima yang bersuara. Kalau sedang membawa palu, ingin kugetok saja kepalanya. Ayah siapa? Enak jaka manggil ayahku pakai sebutan Ayah juga. “Kapan lagi ada waktu kayak gini. Kita juga sudah lama nggak pernah ngobrol, kan?” Seperti ada kilatan cahaya dari mata Bima sesaat setelah Mas Berni menyelesaikan kalimatnya. Jangan bilang Bima sedang cemburu. Coba deh kalimatnya Mas Berni ini direvisi sedikit, kayak judul skripsiku yang kerjaannya direvisi terus. Bukan sudah lama nggak ngobrol, tapi memang nggak pernah ngobrol. “Kapan-kapan saja deh, Mas. Mendadak jadi nggak mood,” kataku sambil melirik ke arah Bima. "Loh, kenapa nggak mood?" tanyanya penasaran. Aku mengangkat bahuku, nggak mau menjawab pertanyaannya karena alasanku nggak mood sangat jelas sekali berada di depan mataku. “Kalau kapan-kapan, bakalan nggak kesampaian nih. Besok aku sudah nggak di sini dan entah kapan kita bisa ketemu lagi.” Aku tidak tahu kenapa kalimat yang diucapkan Mas Berni membuatku berbunga-bunga. Mas Dirga dan Mas Berni memang sudah beberapa minggu menghabiskan libur semester mereka di Semarang, dan kebetulan bertepatan dengan acara pernikahan Rana, sehingga mereka pun menyempatkan diri untuk datang dan besok sudah akan kembali ke Jakarta, untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Jerman. Semenjak Mas Berni bersekolah lagi ke Jerman, aku memang sangat jarang bertemu dengannya lagi saat pulang ke Semarang. Mungkin ini pertemuan kami lagi setelah beberapa tahun tidak pernah bertemu. “Jangan dipaksa kalau Naya nggak mau, Mas." Suara Bima terdengar datar, sedatar wajahnya. Apa-apaan bocah ini, tadi memaksaku, sekarang pura-pura berada di pihakku. “Oiya maaf, aku lupa. Temanmu ini namanya siapa ya?” “Bima, Mas," sahutku cepat sebelum dijawab oleh Bima dengan kalimat ngelantur. Bisa saja dia mengenalkan dirinya lagi sebagai pacarku di hadapan Mas Berni. Aku nggak mau citra baikku tercoreng karena ulah Bima. “Kebetulan dulu Ayah dokter pribadi keluarganya,” lanjutku lagi. Mas Berni nggak tanya sih, tapi aku yang berinisiatif menjelaskan. Agar dia tahu Bima ini hanya seseorang yang sebenarnya nggak terlalu dekat denganku. “Bima, aku minta tolong sama kamu ya. Sebelumnya maaf banget. Aku lupa minta kunci mobil sama Dirga. Kamu masih ingat Dirga kan? Tolong ambilin kunci sama dia ya. Kami tunggu di sini,” pinta Mas Berni. Walaupun wajahnya tampak tidak suka, mau tidak mau Bima beranjak juga. Aku bahkan mendengar Bima bergumam tidak jelas dan tentu saja hal itu membuatku ingin tertawa. Mataku terus mengikuti sosok Bima sampai tiba-tiba aku menyadari betapa tidak bergunanya hal yang sedang kulakukan. Bima sampai tidak terlihat lagi saat aku menoleh ke arah Mas Berni. “Ayo kita pergi!” Mas Berni menyentuh lenganku pelan sesaat setelah Bima tidak terlihat lagi. Mataku menyipit, pergi gimana. Bukannya masih nunggu Bima mengambil kunci dengan Mas Dirga? “Bukannya kita lagi nunggu kunci?” tanyaku bingung. Sambil tersenyum, Mas Berni memamerkan sebuah kunci mobil di tangannya. Aha! Senyumku perlahan terkembang. Memang ahli banget kayaknya Mas Berni membaca isi hatiku. Permintaannya pada Bima untuk mengambil kunci ternyata hanya akal-akalannya. "I know you so well," ucapnya sambil membalas senyumnya. Ah! Mendengar ucapannya itu kontan membuatku salah tingkah. Padahal gombal banget sebenarnya yang diucapkan Mas Berni tadi, aku yakin dia sebenarnya nggak begitu mengenalku, kami hanya dua sosok asing selama beberapa tahun ini. Tapi, ya sudahlah, senang juga dengar dia ngomong kayak gitu, seolah ada masa lalu yang begitu manis dia antara kami dulu. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN