8. Ijin Dari Ayah

1731 Kata
Dengan kecepatan penuh, aku bergegas menghampiri Ayah. Walaupun dengan sedikit tertatih akibat dari high heels dan sempitnya rok yang aku gunakan. Aku ingin berlari, tapi tentu saja tidak bisa karena akan malah akan membuatku jatuh terjengkang. “Ayah..., jangan percaya apapun yang dia katakan. Dia bohong, Yah,” kataku dengan napas terengah-engah. Aku berusaha menarik napas dengan benar agar ucapanku terdengar jelas di oleh Ayah. Sedetik, dua detik, tidak ada yang bicara. Aku merasa seperti sedang berada di adegan dalam sebuah drama, suasana terasa sunyi, padahal tadi aku sudah berbicara dengan hebohnya. Ayah dan Bima menatapku dengan wajah bingung. Ayah malah lebih parah lagi, dia menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Seolah ada yang salah dari penampilan putri tercantiknya ini. Atau apa mungkin dia mendadak lupa jika aku adalah putrinya? “Dokter Albert ini Ayah kamu?” Kecanggungan dipecahkan oleh suara Bima. Mataku melotot, cepat sekali gerakannya. Dia bahkan sudah tahu nama Ayah beserta profesinya! “Kenapa kamu di sini? Sana temani Bunda.” Suara berat Ayah mendadak membuatku lupa apa yang sebenarnya ingin aku lakukan. Bunda lagi, apa tidak ada pekerjaan penting yang bisa Ayah berikan padaku selain menemani Bunda? Padahal Ayah adalah suaminya, sudah tentu urusan teman-menemani Bunda adalah urusan Ayah. “Dok, Naya ini putri Dokter?” Kali ini tatapan mata Ayah beralih ke Bima. Apa maksudnya pertanyaan Bima? Jangan-jangan Bima sudah kenal dengan Ayah. Interaksi keduanya memang seperti dua orang sahabat yang lama tidak berjumpa. “Iya, Naya putri terkecil kami,” jawab Ayah. Mendadak wajah Bima berubah dengan cepat. Raut wajahnya tampak bahagia. Oh tidak, sepertinya kali ini aku salah mengambil langkah! Harusnya tadi aku diam saja dan tidak mendekat ke arah keduanya. Dengan begini, Bima jadi tahu jika sosok yang dikenalnya sebagai dokter Albert itu adalah ayahku. “Wah kebetulan, kami sekampus, Dok. Beberapa kali pernah sekelas bareng,” kata Bima dengan nada bangga. Aku menghela napas panjang. Gawat, ini sama saja dengan memancing di air keruh. Niat pamer Bima sepertinya akan membuat masalah baru buatku. “Yah, Naya ke tempat Bunda dulu ya,” kataku mengalihkan pembicaraan. Kali ini aku merasa tugas menemani Bunda lebih penting dari segalanya, dari segala hal yang berbau Bima. Belum juga aku membalikkan badanku untuk meninggalkan Ayah dan Bima, suara Ayah sudah lebih dulu menahanku. Aku merasa sekujur tubuhku membeku karenanya. “Kamu masih mengulang kuliah juga?” Nah kan, aku sudah menduga, pasti bakal seperti ini kejadiannya. Awas saja si bocah itu akan merasakan akibatnya nanti! Ayah tahunya semester ini aku tinggal mengerjakan skripsi dan tidak mengambil mata kuliah lagi. Tapi tentu saja Ayah tidak tahu jika putri tercintanya itu sangat pandai berbohong. Masalah minta uang buat beli buku kuliah aja aku bisa berbohong, apalagi tentang skripsi. Ayah sih, masa mudanya dulu mungkin begitu lurus dan nggak pernah aneh-aneh. “Nggak, Yah. Cuma buat menghabiskan waktu,” jawabku asal. Tega sekali Ayah memperlakukan aku seperti ini. Bahkan di acara pernikahan Rana, dia masih ingat untuk memarahiku dan mengingatkanku pada suramnya kehidupan perkuliahanku. “Lalu skripsimu gimana?” Pertanyaan Ayah masih berlanjut. Aku melirik sekilas ke arah Bima, akan kugantung kemudian kukuliti tubuhnya. Kenapa malah kali ini membahas skripsi. Coba bayangkan, di tengah hiruk pikuk tamu undangan dan suara alunan musik yang begitu memekakkan telinga, Ayah malah menanyakan masalah skripsiku. Sungguh perpaduan yang membuatku begitu muak. Rasanya Ayah lebih kejam dari dosen pembimbing skripsiku. “Masih proses, Yah,” jawabku dengan suara memelas. Ya, memang masih proses untuk memikirkan alasan lain agar Ayah nggak membahas skripsiku lagi. “Kalian sekampus? Coba sesekali kamu awasi anak saya ini. Bandelnya nggak ketulungan." Kali ini Ayah berkeluh pada Bima. Memang siapa Bima sampai ditugasi buat mengawasi aku segala. Bodyguard pribadiku? Enak aja, kalau pun memang Ayah memberinya tugas untuk mengawasiku, memangnya apa yang bisa dilakukannya selain hanya mengacaukan hari-hariku saja. Ogah! Aku nggak butuh orang suruhan Ayah yang beginian. “Saya baru tahu kalau Naya anak Dokter. Kalau tahu dari dulu mungkin saya bakal lebih perhatian sama dia,” kata Bima dengan nada sombong. Aku malah bersyukur jika aku dan Bima tidak saling mengenal dari dulu. Nggak bisa kubayangkan bagaimana hidupku jika aku mengenalnya dari dulu. Ini aja baru hitungan minggu kenal, tapi dia sudah menorehkan banyak siksaan batin untukku. Bukan perhatian yang diberikannya, dia pasti akan membuat hidupku bertambah sengsara. “Ayah kenal sama dia dari mana?” tanyaku tanpa memedulikan Bima yang kali ini wajahnya beribu-ribu kali lipat menyebalkan dibanding biasanya. Dia terus tersenyum lebar sampai tidak sadar jika dari tadi aku ingin sekali memasukkan heelsku ini ke dalam mulutnya. “Dulu dokter Albert ini dokter pribadi Papi,” lagi-lagi Bima yang menjawab, benar-benar sok cari perhatian. “Aku nggak tanya kamu,” kataku kesal, kali ini dengan suara pelan agar tidak terdengar Ayah. Suasana terasa sangat panas, baik itu hatiku maupun udara yang terasa di sekitarku. Tak lama terdengar deheman Ayah, sepertinya dia tahu jika aku dan Bima sedang bertengkar. Tapi dia memilih untuk pura-pura tidak peduli. Sorot matanya yang dingin membuatku berpikir, untung saja anak-anak Ayah mewarisi semua kelembutan Bunda, nggak ada satu pun yang bertampang dingin seperti Ayah. "Iya, Ayah memang pernah jadi dokter pribadi keluarga Bima waktu kita masih tinggal di Yogya," ucap Ayah meluruskan rasa penasaranku. Aku mengangguk mengerti. Semuanya sudah jelas, jadi sekarang saatnya aku kabur dari tempat ini. “Kamu ngapain masih di sini, sana temanin Bunda,” usir Ayah tiba-tiba. Diamnya Ayah rupanya sedang memikirkan bagaimana cara mengusirku. “Ayah juga ngapain masih di sini, katanya mau balik ke hotel,” kataku tidak mau kalah. “Masa Naya sih yang nemanin Bunda. Seharusnya Ayah yang sebagai suaminya dong,” lanjutku. Wajah Ayah otomatis berubah. Oh tidak! Sepertinya Ayah marah mendengar ucapanku. Tapi kali ini saja aku ingin Ayah tahu kalau aku keberatan dengan permintaannya. Dari tadi aku juga sudah mondar-mandir untuk memenuhi keperluan Rana, masa sekarang disuruh menerima tamu. Itu, kan hal yang membosankan dan membuat lelah. Padahal saat ini aku juga merasa sangat lelah, apalagi beberapa hari ini aku juga kurang tidur. “Terus sekarang kamu mau ngapain? Berkeliaran nggak jelas seperti ini?” tanya Ayah dengan suaranya yang dibuat menyeramkan. "Naya nggak berkeliaran kok, Yah. Ini mau lihatin Rana sebentar, kayaknya dia butuh sesuatu," karangku. “Suruh Mas Dirga saja yang nemanin Bunda, Yah. Naya mau ngurusin Rana,” kataku lagi dengan nada manja. Biasanya Ayah bisa luluh dengan kelakuanku yang seperti ini. Mau bagaimana pun, di matanya aku tetap putri kecilnya. "Mas Dirga juga dari tadi kayaknya nggak ada kerjaan," sambungku. Memang benar kok yang aku katakan, Mas Dirga terlihat sekali nggak memiliki kerjaan saat ini. Dia hanya mengobrol bersama tamu undangan dan kadang sesekali tertawa dengan kerasnya. Hati adik mana yang nggak sakit melihat hal yang seperti itu. Aku sudah kerja keras bagai kuda, dia malah santai kayak lagi di pantai. “Panggilkan Dirga kalau gitu. Kalian semua sama saja, hobinya berkeliaran enggak jelas,” omel Ayah. Aku terbatuk-batuk setelah mendengarnya. Kalian semua? Artinya Ayah juga termasuk dong. Memangnya Ayah nggak berkeliaran dari tadi? Katanya mau kembali ke hotel, tapi kok malah masih di sini. Huh, ayah dan anak sama saja. Oke, aku masih anak Ayah kalau untuk hal yang satu ini, masih nggak mau disalahkan atas kesalahan diri sendiri dan malah menuduh orang lain. “Tunggu." Tangan Bima tiba-tiba menarik lenganku saat aku baru saja mau meninggalkan mereka berdua untuk memanggil Mas Dirga. Bocah ini, kenapa hobi sekali menarik-narik tangan orang. Gawat! Bima melakukannya di hadapan Ayah, kalau tidak Bima yang mati, akulah yang akan mati! Ayah tidak pernah suka dengan semua lelaki yang terlihat mendekatiku, siapa pun itu. Mungkin ini juga salah satu dari ribuan alasan kenapa sampai saat ini aku tidak pernah pacaran. Alasan lainnya sangat banyak, tidak akan cukup waktu jika kujelaskan sekarang. Dulu, setiap ada lelaki yang mendekatiku, Ayah akan membuat hidupnya menderita. Menderita dalam arti kiasan. Tenang saja, Ayah bukan seorang pembunuh bayaran kok, hanya tatapan matanya saja yang seperti itu. Ayah akan berusaha dengan segala cara menjauhkan aku dengan lelaki yang mendekatiku. Entah dengan tiba-tiba datang menjemputku saat kencan sedang berlangsung atau tanpa angin, tanpa badai memaksa akan menemaniku menonton di bioskop, padahal saat itu aku sudah ada janji dengan teman lelakiku. Aku tidak tahu apa penyebab ayah seposesif itu padaku. Bisa jadi karena aku anak perempuan satu-satunya atau bisa juga karena tingkah lakuku yang selalu saja membuat masalah. Tentu saja kehadiran Ayah yang seperti itu membuat calon-calon pacarku mundur secara teratur. Sampai aku sendiri sudah kebal dibuatnya dan memilih tidak mau menghiraukan perhatian lelaki lagi. Kasihan Ayah, kebanyakan memikirkanku membuat uban di rambutnya semakin banyak dan rambutnya semakin menipis. Aku menepis tangan Bima dengan perlahan, jangan sampai Ayah melihat pergerakan tanganku. Jika tidak, nyawa Bima akan berada dalam bahaya. Seberapa pun bencinya aku dengan Bima, aku tidak mau dia berurusan dengan Ayah. Yang artinya akan menyusahkanku juga. Ayolah Bima, lebih baik dia pergi sekarang juga daripada mengikutiku terus. Nggak bakalan ada keuntungan yang didapatnya selain hidupnya akan kesusahan karena teror dari Ayah. “Ngapain ikut-ikut?” bisikku kesal. Bima nyengir. Aku kemudian memberi kode padanya untuk segera menyingkir jauh-jauh, tapi memang bawaannya sudah lemot, jadi dia nggak ngerti apa maksudku. “Ya sudah, kamu temanin Naya sana. Saya juga sudah mau balik ke hotel,” kata Ayah pada Bima. Seketika matamu membesar mendengar ucapan Ayah. Aku melongo mendengar perkataan Ayah. Tidak mungkin! Di saat tangan putrinya ditarik-tarik seperti itu, Ayah tidak melakukan apapun. Ayah malah menyerahkanku dengan ikhlas. Dan dia meminta Bima untuk menemaniku? Ini sungguh nggak masuk akal! "Panggil Dirga, dan minta dia buat menemani Bunda kalian," ujarnya. “Nanti malam kamu nginap di hotel saja,” kata Ayah lagi, kali ini perkataannya ditujukan padaku, tidak mungkin Ayah mengajak Bima menginap di hotel juga. Aneh, tidak ada satu pun kalimatnya menyinggung tentang Bima yang terang-terangan sedang berusaha mendekatiku. “Ayah...,” panggilku ragu. Apa Ayah sedang tidak enak badan? “Nanti malam saja kita bicarakan soal skripsimu di hotel, Ayah ngantuk,” jawabnya sambil berlalu. Ampun, Ayah bahkan mengira aku sedang ingin berdiskusi tentang skripsiku yang belum berjudul itu. Di kepala Ayah mungkin aku sudah seperti skripsi berjalan, jadi setiap melihatku, yang ingin dibicarakannya hanya soal skripsi. “Oya, Bima. Saya benar-benar serius meminta kamu mengawasi Naya." Ayah menoleh sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan aku dan Bima. Serius? Nggak perlu bicara begitu saja, wajah seram Ayah sudah cukup menjelaskan semuanya. Bima dan aku saling berpandangan. Perlahan Bima memamerkan senyumnya padaku. “Yesss...!!! Ayah kamu sudah kasih ijin!” (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN