7. Teman..., Tapi Mesra

1664 Kata
Jadi...Tante Sasak Tinggi ini ibunya Bima?! Demi langit dan bumi, aku tidak pernah menyangka jika Ibu Vivian, pemilik saham terbesar Yayasan Bina Bangsa, seorang sosialita yang selalu tampil sempurna, bahkan saat baru bangun tidur pun tidak pernah lupa menyasak rambutnya adalah ibunya Bima. Sebentar, aku harus mengatur napasku agar tenang dulu. Semuanya terlalu mengejutkan buatku. Ibu Vivian dan Bima. Bukankah keduanya memang terlihat mirip. Wajahnya, sorot matanya, hingga gerak geriknya yang menurutku begitu mirip. Kenapa pikiranku tidak sampai ke sana ya? Ini pasti gara-gara Bima yang tak hentinya mengacaukan pikiranku dan membuatku tidak bisa memikirkan apa pun. Pantasan saja, Bima pernah berkeliaran di Yayasan Bina Bangsa waktu aku mengajar kemarin. Kenapa aku malah berpikir dia sedang melamar buat bisa magang di sana ya? Huh, bahkan nggak perlu kerja saja, dia akan mewariskan seluruh sekolah. Aneh juga, ibunya punya banyak usaha, tapi kenapa anaknya nggak dari awal mengelola usahanya ya? Kenapa Bima malah mengambil kuliah di jurusan Pendidikan Sejarah, bukan malah yang ada hubungannya dengan usaha ibunya. Ibu Vivian ini temannya Tante Dina, mamanya Yudis. Wajar saja dari tadi Bima bebas berkeliaran di acara ini, dia pasti datang bersama ibunya. Mereka pasti telah mendapatkan undangan pernikahan Rana secara khusus. Ini tidak seperti yang aku pikirkan. Ah sial! Aku malu sekali sempat memikirkan jika Bima sengaja menyelundupkan ibunya ke acara Rana ini. “Owh, Ini kan Aya. Iparnya Yudis." Di telingaku suaranya terdengar sedikit mendesah. Ibu Vivian ini kenapa sih, apa tadi dia salah makan sesuatu, atau menelan sate dengan nggak benar? Biasanya suaranya nggak segininya deh. Kenapa lali ini terkesan manja-manja centil gitu ya? “Mami sudah kenal ya?” tanya Bima dengan wajah terkejut. Saat mengetahui jika ibunya kenal denganku, wajah Bimo berubah, dia terlihat sangat bersemangat. Ibu Vivian alias maminya Bima mengangguk sambil tersenyum ala artis sinetron, begitu anggun dan dibuat-buat. Lama-lama aku terlihat sangat menyebalkan karena dari tadi menilai gerak-geriknya Ibu Vivian terus. Aku ini kenapa sih, hanya gara-gara kesal dengan anaknya, ibunya pun jadi sasaran. Biarpun ibunya telah mengatakan sudah mengenaliku, tak urung aku mengulurkan tanganku hanya sebagai basa basi. Dan beruntungnya dia membalas uluran tanganku. Aku merasa lega karena awalnya mengira jika uluran tanganku akan diabaikan. “Aku nggak nyangka kamu kenal sama Mami,” kata Bima saat kami sudah meninggalkan Ibu Vivian yang sedang sibuk bergosip dengan sesama ibu-ibu sosialita. Kata Bima, maminya paling tidak mau diganggu jika sedang bersama teman-temannya. Sudah tahu begitu, tapi dia tetap nekat membawaku ke ibunya. Seperti maunya Bima, cukup hanya sekadar mengenalkan diriku dan berjabat tangan. Aku nggak mengerti kenapa wajah Bima terlihat sangat puas sesaat setelah kami meninggalkan ibunya. Apakah mengenalkanku pada ibunya begitu berarti baginya? “Kamu, kan pernah lihat aku lagi ngajar di SD Bina Bangsa, seharusnya kamu tahu,” jawabku acuh. Aku ingin menanyakan kenapa dia tidak memberitahuku jika dia adalah anak Ibu Vivian saat pertemuan kami di Bina Bangsa, tapi tidak jadi kulakukan. Aku tidak mau berbasa-basi terlalu banyak dengannya. Nanti pembicaraan kami akan bertambah panjang karenanya. Lebih baik aku berbicara singkat, padat dan tepat sasaran. “Biasanya Mami jarang banget mau kenal sama staf pengajar di sekolahnya, dia cuma tahu beres, yang penting nggak ada masalah di sekolahnya. Makanya kupikir mungkin kamu nggak kenal dengan Mami, begitu juga sebaliknya,” kata Bima. Tiba-tiba aku tersadar, dari tadi Bima tidak melepaskan genggaman tangannya. Pantas saja aku mengikuti langkahnya terus, mirip anak anjing yang mengikuti kemana pun tuannya pergi. Aku melotot ke arahnya, meminta dia melepaskan genggaman tangannya. Tapi melihat wajah bingungnya, dia sepertinya tidak mengerti. Aku mendesis sambil menggerakkan tanganku. “Lepasin tanganmu, aku nggak bakalan nyasar kalau dibiarkan jalan sendiri,” kataku ketus. Bima melepaskan tangannya sambil nyengir. Cengirannya terlihat sangat menyebalkan, seperti cengiran anak kecil yang baru saja melalukan sebuah hal usil. Mau bagaimana pun dia tetap bocah yang menyebalkan. “Keenakan,” sahutnya sambil tertawa kecil. Aku bergumam tidak jelas dan segera menjauh darinya. Kumohon, jauhkan aku darinya untuk beberapa saat saja. Ah! Sepertinya harapanku itu hanya sia-sia karena lagi-lagi Bima mengikuti langkahku lagi. “Jadi kamu mau kenalin aku ke Bundamu?” Aku menghentikan langkahku saat mendengar permintaan Bima. Seenaknya saja dia ikut-ikutan memanggil dengan sebutan Bunda juga. Sejak kapan aku memiliki darah yang sama dengannya? “Tunggu kamu lulus kuliah,” jawabku asal. “Yaaah, kelamaan,” jawabnya sambil cemberut. “Makanya jangan gangguin aku lagi. Sana cari anak SMP atau SMA, lebih cocok buat kamu,” jawabku sambil buru-buru menuju meja prasmanan dan mengambil tusukan sate sebanyak-banyaknya, sebelum Bima menarik tanganku lagi. Aku lapar sekaligus kesal. Kalau lagi kesal, biasanya makanku harus banyak. Karena energiku terkuras cukup banyak saat sedang marah. Itu alasan yang logis, kan kenapa seorang wanita bisa makan banyak tanpa merasa kenyang. “Lapar banget ya?” tanyanya dengan wajah bingung. Matanya melirik ke arahku dan aku tidak mau peduli dengan ucapannya. “Iya!” jawabku ketus. “Aku belum makan dari semalam,” jawabku lagi. Bima nggak perlu tahu sebenarnya, tapi aku hanya ingin dia tidak bertanya panjang lebar lagi kenapa aku makan begitu banyak siang hari ini. Tak lama, Bima ikut-ikutan mengambil piring dan melakukan hal serupa seperti yang sedang aku lakukan. Aku menatapnya sambil membuang napas kesal. Yang dia harus lakukan saat ini adalah menemani ibunya saja. Sebagai anak pengusaha kaya, harusnya dia bisa menjalin hubungan baik dengan sesama rekan bisnis orang tuanya. Lagi pula warisan orang tuanya nanti, kan jatuh ke dirinya. Yang ini malah mengikuti kemana pun aku pergi. Memang apa yang bisa diharapkannya dari aku? “Ngapain kamu ikut-ikutan aku?” tanyaku tidak senang. Mataku mencari kursi kosong yang bisa kugunakan untuk makan dengan tenang. Tapi dengan makhluk di sebelahku ini, aku tidak begitu yakin bisa makan dengan tenang. “Jaga-jaga kalau kamu mau nambah,” jawabnya cuek. Aku tidak menanggapi omongannya lagi. Kali ini sepiring makanan di tanganku yang lebih penting. Aku dan Bima makan dalam diam. Beberapa kali kelihatannya Bima ingin mengajakku ngobrol, tapi buru-buru kujejalkan makanan ke mulutku sebanyak-banyaknya. Malas sekali meladeninya saat perutku sedang kelaparan. Aku tidak mau berbicara, keinginanku saat ini hanya satu, mengisi perutku yang kosong, itu saja. Akan kuisi terus perutku sampai tidak ingat jika ada Bima yang berada di sebelahku. “Makanmu banyak juga ya?” komentar Bima saat aku telah menyelesaikan makanku. Aku menoleh sekilas ke arahnya. Untung aku nggak gampang tersinggung dengan ucapannya barusan. Makanku banyak? Tapi aku tetap langsing, kan? “Iya. Masalah buat kamu?” tanyaku sinis. Aku kecapekan, kepanasan, ditambah lagi harus meladeni bocah di hadapanku ini. Perpaduan yang sangat pas untuk menggorok leher bocah yang satu ini. “Nggak apa-apa kok. Aku senang kalau kamu banyak makan. Lagi pula, aku suka sama kamu bukan gara-gara kamu langsing atau gemuk kok.” Setelah Bima selesai mengucapkan kalimatnya, aku buru-buru meneguk air mineral. Hampir saja makanan yang belum selesai kutelan akan keluar lagi. Ucapannya yang tanpa basai-basi itu memang terdengar seperti sedang main-main, tapi tetap saja membuatku kaget. Kok bisa ya dia mengucapkan semua itu tanpa merasa canggung sama sekali. Seingatku saat pertemuan pertama kami di kampus, Bima terlihat seperti lelaki cuek yang nggak banyak ngomong. Ternyata pemikiranku salah, dia bahkan lebih cerewet dari Bunda. “Hei dengar ya, aku nggak tertarik sama bocah kayak kamu. Kalau disuruh milih, aku lebih suka om-om daripada sama kamu,” kataku. Anehnya Bima tidak terpengaruh dengan perkataanku. Dia hanya tersenyum sambil terus menatapku. Tatapan matanya sungguh menyebalkan. Aku tidak tahu dia sedang tertarik dengan ucapanku atau malah sedang meledek dengan tatapan matanya itu. “Pantasan seleramu jelek banget,” balasnya sambil melirik ke arah Mas Berni yang saat ini masih menempel bersama Mas Dirga. Entah kesibukan macam apa yang dikerjakan mereka. Aku hanya melengos menanggapi omongan Bima. "Tahu apa kamu tentang seleraku?" balasku kesal. “Kamu balik ke mamimu lagi sana. Aku mesti nemanin Bunda nerima tamu,” usirku kemudian. “Nah kebetulan, aku juga bisa bantu terima tamu,” katanya bersemangat. Aku menarik napas dalam-dalam. Tenang, Aya. Biarkan bocah itu berbicara apa pun, aku tetap tidak akan peduli. “Kata Rana tadi pagi, aku boleh jadi pendamping pengantin pria. Tadi kamu jadi pendamping wanita, kan? Kita cocok kalau gitu,” lanjutnya tanpa memperhatikan mimik wajahku yang sudah berubah. “Coba kamu beri alasan yang masuk akal kenapa nggak habis-habisnya kamu gangguin hidupku?!” Aku mendesis geram setelah mengucapkannya. Wajah Bima tampak kebingungan. Tidak mungkin, kan kemarahanku membuatnya ketakutan. Lelaki..., maksudku bocah seperti Bima ini seperti tidak mengenal rasa takut. “Loh? Bukannya kamu sudah ngerti ya sama arti ciuman kemarin?” Rasanya ingin kuhajar dia sekarang juga. Ember banget jadi cowok. Kenapa dia membahas masalah ciumannya di saat yang tidak tepat seperti ini? “Aku nggak sembarangan cium cewek loh." Dia masih melanjutkan omongannya. Harusnya kulakban saja mulutnya. “Aku tertarik sama kamu dan pengen kita pacaran, itu saja. Nggak ada alasan lain,” jawabnya enteng. Mudah sekali dia mengucapkannya, seolah tidak ada beban apa pun. Aku menarik napas dalam­-dalam, berusaha tenang, tidak terpancing emosi dan tentu saja sambil meratapi hidupku. Setelah sekian lama, tidak ada satu orang lelaki pun yang mendekatiku, sampai hari ini datang seharusnya aku bahagia. Bahagia jika bukan bocah ingusan itu yang mengatakannya. “Ayo aku temani kamu ke tempat Bundamu.” Secepat itu dia mengalihkan pembicaraan, seolah-olah apa yang barusan diucapkannya tidak penting. “Aku nggak mau pacaran sama kamu!” kataku kesal. “Ya sudah, kita temanan saja. Tapi mesra,” katanya sambil nyengir. Aku tambah emosi, segera kutinggalkan Bima yang belum menyelesaikan makannya. Tidak bisakah aku bertemu dengan lelaki normal yang serius mau menjalin cinta denganku? Suka sama om-om, tapi dianya nggak suka. Giliran dikejar-kejar sama bocah ingusan, aku mendadak ngeri sendiri. Apa sebenarnya yang aku inginkan? Aku sudah berada di deretan penerima tamu. Bunda terlihat sedang menyalami tamu undangan yang baru datang. Penasaran, aku menoleh ke belakang. Pasti Bima sedang mengikutiku. Aneh, kok dia tidak ada ya. Apa dia sudah mulai bosan mengganggu hidupku? Tapi tunggu dulu... Itu bukannya Ayah?! Katanya mau balik ke hotel. Terus ngapain ada Bima segala di dekat Ayah? Gawat, jangan bilang Bima mau mengaku sebagai pacarku di hadapan ayah! (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN