Aku menghapus keringat yang mengalir deras di keningku. Bahkan gaun berbahan brokat yang aku gunakan ini juga sepertinya telah basah oleh keringatku. Pendingin ruangan di ballroom ini tidak bisa mengatasi panasnya badanku dan tentu juga pikiranku.
Kenapa acara pernikahan Rana ini rasanya begitu lama. Aku sudah mondar-mandir di sini dari beberapa jam yang lalu dan merasa sangat lelah karenanya.
Aku seharusnya tidak kesal pada siapa pun saat ini. Tapi dari tadi rasa kesal seperti berputar-putar terus di kepalaku dan membuat semuanya yang seharusnya menyenangkan malah terasa menyebalkan. Siapa sih yang tega m*****i hari bahagia sepupuku. Aku malah ingin merayakan berakhirnya masa lajang Rana dengan bersenang-senang. Tapi...
Uh...kenapa juga Mas Dirga, kakak keduaku itu membawa Mas Berni ke acara pernikahan Rana. Memangnya tidak ada tamu lain yang bisa diundang. Harusnya dia membawa seorang wanita yang bisa dikenalkannya sebagai pacar pada kami. Tapi kenapa malah sosok itu yang dibawanya?
Itulah sumber kekesalanku saat ini, karena ada sosok Mas Berni di ruangan yang sama denganku. Sosoknya masih saja sama seperti dulu, bedanya sekarang dia terlihat semakin matang. Ya wajar sih, umurnya aja sudah masuk kepala tiga.
Mas Berni alias dokter Berni itu bukan mantanku atau siapa pun itu yang terindikasi pernah berhubungan dekat denganku. Bahkan jika bisa dibilang, tidak pernah ada hubungan romantis di antara kami. Yang ada malah, dia selalu acuh jika kebetulan bertemu denganku. Dia mengabaikanku seakan aku ini adalah sosok tak kasat mata. Dia hanya teman kakakku, tidak lebih.
Lebihnya hanya...dulu aku pernah mengirim surat cinta padanya.
Oke, jangan tertawa dulu untuk hal ini. Aku tahu jika apa yang aku lakukan di masa laluku ini benar-benar menurunkan harga diriku. Duh...rasanya aku ingin gantung diri saja mengingat betapa memalukannya yang pernah aku lakukan dulu. Saat ini aku benar-benar menyesal kenapa melakukan hal bodoh dan tidak ada gunanya itu. Pantas saja Mas Berni mengabaikanku sejak aku mengutarakan perasaanku, karena apa yang aku lakukan itu sangat memalukan. Dia pasti tidak mau kenal dengan sosok wanita tidak tahu malu sepertiku.
Aku tidak tahu, apa keberuntungan atau tidak, sampai saat ini Mas Dirga tidak tahu perbuatan konyolku pada temannya. Sepertinya Mas Berni juga menganggap apa yang pernah aku lakukan dulu adalah sebuah aib yang juga harus disembunyikannya. Mas Dirga pasti akan marah dan yang lebih parah akan meledekku seumur hidup jika tahu aku pernah mengirim surat cinta pada Mas Berni.
Heran, saat ini aku malah berpikir apa yang dulu membuatku sampai nekat mengutarakan perasaanku pada Mas Berni. Di lihat dari tampang, standar aja, nggak ganteng kebangetan. Mungkin gara-gara sosoknya terlihat keren di mataku yang masih remaja saat itu. Mahasiwa kedokteran, penampilannya keren, terkesan dingin dan nggak banyak bicara. Ah! Dasar otak remajaku memang murahan banget. Padahal kalau sekarang, yang seperti itu sudah nggak asing lagi di mataku
Tinggallah saat ini aku kebingungan menghindari Mas Berni yang dari tadi mengekori Mas Dirga terus, dua bujangan yang tidak laku-laku gara-gara keasyikan mengambil spesialis di Jerman. Nggak laku itu hanya julukan dariku, karena mereka berdua nggak pernah terlihat bersama wanita. Nggak tahu deh yang sebenarnya di sana. Dan aku juga nggak mau peduli, kecuali kakakku, Mas Dirga. Aku harus tahu jika seandainya suatu hari nanti dia memiliki seorang pacar..
“Naya...." Deg, aku langsung siaga satu saat mendengar panggilan itu. Hanya ada dua orang yang memanggilku seperti itu.
Entahlah, aku tidak tahu harus bahagia atau menangis melihat Ayah di hadapanku saat ini.
“Kamu kemana saja?” Suaranya terdengar berat. Aku meringis dan menoleh dengan pelan sampai mata kami saling bertatapan.
“Bunda mana, Yah?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ayah tanya kamu." Suara Ayah semakin terdengar seram. Setelah beberapa hari berhasil menghindari Ayah karena kesibukanku mengurus Rana, hari ini sepertinya aku harus mengibarkan bendera putih. Naya menyerah, Yah.
“Banyak yang mau diurus, Yah. Rana minta macam-macam,” kilahku sambil cengengesan.
“Temanin Bunda terima tamu. Jangan berkeliaran terus,” kata Ayah sambil berlalu.
“Terus Ayah mau kemana?” tanyaku penasaran.
“Balik ke hotel, tidur,” jawabnya acuh. Aku melongo. Tidur? Di saat putri tercintanya juga sedang menahan kantuk karena beberapa hari ini tidak bisa tidur dengan benar, Ayah malah mengucapkan kalimat tabu itu.
“Ikut...,” kataku dan selang beberapa detik kemudian aku hanya bisa menunduk setelah mendapat tatapan maut dari Ayah. Oke, nggak jadi ikut kalau begitu, Yah.
Aku berjalan terseok-seok dengan rok panjang dan high heels yang begitu menyiksa ini setelah Ayah menolak permintaanku. Mau bagaimana pun, Ayah tetap benar, dan aku yang salah. Ayah yang boleh tidur siang, dan aku nggak boleh. Oke, skip.
Kakiku terasa kram. Menggunakan heels ini sungguh menyiksa. Seharusnya tadi kuganti heels ini dengan sepatu kets saja. Ini gara-gara bujuk rayu Rana yang mengatakan jika aku akan terlihat berbeda jika menggunakan high heels, karena sangat sepadan dengan gaun yang kukenakan.
Ngomong-ngomong soal Mas Berni, saat ini dia berdiri tepat di hadapanku bersama kedua kakak lelaki dan istrinya. Maksudku yang sudah memiliki istri hanya kakak tertuaku, Mas Krisna. Mas Dirga? Jangan ditanya lagi.
“Kamu sibuk banget dari tadi,” cetus Mas Dirga.
“Iya dong, nggak kayak Mas Dirga yang bisanya cuma mondar-mandir nggak jelas,” jawabku. Kepulangan Mas Dirga sebenarnya dalam rangka libur semesternya dan kebetulan di saat yang sama juga Rana melangsungkan pernikahannya.
“Cariin pasangan buat kami dong, biar nggak bosan gini,” lanjut Mas Dirga. Mas Krisna dan Mbak Ayu, istrinya hanya tertawa mendengarnya. Aku melengos. Yakin minta tolong aku yang cariin? Padahal status kami saat ini sama, tidak memiliki pasangan. Sia-sia saja jika meminta bantuanku.
“Nggak ada, kalian ketuaan,” sahutku asal karena aku tidak memiliki jawaban untuk permintaan aneh Mas Dirga. Nggak mungkin, kan aku mengiyakan permintaannya pada aku saja tidak bisa mengurus diriku sendiri.
Padahal tua itu salah satu favoritku ketika mencari lelaki. Andai saja dulu Mas Berni membalas cintaku. Cukup, ini khayalan yang sangat memalukan karena orang yang sedang aku pikirkan itu sedang berada tepat di hadapanku.
Aku berusaha menoleh ke arah Mas Berni. Demi apa pun itu, kali ini ada yang berbeda dengannya, dia tidak lagi memalingkan wajahnya saat melihatku. Matanya kita bersorot tajam dan tak lepas memandangku. Mendapat tatapan yang demikian malah membuatku cemas, jangan-jangan penampilanku ini ada yang nggak beres sampai dia menatapku tak lepas seperti itu. Rambutku? Atau badanmu yang bau asam karena keringat? Atau heels ini sebenarnya nggak cocok buatku. Atau....
“Sama kamu saja." Sekarang gantian Mas Berni yang bicara. Aku melotot. Apa Mas Dirga mendengat ucapan Mas Berni tadi? Sama dia saja? Kok baru sekarang bilangnya.
“Sudah telat,” jawabku asal tanpa mengerti apa yang aku ucapkan. Semua ini karena aku merasa salah tingkah. Beruntungnya Mas Dirga sedang sibuk berbincang dengan Mas Krisna, sehingga tidak mendengar ucapan Mas Berni tadi.
“Iya, sudah telat Mas. Sekarang Naya sudah sama saya." Mali ini aku harus membalikkan badanku hingga seratus delapan puluh derajat untuk melihat orang yang sudah dengan lancang berkata seperti itu.
“Wow, Aya sudah punya pacar,” timpal Mas Krisna dengan nada bangga. Heran, kok gantian yang kayak gini, mereka tanggap banget.
“Bima, Mas." Dia menyalami kedua kakakku satu persatu dan juga Mas Berni.
Siapa yang telah memasukkan bocah gila ini ke acara pernikahan Rana?!
“Kami nggak pa.....” Bima menyingkut perutku sebelum aku melanjutkan perkataanku.
“Wah...wah...rekor buat Aya nih." Kata-kata Mas Dirga seperti ejekan buatku. Huh, dia yang sudah berumur tiga puluh tahun saja belum punya pacar, rekor apanya. Harusnya dia yang mendapat rekor dnegan kategori jomlo terabadi.
“Saya pinjam Naya sebentar ya, Mas.” Bima menarik tanganku sekuat tenaga sampai rasanya pergelangan tanganku terasa nyeri.
“Dia mantanmu?” Dan kalimat tidak penting itu keluar dari mulut Bima setelah berhasil menyeretku pergi.
“Kamu kok bisa di sini?!” Aku tidak memedulikan pertanyaannya karena rasanya tidak penting dan dia juga tidak perlu ikut campur urusanku.
Aku terdiam beberapa saat sambil menatap Bima yang juga sedang balas menatapku. Bisa-bisanya Bima berpakaian rapi seperti saat ini, kemeja berwarna gelap, dasi yang senada dengan kemeja yang digunakannya. Apa dia pikir, Rana benar-benar serius mengundangnya? Penampilannya sungguh meyakinkan sekali.
“Dia mantanmu?” ulangnya sekali lagi. Aku menarik napasku panjang. Ya Tuhan, kenapa siksaan ini belum berakhir. Apa karena ciumannya itu, Bima jadi merasa memiliki ikatan denganku? Sampai untuk hal pribadi seperti itu saja dia ingin tahu.
“Siapa?!” balasku kesal.
“Yang tadi sama kakak-kakakmu." Nada bicaranya sudah seperti orang cemburu. Eh! Bima cemburu? Jangan sampai deh!
“Mantan gebetan,” jawabku cuek.
“Sudah ah, aku mau ke depan dulu. Mau nemanin Bunda,” kataku berusaha menghindari Bima.
“Mau ngajak aku kenalan sama Bundamu? Boleh juga." Kalimatnya semakin ngaco.
“Siapa sih yang ngundang kamu ke sini? Ribet banget kalau ada kamu,” makiku.
“Loh, bukannya tadi kamu yang suruh aku datang. Dan sepupumu itu juga mengundangku secara khusus.” Dia nyengir setelah menyelesaikan ucapannya.
“Ya sudah, makan yang banyak sana. Habis itu pulang." Aku mendorong Bima menuju meja prasmanan dengan makanan yang begitu menggiurkan. Tapi kenapa aku yang jadi lapar ya.
“Aku juga mau makan, setelah itu kamu pulang ya,” kataku mendahului Bima menuju meja prasmanan. Sate ayam dan siomay sepertinya enak.
“Sebentar." Sebelum tanganku mendarat menggambil piring, Bima sudah menariknya terlebih dahulu.
“Aku lapar, Bim,” protesku.
“Iya, ada orang penting yang harus kamu temui dulu." Lagi-lagi dia menyeretku. Malang sekali aku hari ini.
"Orang penting apaan? Di sini aku yang paling penting," ucapku asal karena merasa sangat kesal.
"Tenanglah dulu, nggak akan lama kok," balasnya seakan tidak peduli dengan penolakanku.
“Aku tahu kamu berjasa banget karena sudah nolongin aku dan Rana tadi pagi. Tapi kalau seperti ini balas jasanya, aku nggak terima,” kataku kesal.
“Aku nggak mau berurusan sama kamu lagi." Aku berusaha melepaskan tanganku.
Bima masih saja terus berjalan sambil menyeretku. Dia tidak memedulikan omelanku yang panjang lebar. Akan kutendang kepalanya jika aku tidak menggunakan rok seperti ini.
“Mi, kenalin ini Naya yang pernah aku ceritain ke Mami." Suara Bima terdengar bersemangat. Mi? Mami? Dia membawaku berkenalan dengan ibunya? Astaga! Padahal tadi Rana hanya mengundang Bima sendiri, kenapa dia malah bawa ibunya? Jangan-jangan dia juga membawa keluarganya yang lain. Ini nggak benar. Bima benar-benar mencari keuntungan kalau seperti ini.
Aku mendongak, dan mendapatkan Tante Bersasak Tinggi sedang menatapku dengan tajam. Oh tidak!
Dia...dia Ibu Vivian, pemilik Yayasan Bina Bangsa tempat selama ini aku mengajar! (*)