5. Aku Diundang, Kan?

1665 Kata
Bocah ingusan di balik mobil itu menatapku dengan pandangan mata heran. Apa ada yang salah dengan penampilanku pagi ini? Apa aku harus berbalik dan pura-pura tidak butuh dengan tumpangan mobilnya? Ini benar-benar melukai harga diriku. Harusnya memang seperti itu yang kulakukan, berbalik dan tidak jadi meminta bantuannya. Ah! Tapi nggak bisa! Aku nggak bisa egois seperti ini, sedangkan Rana benar-benar butuh tumpangan agar bisa segera sampai di rumah. Matanya kemudian memicing, seperti sedang memindaiku. Aku menahan napas, mencoba bersabar demi Rana. Jika tahu dia yang ada di balik kemudi, aku tidak akan rela meminta bantuannya. “Masuklah,” katanya dengan nada datar setelah hening selama beberapa detik. Rasanya ingin kucakar saja wajahnya saat mendengar nada bicaranya yang semakin membuatku tertekan. Aku membuang wajahku, tidak tahu harus mengucapkan terima kasih atau malah menendang wajahnya yang sombong itu. Sayangnya saat ini aku yang sangat butuh bantuannya, sehingga mau melakukan apa pun aku tidak bisa. Ibaratnya, saat ini hanya dia satu-satunya bantuan yang bisa kudapatkan untuk menolong Rana. “Sebentar, aku panggil sepupuku dulu,” sahutku akhirnya. Aku membuang napas bersama seluruh rasa kesal yang menggumpal di pikiranku. Kenapa begitu sulit rasanya menerima kenyataan jika dia yang akan menolongku dan Rana saat ini. Dengan setengah berlari aku menghampiri Rana dan segera membuka pintu mobil. Mata Rana sudah memerah akibat menahan tangis. Aku jamin, sebentar lagi hasil riasannya akan sia-sia. Kami berdua sama-sama tidak membawa ponsel, dan tidak ada bisa dilakukan dalam keadaan seperti ini kecuali meminta bantuan orang-orang yang lewat. Sayangnya, orang lewat yang terpilih itu adalah Bima. Ayolah, rasa kesalku. Hari ini saja bekerja sama denganku dan tidak mencari gara-gara dengan bocah itu. Tarik napas dalam-dalam, Aya. Lupakan jika bocah itu pernah membuat masalah denganku. “Aku dapat tumpangan, ayo buruan,” kataku dengan bersemangat. Rana harus tahu jika aku benar-benar sepenuh hati mencari tumpangan untuknya. Mata Rana mengerjap berkali-kali, seperti tidak yakin dengan perkataanku. “Kebetulan sopirnya temanku,” kataku lagi. Teman? Sejak kapan aku menganggapnya teman? Tenang, Aya. Hari ini aja. Sepertinya Rana sedikit was-was dengan tumpangan yang aku tawarkan, mungkin dikiranya aku asal mencegat mobil yang lewat. Padahal kenyataannya memang begitu. Rana keluar dari mobil dan kemudian aku mengunci mobilku. Nanti setelah semuanya beres, aku akan kembali lagi ke sini untuk mengurus mobilku. “Teman kampusmu?” tanya Rana penasaran. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Tidak mungkin aku menjawab panjang lebar dengan mengatakan lelaki itu adalah bocah gila yang tiba-tiba saja mencuri ciuman pertamaku. Di umurku yang sudah segini, mana aku punya teman kampus lagi. Yang ada teman-teman seangkatanku sudah bekerja di berbagai kota. “Ini Rana, sepupuku,” kataku basa-basi memperkenalkan Rana pada Bima. Setidaknya aku harus pura-pura baik karena saat ini nasib Rana bergantung padanya. Aku akan sebisa mungkin menjaga perasaan Bima tetap stabil agar Rana bisa diantar dengan selamat hingga ke rumahnya. “Kok kamu di belakang juga. Sana, di depan saja,” kata Rana tiba-tiba sambil mendorongku yang baru saja duduk dengan sempurna di sebelahnya. “Iya, kamu di depan saja. Lagi pula aku bukan sopir taksi. Oiya, aku Bima,” ujar Bima sambil menoleh ke belakang. Dia tersenyum pada Rana. Sekilas, aku bisa melihat senyumnya yang tampak aneh. Jangan-jangan dia masih malu gara-gara perbuatannya kemarin. Tapi bocah seperti itu tidak akan mungkin malu. “Please, agak ngebut ya Bim,” kataku dengan wajah memelas. Wajahku yang seperti ini pasti terlihat menyedihkan. Baru kali ini aku meminta bantuan seseorang dengan setengah memohon seperti ini. Kali ini lagi-lagi demi Rana. Lihat saja, segera setelah semuanya beres, aku akan menendang wajahnya yang menyebalkan itu. “Imbalannya?” tanyanya dengan wajah usil. Aku mengernyit, tidak senang dengan ucapannya. Imbalan apa? Apa dia sopir angkot yang meminta bayaran pada penumpangnya? Kalau iya, aku akan memberinya dua lembar dua ribuan sebagai imbalannya. “Jangan mulai lagi deh, Bim,” bisikku pelan agar Rana tidak mendengar. Kalau saja tidak ada Rana, aku akan mengulangi apa yang pernah aku lakukan padanya tempo hari, menghajarnya sampai babak belur. Sayang aku tidak bisa melakukannya, padahal tanganku sudah terasa gatal. “Kamu boleh makan sepuasnya di acara pernikahan Rana nanti,” jawabku asal. Apalagi imbalan untuk bocah sepertinya selain mendapat makan enak dan gratis. Entah karena memang dia sedang kelaparan, Bima seperti menyetujui tawaranku. Padahal aku tidak serius dengan ucapanku. Siapa juga yang mau dia datang ke acara pernikahan Rana, yang ada dia akan membuatku semakin emosi. Bima membawa mobilnya dengan kecepatan penuh sampai Rana terombang-ambing di belakang kemudi. Masa sih hanya gara-gara imbalan makan gratis dia sampai segitunya? “Nggak secepat itu juga. Kasihan Rana di belakang,” kataku akhirnya. Bima menoleh sambil nyengir. Melihat wajah tanpa dosanya membuat aku berpikir dua kali, apa memang dia orang yang sama dengan yang telah menciumku? Mendadak wajahku memanas mengingatnya. “Kamu belum mandi ya?” tanyanya sambil matanya tetap menatap ke depan. Seketika aku langsung mengedus-ngendus, tidak ada bau aneh. Kenapa dia bisa menebakku belum mandi? Dia pasti hanya ingin meledekku. Seperti tidak ada pembicaraan lain saja. “Sudah, kemarin,” jawabku ketus. “Pantasan." Dia tergelak. Aku menatapnya dengan pandangan tidak suka. Tidak ada yang lucu. Kalau pun pagi ini aku tidak sempat mandi, bukan gara-gara aku malas. “Kalian seangkatan?” tanya Rana tiba-tiba. Mungkin dia merasa penasaran dengan interaksiku dan Bima yang terkesan aneh. Aku merasa sedikit canggung. Tapi tentu saja bukan gara-gara memikirkan ciumannya kemarin. Sontak aku dan Bima saling berpandangan. Hello..., dilihat dari ujung sedotan pun semua orang bakal setuju Bima lebih cocok jadi anak SMA dibandingkan jadi teman seangkatanku. “Kelihatannya?” Aku balas bertanya. “Kami kenal waktu Naya mengulang mata kuliah,” jelas Bima sambil tersenyum. Good, sekarang dia seperti meremehkan aku di hadapan Rana dengan mengatakan aku mengulang mata kuliah. Tidak ada basa-basi lain yang lebih menyenangkan hatiku apa? “Nggak kenal-kenal banget sih, baru sekali bertemu di mata kuliah yang sama,” kataku tak mau kalah. Harusnya Rana bisa membedakan mana kebenaran dan mata kebohongan. Rana tahu jika di masa sekarang ini aku sangat jarang memiliki teman, apalagi yang masih bocah seperti ini. “Sayang kita baru bertemu hari ini. Kalau nggak, aku pasti minta tolong kamu buat jadi pendamping prianya,” lanjut Rana tanpa memedulikan ucapanku. “Pendamping wanitanya Naya?!” Bima malah balas bertanya. Aku membuang napas kesal, kenapa sih dia tidak bisa memanggilku dengan normal saja, Aya atau sekalian Anaya saja. Hanya Ayah yang memanggilku dengan panggilan Naya. Dan aku tidak suka mendengar panggilannya, karena hanya Ayah yang boleh memanggilku seperti itu. “Iya,” jawab Rana sambil mengangguk. Sepertinya pagi ini aku telah melakukan dua kesalahan besar, pertama bertemu dengan bocah ini dan yang kedua mengenalkan si bocah kepada Rana. Rana yang lugu itu pasti menganggap Bima adalah lelaki baik dan dengan senang hati menyeretnya masuk ke dalam kehidupanku. Oh! Aku tidak bisa membayangkan jika bocah ini akan berkeliaran dalam kehidupanku. “Nggak apa-apa, aku bersedia kok jadi pendamping kedua,” kata Bima sambil tertawa. “Mana ada istilah kayak gitu,” sahutku ketus. “Boleh-boleh saja." Rana kembali tidak memedulikan kata-kata yang aku ucapkan. “Yudis pasti senang kalau kenal sama kamu,” kata Rana. “Calon suamiku,” lanjutnya lagi dengan wajah malu. Aku tidak suka dengan situasi seperti ini. Terjebak di dalam kebencian yang tidak bisa aku lampiaskan. Tanganku kuremas berkali-kali dari tadi. Aku ingin marah dan mengomeli Bima, tapi adanya Rana membuatku tidak bisa melakukan apa pun. Bima ternyata pintar bersandiwara. Di depan Rana, dia menampilkan wajah lelaki baik-baik, penuh senyum dan ramah. Padahal yang ada, dia tak lebih dari bocah mes.... “Sudah mau sampai,” kata Bima tiba-tiba, kontan saja aku tersentak kaget. Dia membelokkan mobilnya di komplek perumahan Rana. “Kamu kok bisa tahu rumahku,” kata Rana setengah menjerit. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar antusiasnya Rana. Mengetahui alamat rumah seseorang adalah hal yang biasa. Gimana dengan abang-abang paket yang bisa mengantar paket ke tempat tujuan dengan benar padahal sebelumnya tidak saling mengenal. Nah, sama aja, kan. “Aku pernah antar Naya pulang,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum palsu! “Artinya kalian lumayan akrab dong ya.” Lagi-lagi suara Rana terdengar bersemangat. Bisa ditebak, segera setelah acara pernikahannya, Rana pasti akan menerorku dan menanyakan ada hubungan apa antara aku dan Bima sebenarnya. “Lumayan,” sahut Bima. “Nggak juga,” kataku hampir bersamaan, tapi kali ini suaraku tertelan oleh suara Bima yang mendadak memonopoli semuanya. Aku mendesis kesal sambil menatapnya tajam. “Sudah, kamu buruan turun. Semua orang pasti ribut nyariin kamu,” kataku mengusir Rana agar cepat turun dari mobil Bima. Setelah itu, aku akan menyelesaikan urusanku dengan bocah ingusan ini. “Makasih ya buat bantuannya, kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu gimana jadinya.” Rana masih saja berbasa-basi dengan Bima. "Kamu datang ya ke acara pernikahanku. Tanya sama Aya di mana tempat dan waktunya," kata Rana lagi. Aku membuang napas saat mendengar tawaran Rana untuk Bima. Harusnya Rana nggak menawarkan apa pun padanya. “Buruan, pasti semuanya nungguin kamu dari tadi,” desakku lagi sebelum dia bicara hal tidak penting pada Bima lagi. “Buat hari ini saja, aku ngucapin terimakasih sama kamu,” kataku pada Bima setelah Rana turun dari mobil. “Hari-hari lain nggak boleh lagi ya?” tanyanya sambil nyengir. “Boleh, asal kamu mau babak belur lagi kayak kemarin,” jawabku ketus sambil membuka pintu mobilnya. “Tunggu dulu.” Tiba-tiba Bima menarik tanganku sebelum aku sempat keluar dari mobilnya. Jangan bilang dia mau menciumku lagi! “Kamu nggak kapok juga ya?!” Aku menepiskan tanganku yang ditariknya. “Aku mau nagih janji yang kamu tawarin tadi." Bukannya takut, Bima malah balas menatapku dengan tajam. “Jangan ngaco, aku nggak ada janji apa pun ke kamu,” sahutku kesal. Bima tertawa kecil, padahal tidak ada yang lucu. “Kamu jangan aneh-aneh deh, banyak keluargaku di luar. Bakal kupatahin lehermu kalau berani macam-macam,” ancamku. “Galak banget sih,” Bima terkekeh lagi. Emosiku sudah sampai kepala. “Katanya aku boleh makan sepuasnya di acara nikahan sepupumu. Jadi, aku diundang buat datang kan?” dia memamerkan deretan giginya yang mendadak membuat tanganku gatal untuk merontokkannya.(*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN