Beberapa kali aku menarik napas panjang dan kemudian melirik Bima yang duduk di sebelahku. Aku ingin tertawa karena wajahnya tampak lebih tegang daripada aku. “Kenapa malah kamu yang tegang?” tanyaku. Bima melengos. Padahal aku tidak memaksanya menemaniku hari ini. Ini hari yang menegangkan buatku, dan aku ingin menikmatinya sendiri. Tetapi bocah ini dari kemarin sudah berkali-kali mengatakan jika dia akan menemaniku saat sidang skripsiku. “Aku ke toilet dulu ya” katanya sambil beranjak meninggalkanku. Aku tertawa setelah kepergian Bima. Lumayan menghilangkan ketegangan menjelang jam sepuluh nanti. Rasanya sudah seperti akan dieksekusi mati. Padahal cuma sidang skripsi. Aku terus menekankan kata cuma, tapi entah kenapa lututku terasa gemetar. Oke, sekali lagi cuma sidang skripsi, sama se

