Pandanganku mengarah ke segala penjuru auditorium kampus. Dari tadi aku kesulitan menemukan Ayah dan Bunda yang mungkin sedang berbaur dengan undangan yang lain. Aku menyeka wajahku yang berkeringat dengan sangat perlahan, takut riasan wajahku akan rusak. Riasan wajah yang sudah dari subuh menempel di wajahku dan mengingatkanku pada saat acara pernikahan Rana yang juga harus berdandan saat matahari belum juga terbit. Heran, padahal acaranya nggak sampai setengah hari, tapi dandannya sudah kayak mau jadi pengantin aja. Aku sangat jarang berdandan heboh seperti ini. Mungkin malah ini yang pertama kalinya. Rasanya nggak nyaman, gerah dan risih. Apalagi aku memiliki kebiasaan sering mengusap area wajahku, entah itu mata, hidup atau pun pipi. Kali ini aku harus bertahan agar riasanku awet hing

