Aku berharap gadis bernama Mita itu percaya dengan apa yang aku katakan dan tidak membuntutiku. Walaupun sebenarnya tak ada yang perlu aku khawatirkan dengan kedatangan Bima. Terserah Bima mau datang atau ke rumah mantan pacarnya ini, ngapain juga aku mau tahu urusannya. Siapa tahu dia malah mau ngajak mantannya ini balikan. Semuanya bukan urusanku, kan? Hanya masalah cinta monyet anak remaja, buat apa aku pusing memikirkannya. "Mbak..., kita belum selesai ngobrol loh." Suara panggilan Mita membuatku mau tidak mau menoleh ke arahnya. "Oh...masih mau ngobrol ya?" tanyaku dengan wajah polos. Lagian mau ngobrolin apaan sih. Membahas tentang Bima? Ih malas banget. Setiap menyebut satu kata nama Bima, napasku semakin sesak, sepertinya semakin lama dia mulai menggerogoti hidupku. "Tapi aku me

