Sudah tiga hari ini Mas Berni sangat sulit dihubungi. Setiap berbicara lewat panggilan telepon, dia akan memutus pembicaraan terlebih dahulu, entah karena alasan mengantuk, ada pekerjaan yang mau dilakukan, ke kampus, atau hal lainnya yang nggak kumengerti. Rasanya dia menjadi lebih sibuk dari biasanya. Tapi ya sudahlah, aku berusaha mengerti aja. Sudah resikonya pacaran jarak jauh. Asal dia baik-baik saja, aku sudah bersyukur. "Nay...." Pintu kamarku terdengar diketuk perlahan. Aku menarik napas panjang dan meletakkan ponselku yang baru kugunakan untuk menghubungi Mas Berni tadi. Sudah bisa dipastikan, yang berdiri di depan pintu kamarku adalah Bima. Entah sejak kapan, dia mulai sering mendatangi kamarku dan mengganggu dengan berbagai hal yang nggak penting. "Makan yuk," ajaknya saat p

