Dari sudut mataku aku bisa melihat Bima tersenyum terus sejak menurunkan Gea di depan kampusnya. Apa dia baru saja mendapatkan lotre? Atau jangan-jangan dia malah sedang membayangkan kejadian semalam. Oh tidak! Aku jadi merinding saat memikirkannya. Bahkan sentuhan jari Bima di bibirku masih terasa jelas. Oh Mas Berni, bisakah nikahi aku saja sekarang biar yang di kepalaku hanya ada Mas Berni. “Kamu kenapa?” tanyaku akhirnya karena Bima masih saja tersenyum terus. Aku merasa ngeri karena hal bodoh yang dilakukannya dari tadi. “Lagi senang,” jawabnya sambil tersenyum. Aku tidak mengerti senang seperti apa yang dimaksudnya. Apa gara-gara tadi ada Gea? Gadis yang bernama Gea itu pintar sekali mencari kesempatan. Padahal jarak kampusnya dan kost tidak begitu jauh. Tinggal jalan kaki selama b

