15. Jadi Pacarku

1822 Kata

"Aku pulang dulu," ucapku basa-basi pada Bima karena dari tadi dia hanya mematung sambil menatapku. Aku nggak tahu apa yang salah dari wajahku, karena dari tadi dia menatapku tanpa mengalihkan wajahnya. “Ikut,” katanya sambil mengekori langkahku. Kok ikut? "Loh mobilmu mana?" tanyaku heran. Bukannya tadi dia bilang baru saja mengantar orang tuanya ke bandara? "Nggak bawa," sahutnya singkat. Keningku tambah berkerut mendengar jawabannya. Nggak bawa gimana? Apa tadi dia jalan kaki dari rumahnya? Nggak mungkin, kan. "Tadi pakai taksi," sahutnya. Mataku memicing merasa nggak percaya dengan ucapannya. Kalau memang pakai taksi kenapa dia juga mesti ikut, bukannya malah merepotkan dirinya sendiri? Tapi lebih baik aku nggak banyak bertanya karena akan pembicaraan kami ini pasti akan bertambah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN