Mata Bima membesar sesaat setelah ucapan Mas Berni berakhir. Dari raut wajahnya, dia seperti tidak percaya. Aku sebenarnya nggak mau Mas Berni melakukan ini, seolah ingin memberitahu semua orang tentang hubungan kami yang baru seumur jagung. Tapi mungkin Mas Berni punya tujuan lain, apalagi kalau bukan untuk membuat Bima tidak menggangguku lagi. "Kalian pasti sedang mengerjaiku," ucapnya sambil mencibir. Sepertinya karena terlalu sering dikerjai, dia menjadi mudah curiga. "Buat apa juga kami mengerjaimu," balas Mas Berni. Sementara keduanya sedang berdebat, aku memilih untuk menghabiskan pecelku. Terlalu lama mendengar perdebatan keduanya, malah membuatku kelaparan. "Mana mau Naya sama Mas," ujar Bima dengan raut wajah meremehkan. Aku terdiam mendengar ucapan Bima, memang aku pernah bil

