Aku menghampiri Vika yang sedang asyik ngehafalin gerakan dance t****k, dia menatapku penuh tanya.
"Whuttt?" tanya dia manja.
"Mau cerita." ucapku sambil duduk di sebelahnya, Aku sama Vika mengabaikan perjanjian kami soal jaga jarak di luar rumah, karena setelah kejadian waktu itu terbukti tidak ada apa-apa lagi sampai hari ini.
"Apa-apa...." kata Dia.
"Dani" jawabku.
"Suami kamu kenapa?" tanya dia, yang sudah fasih menyebut Dani sebagai suami aku.
"Aku bingung aja Vik, kamu ingat kan dulu dia kaya gimana? nyebelinn, ngeselin, selalu bikin aku badmood dan marah-marah. Tapi setelah kami jadian tuh kenapa dia berubah 360° gitu Vik." tuturku.
"Maksud kamu berubah?" tanya Vika menekankan pada kata berubah.
"Iya sekarang dia lebih lembut, penuh perhatian, bahkan setiap sentuhannya ke aku itu kek penuh kasih sayang gitu, jadi fast respon, jadi ok google, pokok nya dia beda banget."
"Iya terus kamu ngapain bingung, emang harus gitu kan ke istri, lahh kenapa kamu bingung sih, aneh." kata dia, geleng-geleng kepala.
"Ya nggak gitu Vik, masalahnya aku nggak ngerti karakter dia yang sebenernya tuh kaya gimana? yang ngeselin apa yang penuh perhatian." jawabku.
"Ya tentu aja yang penuh perhatian dodol.... dia jadi ngeselin cuma buat caper aja ke kamu." kata Vika.
"Gitu ya?" tanya ku.
"He em... dah jangan dipikirin." kata Vika.
Aku manggut-manggut, memang sebenarnya agak mengganggu sih, kenapa bisa seseorang berubah sejauh itu. Tapi jujur sih dulu waktu kecil Dani lebih kaya Abang yang manusiawi gitu ke aku daripada udah dewasa yang super ngeselin.
"Suami kamu mana? nggak masuk?" tanya Vika kemudian.
"Enggak, dia izin buat nganter papah nya ke bandara. Ada setor laporan audit ke kantor pusat di Jakarta gitu." jawabku.
"Kamu naik angkot?" tanya dia kemudian.
"He em... " jawabku.
"Lahhh kenapa gak telpon Dito buat jemput, kamu sadar kamu lagi diawasi?" Vika mengingatkanku akan bahaya yang tidak akan pernah bisa kami bayangkan sebelumnya.
"Iya-iya aku tau kok."
"Nanti pulang sekolah biar dianter ma suami aku." katanya kemudian.
"Diihh... kamu nggak takut Dito baper ke aku?" aku menggodanya karena dia sempat marah ke aku waktu kami ke Bali dulu.
"Laaa ngapain, santai aja, toh dia udah nanem saham di aku." jawabnya enteng.
"What????"
"Canda Sayangggg..." sahutnya.
"Beneran Vika kamu jangan macem-macem deh, kita udah mau kelas XII, sayang kalau kamu sampek hamil duluan, Sampek ada apa-apa aku habisin si Dito."
ucapku kesal.
"Siaappp ketuaaa, iya aku ngerti kok. Lagian kami selalu pake pengaman pas main." bisiknya.
"Udah jangan dibahas... jadi merinding."
***
Pulang sekolah, Dito dan Vika nungguin aku.
"Sya.. aku dah kasih tau Dito, aku minta dia antar kamu pulang." kata Vika.
"Nggak papa nih? jadi ngerepotin."
"Halahh kaya ke siapa aja, dah pulang sana." kata Vika.
"Jagain kembaran gueh..." kata Vika ke Dito.
"Siap boss ku..." kata Dito.
"Kamu hati-hati Vik." pesan ku Vika.
"Iya sayangg." jawab Vika, Dan kami mulai bertolak dari sekolah.
Hingga ditengah jalan Dito berkali-kali noleh kebelakang.
"Gawat... Sya, kayanya kita diikuti deh, aku sengaja muter-muter emang, tapi mobil putih belakang ngikut terus, aku lambat dia lambat aku kenceng dia kenceng."
Aku ingin melihat kebelakang tapi buru-buru Dito mencegahnya.
"Jangan dilihat, mereka belum tau wajah kamu, mereka cuma ngikutin aku karena tau aku pacar Vika, tapi tiba-tiba nganter sosok asing, jadi memancing perhatian." Kata Dito.
"Aku gak bisa nganter kamu kerumah, kita stay dikeramaian dulu ya." kata Dito.
"Oke Dit..." dan tentu saja aku mulai ketakutan disitu.
"Jangan panik, masuk ke MOG deh ya, kita berhenti di keramaian bentar ya."
"He em..." jawabku.
Saat kami jalan di tepat parkir, tiba-tiba Dito narik aku buat sembunyi diantara mobil-mobil. Karena mobil mereka baru aja sampai di area parkir.
"Sya kamu terus nunduk jangan tolah toleh biar aku yang mantau mereka, takutnya wajah kamu ke rekam cctv dan mereka bisa nyari informasi itu dengan mudah."
Aku mengangguk, dan berpegangan erat di lengan Dito. Aku berusaha tenang tapi tidak dengan panikku, perutku kram, jantung berdebar kencang, keringat dingin mengguyur tubuhku. Kepalaku pusing, nafasku terengah-engah.
"Sya kamu kenapa?" Dito mulai cemas.
"Sya kamu yang tenang, pliss jangan memperburuk keadaan." lanjutnya.
Aku mengangguk namun kulihat tanganku sudah memucat.
"Dan... kamu dimana? nih Syaluna ada sama aku, kami sedang diikuti tadi pulang sekolah, aku bermaksud ngajak dia stay dikeramaian tapi stuck di parkiran MOG yang sepi dan dia panic attack." Dito nelpon Dani dengan terbata-bata.
"Aku kesana sekarang." dan panggilan mereka berakhir.
"Kamu gak bawa obat?"
Aku menggeleng sambil berusaha menenangkan diri, namun nihil. Karena obat aku berada dibawah kendali Dani, yang khawatir dengan efek dari anti-depresan nya.
Kami beringsut perlahan dan berusaha tidak menimbulkan suara saat gerombolan mereka mulai menyebar dan melihat kebanyak tempat.
Hampir 15 menit kemudian sebuah Agya merah masuk, aku ngintip dari balik celah mobil. Iya itu Dani, dia menyadari banyak orang mencurigakan berseragam yang sedang mencari-cari keberadaan kami. Dia begitu tenang lalu menghilang entah kemana.
Dari jarak beberapa meter dari kami, tiba-tiba Dani muncul dari balik sebuah mobil.
Dia berjalan merangkak menuju kearahku. berusaha sebaik mungkin tidak bersuara. Sampai di tempatku dia segera memelukku dengan erat, dia memberikan satu butir obatku dan segelas plastik air mineral.
"Thanks udah jagaian dia." kata Dani ke Dito.
"Kalian pulang aja duluan, aku gak bisa keluar, atau mereka bakalan nangkap aku dan introgasi kemana cewek yang bareng aku tadi. aku bakalan terus sembunyi sampai mereka pergi." kata Dito.
"Ok... baik-baik kamu ya, kalau ada apa-apa telpon aja ok." kata Dani.
"Siaapp." kata Dito
"Dahh kalian balik aja sana." usirnya. Dani memakaikan jaket yang mungkin tadi dia ambil dari kamar ku.
Kemudian kami mulai berjalan mengendap-endap menuju mobil Dani. Setelah menutup pintu dengan sangat pelan. Dani menyalakan mobilnya dan keluar dari parkiran dengan aku yang dia suruh merunduk serendah mungkin agar tidak terlihat oleh mereka.
Alhamdulillah kami berhasil keluar dari tempat parkir. Aku mulai tenang karena reaksi obat yang aku minum tadi.
"Dito gimana tadi, apakah dia bakalan baik-baik saja." ucapku kemudian
"Aku yakin dia bakal baik-baik saja, kamu tenang aja., Apa kita berhenti dulu, dan mantau dari sini memastikan kalau Dito bakalan keluar dengan selamat." kata Dani.
"Iya.. nggak papa." jawabku yang khawatir dengan keselamatan salah satu mantan anggota seksi ku waktu menjabat OSIS dulu.
Hampir dua jam kami menunggu, akhirnya mobil taadi keluar.
"Itu mobilnya, itu mobil yang ngikutin aku tadi, mereka pulang." ucapku sambil menunjuk sebuah mobil yang baru saja terlihat keluar dari area parkir di seberang.
"Mana Dito." ucapku.
Hampir 15 menit kemudian baru Dito keluar, dan dia baik-baik saja. Kami berdua sangat lega. Setelah itu kami melanjutkan perjalan pulang, sudah senja saat kami tiba-tiba dirumah. karena insiden di parkir tadi.