My Lost memory

1237 Kata
      Aku baru saja menyelesaikan makan malam saat Dani melewatiku dengan pakaian rapi dan harum Giorgio Armani yang sudah hafal di penciumanku.       "Mau kemana?" tanya ku.      "Mau jemput papa."      "Di Abdurahman Saleh?" tanyaku menyebutkan bandara terdekat di kota Malang.      "He em..." jawabnya.      "Mau ikut?" lanjutnya.      "Boleh.." jawabku.      "Iya udah deh, aku tadi takut mau ngajak kamu ditempat ramai, tapi mau ninggalin di rumah sendirian juga gak bisa." katanya.     "Jangan khawatir... kan ada kamu." aku tersenyum.     "Iya..."jawabnya.     "Aku ambil jaket dulu ya." pamitku.           Kuambil croop jeans berwarna terang dari dalam lemari lalu memakainya. Kulihat sekali lagi cocok sih dengan dress onepiece ku yang berwarna putih bersih.       "Ayo..." aku menggandeng lengannya.       "Kamu pakai masker ya." kata Dani tak lupa memberiku sebuah masker yang baru saja dia ambil dari balik jaketnya.      "Iya..." jawabku sambil memakainya.      Kami berangkat dengan kecepatan sedang karena jadwal landing masih lama dan perjalanan dari Ijen Nirwana ke Bandara Abd. Saleh hanya 35-40 menit saja.      Aku menyalakan radio agar tidak terlalu sepi, entah kenapa Dani tidak banyak bicara seperti biasanya, apa yang dia pikirkan apa yang mengusik pikirannya tidak pernah ia ceritakan kepadaku.      Dan mulai terdengar alunan lagu yang akhir-akhir ini diputar dimana saja, original sountrack dari film Habibie dan Ainun 3, yang dinyanyikan oleh Maudi Ayunda.       Kamu dan segala kenangan Menyatu dalam waktu yang berjalan Dan aku kini sendirian Menatap dirimu hanya bayangan Tak ada yang lebih pedih Daripada kehilangan dirimu Cintaku tak mungkin beralih Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)      Tiba-tiba Dani mengganti Channel radio saat aku asyik mengikuti lirik lagu yang sudah kuhafal diluar kepala itu.       "Kamu nggak sendirian, kan ada aku." ucapnya sambil tangannya meraih jemariku.      "Baper... aku kan cuma nyanyi." sahutku.      "Tapi kamu terlalu menghayati." potongnya.      "Habis dari tadi kamu diem aja, aku jadi bingung, sebenarnya ada apa sih? kamu nggak mau bilang ke aku." tanya ku pada akhirnya.      "Enggak kok, nggak papa. Aku cuma takut aja, mereka ngambil kamu dari aku, dan pikiran itu mengganggu banget."       "Ehmm itu.. aku juga nggak tau sampai kapan aku bisa lolos dari mereka, sampai kapan mereka berhasil nemuin aku, dan apa yang akan terjadi di depan sana aku pun tak tau, dan sama pikiran itu juga menggangguku." jawabku.       Dani terdiam, entah karena memikirkan omonganku tadi, atau terlalu fokus hand over saat mobil kami akan berbelok masuk gate bandara.      Setelah memarkir mobilnya, dia membuka pintu untukku, menutupnya kembali lalu melingkarkan tangannya di pinggangku. Dan mengajakku masuk ke area kedatangan domestik. Kami duduk di sana sampai entah berapa lama, kaya nya pesawat yang ditumpangi om Angga bakalan delay deh.       "Aku kebelet pipis, aku cari toilet bentar ya." ucapku ke Dani yang matanya sedang fokus tertuju ke papan yang menunjukkan jadwal penerbangan pesawat.      "Biar aku temenin." ucapnya tiba-tiba.      "Enggak papa kamu disini aja, aku bisa sendiri kok, lagian tuh disana ada arah panah toilet."      "Enggak ayo aku ikut."       "Ya ampun Dan... kamu bisa lihatin aku dari jauh sini kok, tuh kan lurus aja."      "Beneran kamu nggak mau ditemenin."       "Iya... lagian aku pakek masker kan." ucapku.      "Ya udah kamu hati-hati ya. Jangan lama-lama." ucap Dani.      "Siaappp..." jawabku, lalu berjalan meninggalkannya.        Aku sedikit lari-lari kecil karena sudah tidak tahan lagi. Hanya jarak beberapa meter saja dari toilet saat aku sudah berbelok lalu menengadah keatas membaca board bertuliskan arah panah menuju toilet.       Tiba-tiba langkah kakiku terhenti dan terpaku disana, angan ku serasa ditarik dan ada potongan ingatan yang tiba-tiba muncul dan memaksaku untuk mengingat kilasan-kilasan memori itu.       Seorang wanita berambut hitam legam bermata sipit, kulit putih sangat cantik dengan pakaian serba merah itu tiba-tiba melotot kearah ku mencengkeram bahuku dan berbisik dengan kejamnya.        "Ada baiknya kamu mati saja Sabra."      Aku terduduk lemah, kulihat keseliling toilet yang sepi, hanya ada aku seorang.      Aku segera masuk kesalah satu bilik toilet. Setelah selesai buang air kecil, aku berdiri didepan wastafel untuk mencuci tangan dan mencuci muka ku yang shock karena ingatan yang baru saja aku dapatkan tadi.      Aku mengingat dengan jelas wajah wanita itu, ada tahi lalat dibawah mata kiri, bibirnya tipis, memakai kalung dengan inisial huruf N.      Aku menepuk-nepuk kedua pipi ku berharap aku bisa melupakan wajah itu. Namun saat aku membuka mata wajah itu kembali dengan seringainya.      AKU AKAN MEMBUNUHMU SABRA!!!     Darahku terkesiap, aku mengigil. aku tau aku ketakutan, aku tak pernah merasakan takut seperti ini, bukan ini bukan panic attack aku bisa merasakan bedanya.       Aku memakai lagi maskerku. Dan kembali ke tempat Dani. Aku yakin pasti aku pernah kesini di masa kecil dan bertemu wanita itu, tapi siapa dia, kenapa bisa tau nama ku Sabra. Kenapa bukan Syaluna?      "Itu papa... ayo sayang." ajak Dani.      Aku mengekor kemana Dani pergi.       "Tadi delay tapi nggak lama, kalian lama nunggu?" tanya om Angga.     "Lumayan pa, tapi nggak kelamaan juga kok."     "Yaudah ayo... kesel banget rasanya nggak taunya nyampek sana ada data yang dimanipulasi sampai perusahaan, papa jadi yang kena imbasnya, kayanya beberapa waktu kedepan papa bakalan banyak lembur nyelesaiin masalah yang nyeret nama papa."     "Oh gitu pa..." kata Dani.     Aku menggandeng lengan Dani. Rasanya lemes banget kaki ku seperti tak mampu melangkah lagi. Ketakutan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Dani melihat kearahku. dia mulai curiga, aku tak pernah semanja ini padanya.     "Hmmm?"     Aku menggelengkan kepala. Dia melepaskan tanganku dan gantian merangkulku. Begitu sampai di tempat parkir aku buru-buru mencari keberadaan mobil kami dan segera mungkin meminta Dani membukakan pintu yang terkunci.      Aku duduk di jok belakang. Sementara Dani duduk di samping papa nya. Sesekali kutengok kebelakang, untuk memastikan bahwa aku memang benar tidak melihat wanita itu secara nyata.      "Ada apa Sya?" tanya om Angga.      "Enggak papa om." jawabku lirih.      "Kamu temenin adikmu di belakang." kata om Angga pada Dani.      Dani menuruti apa kata papa nya, dia membuka untuk pindah tempat di sampingku. Dia membuka masker yang aku pakai dan mendapati wajahku yang pucat pasi dengan keringat membasahi sekujur tubuhku.     "Sayang kamu kenapa, sakit??" bisik Dani, sembari menyeka keringat yang merata di dahiku.     "Aku takut." jawabku.     "Aku takut..." aku meremas tangannya kuat-kuat.     "Ada apa, apa yang buat kamu takuti hmm??" dia kebingungan dan celingukan mengedarkan pandang kesekitar tempat kami berada.     "Aku takut..." lanjutku tanpa bisa mengatakan hal lain selain itu.     "Pa..." panggil Dani.     Om Angga menoleh kearah kami dan melihatku. Beliau segera menstarter mobil dan memacunya dengan kencang.      "Tadi kamu ninggalin dia sendirian?"     "Tadi sempat pamit ke toilet pa, aku anter nggak mau."     "Memangnya ada apa pa? dia lihat apa? hantu?" Dani memberondong papa nya dengan banyak pertanyaan.      "Papa juga nggak tau, tapi dari ketakutan yang dia alami, pasti dia melihat sesuatu, tenangin dulu ya."      "Iya pa..."      Dia mengusap rambutku dan membiarkanku berada dalam pelukannya. Sebelah tangannya menggenggam erat jemariku yang menggigil.      "Lihat aku... jangan takut ada aku." dia mendongakkan daguku agar mata kami saling bertemu.      "Lihat nggak ada apa-apa hanya ada aku dan kamu."       Aku mungkin sudah gila saat mulai berhalusinasi dengan melihat wajah Dani yang berubah menjadi wanita itu.      Aku tersentak kaget dengan menutup wajahku dengan telapak tangan. Seringainya mengatakan aku harusnya mati saja itu masih menghantuiku. Dani mendekapku dengan hangat. Dan menepuk-nepuk punggungku.      "Tidurlah, jangan takut sayang, ada aku yang jagain kamu." ucapnya      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN