Begitu sampai dirumah, aku segera masuk ke kamar. Mama Dani datang menghampiriku. mungkin Dani sudah cerita perihal aku yang tiba-tiba ketakutan tanpa sebab, Beliau duduk di sebelahku, mengelus rambutku yang membuatku menoleh kearahnya. Tak bisa berkata-kata aku menghambur ke pelukannya.
"Apa ada sesuatu yang kamu ingat? cerita sama Tante, anggap Tante mama kamu, bukan Tante emang mama kamu kan, yang pertama kali bawa kamu pulang kan Tante, cerita sayang." ucap Tante Maya.
"Tante apakah waktu aku kecil aku pernah ke bandara Abdurahman Saleh?" tanyaku. Aku sih merasa nggak mungkin, ngapain aku kesini, bukannya lebih dekat ke Juanda kalaupun aku harus ke bandara.
"Seingat Tante kamu pernah ikut nganter Om Angga sama papa kamu ke bandara, waktu mereka mau berangkat ke Sorong. Saat mereka masih sama-sama kerja di agensi periklanan."
"Syaluna umur berapa waktu itu Tante?"
"Kamu masih kecil banget, mustahil buat kamu bisa mengingat di usia yang belum menyebrang, mungkin kamu masih umur 3 tahunan. Ada apa, kamu ingat apa?" tanya Tante Maya lagi.
"Nggak Tante, mungkin kaya semacam halusinasi atau semacamnya." ucapku. Aku tidak mau membuat mereka khawatir jika aku menceritakan hal yang sebenarnya.
"Kamu yakin?" tanya tanya Maya.
"Iya Tante..." jawabku.
"Ya udah kalau kamu ingin cerita apapun itu panggil Tante ya, jangan sungkan."
"Iya tante makasih" jawabku.
Aku mengunci pintu saat Tante Maya sudah keluar dari kamarku. Aku berjalan menuju meja belajarku, kunyalakan lampu dan mengambil sebuah kertas kosong dan pensil. Aku mulai mencoret-coret sketsa wajah yang aku gambar. Hasilnya 90% mirip dengan apa yang aku lihat tadi. Itulah kenapa aku tidak mungkin menjadi ketua koordinator seksi seni tanpa alasan.
Aku menyimpan baik-baik lembaran kertas itu. Kemudian mulai berselancar di google. Aku memasukkan keyword "Usia berapa bayi bisa mengingat."
Dan mataku tertuju pada sebuah ulasan Kenangan pertama anak terjadi pada usia 2 tahun. Kalau ini beneran memang pernah terjadi, siapa wanita itu, siapa wanita yang mengancam akan membunuh anak berusia 2-3 tahunan, Dan dia tau namaku Sabra.
Hanya mama kandung dan keluarga lah yang paham namaku Sabra El Satilah. Siapa dia.... Duh kepala ku pusing memikirkannya.
***
Keesokan paginya disekolah, Vika sama Dito langsung menyambut ku di pintu masuk. Sebelumnya sepanjang perjalanan kami ke kelas semua mata sudah tertuju pada kami berdua yang jalan beriringan.
"Ya ampunnnn ketua..... kalian berdua bikin ulah pa lagi siihh..."
"Ulah apaaa??" aku mencium sesuatu tidak beres disini.
"Kalian berdua ditunggu di ruang BK, jelasin mengenai video ciuman di dalam hotel." Jelas Vika.
"Ya ampunnn Vik, itu hanya potongan dari sebuah film pendek Abang aku, tugas kuliahnya." sahutku.
"Iya aku tau, tapi mungkin mereka nggak..." ucap Vika yang matanya mengekor ke geng Nadia yang tengah bisik-bisik sambil menatap jijik kepadaku.
"Okke aku bakal jelasin ke guru BK." tantangku.
"Lagian kenapa bisa sih tugas mereka Sampek nyebar ke sekolah kita, nyusahin aja deh." kata Dani.
"Udah mulai grepe-grepe gak sehat tuh pacarannya." kata Nadia saat aku dan Dani melewatinya. Aku reflek berbalik dan menanggapi omongannya.
"Bisa nggak sih, sehari aja gak jadi racun." sahutku geram.
Vika yang melihat aku ribut dengan Nadia segera berlari kearahku.
"Kenapaaa... mau marah? ingat kamu cuma flat shoes alias gak ada hak, dasar anak pungut." kata Nadia dengan wajah penuh kemenangan.
"Ehhh jaga ya mulut kamu kalo bicara." potong Vika.
"Kenapa?? maluuu? emang bener kan temen kamu ini cuma anak pungut yang sekarang jadi parasit di keluarganya Dani." Kata Nadia.
"Nad... jangan sampai kamu bikin aku marah ya, jangan kamu pikir kamu cewek aku gak bisa mukul kamu." kata Dani tegas.
Vika, Dani juga Dito segera mengajakku menyingkir dari tempat itu. Namun Dani balik lagi ke mereka bertiga dan mengajaknya bersama kami ke ruang BK.
Dani menjelaskan potongan video itu kepada guru BK bahwa kami hanya membantu kakak kami mengerjakan tugas pembuatan film pendek untuk tugas sinematografi.
"Dan di sana banyak mahasiswa mencapai sepuluh atau lebih, jadi nggak mungkin lah kami bertindak asusila, nih lagi video saat pengambilan gambar, ini banyak sekali kru dan lainnya." tunjuk Dani pada video di hp nya versi lengkap.
"Iya Bu, kami hanya dimintai tolong oleh kakak saya, dan salah kami dimana?" tambahku.
"Ya sudah ya sudah ibu ngerti, siapa pelaku penyebaran viedo itu kalau ketemu bakalan berhadapan sama saya, ini kalau Sampek nyebar keluar urusannya bakalan panjang nih, nama baik sekolah kita yang dipertaruhkan apalagi pakai bawa-bawa mantan ketua OSIS segala." kata Bu Wanda.
"Ini Bu pelakunya udah pasti nih." kata emosi sambil nunjuk Nadia.
"Diihh main tunjuk aja, mana buktinya kalau aku yang nyebarin video itu." elak Nadia.
"Halahhh sini in hp kamu." Dani merebut ponsel Nadia lalu membuka semua riwayat obrolan dan dia Nemu pertama kali video itu dia bagikan ke anggota seksi nya.
"Nihh... masih kurang bukti, perlu aku clear in dengan panggil anggota seksi kamu?" tanya Dani.
"Tapi Bu maksud saya gak gitu, saya ga ada maksud buat jelek-jelekin mereka."
"Nadia cukup ya pembelaan kamu, sekarang kamu tanggung jawab bersihin nama mereka, kamu tuh nggak tau apa-apa, jadi jangan main share aja dong, kalo gini jadi ribet kan urusannya. Ibu nggak mau tau, kamu harus bersihin video itu dan kalau ibu masih melihat video itu muncul dipermukaan kamu yang bakalan ibu kenain sanksi."
"Iya Bu..." kata Nadia.
"Pelajaran buat yang lain juga ya." kata Bu Wanda.
Setelah menyaksikan Nadia menandatangi surat teguran dari BK kami semua kembali ke kelas.
"Ya kali kalau mau ena-ena gak perlu ke hotel, dirumah aja aman ya nggak." bisik Dito ke Dani.
"Ashiiiappp..." balas Dani.
"Heehhh... kalian pikir aku nggak dengar kalian bahas apaan?" aku nyengir melihat mereka berdua.
"Udah-udah... Dit mending kamu pulang deh ke kelas kamu." usir Vika.
"Kemarin gimana Sya, kata Dito kalian diikuti sampai Mall Olympic Garden?"
"Iya Vik, dan jumlah mereka lebih banyak dari pada yang dulu jemput kamu."
"Aku curiga dibalik ini semua pasti ada sosok berpengaruh di sana, ya nggak sih, nyari anak hilang yang udah belasan tahun, kaya gitu hebohnya, dan lagi mama kamu yang milih buat mengakhiri hidupnya setelah nyembunyiin kamu." bisik Vika.
"Iya itu makannya Vik, aku juga mikirin itu." jawabku.
"Kamu tenang aja, udah jangan dipikirin, yang penting tuh, gimana kamu bisa selalu selamat dari mereka semua." kata Vika kemudian.
Begitu masuk kelas, kami dikejutkan oleh sosok asing yang tengah berdiri di depan white board seraya memperkenalkan dirinya.
Kami menuju tempat duduk masing-masing dan menyimak perkenalan yang baru saja dimulai itu.
"Aku Nala Ratih, panggil Nala saja, alasan pindah ku ditahun ketiga karena ikut orang tua ku yang pindah tugas kerja. Senang berkenalan dengan kalian." ucapnya.
"Status??" tanya Erik dari pojok belakang.
"Ehmm maksudnya?" tanya Nala.
"Pacar orang, jomblo abadi, jomblo bahagia?" lanjut Erik.
"Ohh itu... aku jomblo bahagia." jawabnya yang langsung disambut sorak ramai dari mereka semua.
"Ya sudah Nala, kamu boleh duduk, itu sebelah Dani kosong kok." tunjuk pak Anwar ke kursi sebelah Dani. Hmmm berarti dia sebangku sama anak baru itu dong.
Vika melihat kearahku diikuti oleh anak-anak yang lain. Aku hanya mengangkat bahu.
"Aku duduk sini ya." kata Nala.
"Iya silakan..." kata Dani.
"Nama kamu siapa?"
"Dani..." jawab Dani singkat. Aku bisa mendengar setiap percakapan mereka karena mereka tepat duduk di belakang kami.
"Aku pindahan dari Jogjakarta." Lanjut Nala.
"Ohh.. iya keliatan dari nama kamu kaya nama-nama jaman kerajaan dulu." kata Dani.
---
Saat istirahat hari ini jadi super ngeselin karena kehadiran Nala diantara aku dan Dani. Dia tuh keliatan caper banget ke Dani, padahal dia udah denger dari mereka semua kalau Dani pacar aku. Nggak tau kenapa apa emang sengaja.
"Suami kamu lagi di deketin pelakor." bisik Vika ketus. Dari nadanya dia juga sama keselnya denganku.
"By aku haus..." ucapku merajuk ke Dani, dia justru tersenyum seperti nya dia tau kalau aku lagi kesel sama dia, soalnya baru kali ini dalam hidup panggil dia pake Baby. Aku sendiri geli, tapi mau gimana lagi.
"Bentar lagi ada anak BDP yang jualan minum, aku beliin buat kamu ya."
"Aku maunya sekarang." ucapku lagi.
"Ya udah bentar ya." kata Dani.
Dia keluar kelas, lalu kembali lagi dengan beberapa gelas minuman.
"Tadi ketemu di depan kelas, nih kesukaan kamu kan." Ucap Dani menyerahkan segelas Milkshake Chocoberry kepadaku.
"Makasih..." ucapku.
"Iya sayang..."
Aku kembali menghadap kedepan dan ngobrol dengan Vika, Si Vika juga dapat jatah dari Dani segelas Capuccino kesukaan dia, Dani hafal betul selera kami berdua.
"Bucin banget ya." kata Nala pada Dani.
"Haahh?" sahut Dani.
"Iya mau aja disuruh-suruh sama pacar kamu."
"Memang nya kenapa? aku seneng kalau dia bergantung padaku." jawab Dani.
"Berarti kamu lemah, gampang dimanfaatin sama cewek." lanjut Nala.
"Sorry kita beda pandangan." kata Dani tersenyum.
Kulirik Vika sudah memilin-milin rambutnya sebagai ciri khasnya pas mau ngelabrak orang. Aku menyikut lengannya dan mengisyaratkan untuk berhenti.
"Kesel banget sumpah." katanya kemudian.
"Udahlah, kamu ngeladenin kaya gituan gak guna." kata ku.
"Emang cewek kamu manja banget ya?"
"Enggak... dia kelewat mandiri malah, makanya aku seneng kalau dia bergantung padaku, kenapa emang?"
Dani balik bertanya.
"Enggak papa." jawab Nala.
---