A Wavelenght

1701 Kata
     Aku melempar tas ku ke sembarang tempat diatas tempat tidurku, lalu kuhempaskan tubuhku sedetik kemudian. Ku pandangi langit-langit, pikiranku kembali ke meja Nala dan Dani. Sejenak kemudian beralih ke perkataan Nadia yang mengataiku anak pungut. Dari sana mulai meleleh lah airmataku. "Harusnya aku sadar diri." ucapku kemudian. Pandanganku menyusuri dinding, lalu berhenti pada jam dinding yang mati tepat jam 12. "Ummm... jam ku mati? sejak kapan ya, jam 12 semalam atau jam 12 siang tadi?" "Aku nggak mau itu jadi jam Cinderella, kayanya dulu aku masih simpen deh 1 batrai sisa nya yang di pakai itu." aku bangkit dari tidurku dan mulai mencarinya dalam nakas ku. "Naahhh kan ketemu."     Kemudian aku berdiri naik keatas rak buku ku dan mengambil jam dinding dengan hati-hati lalu mengganti batrainya dengan yang baru. Baru saja aku selesai memasang kembali jam dinding itu saat Dani masuk dari pintu bagian luar kamar kami. "Ya Allah sayang kamu ngapain?" tanya Dani, dia terkejut saat melihatku berada diatas rak buku. "Ini baru gantiin baterai jam dinding aku mati." jawabku. "Kenapa nggak minta tolong ke aku sih?" "Ganti baterai doang, aku bisa kok." "Enggak kalau kamu jatuh gimana?" "Enggak lahh..." "Ayo turun sini aku bantuin." Dia mengulurkan tangannya, kusambut dengan erat dan aku mulai turun perlahan. "Kamu jangan bikin aku khawatir dong." ucapnya begitu aku sudah turun. "Cuma ganti baterai aja kok, aku bisa." "Aku nggak suka kamu terlalu mandiri, ngapa-ngapain bisa sendiri." katanya. "Kamu aneh, kebanyakan orang tuh gak suka sama orang yang manja, rewel suka merengek-rengek. Kamu malah kebalikannya." ucapku sambil melempar bungkus baterai yang dari tadi masih aku pegang kedalam tempat sampah di bawah rak buku. "Aku ingin punya peran pas nanti udah jadi suami kamu, aku ingin kamu bergantung padaku, kamu bisa ngandelin aku, aku ingin kamu manja ke aku, kamu bisa memintaku melakukan apa saja, kalau kamu bisa ngapa-ngapain sendiri terus peran ku apa?" kata Dia, membuatku terdiam. "Dan aku seneng kamu merengek kaya tadi, sambil manja bilang by aku haus. Damage kerasa Sampek sekarang." lanjutnya. Aku hanya menahan tawa. "Kok kamu ketawa sih?" "Nggak... nggak papa, kamu beneran aneh deh, kebayakan cowok kesel kalo ceweknya merengek-rengek, nyuruh-nyuruh gak kenal waktu, kamu malah seneng." jelasku. Bukannya menjawab dia malah menarikku kedalam pelukannya. "Aku seneng karena dengan begitu, kamu memberiku peran dalam hubungan kita, kamu nganggep aku ada, dan kamu mulai membalas perasaanku ke kamu, selama ini aku merasa jatuh cinta sendirian, tapi dengan kamu kasih respon kaya tadi aku jadi tau, bahwa kamu membalas perasaanku." jawabnya.     Jujur aku terharu, selama ini aku memang terlalu cuek padanya, mungkin aku memiliki perasaan yang jauh lebih besar dari dia, tapi aku hanya menyimpannya untuk diriku sendiri, selebihnya aku biasa saja dalam menyikapi hubungan kami. "Kamu nggak pernah panggil aku sayang, kamu nggak pernah bales pas aku bilang I love you, kamu nggak pernah mau peluk aku, semuanya selalu aku. Aku jadi merasa mungkin kamu nggak bener-bener cinta sama aku, mungkin kamu masih nganggep aku nyebelin ngeselin kaya waktu dulu."     Aku melepaskan pelukannya, kulihat wajahnya yang merajuk membuatku gemas namun juga lucu, pingin ketawa jadinya. "Baper banget jadi cowok." ejekku. "Hmmmm... kamu kok gitu sih." kata dia. 'Bercanda sayangg..." ucapku sambil berbalik dan melangkah dari sana, aku ingin membuka jendela yang tadi pagi belum aku buka. "Coba ulangi sekali lagi kamu tadi bilang apa..." dia menarik lenganku. "Apa?" "Yang tadi barusan kamu bilang apa?" "Bercanda sayang...." ulangku. "Yaaaa..." dia memelukku dengan erat. "Akhirnya kamu panggil aku sayang..." katanya kemudian. "Seneng?" "Banget..." "Aku kesel kamu deket sama Nala." "Cemburu?" Aku mengangguk pelan. "Kamu cemburu Nala duduk sama aku tadi?" "Iyaaa..." jawabku ketus. "Ahahhaha... kamu bisa cemburu, makanya kamu panggil by tadi?" "Iyaaa....." "Besok Farel udah masuk, jadi dia gak duduk sama aku." kata Dani. "Tapi tetep aja kesel sama dia." "Iya maaf... udah dong jangan ngambek lagi." "Hmmm..." ucapku.          Dia mengecup bibirku dengan lembut, lalu tersenyum. Aku melongok kebelakang tubuh Dani takut kalau dari pintu tiba-tiba muncul seseorang disana. "Nggak kok nggak ada siapapun dirumah." kata Dani yang peka. "Hmmm..." jawabku.     Aku melangkahkan kaki ku kembali ke jendela, membukanya dan membiarkan udara segar masuk menggantikan pengap dalam kamarku. Dani menyusulku, tangannya melingkar di perutku, dan dia mulai menyisihkan rambutku, sedetik kemudian dia mulai mencium dan menyesap beberapa titik di leherku. tangannya juga mulai aktif membuka kancing seragamku, satu dua kemudian kemudian semua. Dia menurunkan seragamku hingga dia bisa leluasa mencium punggung telanjangku.     Tak lupa kedua tangannya menangkup pada kedua bukit kembarku, mulai meremas, dan menaikkan braku sebatas leher, aku masih dalam posisi yang sama menghadap keluar jendela. Dia membalikkan badanku dan menyambutku dengan ciuman ganas dibibirku. Aku mulai merasakan sedikit basah di bawah sana. Tak peduli pintu yang tidak terkunci Dani terus merangsangku, dia meremas, memelintir bahkan menggigit n****e ku. Ahhhh......     Aku tak bisa lagi menahan hasrat untuk mendesah, mendengarku mendesah, dia makin bersemangat untuk mengexplor tubuhku. Dia mengangkatku dan membawaku keatas ranjang, setelah memngunci pintu dia kembali padaku dan langsung menindihku.     Tangan kanannya menyusup ke balik rok sekolahku, lalu mulai mengusap dan menusuk perlahan titik kenikmatanku, tanpa sadar aku melengkungkan punggungku hingga membuat dadaku makin membusung, dani melahapnya mengenyot dan menyusu seperti bayi. Ahhhhh Dani...     Bibirku mulai meracau karena rangsangan dari Dani. sementara dia masih menikmati p****g ku, tangan yang berada di pangkal paha, mulai menyibakkan celana dalamku ke samping, lalu memasukkan jari telunjuknya sampai dia berhasil menemukan klitorisku. Aku menggeliat tertahan, aku tak bisa mengimbangi permainan Dani. Dia bahkan menambahkan dua jarinya lagi, total 3 jari yang berada dalam liang ku, dia sengaja memaju mundurkan jemarinya di dalam sana. Aku merapatkan paha, saat merasakan cairan keluar dari sana.     Dani tak mau kalah, dia membuka pahaku, melebarkannya, kemudian menjilati dan mempermainkan v****a ku. Ooooouuuhhh... keluhku panjang. Aku tak percaya aku akan mengalami o*****e untuk kedua kalinya. Melihatku lemas dan bermandikan peluh, Dani menyudahi aksinya, sambil berbisik. "Lain kali, gantian puasin aku sayang..."     Sementara itu aku hanya diam tak menanggapi kupakai semua pakaianku kemudian istirahat sambil nonton TV. "Kamu nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku kan?" Tanya Dani penuh selidik. Aku menggelengkan kepala, namun mataku tak berani menatap matanya. "Aku tau kamu nggak bisa bohong, jujur ada apa, aku tau ada yang kamu sembunyikan semenjak kita pulang dari bandara, mama bilang kamu tiba-tiba nanya apakah waktu kecil pernah ke Abd. Saleh iya kan?" "Aku...." kemudian terdiam begitu lama, tapi kulihat Dani masih setia menanti kelanjutan ceritaku. Dia mengusap rambutku. "Kamu...?" lanjutku. "Iya aku kenapa?" tanya dia yang sudah nggak sabar buat nunggu kelanjutan ceritaku. "Kamu pernah nggak sih, tiba-tiba di kasih ingatan tiba-tiba tentang sesuatu yang sama sekali nggak pernah kita ingat sebelumnya." Dia menyimak lalu menggelengkan kepala setelah mengingat beberapa saat. "Kamu ingat kita pernah nganter orang tua kita ke bandara waktu kecil?" "Ingat..." "Benarkah?" "Iya ...." "Kamu ingat bagian mana saja?" aku balik bertanya. "Aku ingat kamu terus sembunyi di balik gendongan mama kamu, setelah kembali dari toilet, kamu nggak mau aku ajak main, kamu terus meracau sepanjang kamu tidur, setelah dari sana." "Masa sih? kok aku nggak ingat sama sekali ya?" "Kadang begitu ingin melupakannya kenangan buruk, maka memori kita menghapus nya dalam ingatan, tapi ada juga karena ingin terus mengingat kenangan buruk, laku memori menyimpannya sampai dewasa. Aku memilih mengingat malam itu, karena aku ingin, bertanya suatu saat sama kamu, apa yang sebenarnya terjadi di toilet waktu itu. sampai saat ini aku masih mengingat dengan jelas gimana kamu takutnya waktu itu." "Berarti aku ingin melupakan kejadian malam itu." "Sebenarnya ada apa sayang?" "Aku tiba-tiba mengingat sosok wanita cantik, berpakaian serba merah, matanya sipit, kulitnya putih dia sangat cantik ada tahilalat di bawah mata kiri, memakai kalung berinisial huruf N, dia berkata padaku, ada baiknya kamu mati Sabra, lalu berteriak aku aka membunuhmu Sabra." ucapku mengenang ingatan itu. "Apa?? Sabra?? bukannya itu nama asli kamu yang dikasih sama mama kandung kamu?" Aku mengangguk. "Aku nggak tau siapa wanita itu, kenapa dia tau aku Sabra, kenapa dia ingin membunuhku." jawabku. "Kamu ingat kita pernah bertemu wanita macam itu dibandara?" tanyaku. "Enggak sayang, aku yang nganter kamu ketoilet waktu itu, setelah dari toilet kamu tiba-tiba minta gendong terus sama mama kamu dan terlihat ketakutan, aku pikir kamu melihat hantu di toilet kamu tidak bilang apa-apa ke aku, tapi tunggu... ada seorang wanita yang keluar dari toilet bersama anak perempuannya, seumuran kita, dan anak itu tersenyum menyapa ku. Apaaa nggak nggak... nggak mungkin." "Apaaa Dan... kamu ingat apa?" "Anak perempuan itu mirip Nala, anak baru tadi, beneran nggak sih, iya gak sih. Aku nggak mempercayai ingatanku." kata dia menepuk-nepuk jidatnya. "Bentar..." aku berlari kedalam mengambil sketsa wajah yang aku gambar. "Ini wajah yang aku gambar udah mirip sekitar 90% sama wajah yang aku lihat waktu kecil, ada kesamaan nggak sih menurut kamu sama Nala. Aku curiga kalau kita bener berarti anak kecil itu Nala dan ini mamahnya." kataku. "Coba kamu ilangin tahi lalatnya, rambutnya kamu gerai panjangin coba." ucap Dani. Aku segera mencobanya. dan Voilaaa.. "Mirip banget sama Nala, fix wanita yang bilang mau bunuh kamu itu pasti mama Nala, tapi siapa dia? apa hubungannya denganku, lalu kenapa dia tiba-tiba pindah kemari." ucapku. "Kita selidiki ini, aku minta bantuan sama Vika dan Dito." "Aku bisa merasakan kamu dalam bahaya." Dani memelukku lagi. Setelah itu aku menelpon Vika dan Dito. Agak maleman mereka datang usai pulang dari kencan. Aku mengajak mereka ke kamar ku. Dan menceritakan semuanya ke mereka. Vika dan Dito terbengong-bengong mendengar ceritaku. "Fix kamu harus dijauhkan dari Nala." kata Vika. "Ehh gini Dan..." kata Dito. "Menurut kamu mungkin gak sih, kalau misalkan temen baru kalian si Nala itu, kalau dia emang salah satu anggota VIP pasti dia kesekolah ada yang mantau kan, kita jangan sampai lengah, soalnya aku yakin banget si Nala itu juga dia jadiin agen buat nyari tau keberadaan Sabra alias Syaluna," "Iya kamu bener." kata Dani. "Apa nggak sebaiknya kamu dirumah aja untuk sementara waktu Sya." kata Vika. "Jangan... jangan biarkan dia tanpa pengawasan, usahakan dia selalu ditengah keramaian." bantah Dani. "Tapi aku takutnya..." "Udah jangan takut, percaya sama aku..." ucapku. Vika memelukku. Dia mengusap rambutku. "Harusnya kamu nggak pernah kasih aku foto itu, dan harusnya aku nggak pernah posting foto itu." keluhnya. "Nggak papa Vik, udahlah... semua udah terjadi, lagian cepat atau lambat dengan atau tanpa kamu posting foto itu, mereka udah pasti bakalan nyari aku." terangku. "Maafin aku ya." ucap Vika. "Udahlah... jangan dipikirin." sahutku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN