Aku dan Dani berangkat kesekolah lebih awal, kami sudah menyusun rencana semalaman untuk hari ini. mobil kami parkir di tempat parkir Mall Olympic Garden, dan sengaja jalan kaki dari MOG ke Sekolah, jaraknya tidak lebih dari 10 menit jalan kaki.
Dani ngajak aku sembunyi dan masuk kedalam salah gate Stadion Gajayana yang letaknya persis di depan SMK Bina Cendika, sekolah kami.
Kami masuk kedalam dan langsung naik keatas tribun penonton. Percuma dari sini kami tidak bisa melihat apa-apa.
"Kita balik ke MOG dan pantau dari lantai 3."
"Kita bisa telat Dan." tolakku.
"Sekalian aja kita cabut buat hari ini." kata Dani.
"Ayo buruan." lanjutnya, aku melirik jam tanganku, sudah 10 menit lewat dari jam 6.
"Ya udah deh." kata ku.
Kami bergegas berlari-lari kecil ke MOG lagi. Lalu mencari spot pandang dari lantai 3.
"Benar sekali dari sini kita bisa lihat semuanya, jalanan depan sekolah kita semua terpantau." aku terpukau melihat keindahan ini, sampai ada sebuah mobil yang menarik perhatian kami.
"Itu-itu... itu si Nala kan." tunjuk Dani.
"Iya dannn... ada beberapa mobil serupa yang berhenti dan menyamarkan diri diantara gedung stadion dan lainnya berhenti di tepian jalanan." kata Dani sedetik kemudian.
"Pengawalan yang super untuk VIP." ucapku.
"Nggak salah lagi, dia si VIP. Dan aku yakin misinya adalah nyari kamu Sayang, buat apa coba sekelas mereka sekolah di Bina Cendika, ya kali kita nyari yang Deket dari rumah, kalau dia... jauh-jauh dari Jogja pindah ke Malang cuma ke sekolah kita, kan banyak tuh sekolah prestisius di kota Malang."
Dani memotret panorama mode untuk menghafal letak pengawalan Nala. Kemudian menunjukkannya kepadaku.
"Ini... jadi sepanjang jam pelajaran 3 mobil di 3 titik ini akan stay disini. Gila... sekolah aja pakek dikawal." katanya sambil menatapku.
"Aku benar-benar nggak tau bakalan ngadepin musuh yang kaya gimana?" ucapnya.
"Kaya nya aku harus belajar bela diri deh, soalnya kalau kita terus lari-larian kaya gini suatu saat mereka pasti bakal bisa ngambil kamu."
Aku hanya berdiam diri tak menanggapi perkataanya, aku tau, aku telah membawa mereka semua kedalam bahaya yang tidak pernah bisa aku bayangkan.
Vika, Dito juga Dani, mereka bertiga bisa-bisa tersakiti karena aku. Apa sebaiknya aku pergi menjauh dari mereka.
"Fix... sayang mulai ntar sore aku tinggal ya, mau join club beladiri." ucapnya.
"Harus banget ya? gimana kalau aku nyerahin diri aja, aku takut kalian yang bersamaku bakalan terluka." pintaku.
"Ehhhh ngomong apaan sih, enggak lah jangan sampai kamu ikut mereka, kamu nggak tau bakalan kaya gimana kan, karena itu aku pingin jadi lebih kuat dan bisa jagain kamu." katanya.
"Tapi..."
"Udahhh nggak pake tapi-tapi." tukasnya.
"Sekarang saatnya having fun, yukkk main ke Timezone, sekali-kali mumpung kita escape." kata Dani
"Tapi kita pakai seragam gini." ucapku.
"Aku beliin pakaian ganti dulu kamu tunggu sini ya." ucapnya sambil berlalu.
"Dia dapat uang dari mana?" pikirku.
Beberapa saat kemudian dia kembali dengan 3 paperbag di tangannya. Kami mencari toilet terdekat untuk ganti baju.
Sepotong middress berwarna cokelat muda dan flatshoes yang senada. Cantik banget dia tau seleraku.
Aku keluar dan gantian nungguin dia di depan toilet pria. Tak lama kemudian dia keluar dengan kaos putih polos dan celana pendek hitam. Kenapa aku di dandani secantik ini dan dia gitu doang ya Allah pacar akuuu.
"Btw kamu beli ini ada uang dari mana?"
"Tenang aja aku gak nyuri kok, ini hasil tabungan aku. jadi jangan dipikirin. Ingat belajar menafkahi." katanya kemudian.
"Makasiih..." ucapku.
"Sama-sama sayang..." jawabnya.
Kami berjalan mencari lokasi Timezone. Begitu sampai dia nuntun aku ke capit boneka.
"Mau main ini?" tanya dia.
"Sepanjang hidup aku main ini gak pernah berhasil, kalau kamu ngajak main ini fix kita buang-buang duit." ucapku sambil menarik lengannya untuk mencari permainan lain.
"Bentar.. kalau aku berhasil ambil satu boneka buat kamu, aku mau di panggil sayang, aku mau dipanggil baby, aku mau kamu manja ke aku." kata Dani sambil menahan tanganku.
Daripada memikirkan omongannya aku lebih penasaran dengan triknya.
"Okkee.." jawabku kemudian.
Aku melihat Dani mulai memasukkan koin, dia terlihat berdoa dan wajahnya yang serius mulai menampakkan sudut matanya yang beredar mencari sasaran.
Ada 5 koin ditangannya. Hasil percobaan dari satu sampai 4 gagal dan aku mulai cemas di percobaan terakhir. Setelah koin kelima dimasukkan dia mulai menggerakkan crane dan mencari sasaran.
Dia berhenti pada sebuah boneka Cony yang sangat imut. Aku sangat menginginkan nya, semoga dia berhasil kali ini.
Jantungku serasa berhenti berdetak, saat dia menekan push lalu capit mulai turun kebawah dan berhasil dia berhasil mendapatkan boneka itu.
Dia yang berhasil entah kenapa aku yang melompat kegirangan. Aku mengambil boneka yang baru saja menggelinding dari lubang, kemudian memeluknya.
"Kamu berhasil..."
"Panggil sayang..." bisiknya.
"Makasih sayanggg..." ucapku
"Sama-sama."
"Tadi udah limit banget dan aku deg-degan got." jelasku.
"Aku udah biasa berhasil kok saking tadi yang sampai 4 kali sengaja buat nyingkirin boneka yang nyangkut, tipsnya cuma ambil boneka yang sendirian alias gak ada yang nyangkut padanya pasti berhasil." jelasnya.
"Udah sering? buat mantan kamu?" tanyaku.
"Iya... dulu..." jawabnya.
"Waaa cemburu ya?" tanya dia kemudian.
"Enggak kok, nanya doang." jawabku.
"Pingin rasanya di cemburuin." kata dia.
"Kamu aneh..." ucapku.
Akhirnya seharian ini aku hanya menghabiskan waktu sama dia di Timezone. Aku mengambil hp ku, dan memeriksa notifikasi teratas untuk chat Wa.
"Ketua kuuuuu... kalian honey moon kemana dehh?" tanya Vika.
"Ada-ada aja nih anak." ucapku sambil menunjukkan chat Vika ke Dani.
"Honey moon?" ulang Dani.
"Huuh otaknya emang gesrek, tau nggak dia kan selalu nyebut kamu dengan sebutan suami. maksudnya suami ku." jelasku.
"Oh ya?" tanya Dani.
"Iya.. kamu nggak masuk kemarin nanya nya gini, suami kemana? aku mau tidur ditanya, suami kamu udah tidur? ya gitu deh dasar Vika." jelasku.
"Suami ya?" gumam Dani.
"Iya pasti lah nanti bakalan beneran jadi suami kamu." katanya kemudian.
"Mau nggak jadi istri beneran?"
"Apaan sih Dan..." sahutku malu-malu. Yang langsung disambut dengan cubitan manja dari Dani. Puas bermain sampai hampir tengah hari aku ngajak dia pulang.
"Aku capek... pulang yuk!" ajakku.
"Ya udah ayo pulang."
Pandangan mataku yang dari tadi asik traveling tiba-tiba terpaku pada sosok wanita yang di kedua tangannya penuh paperbag namun masih masuk ke Centerpoint.
"Sayang kamu liatin apa sih?" tanya Dani yang heran melihatku tiba-tiba berhenti.
"Itu..."
"Kamu pingin shopping juga? jangan sekarang sayang, nanti kalau aku udah kerja aku bakalan beliin kamu apapun yang kamu mau."
"Bukan.."
"Terus?"
"Itu wanita yang aku lihat waktu kecil Dan? kamu nggak ingat sketsaku?"
Dani langsung mefokuskan pandangannya pada wanita yang aku maksud.
"Kita keluar dari sini." ajaknya.
"Jangan lihat kemana-mana, nih tangan aku, fokus lihatin tangan aku yang pegangin tangan kamu dan jangan lihat lainnya ok?"
"Iya okke..."
"Kamu nggak boleh panic attack sekarang, kamu fokus ke tanganku saja sampai kita keluar dari sini." kata Dani.
Dan Dani mulai menggandeng tanganku membimbing ku keluar dari tempat itu, saat melewati titik dimana wanita itu berdiri, entah kenapa aku reflek memandang ke wajahnya, dia balik menatapku.
Benar saja kilasan memori itu kembali lagi aku meremas lengan Dani, dan berjalan menjajarinya. menyeramkan sekali. setelah belasan tahun aku melihat wajah itu lagi