Thank you Vika

2457 Kata
     Aku tengah jalan menuju kelasku saat tiba-tiba geng Nadia menghentikan langkahku. "Heh Sya... kamu masih tinggal sama Dani?" tanya Nadia. Aku paham kenapa dia geram sama aku, karena cintanya ke Dani selalu bertepuk sebelah tangan. "Nggak tau malu banget sih kamu, tau diri dong, kamu tuh disana posisinya nyusahin keluarga Dani, inisitif keluar kek gimana? keenakan kamu tinggal sama mereka." tambah Rania. "Aku paham kok maksud kamu Nad, iya aku emang ada rencana buat pergi dari sana, tapi nggak sekarang." jawabku. "Apaan sihhh pagi-pagi juga, mau ribut kamu, cari lawan yang sebanding sama kamu." tiba-tiba Vika datang dan langsung mematahkan penjelasan ku. "Kamu tau, Dani sayang sama dia, dia aja mau Syaluna tinggal sama dia kenapa kamu yang repot?" bela Vika untukku. "Belain aja terus.... sama-sama nggak tau malu, kalau anak buangan ya udah kodratnya Terbuang gak usah sok-sokan gaya lu Hedon." cerocos Nadia. "Apaa sihhh.... nggak ngerti sama mulut kamu yang kotor bau sampah." bantah Vika "Udah Vik.. udah.. lagian juga yang dia omongin ada benarnya, mungkin aku emang harus pergi dari sisi Dani." ucapku. "Siapa yang ngizinin kamu pergi?" kata Dani tiba-tiba. "Nad... sorry sebelumnya aku nggak bilang ke kamu, alasan sebenarnya aku nggak suka sama kamu.. ya ini, sifat kamu yang kaya gini." kata Dani. "Dannn... aku nggak suka dia terus nempel sama kamu, aku nggak suka parasit kaya dia bisa selalu deket sama kamu." kata Nadia. "Cukup ya Nad... kamu sadar yang kamu bilang parasit yang kamu hina ini adalah wanitaku. Kamu sadar kamu sendiri siapa? kamu nggak lebih dari cewek gampangan yang dipiara om om buat muasin nafsu mereka." kata Dani yang langsung disambut dengan berbagai dengungan di seantero sekolah. Dani ngajak aku dan Vika pergi dari tempat itu. Airmata ku tak bisa lagi bekerjasama, mereka berdesakan keluar gitu aja. Aku mengusapnya cepat-cepat takut Dani melihatnya. "Daniiiiiii... tungga ya, aku hancurkan kalian sampai keakarnya, jangan sok kalian berdua ya." teriak Nadia bak kesetanan. "Dah jangan repot-repot, cek hp lu bunyi barangkali ada calling dari om om." Vika tertawa jahat, sambil merangkulku.        Kami sampai di kelas dan langsung duduk di tempatku. Nala datang mendekat. Tanpa basa basi langsung menarik tanganku. Dani segera menahanku untuk mengikutinya, dan melepaskan tangan Nala dariku. Vika pasang badan dengan mendekapku.   "Dan... mama kamu Maya bukan namanya? pernah punya adik kelas namanya Rania?" tanya Nala. "Bukan urusan kamu." kata Dani. "Anak yang terbuang ini ditemukan di depan butik mama kamu?" katanya kemudian. "Nggak ada anak terbuang di sini, siapa kamu sebenarnya?" bentak Vika. "Foto selimut dan bantal bayi yang pernah kamu upload milik dia kan?" Nala balik bertanya. "Aku nggak tau kamu ngomong apaan?" ucap Vika terdengar getar disuaranya. "Sini... Sabra... aku tau itu kamu, sini, udah saatnya pulang, ayo ikut aku." kata Nala. "Kamu salah orang," bentak Dani, dia menghalau tangan Nala dari ku. "Ok... sorry kalau aku salah, but okay let's follow the rule.' ucapnya sambil berlalu kemudian terlihat menelpon setelahnya. ---       Bel pulang sekolah sudah berbunyi lebih dari satu jam yang lalu, tapi kami berempat masih ragu buat keluar kelas. Bahkan Dito berkali-kali keluar kelas buat memastikan bahwa tidak ada orang asing masuk ke sekolah. "Kalian berdua pulang bareng kami aja, motor kamu aman Dit, di sini!" ucap Dani. "Gak perlu pikirin motor Dan, pikirin cewek kamu aja, Aku yakin banget di luar sana pasti bakalan banyak banget yang nyegat kita tuh." kata Dito. "Makanya aku pingin kita pulang bareng aja." kata Dani. "Gimana Sayang? kita pulang sekarang?" tanya Dani ke aku. Aku menoleh kearah Vika. Dia mengangguk aku turut mengangguk. "Vik... maaf, aku jadi bawa-bawa kamu dalam bahaya." ucapku kami berempat mulai. menuruni tangga menuju tempat parkir. "Enggak Sya, yang ada justru aku yang telah ngirim kamu dalam bahaya. Kalau ada apa-apa sama kamu, aku gak bakal tinggal diam atau aku bakalan nyesel seumur hidup." kata Vika. "Ingat aku gak bakal tinggal diam. Kamu sahabat aku Sya, dan karena kecerobohan ku udah bikin hidup kamu yang tenang jadi kaya gini." tandasnya. "Makasih Vik..." Ucap ku.       Begitu kami sampai di tempat parkir langsung muncul 6 orang berpakaian serupa pengawal Nala kemarin dan menuju kearah kami. Dani juga Dito berusaha menahan mereka di depan. "Vik... bawa Syaluna pergi, tolong." kata Dani.              Aku dan Vika langsung berbalik arah namun dibelakang juga ada Nala dengan dua pengikutnya. kami sudah dikepung.               Nala merangsek maju, sementara dua pengawalnya memegangi Vika. Nala menjambak rambutku lalu memotongnya beberapa helai tak lupa memaksa membuka mulutku dan mengoleskan sebuah pipet lembut ke bagian dalam pipiku.        Aku melirik ke tempat Dani dan Dito mereka berdua sedang bertahan habis-habisan dari kepungan pengawal Dani. Aku menangis melihat itu. Nala memasukkan rambut juga sample air liurku kedalam sebuah kantong plastik lalu memberikan kode kepada mereka semua bahwa misi usai.         Dua pengawal melepaskan Vika, dan yang lainnya juga melepaskan Dani dan Dito. Aku lega karena rombongan mereka hanya mengambil sampel yang kemungkinan mereka gunakan untuk tes DNA. Vika berlari ke arah Nala dan berusaha merebut sample yang dibawa Nala, dengan sigap Nala menjauhkan tangannya dan menusukkan gunting yang tadi dia pakai buat memotong rambutku pada Vika yang langsung membuatnya jatuh terjerembab kebelakang. "Vikaaaaa...." teriak kami dan langsung menghambur kearah Vika. "Maafin aku Sya, aku gak bisa ambil sample itu buat kamu." Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. "Vikaaaaaaa... jangan bodoh, biarin aja mereka lakuin sesuka hati, aku nggak mau kamu terluka." ucapku. "Dit.... ayo kita bawa ke rumah sakit." kata Dani.        Mereka berdua mengangkat tubuh Vika yang mulai lemah dengan gunting masih menancap di perut Vika di iringi rembesan darah membasahi seragamnya yang putih kedalam mobil Dani. Aku memangku kepala Vika. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa aku ingin dia selamat. Setelah itu terserah Tuhan mau menghukum aku seperti apa. Dito duduk di depan, dan sesekali melihat kearah pacarnya yang tak berdaya. "Dan buruan..." ucapnya. "Iya Dit...." Mobil kami berbelok di pelataran parkir UGD RS Saiful Anwar. Dan paramedis langsung menyambut kami dnegan brankar, keadaan Vika yang seperti itu langsung memicu kerumunan orang untuk mencari informasi. "Kami baru saja dirampok, dan salah satu teman kami jadi korban." jawab Dito dikeadaan seperti ini mereka masih saja melindungi ku. Paramedis membawa Vika kedalam Unit Gawat Darurat. Aku masih melongok mencari celah kaca dof yang menutupi menjadi penghalang diantara kami. "Telpon orang tuanya Dit.." ucap Dani. "Kita bilang apa?"tanyaku takut-takut sambil berbalik menatap mereka. "Udah kamu jangan takut, biar aku ngatasi hal ini." Dito menjauh dari kami untuk menelpon keluarga Vika. Beberapa saat kemudian dia kembali lagi "Apa kita sebaiknya laporin Nala ke polisi?" usulku. "Yang kita hadapi adalah orang-orang yang menjadikan hukum berpihak kepada mereka, bahkan bisa dikatakan mereka lebih kuat daripada hukum." sahut Dani. "Bisa jadi semakin menjadi mereka Sya." kata Dito. "Kalau aku bisa melakukan sesuatu buat kalian apapun akan aku lakukan asal mereka gak nyakiti kalian lagi." ucapku terbata-bata menahan tangis. Dani menarikku kedalam pelukannya. "Jangan pernah berani kabur dan ninggalin aku. Kamu tau dengan apa yang di lakuin Vika buat kamu tadi? itu adalah bentuk sayangnya dia ke kamu." Kata Dani. Beberapa saat kemudian mama dan kakak Vika datang. "Sebenarnya apa yang terjadi Dito?" tanya Mama Vika. "Maaf Tante.. Dito lengah jagain Vika tadi, kami berempat lagi jalan mau pulang, tiba-tiba serombongan perampok datang karena kepergok warga salah satunya membabi buta melukai salah satu dari kami." karang Dito. "Terus sekarang gimana?" tanya mama Vika. "Kami belum boleh masuk Tante." jawab Dani.       Setelah hampir satu jam kami tenggelam dalam pikiran masing-masing dan hanyut dalam manisfestasi berbagai perasaan seperti yang kurasakan, seorang dokter muda keluar dan memanggil keluarga pasien, mama Vika bergegas menyabet tas yang ada di sandaran kursi dan masuk kedalam.       Kami masuk kedalam, kulihat Vika sudah siuman, aku menangis memeluknya, hatiku perih, mungkin dia yang tertusuk namun hatiku tersayat-sayat. Memang dari awal aku tidak perlu mengenal mereka semua, mereka terlalu baik padaku. "Heeeeee ketua pliss deh jangan drama aku belum mati." oceh Vika sambil menepuk-nepuk bahuku. "Vika... kamu nggak papa sayang?" tanya mama nya. "Enggak papa ma, kayanya mama harus dengerin penjelasan dokter deh, luka tusuk ini gak seberapa dalam dan setelah dijahit juga mendapat perawatan akan segera sembuh kok." kata Vika menenangkan mama nya. "Mama khawatir sama kamu, Dito bilang kamu tadi masuk UGD. Mama langsung ajak Abang kamu kemari." kata mama. "Iya ma... udah deh jangan pada nangis-nangis, Vika nggak papa, lagian cuma luka tusuk biasa kata dokter gak ada yang serius kok. Udah jangan pada nangis atau aku pulang nih." kata Vika. "Tanteee... kenapa punya anak bodoh kaya dia sih Tante..." ucapku sambil nangis Bombay, pindah meluk mamanya Vika. "Enggak tau dulu Tante ngidam apaan kenapa pas lahir jadi anak bebel kaya dia, di khawatirin malah sempet aja ngajak bercanda." "Udah kalian pulang aja, mama juga istirahat aku udah nggak papa nih aku bisa bangun sendiri, mama pulang ya, Vika nggak mau mama disini yang ada mama malah panik tiap detik ujung-ujungnya jadi Vika yang repot." kata Vika pada mamanya. "Kak Fajri ajak mama pulang ya, aku mau pacaran sama Dito." ucap Vika ke abangnya, yang langsung disambut cubitan di pipinya. "Kamu tuh... tau gini mending gak usah kesini"kata abangnya. "Hehehehe Vika gak papa kok kak, ajak mama pulang ya, suruh pakai masker dan pura-pura aja nggak habis dari rumah sakit jenguk Vika." katanya kemudian. Aku mulai menangkap adanya pertimbangan Vika mau sendirian tanpa keluarganya. Dia pasti nggak mau ada lebih banyak orang lagi yang terlibat. "Diihhh maksa..." kata abangnya. "Udahhh nurut napa sama adiknya barang sekali. kamu Abang aku bukan sih, apa mau aku donasiin?" kata Vika kemudian. "Iyaaa iyaaa cerewet." kata kakaknya. "Ya udah mama pulang ya, tadi pas lagi banyak-banyak nya customer mama tinggal." ucap mama Vika yang sudah lama menekuni bisnis hijab, hampir disetiap wilayah kota malang berdiri cabang dari kounter hijabnya. "Iya ma take care..." ucapnya. Abang sama mama Vika sudah pulang. Dan Vika sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. "Sya kamu juga harus pulang." ucap Vika padaku. "Enggakkk aku mau jagain kamu disini." "Sya... bukan aku yang bersinggungan dengan maut, bukan aku yang terancam bahaya tapi kamu." lanjut Vika. "Tapi Vik... kamu kaya gini gara-gara mencoba buat nyelametin aku." "Nah itu kamu ingat, aku kaya gini gara-gara apa, kalau kamu disini aku nggak bisa tenang, gimana kalau mereka ngambil kamu didepan mata ku dan aku nggak bisa ngelakuin apa-apa?" tanya Vika. . "Hmmmm..." gumam ku sambil menghembuskan nafas berat. "Dannn... ajak istri kamu pulang, aku mau pacaran." lanjutnya. "Ya udah sayang ayo pulang, ada Dito yang jagain Vika." kata Dani membujukku pula. "Kalau perlu apa-apa kamu telpon ya!" perintah Dani ke Dito. "Siiiappp ketua." jawab Dito. "Dahhhhhh hati-hati ya..." Vika melambaikan tangannya. ---       Keesokan harinya pulang sekolah aku membeli sekeranjang parcel buah buat jenguk Vika dirumah sakit. Begitu tiba di area parkir aku meminta Dani buat menghentikan mobilnya. "Dan... udah aku turun sini ajah, kamu cari parkir sendiri ya." ucapku sambil membuka pintu. "Eehh ehh bentar bahaya tau." cegah Dani. Aku berhenti sesaat sampai mobil beneran stop. "Aku duluan ya." pamitku sambil membawa parcel dan meraih hp ku diatas dashboard. "Yahhh ditinggalin." ucap Dani yang masih kudengar diantara bunyi tap tap sepatuku menyusuri lantai area parkir. Aku berlari-lari kecil menuju ruang rawat Vika. kangen banget seharian gak ketemu dia di sekolah. Aku membuka pintu dan masuk ke ruangan Vika, sudah ada Dito di sana. "Loh kamu sendirian, suami mana?" tanya dia begitu aku masuk dan meletakkan parcel diatas meja. "Ada... masih parkir dia, aku tinggalin kangen banget sama kamu, sekarang gimana keadaan kamu?" tanyaku. "Udah mendingan kok paling juga besok atau lusa udah boleh pulang." jawab Vika. Aku duduk di sebelahnya sementara Dito membuka parcel yang aku bawa tadi dan mengambil anggur red globe dari dalamnya. Dia siapin Vika juga makan untuk dirinya sendiri. "Kata Dito dia gak lihat Nala disekolah." kata Vika kemudian. "Iya dia udah lenyap hari ini gak masuk tanpa keterangan." jawabku. "Dahhh biarin dia lewat. Mereka ambil sample kamu pasti buat nyocokin DNA kamu sama si empunya bisa jadi papa kamu." ucap Vika. "Nggak ngerti aku Vik, udah jangan dibahas, ingat kejadian itu jadi ngerasa bersalah sama kamu." ucapku. "Halahh santai aja, aku yang kentang gak bisa ambil sample itu balik, Sya... kalau misal hasilnya udah keluar dan ternyata...." "Udah jangan dibahas..." kata Dito. "Kamu apaan sih, aku cuma gak mau mereka ambil Syaluna dari kita, ya kalau disana dia dijaga baik-baik hidupnya jadi lebih baik, tapi kalau sebaliknya, dan aku punya firasat gak pernah salah tau, firasatku buruk mengenai mereka, ditambah mama nya Syaluna pingin nyembunyiin anaknya dari mereka lalu bunuh diri, coba pikir kekejian seperti apa yang ada disana." kata Vika yang sukses membuatku merinding. "Nggak lah hal kaya gitu jangan sampai terjadi." kata Dani yang tiba-tiba nongol di belakangku. "Ehh suami kamu dah Dateng suruh duduk, ehh iya gak ada tempat duduk karena aku bukan di VIP ehehehehe, duduk dimana aja silakan ketua." ucap Vika. "Nggak kesasar kamu tadi kesini?" tanyanya kemudian. "Nggak lah ingatanku kuat, ya kali dia pelupa." ucapnya sambil mengacak rambutku. "Hmmmmm percaya deh, yang sempurna gak ada titik lemah." ucapku kesal. "Siapa? aku? punya kali aku juga manusia biasa yg pasti ada kelemahan." sahut Dani. Aku sama Vika saling bertukar pandang mencoba mengingat titik kelemahan Dani ada di mana. "Fix aku lupa... maksud ku nggak ngerti kelemahan kamu apa ketua?" tanya Vika kemudian. "Ini...." jawabnya sambil mengangkat tanganku tinggi-tinggi. "Dia adalah kelemahanku." ucap Dani sambil memandangku, hanya blushes dan gak ngerti mau ngomong apa. "Eheeemmmm.... kamu salah nanya sayang, ada yang pipi nya merona tuh." tunjuk Dito kepadaku. "Ehhh apa... nggak ada kok..." elak ku. Dani justru berbalik dan mengangkat daguku seraya memperhatikan kedua pipiku secara bergantian. "Ketua... kalau aku bilang cium, cium ya..." kata Vika, aku sudah tau dia udah pulih, bisa idlihat dari gesreknya yang kambuh. "Cium... cium, soalnya aku gak pernah liat live actionnya." "Enggakkk... awas kamu Dan macem-macem aku aduin ke mama kamu." Dani yang hanya tinggal beberapa inchi di depan ku segera menghentikan aksinya. Dan aku bisa bernafas lega. "Iya bener kamu lemah sama ancaman dia." kata Dito sok-sok an ngebela Dani. "Iya tunggu aja dirumah." kata Dani kemudian. "Kamu sih Vik...." ucapku. "Hehehehe canda Sayangggg... ehh kalian berdua udah makan belum?" tanya Vika. "Belum." jawabku. "Go food in Geprek kak Rose dong." pinta Vika. "Hehh kamu apaan sih sayang emang udah boleh makan pedes, ketauan dokter bisa abis kamu." kata Dito. "Plisss lagi pingin nih, nyidammm plisss." kata Vika kemudian. "Ya udah tapi dikit aja jangan di makan sambelnya ya." kata Dito kemudian. Aku sama Dani saling berpandangan. "Nyidam maksudnya kaya yang kepingin buat ibu-ibu hamil muda gitu?" tanya Dani dengan begonya. "Enggak ketua bercanda aja." kata Vika. "Aku selalu pakek andalan kata nyidam buat nyuruh-nyuruh Dito, biar dia belajar buat tanggung jawab ehehehhehe." kata Vika. "Duuhhh hidup kamu banyak drama deh." sahutku. "Ya biarin... emang kalian monoton." bantah Vika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN