Dina menggendong bayinya mondar-mandir di depan pintu. Kala itu, senja telah tiba, tetapi suaminya belum juga sampai di rumah. Tidak biasanya. Bayinya pun rewel entah kenapa, jadi Dina menggendongnya demi membuat bayinya merasa nyaman.
“Ini Mas Bagas ke mana, kok nggak pulang-pulang,” desisnya sesekali melongok ke pintu. Namun, tidak ada sosok yang diharapkan.
Sayur yang dimasak Dina pun sudah mendingin lagi, padahal dia telah memanaskannya dua kali. Dia menghela napas saat melihat bayinya tak kunjung diam juga, padahal dua botol s**u telah habis diminumkan.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya Dina, walau dia pun tahu jika bayinya belum dapat menjawab.
Bayi mungil itu terisak sembari kedua matanya terpejam. Dina meletakkan tangannya di dahi bayi itu, tapi tidak terasa panas. Bahkan dia telah membaluri tubuh bayinya dengan minyak telon, jika dia merasa kolik. Namun, anak kecil itu tetap menangis seperti tersakiti.
Dina nyaris kehabisan akal. Dia merasa stress dengan keadaan itu, tapi mulutnya mengucap doa terus agar dia tidak kehilangan kesabaran. Banyak sekali wanita yang memperlakukan bayinya dengan kejam karena baby blues. Dina tidak mau hal itu terjadi meski sekarang kepalanya berdenyut karena ulah sang bayi. Berkali-kali pula dia menekan tombol hijau untuk menanyakan di mana sang suami, tapi sepertinya panggilan itu tidak digubris oleh Bagas.
Setelah satu jam, akhirnya bayi itu tertidur dengan sisa isaknya. Dina terpaksa menggendong bayinya agar lelap sebelum dia meletakkannya di tempat tidur.
“Mas Bagas ini ada apa sih, jangan-jangan ada hal buruk menimpa dia.”
Pikiran Dina langsung kacau. Musim hujan dan longsor, banyak sekali berita kecelakaan di televisi. Dia menepis pikirannya sendiri, walau sangat khawatir dengan keadaan sang suami di jalan.
***
Imah menatap Bagas yang berkali-kali mendengkus setelah melihat ponselnya.
“Mas, kok nggak diangkat?” tanyanya.
“Nggak penting kok, Mah. Sekarang yang penting ini urusan tanahnya. Aku bantu tata berkas-berkas kamu,” ujar Bagas menyunggingkan senyum.
Usai Maghrib, Bagas mengantar Imah ke rumahnya. Karena penasaran, Bagas menawarkan diri untuk ikut mengurusi berkas yang harus Imah susun. Ternyata benar bahwa wanita itu mempunyai warisan yang besar.
“Nah, Mas Bagas udah selesai. Makasih ya, Mas? Karena Mas semua jadi cepat,” puji Imah.
“Ah, Cuma sedikit bantuan aja, kok. Nggak masalah,” sahut Bagas tersipu malu.
“Oh ya, dari tadi rumah kamu sepi. Ke mana Ibu?” tanya Bagas mengedarkan pandangan ke ruangan di mana dia dulu sering datang di malam minggu.
“Ibu lagi ke luar kota, Mas.”
“Jadi, kamu sendirian?”
“Iya, Mas.”
Bagas menyeringai dan itu tidak diketahui oleh Imah. Bagas lebih mendekat ke arah Imah, lalu mendekatkan jari-jarinya ke jemari Imah yang lentik dengan dua cincin di jari manis dan jari tengahnya. Kulit putih itu mampu membuat Bagas terpesona dan nekat menggenggam jari-jari Imah. Tanpa perlawanan, Imah membiarkan Bagas menggenggam jari-jarinya. Bahkan pria itu mengangkat jarinya untuk dikecup perlahan.
“Mah, kamu cantik.”
Wajah Imah memerah mendengarnya dan menunduk malu. Bagas makin gemas dengan sikap Imah yang malu-malu kucing itu. Dia pun meraih dagu Imah lalu membawanya mendekat ke wajahnya.
“Mas Bagas!” pekik Imah perlahan, mendorong wajah Bagas hingga mundur.
Bagas melepaskan tangannya lalu mengelus d**a. Wajahnya merah padam, malu sekali rasanya ditolak oleh Imah saat dia ingin sekali merasakan bibir ranum berwarna pink yang terawat itu.
***
Tanti terkejut saat Bagas pulang ke rumahnya dengan wajah kuyu petang itu. Dia melemparkan jaketnya ke kursi di ruang tengah dengan kesal.
“Kok baru pulang, Gas? Kamu pasti belum pulang ke kontrakan? Lagi berantem sama si Dina?” tebak Tanti melihat wajah anak lelakinya yang sekarang menghempaskan p****t di kursi tengah.
“Nggak, Bu.”
“Lah, trus kenapa kamu pulang ke sini?” tanya Tanti heran.
“Lagi kesel aja, Bu. Bapak mana?”
“Tuh, di dalem garasi,” sahut Tanti tak lagi memperdulikan anaknya.
Celingukan, Bagas melihat ke belakang dan dia menemukan Deddy sedang membuka kap mobil.
“Pak, lagi ngapain?” tanya Bagas.
“Eh, Gas. Ini mobilnya mogok lagi,” sahut Deddy dengan wajah kusam, seperti Bagas. Dia pun menoleh dan melihat wajah Bagas yang tidak jauh dari dirinya.
“Kenapa, kamu?” tanya Deddy.
“Pak, aku barusan dari rumah Imah. Bener dia itu lagi ngurusin warisan. Gede, Pak. Trus lokasinya strategis, tinggalan kakek yang dari bapaknya. Kalo dijual itu nggak Cuma ratusan juta, tapi milyaran.”
Ucapan Bagas membuat Deddy menghentikan aktivitasnya. Dia menutup kap mobil dengan senyum yang tidak bisa diartikan.
“Wah, kamu ini nekat ke sana. Ngomong apa sama si Dina?” tanya Deddy, meraih sebuah lap kotor dan membersihkan tangannya dari oli.
“Nggak ngomong apa-apa sama Dina. Aku tadi diajak Imah makan, trus aku antar dia pulang beriringan motor karena takut ada apa-apa sama dia di jalan,” beber Bagas.
“Bener kan kata Bapak kalo si Imah itu cantik sekarang?” Deddy menaik-turunkan kedua alisnya, mengabaikan sang menantu yang tadi dia tanyakan seolah wanita itu tidaklah penting.
“Iya, tapi aku malu Pak,” keluh Bagas mencurahkan perasaan yang sedang dirasakannya saat ini.
“Kenapa, malu? Gara-gara kamu punya istri? Alah, perempuan macam Dina itu nggak kasih keuntungan blas. Kamu pikir hidup sekali Cuma gitu-gitu doang, Gas? Perempuan sekarang itu harus ikut andil, jangan Cuma kayak Dina yang enak-enakan di rumah, nganggur. Huh, nggak ada gunanya. Warisan juga nggak punya. Beda sama Imah yang cantik, punya pekerjaan, warisan juga. Melek kamu, Gas,” beber Deddy panjang lebar.
“Bukan, Pak. Tadi itu aku khilaf mau cium Imah, tapi dia tolak, malu aku, Pak!” sungut Bagas, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil berdecak dengan membuang pandangan ke sembarang arah.
Deddy melotot mendengarnya, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Dasar, kamu itu harusnya nahan diri dulu! Wanita itu, dekati perlahan-lahan. Jangan nyosor aja! Inget, Gas, mendapatkan berlian itu berbeda dengan mendapatkan batu kali. Kamu harus berusaha keras, tapi tetap lembut untuk mendapatkan berlian yang langka. Sedangkan batu kali, pake kaki aja bisa!” kekeh Deddy, menepuk anak lelakinya yang ternyata tidak dapat menahan syahwatnya itu.
“Iya, Pak. Trus aku mesti gimana?” tanya Bagas yang tidak tahu harus lanjut atau berhenti.
“Nggak apa-apa. Bilang aja kamu khilaf, minta maaf Gas! Besok atau malam nanti kamu kirim pesan sama dia, bilang maaf, sebelum dia berpikiran macam-macam sama kamu. Trus jangan sampai dia jatuh ke tangan lelaki lain. Sayang banget, Gas! Mesin uang,” bisik Deddy di telinga Bagas dengan menyeringai.
Bagas menyunggingkan senyum, yakin akan apa yang akan dia lakukan sesuai dengan anjuran ayahnya.