Kepala Bagas berdenyut ditanya oleh Imah tentang istrinya. Dia terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.
“Bapak bilang apa sama kamu?” tanya Bagas pada Imah.
“Bilang... kalian mau pisahan,” sahut Imah tanpa basa-basi mengulang apa yang dia dapatkan dari Deddy.
“Bener, Mas?” ulang Imah.
Bagas meringis, bingung dengan pertanyaan Imah. Dia bimbang sekarang. Ternyata bapaknya memang nekat mengatakan kebohongan pada Imah bahwa dirinya dan Dina akan bercerai.
“I-iya,” sahut Bagas, memutuskan dengan cepat di otaknya yang telah geser karena mendengar suara Imah yang merdu.
“Oke, nanti ketemuan di rumah makan biasanya dulu kita—“
Hening sebentar. Terasa dalam d**a Bagas membuncah mendengar Imah mengatakan masa lalu mereka. Ya, dia ingat benar dalam benak kala janjian di sebuah rumah makan di ujung pusat kota dan selalu di situ karena Imah merasa makanan di situ cocok dengan lidahnya.
“Iya, aku masih ingat, Mah. Nanti selepas pulang kerja aku ke sana,” janji Bagas terdengar manis sekali di telinga Imah via ponselnya.
Detak jam yang ditunggu-tunggu oleh Bagas akhirnya sampai juga. Dia segera memberesi kertas-kertas hasil ulangan para muridnya, lalu bangkit mengalungkan tas ke pundak. Tak lupa, dia menyisir rambutnya agar tampak rapi.
“Saya duluan ya Bapak-bapak dan Ibu-ibu,” pamitnya pada teman-teman sekantor yang berprofesi jadi guru di sana. Semua menoleh pada Bagas yang tumben-tumbenan rapi sebelum pulang.
“Iya, Pak Bagas. Wah, udah kayak mau kencan aja,” goda salah satu guru di kantor.
Bagas hanya tersenyum simpul. Ya, dia memang akan berkencan. Lupa dengan istrinya di rumah yang sedang menimang anaknya dan kerepotan memasak sambil menggendong bayinya yang tidak mau dibaringkan di tempat tidur.
Seperempat jam, bayinya tertidur pulas dalam gendongan. Dina meletakkannya perlahan di atas tempat tidur. Dia pun melanjutkan masak. Namun, saat melihat toples garam yang kosong, Dina menepuk dahinya sendiri.
“Gimana bisa lupa,” keluhnya. Padahal tanggung, sebentar lagi masakannya selesai.
Dia segera mematikan kompor lalu melepaskan serbet yang tersampir di pundak. Melihat sang anak sedang pulas, dia pun berlari keluar cepat-cepat untuk ke warung di ujung jalan. Dengan daster dan sandal jepit, Dina berupaya cepat agar anaknya tidak keburu bangun.
Namun, saat menyeberang, tiba-tiba dari arah kanannya, mobil ford dengan kecepatan sedang menuju ke arahnya. Dina yang sadar, memejamkan mata dan berteriak sekencangnya. Semua orang ikut berteriak sampai decitan mobil itu terdengar miris di telinga.
Dina memejamkan kedua matanya sekitar beberapa detik dan membuka mata perlahan karena tidak terjadi apa-apa padanya. Seorang lelaki tampan keluar dari dalam mobil dengan wajah kesal.
“Hey, pake mata nggak sih nyebrangnya?” gerutu lelaki itu melihat Dina dari atas ke bawah. Tangannya mulai bergerak ke pinggang, dongkol sekali dengan wanita di hadapannya.
“Pak! Nanti urusan ini, saya sedang buru-buru mau beli garam! Anak saya tinggal di rumah sendiri, beda dengan Bapak yang apa-apa pake pembantu. Saya harus mengejar waktu biar tiba di rumah sebelum anak saya bangun!”
Bukannya takut, wanita itu malah menyolot pada Devan, pria tampan yang sekarang melepas kacamata hitamnya, menatap pada Dina yang sekarang sama berkecak pinggang di hadapannya.
“Apa? Mau nuntut saya? Nanti urusan ini saya selesaikan, tapi sekarang saya mau ngurusi rumah, Pak!” sembur Dina. Wanita itu tidak menunggu ucapan Devan, tapi langsung berlari lagi ke ujung jalan, terlihat sangat terburu-buru.
Devan melongo melihat dirinya dibentak dengan berani oleh seorang wanita berpakaian daster.
“Garam? Dia Cuma mau beli garam dan memarahiku karena anaknya ditinggal di rumah sendirian?” gumam Devan, meraup wajah, lalu masuk ke dalam mobilnya. Ternyata dia pun terburu-buru untuk ke kantor. Sama-sama terburu, tapi urusan lain.
Devan tertawa mengingat wanita yang terburu hanya untuk membeli garam. Konyol sekali kedengarannya.
“Apa pentingnya garam?” kekeh Devan, teringat terus dengan wanita unik yang dia temui tadi.
***
Di sebuah rumah makan yang cukup ramai, Bagas duduk di kursi pojok di mana dia biasa berkencan makan dengan Imah. Jantungnya berdegup kencang. Dia mengedarkan pandang, menunggu-nunggu sosok yang dibicarakan oleh Deddy kemarin dan tadi mereka sudah berbincang di telepon. Bagaimana rupa Imah sekarang sampai ayahnya mengatakan bahwa wanita itu cantik? Bagas sangat penasaran.
Sebuah tepukan membuat Bagas sontak menoleh. Bau parfum yang sama seperti dulu dia rindukan kala malam minggu, terasa lembut terhirup lubang hidungnya, seolah membiusnya. Seorang wanita cantik duduk di depan Bagas, membuat Bagas harus membenahi duduknya dan baju yang dia kenakan dengan seketika.
“Mas Bagas? Maaf nunggu lama, tadi aku harus ngurusi anak-anak dulu, pada kelahi.”
Wajah Imah yang cantik terawat itu bersungut-sungut, tampak menggemaskan. Entah kenapa Bagas merasa wanita ini masih seperti dulu. Manja dan itulah yang diinginkan oleh Bagas. Pria itu terpana dengan wajah cantik di hadapannya.
“Mas,” panggil Imah melambaikan tangan di kedua mata Bagas.
“Eh, i-iya, Imah. Kamu memang jadi guru yang teladan. Keibuan karena bisa menangani anak-anak yang berkelahi. A-Apa kabar?” tanya Bagas, mengulurkan tangan. Dia seketika menyesali kegugupannya.
“Bisa aja, Mas Bagas ini. Aku baik, Mas. Kamu?” tanya Imah menyambut uluran tangan Bagas.
“B-baik juga,” sahut Bagas, merasakan kelembutan telapak tangan Imah hingga lama berjabat tangan.
“Mas, bisa lepasin tangan?” tanya Imah mengulum senyum.
“Eh, iya, maaf Mah. Abis, tangan kamu halus,” gombal Bagas, membuat kedua pipi Imah merona.
“Yuk, pesen makannya. Aku udah laper nih, Mas Bagas masih suka kepiting saus tiram kan? Aku pesenin satu ya?” ucap Imah, sebelum membuka daftar menu.
Bagas merasa bunga-bunga dalam hatinya mekar sempurna. Wanita cantik itu masih mengingat makanan yang dia sukai. Padahal selama menikah, dia tidak pernah makan kepiting kesukaannya.
Sadina?
Ah, wanita itu hanya memasak sayur yang irit bin murah. Dia tidak pernah tahu bahwa Bagas menyukai seafood. Beda sekali dengan Imah yang tahu benar kesukaannya. Bagas tambah kagum pada Imah. Ingatan wanita itu tajam sekali.
Imah melayani Bagas, mengambilkan sedotan, sendok dan garpu.
“Nggak sekalian suapin, Mah?” goda Bagas yang mulai mencair. Tidak kaku lagi seperti tadi saat pertama bertemu dengan Imah yang kulitnya sekarang sangat putih, beda dengan dulu yang polos. Sekarang penampilan Imah lebih glamour. Sungguh elegan.
“Mas,” gelak Imah manja. Sebuah sentilan sampai di tangan Bagas.
Pria itu sontak meraih tangan Imah dan memegangnya. Wajah Imah makin memerah saat Bagas menatap wajahnya lama sambil tangannya memegang jemari lembut Imah.
“Mas, lanjut makan,” ucap Imah dengan tersipu.
“Maaf, Mah. Ya ampun, malah jadi inget waktu pertama kita kencan. Ya kayak gini ya?” ujar Bagas mengingatkan.
Imah menganggukkan kepala. Dia lalu menyendok lagi makannya dengan gaya yang disukai oleh Bagas. Bagas menghela napas saat teringat bahwa ayah Imah dulu tidak setuju dengan hubungan mereka, jadi Imah harus memutuskan hubungannya dengan Bagas.
“Mah, kabar ayahmu gimana?” tanya Bagas. Meski bunga berkembang di hati, tapi dia tidak ingin bunga itu terlanjur bersemi dan harus pupus karena alasan kedua dulu mereka berpisah. Rasa sakit hati Bagas masih terasa karena ucapan ayah Imah yang mengatainya pria tanpa penghasilan. Memang waktu itu dia belum memiliki pekerjaan.
“Mas, ayah udah dipanggil Tuhan,” sahut Imah dengan wajah sedih.
Namun, tidak untuk Bagas.