Dina membuka dompetnya. Tersisa uang dua lembar seratus ribuan. Dia menghela napas karena uang itu harus cukup untuk dua minggu, sementara dia belum mulai memberi les. Seorang tukang sayur berteriak-teriak, meneriakkan dagangannya pagi itu. Dina terkejut dan bergegas menarik selembar uang untuk berbelanja.
“Mang, bayam sama jagung,” pinta Dina pada penjual sayur. Demi menghemat uang, dia hanya berbelanja sedikit.
“Eh, Mbak Dina. Udah balik ke kontrakan lagi?” tanya seorang ibu-ibu tetangga Dina.
“Iya, Bu. Maaf, saya sempat berhenti ngelesi. Saya—“
“Iya, Mbak. Nggak apa-apa, lagian Mbak Dina repot kan di rumah kontrakan kalo ngurusi bayi pertama kali lahiran? Di rumah mertua kan ada yang bisa diajak konsultasi karena ada ibu mertua,” potong wanita yang mengenakan daster garis-garis itu.
Dina mengulas senyuman tipis. Dia lalu menerima kantong plastik berisi sayuran yang dia minta tadi pada penjual sayur.
“Mbak, Aldo itu udah les di ujung jalan sana sejak Mbak Dina di rumah mertuanya.”
Dina menghela napas dan kembali tersenyum tipis membalut kekecewaan dalam hatinya. Tidak ada lagi harapan untuk menawarkan jasa. Tentu saja waktu lima bulan tidaklah singkat bagi orang-orang untuk menunggu. Mereka akan segera mendaftarkan anaknya ke tempat les lain demi kemajuan pendidikan anak mereka.
“Iya, Bu. Syukurlah.”
Hanya itu yang Dina katakan untuk memupus kekecewaan. Dia membayar sayurannya lalu berpamitan pulang.
“Mari, Bu Nunik. Saya duluan, anak saya tidur tadi waktu saya tinggal ke sini. Takut bangun,” pamit Dina dengan sopan.
“Iya, Mbak.”
Dina bergegas pulang melihat anak yang masih tidur dan segera mengolah bahan-bahan yang dia beli. Setelah itu, memandikan anaknya usai bangun dari tidur. Sambil menggendong sang bayi, kepalanya dipenuhi oleh bagaimana cara memenuhi kebutuhan sementara dia harus konsisten dengan keputusannya resign.
“Lapar ya, Dek?” tutur Dina saat bayinya menangis dan merengek.
Dina memberikan ASI pada anaknya, tapi baru tiga hisapan, si bayi sudah merengek, meronta meminta lebih. Bayi itu seolah masih sangat lapar. Dina mengerutkan dahi lalu mendesah karena ASInya memang tidak keluar sejak merasa stress di rumah mertua. Dia membuatkan anaknya s**u formula. Tingga separuh kardus dan itu membuat kepalanya makin berdenyut.
Sebuah ketuka di pintu membuat Dina harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan. Dia membawa anaknya yang sudah menghisap s**u formula dari botol lalu membukakan pintu.
“Gas!”
Dina menarik napas. Dia mendengar suara ayah mertuanya. Biasa, pria paruh baya itu selalu memanggil nama anak lelakinya jika mendatangi rumah kontrakan mereka. Bahkan jika suaminya tidak di rumah, seperti tidak menghargai orang lain yang tinggal di rumah itu. Anda saja itu bukan ayah mertuanya, Dina enggan membukakan pintu.
“Iya, Pak. Silakan masuk,” sambut Dina, melihat pria berbadan kurus dan berkumis itu di depan pintu.
“Mana Bagas?” tanya Deddy langsung melongok ke dalam tanpa memperdulikan Dina.
“Mas Bagas udah berangkat kerja, Pak.”
Dina berusaha sabar dengan lelaki itu. Pria yang tidak juga mau duduk di ruang tamu, sementara Dina sudah mempersilakannya. Malahan, kedua tangannya ditaruh di kedua pinggang. Sudah pantas jadi debt collector.
“Ck, angkotku macet. Mau pinjam uang Bagas buat ke bengkel,” ujarnya ketus tanpa ditanya.
“Oh, maaf, Pak. Mas Bagas pulangnya siang,” ujar Dina.
Deddy melengos mendengarnya. Harapannya, Dina akan menawari untuk memberi uang yang dia bilang, tapi ternyata tidak.
“Kamu nggak pegang uang?” tanya Deddy.
“Cuma ada seratus ribu, Pak.”
Deddy melengos lagi dan berdecak melecehkan.
“Nggak cukup, butuhnya tiga ratus ribu. Susah juga punya menantu pengangguran,” desisnya, menyakitkan hati Dina yang mendengar gumaman Deddy. Dina menahan diri dengan diam dan berharap lelaki pembawa darah tinggi itu segera pergi.
“Udah, aku tinggal angkotku di sini. Aku pulang pake ojek aja!”
Dina hanya mengangguk. Untuk mengeluarkan suara, dia sudah sangat malas. Dina memperhatikan pria paruh baya itu pergi dengan mengomel dari rumahnya ke jalan raya. Biarlah, toh dia juga sudah menawari uang yang dia punya. Namun, tidak ada tanggapan yang baik. Dina kembali masuk dan menimang anaknya yang sudah mulai memejamkan mata. Rasa kesalnya dia hilangkan dengan menatap wajah anak yang tidak berdosa itu.
“Aku harus kuat demi kamu, Nak. Kamu adalah kebahagiaan Ibu,” ujarnya menciumi wajah sang anak yang telah terlelap dalam tidurnya.
***
Sore itu, Bagas pulang dari tempat kerjanya dan langsung duduk di ruang tengah.
“Mas, tadi Bapak ke sini, katanya angkotnya macet. Jadi dititipkan ke sini,” sambut Dina, membawa secangkir teh hangat dan satu piring bakwan jagung.
“Ya, aku lihat angkotnya di depan.”
Bagas meraih cangkir lalu menyeruput teh hangat, melegakan tenggorokannya yang kering setelah seharian bekerja.
“Kamu masak apa?” tanya Bagas. Teh dalam cangkir berkurang separuh.
“Sayur bayam sama sambel, Mas.”
Tampak kebosanan di wajah suami Dina itu. Dia menghela napas, tidak berselera.
“Cuma itu? Nggak ada lauk lain?” tanya Bagas lagi.
“Mas, aku harus hemat untuk sampai akhir bulan. Sementara Cuma itu yang bisa kita makan. Besok kalau aku udah dapet anak les, mungkin bisa nambah penghasilan. Mas udah nggak pegang uang?” tanya Dina hati-hati.
Bagas tidak mengeluarkan jawaban, hanya gelengan kepala saja.
“Kapan kamu mulai ngelesi?” tanya Bagas melirik ke arah istrinya.
“Sementara ini belum ada yang daftar lagi, Mas. Sabar, ini baru sehari kita balik ke rumah kontrakan,” sahut Dina.
Bagas hanya mendengkus, lalu mengambil cangkirnya dan menghabiskan isi di dalam cangkir putih itu.
“Mau makan, Mas? Aku ambilkan, ya?” tawar Dina mencoba mencairkan suasana.
Kembali Bagas menggelengkan kepala. Dia beranjak lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri. Dina menarik napas lalu mengembuskan, menatap ke jendela.
“Mas, s**u Tsabita hampir habis,” ujar Dina saat membuatkan s**u anaknya.
“Kok boros banget? Perasaan minggu lalu baru beli, kamu yang bener dong, Din, bikin susunya jangan kental-kental!” sahut Bagas merengut, ikut melongok ke dalam kaleng s**u yang tinggal sedikit.
“Ya aku bikin sesuai sama takaran, Mas. Nggak kekentalan,” protes Dina.
“Huh, ya udah. Aku beliin abis ini, tapi kamu inget akhir bulan jangan sampai habis!”
Dina mendesah. Bagaimana bisa dia menahan anaknya agar tidak minum s**u? Seusia anak itu masih harus minum s**u karena belum MPASI. Dia menatap punggung suaminya yang pergi keluar untuk membelikan s**u dengan iringan gerutuan sepanjang langkahnya.
Kepala Dina pusing memikirkan soal kebutuhannya. Sejenak dia menyesali keputusan untuk resign, tapi bagaimana lagi? Jika tidak resign juga sama saja uang habis untuk membayar pengasuh.
Beberapa menit kemudian, suara mobil datang. Dina hapal benar mobil siapa itu. Dia berdecak, tapi harus bangkit juga untuk membukakan pintu ayah dan ibu mertuanya.