Seminggu kemudian, Dina mengemasi pakaian-pakaiannya dengan bersemangat. Hari ini mereka akan pindah dari rumah mertua. Jarak antara tempat kerja suami dan rumah mertua juga jauh, jadi ongkos untuk pulang-pergi juga menjadi alasan bagi mereka pindah dari rumah itu. Gaji Bagas pun habis di ongkos dan itu pun membuat Deddy geram lalu melimpahkan amarahnya pada sang menantu semalaman karena keputusannya untuk resign. Mata Dina sudah sembab karena menangis disalahkan. Pagi ini dia seperti merpati yang lepas dari sangkarnya, merasa telah bebas.
“Mas, aku udah siap,” tutur Dina dengan wajah semringah, menggendong bayinya meski wajahnya masih menunjukkan bekas kesedihan semalam.
“Oke. Ayo kita pamit sama Ibu,” ajak Bagas keluar dari kamar, membawa tas besar yang sudah diisi pakaian-pakaian dan perlengkapan bayi.
Dina merasa lega karena ayah mertuanya sedang pergi bekerja. Jadi, berkurang kekhwatirannya akan rasa sakit hati yang akan diterima jika bertemu dengan pria itu.
“Bu, kami pulang dulu ke kontrakan ya?” pamit Bagas, mengulurkan tangan ke arah ibunya.
“Yakin kalian mau pindah? Din, kamu itu ... sayang banget kalo nggak kerja. Jangan menggantungkan pada suami kamu. Jaman sekarang ini, wanita harus punya penghasilan sendiri,” ujar Tanti mendengkus.
Wanita paruh baya itu memang seorang PNS, jadi Dina tidak bisa menyangkal ucapannya.
“Iya, nanti saya juga ngelesi di rumah, Bu,” sahut Dina, mencoba meluluhkan hati ibu mertuanya.
“Ngelesi itu berapa pemasukannya kalo nggak mentereng les-lesanmu. Besok kalo ada lowongan jadi guru, kamu mau, ya?” desak Tanti.
Dina menatap wajah anaknya. Rasanya berat saat teringat jika dia pergi bekerja dan anak itu dititipkan ke pengasuh. Tidak tega rasanya berpisah dengan sang anak.
“Iya, Bu.”
Untuk memungkas desakan mertuanya, Dina mengiyakan saja. Semoga nanti ada jalan ke depannya, harap Dina. Dia meraih tangan ibu mertuanya dan mengecup punggung tangan wanita itu.
“Mau ke mana, Mas Bagas sama Mbak Dina?” tanya Raka, adik Bagas yang kuliah semester akhir itu.
“Pindah ke kontrakan lagi,” sahut Tanti dengan datar.
“Oh. Mas, nggak kasih aku uang saku gitu?” tanya Raka dengan kedua alis diangkat-angkat.
Dina menghela napas. Anak itu memang suka sekali meminta uang kakaknya. Tanpa banyak kata-kata, Bagas membuka dompet dan mengulurkan selembar uang merah untuk adiknya. Wajah Raka semringah dan langsung masuk ke kamarnya, entah mau apa. Namun, dia tidak berterima kasih dulu pada kakaknya. Dina hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adik iparnya itu. Uang yang diberikan Bagas pada Raka mungkin tidak seberapa ketimbang uang saku yang diberikan ibunya, tapi sangat berharga bagi Dina untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, mau gimana lagi?
Kemudian mereka menaiki motor dan berlalu. Rasanya lega, lega sekali dalam hati Dina. Bisa terbebas dari rasa takut dan sakit hati di dalam rumah itu.
Mereka sampai di rumah kontrakan yang kecil, tapi membuat Dina nyaman karena merdeka dari mertua. Dina menyusui anaknya lalu menidurkan di atas tempat tidur yang sudah dibersihkan.
“Aku berangkat kerja dulu ya,” pamit Bagas.
“Oh, iya, Mas. Aku buatin teh dulu ya?” tawar Dina sambil terburu beranjak dari tempat tidur.
“Nggak usah,” sahut Bagas.
Dina hanya termangu menatap kepergian Bagas yang sikapnya agak kasar itu. Biasanya dia akan menunggu teh hangatnya, tapi kali ini tidak. Dina mencoba menenangkan diri dengan berpikiran bahwa Bagas sedang terburu bekerja.
***
Di depan sebuah sekolahan. Seseorang berhenti di tempat di mana Deddy yang duduk di belakang kemudi angkutan umumnya, ngetem di pinggir jalan.
“Lho, Pak Deddy?”
Seorang wanita cantik menepuk bahu pria paruh baya yang sedang menunggu penumpang di jalan. Deddy menoleh saat dipanggil oleh wanita yang berusaha membuka pintu mobil angkotnya. Deddy bergegas membukakan pintu depan mobil yang dikunci itu.
“Eh, kamu—“
“Imah, Pak. Masih ingat?” tanya wanita itu sambil duduk di samping Deddy.
“I-Iya, mau ke mana?” tanya Deddy memperhatikan penampilan gadis itu dari atas ke bawah.
“Mau ke Kantor Pertanahan, Pak.”
Deddy memperhatikan wanita yang duduk di sampingnya. Gadis itu tampak berbeda dari lima tahun yang lalu di saat dia sering mendatanginya.
“Kamu kerja apa sekarang?” tanya Deddy, menyalakan mesin mobil angkotnya.
“Guru, kan dari dulu saya mengabdi di SMP,” sahutnya dengan tersenyum.
Deddy mengangguk dan mulai ingat bahwa Imah bekerja di sebuah sekolah menengah pertama.
“Lho, kenapa kamu mau ke kantor pertanahan?” tanya Deddy, ingin tahu. Jiwa keponya meronta-ronta seketika.
“Mau ngurus tanah, Pak. Saya dapet warisan tanah sebesar satu hektar. Sawah punya ayah saya. Lumayan, Pak.”
Deddy terbelalak mendengarnya.
“S-Satu hektar?” tanyanya tanpa sadar.
“Iya, saya juga nggak nyangka, Pak. Kalo dijual bisa ratusan juta. Sayang sekali kalau nggak diambil. Ini saya mau urus. Oh ya, gimana kabar Mas Bagas, Pak?” tanya Imah menoleh pada Deddy.
“Eh, dia... baik,” sahut Deddy yang masih terperangah dengan warisan yang didapat wanita itu.
“Oh, salam ya buat Mas Bagas,” ujar Imah malu-malu, menunduk dengan kedua pipi merona.
Deddy memperhatikan tingkah Imah yang seolah masih ada rasa terhadap Bagas. Dia tidak tahu alasan kenapa Bagas berpisah dengan Imah dan memilih Dina menjadi istrinya. Sepertinya mereka tidak ada masalah.
“Iya, nanti Bapak sampaikan, Imah. Kamu main lah ke rumah. Kalo ada nomor, kasih aja. Biar nanti Bapak kasihin ke Bagas,” ujar Deddy melirik ke Imah.
“Emang, Mas Bagas belum punya istri?” tanya Imah, menoleh pada Deddy.
“Eh punya, tapi mau cerai karena istrinya pemalas dan suka menghamburkan uang,” sahut Deddy berkilah. Dia mengalihkan pandangan matanya, tapi kemudian melirik ke spion, melihat kilat mata penuh keterkejutan di kedua mata gadis itu.
“Oh, maaf Pak,” sesal Imah karena pertanyaannya itu.
“Nggak apa-apa. memang semua orang nantinya juga bakal tau,” ujar Deddy.
Imah terdiam lalu menunduk. Dia tidak lagi melanjutkan percakapan. Banyak hal terlintas di dalam pikirannya terkait dengan ucapan Deddy barusan.
“Kamu udah punya suami?” tanya Deddy pada Imah.
“Belum, Pak. Saya baru saja putus dari pacar saya,” sahut Imah malu-malu dengan omongan yang sedikit berisi curhatan.
“Oh, bagus kalo nanti sama-sama single. Kalo bisa, teklek kecemplung kalen.”
Deddy menahan tawa dengan ucapannya sendiri. Sementara Imah yang dulu lama hidup di luar kota tidak mengerti perkataan Deddy.
Maksud Bapak?” tanyanya dengan dahi berkerut.
“Aluwung golek luwih becik balen, ketimbang nyari mending balikan,” ucapnya dengan berkelakar.
“Ah, Bapak bisa aja.”
Deddy menyalakan mesin usai melihat penumpangnya sudah cukup memenuhi angkutannya. Dia pun melajukan angkutan ke tujuan, tentu saja sambil mengobrol dengan mantan kekasih anaknya itu.
“Pak, saya turun di situ, perempatan itu aja,” ujar Imah menyodorkan uang.
Deddy menolak pemberian Imah.
“Bayar pake nomor kamu aja, Mah. Nanti aku kasihin ke Bagas,” ujar Deddy degan tersenyum.
Imah berpikir sebentar, lalu mengantongi uangnya kembali dan menggantinya dengan merogoh saku untuk mengeluarkan ponselnya. Dia menyebutkan deretan nomor yang dicatat oleh Deddy.
“Makasih ya, Mah.”
“Saya juga makasih, Pak. Udah digratisin,” sahut Imah tersenyum.