bc

Pawang Cinta Seorang Sugar Baby

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
forbidden
love-triangle
one-night stand
family
HE
fated
friends to lovers
curse
badboy
kickass heroine
mafia
single mother
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
brilliant
city
office/work place
childhood crush
musclebear
love at the first sight
friends with benefits
addiction
like
intro-logo
Uraian

Cindy adalah seorang sekertaris yang habis ditipu oleh musuhnya dahulu. Dalam membalaskan dendamnya, Cindy rela menjadi Sugar Baby hanya untuk menggoda Stefen yang tak lain adalah suami musuhnya.

Namun apa yang terjadi saat Cindy malah terjebak pada seorang laki-laki lain bernama Alex dan harus menjadi Sugar Baby laki-laki itu?

Belum lagi rahasia Alex yang membuatnya sadar bahwa langkah balas dendam yang ia ambil telah salah dan malah menjerumuskannya pada dunia yang tidak ingin dia sentuh.

[14 Maret 2026]

chap-preview
Pratinjau gratis
PCSSB 1
Di sini lah sebuah dunia malam yang gelap dapat terjadi. Lampu bar yang redup berwarna kuning keemasan itu jatuh malas di atas meja-meja kayu dengan musiknya yang pelan, cukup untuk menutupi suara gelas yang saling beradu dan bisik-bisik yang terlalu rahasia untuk didengar orang lain. Adalah Cindy yang duduk dengan kaki disilangkan. Seorang sekertaris perusahaan ternama yang tiba-tiba dipecat karena salah menekan kontrak. Lalu di depannya, seorang mucikari terkenal di kalangan mereka, Madam Kim yang menyandarkan siku di meja. “Lo terlalu tegang ah, baru pertama kali yah kerja kayak gini?” kata Madam Kim. “Nggak usah kepo deh Madam, intinya Madam kerjain aja apa yang gue minta,” jawab Cindy tanpa basa-basi. Madam Kim terkekeh pelan. “loh, kan yang ngasih kerjaan lo di sini itu gue," Cindy mendengus pelan. “Tapi nggak usah basa-basi deh." “lo masih per awan yah?" Ujar Madam Kim sambil memajukan wajahnya. "Apasih, Madam?!" "Nggak usah sensitif gitu lah, hal kayak gitu mah lumrah di sini." Madam Kim kembali menjauh. " Gue bisa cariin cowo yang siap bayar banyak buat first time lo itu, nggak usah maksa Stefen kali." Cindy akhirnya meneguk minumannya, satu tegukan panjang. Hangatnya alkohol turun ke tenggorokan, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. “Nggak usah, Gue cuman ngincer Stefen.” kata Cindy, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “ Kasih tau gue soal dia." Madam Kim mengangkat alis. “Emangnya lo belum cari tau dia siapa?" “Gue mau ngumpulin sebanyak mungkin informasi tentang dia,” jawab Cindy cepat. “Jadi jawab, dia siapa!” Madam Kim memutar gelasnya perlahan, es di dalamnya berbunyi pelan. “Santai, intinya dia CEO dari agensi entertainment. Lumayanlah buat beliin Hermes versi terbaru buat gantiin yang lagi lo pake itu." “Terus?" “Yah cari tau aja sendiri di google kalo masih penasaran,” potong Madam Kim. “lo nggak perlu tahu lebih. lo itu cuma perlu bikin dia tertarik.” Cindy menatapnya lama, mencoba membaca apakah wanita di depannya sedang mempermainkannya atau tidak. “Tapi lo yakin kan dia di sini?” tanya Cindy. "Fyi aja nih, dia tuh sering mampir di bar ini buat nyewa cewek, gue udah kasih lo akses jadi salah satu cewek yang layanin dia, jadi sisanya tergantung lo aja." Madam Kim lalu terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah bar, lalu ke sudut ruangan, seolah sedang mencari sesuatu yang hanya dia yang tahu. Lalu, dengan gerakan kecil, ia mengangguk ke arah kanan. “Lo liat cowok yang di sana.” Cindy mengikuti arah pandangnya. Seorang pria duduk sendirian di ujung bar. Jasnya rapi, terlalu rapi untuk tempat seperti ini. Tangannya memegang gelas, tapi perhatiannya tidak pada minuman itu. Ia terlihat seperti sedang menunggu. Cindy menyipitkan mata sedikit. “Yang itu?” tanyanya. Madam Kim tidak menoleh. “Iya.” “Yakin?” “Lo mending nyari muci kari yang lain deh, ribet gue ngurusin lo.” Cindy menghela napas, lalu merapikan rambutnya dengan satu gerakan cepat. “Pokoknya gue harus berhasil dapetin Stefen malam ini juga." Madam Kim tersenyum miring. “oh baby, tenang aja. Kalau gagal masih banyak kok om-om yang siap bayar buat tidur sama lo. Nanti Madam kenalin, jadi santai~" Cindy berdiri dan mengabaikan perkataan Madam Kim. Gaunnya jatuh pas di tubuhnya, tidak terlalu mencolok, tapi cukup untuk membuat orang menoleh. Ia menarik napas sebentar, lalu berjalan. Pria itu tidak langsung menoleh saat ia mendekat. Itu membuat Cindy sedikit tersenyum. Tipe yang tidak gampang terpancing. Menarik. Ia berhenti di sampingnya, lalu duduk di kursi kosong tanpa izin. “Aduh minuman di sini nggak enak ah, nggak cukup buat mabuk,” katanya santai, seolah mereka sudah kenal. Pria itu akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu yang membuat Cindy langsung tersenyum menggoda. “Terus ngapain lo di sini?” tanya pria itu datar. Suaranya lebih dalam dari yang Cindy bayangkan. Padahal kata Madam Kim, Stefen adalah laki-laki yang sering tidur dengan perempuan. Cindy mengangkat bahu. "Bosen sih di rumah, siapa tau ketemu cowok asik di sini." ujarnya sambil kembali tersenyum menggoda. Pria itu menatapnya beberapa detik lebih lama, seperti sedang menilai. Lalu ia meneguk minumannya. “Alasan yang buruk,” katanya. Cindy tersenyum tipis. “Kayak nggak biasa aja." Pria itu tidak langsung menjawab. Ia memanggil bartender dengan satu anggukan kecil. " Lo pesen minumnya yang murah, makanya nggak enak." Cindy mencondongkan tubuh sedikit, cukup dekat untuk membuat percakapan terasa lebih personal. “Kalau gitu pesenin dong yang enak." Bartender datang, dan pria itu menyebutkan satu minuman tanpa bertanya lagi. Kemudian dengan cepat kembali sambil membawa minuman yang disuruh. “Makasih, Om.” katanya. Dan sebenarnya dia hanya mengatakan itu dengan ngasal karena melihat dialog di film - film. Pria itu melirik tangan itu, tapi tidak langsung menyambutnya. “Hah? Om?” "Loh? emangnya mau dipanggil apa? Sayang?" Goda Cindy yang malah membuat laki-laki itu mengernyitkan keningnya. "Nama lo siapa sih?" "Nama aku Cindy Om, btw kamar om di mana deh?." “Emang mau apa?” Cindy menarik tangannya pelan, tidak tersinggung. “Tergantung om aja.” Pria itu tersenyum kecil, hampir tidak terlihat. “Lo selalu kayak gini?” “Kayak gimana?” “Godain cowok-cowok buat beliin lo barang-barang branded.” Ujarnya sambil menunduk melihat tas Hermes yang dibawa wanita itu. Cindy menatapnya tanpa ragu. “kenapa? Om nggak mampu yah?” “Lo bahkan nggak tahu gue siapa ,” katanya. Cindy mengangkat bahu. “Nanti aja kenalannya, om bisa ceritain soal diri om nanti di kamar.” “Gue nggak minat bawa cewe murahan ke kamar gue.” Cindy langsung tertawa, "yang bener aja om, nggak usah pura-pura kali, Aku nggak bakal laporin Yuna." "Siapa?" "Yuna, istri Om itu." Sepertinya Cindy mulai mabuk karena minuman yang dipesankan oleh laki-laki itu, padahal dia membeli minuman sebelumnya yang katanya 'murah' karena tidak kuat alkohol. "Lo bilang apa tadi? Yuna?" Cindy kembali tertawa, "ayolah Om, kita ke kamar aja yuk, kepala aku udah pusing nih." "lo nggak bakalan keluar lagi setelah masuk ke kamar gue." "uhhhhh, takutnya~" Cindy tersenyum jail. "Bayangin seberapa keselnya Yuna denger om ngomong gini." “Lo kelewat berani,” katanya. Cindy mencondongkan kepala sedikit. “Tapi om suka kan.” “Maksudnya ?” Cindy menatapnya beberapa detik, lalu menjawab dengan nada ringan, seolah tidak penting. “Karena aku mau sesuatu dari om.” Pria itu diam sejenak. “Terus lo pikir lo bisa dapat itu dengan cara ini?” “Biasanya berhasil.” “Biasanya.” Cindy meneguk minumannya lagi, lalu menatapnya lurus. “Om kok nggak bilang itu nggak akan berhasil.” Wanita itu tersenyum puas. Ia tau itu bukan penolakan. Dari kejauhan, Madam Kim memperhatikan mereka. Matanya tajam, tapi wajahnya tetap tenang. Ia mengangkat gelasnya sedikit ke arah Cindy, seolah memberi sinyal kecil. Cindy tidak menoleh. Ia sudah terlalu fokus karena berpikir kalau dia sudah mendapatkan apa yang dia mau.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook