LC 22

728 Kata

Reya terus merintih, seolah tak bisa mengendalikan rasa sakit yang menyesakkan tubuhnya. Setiap kali ia bergerak sedikit, rasa sakit itu seakan meremukkan tubuhnya lebih dalam. Barat tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya bisa duduk di sampingnya, menggenggam tangan Reya, mencoba memberikan sedikit ketenangan, meskipun dirinya sendiri terhimpit oleh rasa bersalah yang begitu besar. "Sakit," lirih reya,. sementara barat hanya bisa menatap Tania melakukan apapun. Saat malam semakin larut, Reya akhirnya benar-benar terlelap. Tidur yang tampaknya penuh dengan mimpi buruk, dengan tubuh yang lemah dan hati yang hancur. Barat tetap duduk di sana, tak bisa tidur, hanya bisa memandang Reya yang terlelap, merasa begitu hancur karena apa yang telah terjadi. Barat tak bisa mengubah apapun. Se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN