Barat tidak menjawab. Dadanya sesak. Ia ingin membela Reya. Ingin bilang bahwa semua ini bukan salah Reya. Bahwa dialah yang merusak semuanya. Tapi kata-kata itu tidak akan pernah keluar. Karena Tania, wanita ia janjikan bersama di masa depan bersamanya, kini sedang tersenyum di depannya dengan penuh kepercayaan. Tania kemudian berdiri dan beralih duduk ke sebelah Barat. Ia menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. "Aku sayang kamu." Barat menatap Tania yang tersenyum dengan cantik di depannya. Tangannya terangkat pelan, membelai rambut Tania. "Aku tahu, aku juga sayang kamu." Lalu Tania mengangkat wajahnya, dan mereka berciuman. Ciuman yang hangat, penuh kasih sayang, tapi tak lagi membawa gejolak yang sama. Bagi Barat, itu hanyalah bentuk pertahanan dari kehidupan yang mulai retak di

