Ravi benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang sudah beberapa bulan ini ia jadikan istri. Pemuda itu yakin, bahwa saat pingsan waktu itu kepala Ellen pasti sudah terbentur sesuatu dengan sangat keras. Pasalnya dia berbeda seratus delapan puluh derajat dari waktu pertama kali sang Pangeran menemuinya. Seingat Ravi, Eleanor Thyra yang ia temui beberapa waktu lalu sebelum pernikahan berlangsung, adalah perempuan yang sangat sopan, anggun, dan memiliki kualitas menyakinkan sebagai calon ratu. Pendiam dan tidak berisik, tipe wanita yang sangat bisa diterima sebagai kandidat Putri Mahkota.
“Hm, Ravi, boleh tanya sesuatu?” Ellen mengerjap beberapa kali.
Ravi menatap perempuan itu tanpa minat, kemudian menyesap teh yang tersaji di atas meja. Pemandangan kebun lily di penghujung musim panas memang yang terbaik. Semilir angin sepoy-sepoy yang melewati kulit mereka, wangi harum bunga yang semerbak di ujung waktu mekarnya, serta bau khas musim panas yang unik.
“Ini akhir musim panas, kenapa kita tidak pergi berlibur?” Ellen menatap Ravi yang masih sibuk pada surat kabar di tangannya. “Apa kalian memang tidak pernah berlibur, bahkan di musim panas?”
“Kau pikir kenapa istana kekaisaran raja dibangun di atas tanah yang sangat luas, dan memiliki fasilitas seluar biasa ini?”
Ellen mengangkat bahu pasrah, tidak berniat berpikir. “Karena ditinggali raja?”
“Ya, itu salah satunya, yang lainnya?” Ravi melipat surat kabarnya.
“Mana kutahu,” Ellen menjawab cepat, “apa karena Raja selalu mendapatkan yang terbaik?”
“Karena seorang Raja harus menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Istana.” Lelaki itu menatap Ellen lamat-lamat. “Keluarga kerajaan tidak diperkenankan meninggalkan istana untuk urusan setidak penting liburan. Semua hiburannya ada di istana, apalagi yang mau dicari di luar sana kalau seluruhnya sudah tersedia dengan baik di sini?”
“Kalian tidak bosan?” Ellen mengerjap takjub, aku sudah sangat bosan.
“Bagaimana kau bisa bosan pada takdir yang sudah ditetapkan untukmu, Eleanor?” Ravi mengalihkan pandangannya.
Giliran manik karamel Ellen yang menatap pria itu lamat-lamat, “Bagaimana kalau … takdir bisa berubah?”
Ravi membalas tatapan dari sorot karamel Ellen. Netra mereka beradu, dan dalam sepersekian detik sang Pangeran sempat merasa obsidiannya tersedot masuk ke dalam manik perempuan itu. Sementara Ellen mengerjap beberapa kali, tapi untuk pertama kali ia sadar bahwa tatapan Ravi tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang lain disana menarik atensinya dengan sangat kuat. Angin yang berembus seolah menjadi saksi, bahwa ada setitik perasaan yang terpercik pada mereka berdua.
Lagi, tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menarik kesadaran diri masing-masing, dan saling membuang muka. Salah tingkah. Selama ini yang Ellen lakukan tak lebih dari mengekori berbagai kegiatan Ravi. Mulai dari pelajaran politik, sosial, ekonomi, sampai latihan sihir dan ilmu bela diri, semua kegiatan sang Pangeran sudah melekat di kepala gadis itu. Beberapa kali Ibunda Ratu menawarkan pelajaran tata krama padanya, tapi dengan tegas Putri Mahkota gadungan ini menolak. Padahal Ravi pernah bilang kalau dia sudah bosan diikuti Ellen kemana-mana. Lagi pula sepertinya waktu berlalu cepat bagi keduanya.
Ellen beranjak bangkit ketika Ravi meletakan gelas setengah kosongnya di meja. Lelaki itu mengekori sosok gadis itu dengan ujung matanya. Tak lama kemudian sang Pangeran mengangkat bokongnya, menyusul perempuan yang tengah berdiri di depan kebun bunga lili.
“Kau menyukainya?” Ravi berdiri sejajar dengan istrinya.
Ellen menoleh, lantas ia tertawa kecil tiba-tiba, dan Ravi kebingungan sendiri, Ia tidak melihat alasan kenapa sang Putri tertawa tiba-tiba. Sementara itu Ellen masih menatap netra gelap yang keheranan itu, senyumnya masih mengembang.
“Kenapa?” Pria itu bertanya lagi, kali ini menanyakan alasan dibalik tawa kecil Ellen.
“Kenapa kau berpikir bahwa aku akan menyukai bunga-bunga ini?” Ellen berdeham dan berhenti tertawa, tapi matanya masih menyipit dan ia mengulum senyum. “Apa karena aku memandangnya terus-terusan?”
“Apa ada alasan lain yang membuatmu tidak suka bunga lily?” Ravi mengalihkan atensinya, menatap pada kelopak warna-warni yang tersusun dalam barisan kebun yang rapi.
Tadinya Ravi mengira bahwa Ellen begitu menyukai kebun lily yang mereka sambangi pertama kali setelah memberi salam pada raja. Karena setelahnya mereka kerap kali pergi ke tempat ini untuk menghabiskan waktu sambil menikmati teh dan kue. Namun sepertinya ia sudah salah sangka. Dari pernyataan gadis itu, sama sekali tidak tersirat minat berlebih pada bunga-bunga lily yang sedang mekar dengan cantiknya.
“Lily terdiri dari empat warna, putih, merah, kuning, dan oranye.” Ellen tersenyum tipis, atensinya masih fokus pada bunga-bunga yang bergoyang seirama diembus angin musim panas. “Mengingat bahwa aku sering sekali menerima lily oranye di depan publik sama sekali tidak menyenangkan. Itu menandakan bahwa citra diriku sama sekali tidak bagus di masyarakat.”
Ravi mengangguk paham, atensinya tiba-tiba terpaku pada sebaris lily oranye. Dia benar-benar tidak tahu kalau sebelumnya Eleanor sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti itu. Padahal, Ayahnya adalah salah satu pahlawan pendidikan sihir nasional yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Memberikan lily oranye pada seorang gadis bangsawan sangat tidak sopan.
“Mungkin sikapku kelewat buruk di mata mereka.” Ellen melanjutkan, kepalanya mengingat setiap detik-detik penghinaan yang ia terima di New York dulu. “Tapi di antara lily oranye yang berdatangan, terkadang ada juga yang masih mengirimiku warna putih, atau kuning.”
Ravi bergeming, menyimak dalam keheningan.
“Mereka membenciku, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan dalam pelampiasannya masih berbentuk lily yang cantik dan harum. Bukankah aku harus berterimakasih pada bunga-bunga ini? Karena mereka ada, yang aku terima adalah lily oranye, bukan bangkai hewan, atau apapun yang lebih menakutkan dari ini.”
“Kau berpikir mereka membencimu, atau mereka benar-benar membencimu?” Ravi menoleh, menatap langsung pada sorot karamel yang entah sejak kapan berubah sendu.
“Mungkin keduanya?” Ellen terkekeh lagi. “Aku di sini bukan karena menyukai lily, melainkan agar bisa lebih mensyukuri hidupku selama ini. Yah, siapa tahu aku akan mati muda, ‘kan?”
“Memangnya siapa yang berani membunuhmu, Eleanor?” Ravi menarik senyum miring, wajahnya setengah mengejek. “Bahkan menyentuh sehelai rambutmu pun mereka tidak bisa.”
“Kenapa kau yakin sekali?” Ellen memutar bola matanya malas, dia tahu betul kalau ucapan Ravi hanya akan berakhir sebagai isapan jempol belaka.
“Yah, siapa juga yang akan macam-macam pada Putri Mahkota?” Ravi masih tampak yakin.
“Kau tentu bisa macam-macam padaku.” Sorot mata Ellen berubah serius, senyuman di bibirnya menghilang seketika. “Termasuk membunuhku.”
“Apa?”
Wanita itu berbalik, meninggalkan Ravi dengan tanda tanya besar di kepalanya. Dalam diam lelaki itu menyadari keanehan yang terjadi pada Ellen. Bukan cuma sekali perempuan itu berkata bahwa Ravi akan membunuhnya nanti. Memangnya akan ada peristiwa macam apa yang membuatnya tega berlaku demikian? Putra Mahkota membatin heran. Tanpa sadar lantas ia berbalik, lalu mengejar Ellen yang sudah berada jauh di depan. Langkah kaki jenjang milik lelaki itu memangkas jarak dengan sangat cepat.Tak butuh waktu lama bagi sang Pangeran untuk menghentikan Ellen dn menggapai tangannya.
“Apa maksud ucapanmu barusan?”
Ellen terhenti tiba-tiba, tepat saat tangannya terasa ditarik tiba-tiba. Wajah Ravi adalah hal pertama yang menyapa netra karamelnya saat ia membalik muka. Tatapan tajam dengan mimik wajah serius itu menghipnotisnya tiba-tiba. Sepertinya Ellen sudah salah bicara.
“Kenapa kau terus bicara soal aku yang akan membunuhmu, Eleanor?” suara bariton ravi menyapa rungu Ellen lagi. “Kau berhutang penjelasan padaku.”
Ellen mengerjap beberapa kali, antara merasa lemah sekaligus terharu, juga keheranan atas sikap tak tertebak Ravi. Namun, hatinya tak boleh goyah--sama sekali tidak. “Kenapa kau peduli?”
“Aku suamimu, Eleanor. Bisakah kau mempermudah hubungan suami istri tanpa dasar cinta ini?” Suara ravi terdengar tegas dan menuntut.
Pernikahan tanpa dasar cinta. Kalimat itu terus terngiang di kepala Ellen. Pernikahan sialan yang akan membunuhnya kalau Ravi sama sekali tidak mencintainya. Tunggu, itu artinya Ellen memiliki kesempatan. Sebuah peluang yang mungkin bisa menyelamatkannya di dunia fana ini. Mereka memang tidak saling mencintai sekarang, karena sejak awal hati Ravi diciptakan untuk Isabella. Namun, bukan tidak mungkin bahwa perasaannya akan berubah. Ellen datang lebih dulu, jadi dia bisa menginvasi Ravi lebih dulu. Mungkin ini bisa jadi rencana B. Seandainya dia tidak bisa kabur, maka dia harus membuat Ravi jatuh cinta padanya.
“Aku … akan membuatmu jatuh cinta padaku.” Ellen berucap pelan, mendesis, hampir seperti berbisik.
Lantas detik berikutnya bola mata hitam Ravi melotot.
“Kau barusan tanya, ‘apa aku bisa mempermudah hubungan suami istri tanpa dasar cinta ini’. Aku baru saja menjawabnya.” Ellen mengukir senyum tipis. “Hati-hati, karena aku akan membuatmu menjatuhkan hatimu padaku.”
Ravi tertawa, dia benar-benar tampak tidak percaya dengan ucapan Ellen barusan. “Kau terlihat sangat yakin.”
“Tentu, karena cinta akan mempermudah segala sesuatu yang rumit.”
◇•◇•◇
Hai, gimana kabar kalian? Hari ini aku tetap double up, kok! Hehe. Pokoknya jangan lupa untuk tap love dan membaca terus kelanjutan kisah cinta Ravi dan Ellen, ya~! See you in next chapter!