Chapter 08: Closer to You

1272 Kata
Terbiasa dengan teknologi dan ponsel, Ellen harus bersusah payah menahan hasrat milenialnya. Gadis itu tidak mau tahu seberapa kuno peradaban tempatnya bernapas sekarang, atau seberapa kecanduannya ia dengan internet. Yang jelas Ellen sedang sangat bosan. Disekelilingnya cuma ada pekarangan, pepohonan, dan bunga-bunga yang hanya bisa membuatnya terkesan saat pertama kali datang. Sementara sisanya, nihil. Tidak ada yang bisa Ellen lakukan selain membaca, berjalan-jalan, atau duduk di taman. Sudah beberapa hari ini Ravi kelihatan sibuk dengan urusannya sendiri. Lelaki itu akan masuk ke ruang baca pukul sembilan pagi, keluar untuk makan siang pukul satu, dan kembali ke kamar untuk tidur sekitar pukul delapan atau sembilan malam. Ellen sama sekali tidak tahu apa yang Ravi lakukan disana, tapi pria itu tampak sibuk. “Putri, mau jalan-jalan ke luar?” perpaduan suara bariton dan sopran milik Jayden mengalun khas, sangat unik dan identik sekali dengan dirinya. Ellen cuma menggeleng lemah. Perempuan itu menopangkan kepalanya pada pegangan sofa dan menatap lelaki jangkung itu sekilas. Jayden Carter adalah ksatria pelindung yang ditugaskan untuk menjaga Ravi, namun ia dipindah tugaskan untuk melindungi Ellen sekarang.  “Jay, kau tahu tidak apa saja yang dilakukan Ravi di ruang baca?” Ellen mendesah bosan, “Apa dia melakukan sesuatu yang penting?” Jayden tampak berpikir sebentar, “Kurang lebih begitu, Tuan Putri.” “Sesuatu seperti apa?” Ellen menyilangkan kaki, mengubah posisi duduknya. “Apa dia sedang menciptakan alat pencetak uang? Atau meneliti pendetektor emas?” Jayden tertawa renyah, “Tidak, Putri. Sama sekali tidak. Kenapa Anda bertanya seperti itu?” lelaki itu melanjutkan, “Sampai detik ini kita masih belum bisa mengalahkan kekuatan bangsa Trevian, jadi Putra Mahkota menyediakan waktu luang khusus untuk mempelajari ilmu perang.” “Anda ini suka sekali emas dan uang, ya, Putri?” Jayden lantas tertawa renyah. “Eiy, jangan mengejek begitu,” Ellen mencebik lucu, “Habisnya hampir semua benda di sini berkilauan dan berlapis emas. Mana tahu Ravi punya keahlian khusus seperti itu, ‘kan?”  “Aku, ‘kan, cuma tanya. Ngomong-ngomong, pendetektor emas itu apa, Putri?” Jayden menatap Ellen lekat-lekat dengan mimik kebingungan, “Apa sejenis perkakas untuk menggali tanah?” “Maksudmu cangkul?” kening Ellen mengernyit bingung, “Apa cangkul disini bisa digunakan untuk mendeteksi emas?” Jayden menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Eum, yah, tidak seperti itu juga, Putri.” lelaki itu berhenti sebentar, “Emas ‘kan tertimbun berlapis-lapis struktur tanah, dan biasanya ditambang dengan cangkul dan mantra pekerja keras.” “Oh, jadi kalian menambang emas dengan cangkul?” Ellen mendadak jadi terkesima, “Bukankah cangkul itu perkakas yang digunakan untuk berkebun dan bertani?” “Ya, dan untuk mengambil emas.” tukas Jayden cepat. “Lalu bagaimana cara kalian tahu kalau di dalam lapisan tanah itu terdapat emas?” tanya Ellen. Pemuda itu berpikir sejenak, “Sepertinya para penambang cuma memprediksi berdasarkan teori pertambangan.” “Nah, itu fungsinya diciptakan detektor emas. Alat ini posturnya agak mirip cangkul tapi lebih canggih, fungsinya mendeteksi apakah di bawah tanah ada emas atau tidak.” Ellen mencoba menjelaskan sebisanya, dia lupa kalau Orient pasti tidak punya teknologi semacam itu. “Jadi cangkul bisa digunakan untuk mendeteksi emas juga? Whoa, siapa yang menciptakan cangkul secanggih itu?” Ellen berseru kesal, “Detektor emas, Jay, bukan cangkul!” Jayden tertawa, tapi Ellen malah mengalihkan tatapannya dan melihat keluar jendela. Perempuan itu memilih meratapi bugenvil yang gugur tertiup angin dari pada wajah tertawa Jayden yang sarat akan kesedihan. Mungkin teringat jajahan tak kasat mata Bangsa Trevian. Pasalnya lelaki itu memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Menghadapi kenyataan bahwa Orient masih dibawah kekuasaan Trevian adalah sesuatu yang menyedihkan bagi ksatria pemberani seperti Jayden.  “Putri, bagaimana kalau Anda menemani Putra Mahkota di ruang baca?” Jayden bangkit tiba-tiba, membuat Ellen hampir terlonjak kaget. Sejauh ini kondisi Orient sama persis dengan deskripsi yang tercantum di naskah. Mulai dari bau angin yang khas bercampur energi sihir, kondisi alam yang unik, bahkan sampai kisah kukungan bangsa Trevian terhadap kerajaan ini. Ellen kemudian mengangkat bokongnya dari sofa, sementara Jayden menatapnya keheranan. “Kenapa diam saja?” Ellen berbalik sebentar, “Katanya mau mengantarku pada Ravi?” Jayden terkekeh, kemudian mengekor Ellen keluar dari ruang tengah. Mereka menyusuri sebuah koridor panjang yang menghubungkan antara satu istana ke istana lainnya. Gadis itu melangkahkan kakinya pelan sambil melompat kecil sesekali. Renda putih dari gaun peach tiga per empat  yang dikenakan Ellen terlihat berayun santai. Wanita yang kini bergelar putri mahkota itu terlihat sangat feminim dengan gaun bermodel sabrina.  “Jay, boleh aku tanya sesuatu?” Ellen membuka percakapan, keheningan berbalut suara sepatu yang mengetuk-ngetuk lantai semakin membuatnya bosan. Jay tidak menjawab, tapi dia menunggu pertanyaan Ellen. Ellen melanjutkan, “Ravi itu orang yang bagaimana?”  Langkah Ellen berhenti di depan sebuah ruangan besar dengan kanopi berbentuk kubah di pintunya, sementara Jayden tidak jadi menjawab. Bangunan yang berada di antara istana Sirius dan Spica itu memiliki desain unik serupa separuh bola. Pintunya terbuat dari kaca berbingkai kayu yang terukir cantik. Jayden mengangguk pelan, mengisyaratkan pada si Tuan Putri untuk masuk ke dalam. Ellen membuka pintu, kemudian melangkahkan tungkainya masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan rak-rak buku. Di bagian tengahnya terdapat sebuah meja bundar besar yang terbuat dari kayu berlapis kaca, dengan beberapa kursi di sekelilingnya. Begitu mengedarkan pandangannya, gadis itu langsung bisa menangkap sosok Ravi. Satu-satunya orang yang duduk di ujung meja, bersebelahan langsung dengan jendela. “Ravi!” Ellen berseru senang, kemudian berlari kecil menghampiri Ravi yang berdecak kesal di tempatnya. Lelaki itu menarik napas, kemudian mengembalikan fokusnya pada sebuah buku tebal yang tengah ia lahap. Suara ketukan sepatu Ellen menggema sampai ke seluruh ruangan, dan Ravi benar-benar terganggu. “Hai,”  Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ellen begitu sampai di depan Ravi. Dengan cengiran khas yang menampilkan sederet gigi yang tersusun rapi, gadis itu tersenyum secerah matahari. Ravi tidak mengucapkan apa-apa, tapi rasa kesalnya tahu-tahu menguap ketika obsidiannya menangkap lengkung manis di bibir Ellen. “Ada apa?” Pada akhirnya cuma itu juga yang terlontar dari mulut Ravi, “Kau bosan?” Ellen mengangguk semangat. Perempuan itu kemudian duduk di seberang Ravi, menatap penasaran pada buku tebal bersampul cokelat yang sedang dibaca suaminya.  “Whoah!” Detik berikutnya mata Ellen berbinar-binar, seolah baru saja menemukan serpihan emas di balik lembar kertas kusam itu. Ravi menggeleng heran, kemudian pria itu bertopang dagu. Memerhatikan Ellen yang masih terkesan pada buku yang belum selesai ia baca itu. Sudut bibir Ravi tertarik sedikit, kemudian muncul ketertarikan kecil pada perilaku tak terduga istrinya. “Kenapa? Kau suka buku-buku berat seperti ini juga?” Ravi akhirnya melontarkan pertanyaan, “atau Jayden yang menyuruhmu pura-pura suka?” Jayden mendelik kesal pada Ravi, kemudian si Putra Mahkota membalasnya dengan tatapan tajam setengah melotot. “Ma-mana berani saya melakukan hal seperti itu, Yang Mulia!” protes Jayden ciut. Ellen tidak menanggapi, akan tetapi dia terus membaca buku itu sampai beberapa lembar kedepannya. Ravi mulai serius, kali ini dia benar-benar mau tahu apakah Ellen benar-benar tertarik pada teori taktik perang. “Kau mengerti pembahasan buku itu, Eleanor?” Ravi mengerutkan keningnya, menunggu jawaban Ellen. “Tentu saja aku tidak mengerti. Aku cuma terkesima pada kemampuanku sendiri.” Ellen menjawab dengan antusiasme tinggi, “Panggil Ellen saja, by the way.”  Ravi keheranan dengan jawaban wanita itu, “Terkesima pada apa?” Ellen melanjutkan dengan semangat, “Ternyata aku bisa membaca tulisan di sini!” Ravi menepuk dahi, sementara Jayden bersusah payah menahan tawa sampai terbatuk-batuk. Dalam hati sang Putra Mahkota meringis, di mana Ayahanda menemukan perempuan ini?   ◇•◇•◇   Hai. Aku. Baru. Saja. Triple. Update. Happy reading!! See you on next chapter~! Jangan lupa tetap dukung Ellen dan tap LOVE. //send kiss//
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN