Setelah berkutat dengan lemari dan meja rias baru akhirnya Ellen keluar, menuju Aula Orion yang dibicarakan Ravi tadi. Akan tetapi timbul satu masalah, ia sama sekali tidak tahu arah mana yang harus dituju setelah keluar dari kamarnya. Gadis itu berhenti didepan pintu, kemudian celingukan mencari seseorang yang bisa dimintai tolong.
“Anda membutuhkan sesuatu, Tuan Putri?”
Sosok Margareth tahu-tahu berdiri di belakang Ellen, jadi begitu ia berbalik wanita setengah baya itu sudah tersenyum. Ia menatap sang Putri dengan tatapan ramah. Senyuman Margareth mengingatkan Ellen pada bibi penjual roti di persimpangan jalan depan apartemennya.
“Boleh minta tolong?” Ellen membalas senyuman itu tak kalah ramah.
Margareth mengangguk paham, “As your wish, my princess.”
Demi apapun, bulu roma Ellen kompak bangun saat mendengar panggilan itu. Bukan tidak mensyukuri berkat yang menjadikannya seorang Putri, melainkan terselip ancaman kematian yang ia takuti. Dia ingin pulang saja, kalau bisa menghilang sekarang juga dari dunia antah berantah ini. Ingin sekali ia mengganti pertanyaannya, bukan "Di mana letak Aula Orion?", melainkan "Di mana gerbang keluar istana sialan ini berada?".
Andai semua kalimat itu bisa meluncur sebebas-bebasnya ….
“Ravi menungguku di Aula Orion dan katanya kami harus memberi salam pada Yang Mulia Raja.” Tukas Ellen pada akhirnya.
“Saya mengerti, Putri, silahkan lewat sini.” Margareth meletakan setumpuk handuk kecil yang dibawanya tadi ke sebuah troli di sudut lorong, kemudian ia memimpin jalan untuk Ellen.
Ellen melewati sebuah lorong panjang, yang berakhir pada sebuah ruang tengah bergaya barat. Kemudian Margareth membawanya keluar dari bangunan besar itu dan melewati jalan setapak kecil. Disekitar mereka terdapat pagar-pagar rendah yang ditumbuhi mawar rambat. Tepat di atas mereka tersedia sebuah kanopi kecil berwarna biru pucat yang tembus pandang, memperlihatkan warna-warni bugenvil yang saling bertumpukan.
Melihat Ellen yang begitu terpana pada bunga-bunga, Margareth tersenyum tipis, “Musim semi memang indah, ya, Tuan Putri.”
Ellen lagi-lagi terhenyak akan sesuatu, bahwa terdapat perbedaan waktu yang sangat jelas antara Orient dan New York. Hal terakhir yang tertinggal di benak sang Putri adalah daun-daun berguguran, dan salju yang turun lebat di New York. Tapi di Orient, bunga-bunga justru tengah bermekaran dengan indahnya. Sampai di penghujung lorong, Margareth pamit.
“Selamat datang, Eleanor Thyra Orient. Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Putri Mahkota.”
Ellen menatap kepergian Margareth, kemudian berbalik dan mendapati Ravi sudah berdiri di depannya. Ravi mengulurkan tangannya, kemudian mengambil buku-buku jari Ellen dan mengecupnya lembut. Gadis itu menatap Ravi dalam diam, kemudian tersenyum kikuk, selamat datang di neraka, batinnya.
Ravi menggamit tangan Ellen, kemudian membawa gadis itu melangkah beriringan sampai ke depan Aula Orion. Itu adalah kali pertama Ellen melihat sebuah singgasana raja secara langsung. Aula Orion merupakan pusat dari seluruh kegiatan istana, tempat di mana pertemuan-pertemuan penting dilakukan, serta ballroom utama yang biasanya digunakan untuk acara-acara resmi kenegaraan.
“Kuharap kau tidak akan canggung, atau pingsan untuk yang kedua kali.” Ravi mendelik tajam. Matanya yang gelap itu memicing pada manik karamel Ellen.
Sementara itu Ellen cuma menghela napas, berharap kalau acara pemberian salam pada raja akan berlangsung singkat, meski kelihatannya agak mustahil. Sebuah pintu baja besar berlapis emas dijaga oleh satu regu pasukan khusus. Mungkin para prajurit itu adalah pasukan pengawal raja, pikir Ellen. Di antara pria-pria berotot nan gagah itu ada seseorang yang lebih dominan, besar kemungkinan bahwa orang itu adalah kepala pasukan pengawal raja.
“Kemuliaan dan Kejayaan bagi Putra dan Putri Mahkota.”
Ravi mengangguk, sementara Ellen tampak berpikir keras. Seorang pria yang lumayan tampan tengah membungkuk di depan mereka berdua. Tubuhnya tinggi tegap, dilengkapi persenjataan yang siap sedia bila dibutuhkan. Canggung. Hanya satu kata itu saja yang terlintas di benak Ellen saat menatap orang lain membungkuk padanya. Lantas yang ia lakukan pada detik berikutnya sukses membuat rahang Ravi terjun bebas.
“Tuan, jangan membungkuk seperti itu, kami tidak--”
“Eleanor.” Ravi menarik lengan atas wanita itu, yang kemudian langsung membuat Ellen mundur beberapa langkah. “Tunjukkan rasa hormatmu pada Putri Mahkota, Jayden Carter.” Sekarang kalimatnya ditujukan pada pria gagah itu.
Lelaki yang dipanggil Jayden itu tampak kaku, mungkin dia terkejut dengan ucapan bernada dingin yang keluar dari mulut pangeran sialan ini, begitu pikir Ellen. Namun ternyata tidak, ia dengan gagah membungkuk lebih dalam pada sosok yang sekarang sudah menjadi Putri Mahkota Orient, ya, siapa lagi kalau bukan Ellen.
“Eiy, sudah-sudah, jangan--”
“Lebih tunjukkan rasa hormatmu, Jayden. Apa kau tuli?” Suara Ravi menginterupsi, nadanya dingin dan tegas.
Jayden lantas berlutut. “Mohon terimalah hormat saya, Tuan Putri.”
Ellen terhenyak, ia memicing tajam pada Ravi dan buru-buru ikut merendahkan dirinya agar tinggi tubuh mereka sejajar. Ravi berdecak, dan Jayden tahu betul apa artinya itu. Sebelum sang pangeran membuka mulut tajamnya Jayden tahu-tahu bersujud di kaki Ellen.
“Hei, berdiri!” Ellen berseru heboh, dia hampir menarik Jayden untuk bangkit kalau Ravi tidak menahannya.
“Ada apa denganmu?” Ravi menarik napas dalam-dalam, mencoba menelan emosinya. “Kau tidak tahu fungsi mahkota di kepalamu itu?”
Ellen meraba kepalanya.
“Jayden, bagaimana menurutmu?” Sang pangeran bertanya lagi, sementara Jayden masih bersimpuh di kaki Ellen.
“Tidak ada yang boleh membuat calon ratu merasa dirinya rendah, Yang Mulia.” Jayden menjawab tegas. “Mohon terima hormat saya, Yang Mulia Putri Mahkota.”
Ellen menatap kosong semua objek di depannya. Perasaannya campur aduk, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ini adalah kali pertama perempuan itu merasa sangat dihormati.
“Kau dengar, ucapannya Eleanor?” Ravi menginterupsinya lagi. “Dia menunggu perintahmu.”
Ellen menatap mata hitam legam yang entah sejak kapan mulai menghangat itu.
“Jadilah pendamping yang pantas untukku. Ini perintah.” Sudut bibir Ravi tertarik sedikit, dan Ellen harus mengutuk diri berkali-kali setelahnya. Karena tanpa sadar, senyumnya ikut muncul. Ternyata begini rasanya dihargai.
“Aku menerima hormatmu, Jay, berdirilah. Lain kali bersikaplah wajar seperti biasa.”
T-tunggu! apa ini artinya aku mulai menerima peranku? Yang benar saja! Sadarlah, Ellen, kuasai dirimu.
Ravi tampak tersenyum puas, kemudian memberikan anggukan kecil pada Jayden sehingga lelaki itu tidak lagi tampak segan untuk berdiri.
“Kau adalah perempuan nomor dua paling dihormati seantero kerajaan. Jadi, bawalah dirimu seperti layaknya seorang Putri Mahkota. Paham?” Ravi bicara lagi. Kali ini nada suaranya terdengar melunak dan tidak sedingin tadi.
Diam-diam Ellen mengulum senyum, kemudian mengekor Ravi memasuki Aula Orion untuk memberi salam kepada Yang Mulia Raja. Sekarang aku mengerti, alasan mengapa anggota keluarga kerajaan begitu menjunjung tinggi harga diri mereka. Tak lain dan tak bukan adalah karena posisi yang harus mereka jaga di hadapan publik.
◇•◇•◇
Nah, gimana? Jadi pada akhirnnya Ellen akan tetap jadi putri mahkota. Ada yang penasaran? Yuk dukung Ellen dengan cara tekan LOVE untuk FAKE PRINCESS LOVE. See you on next chapter~!