Chapter 05: I Don't Wanna Be With You

1131 Kata
Sejauh ini Ellen masih harus mewaspadai seluruh gerak-gerik Putra Mahkota. Pasalnya, dari semua orang, hanya Ravi yang gerak-geriknya paling mencurigakan. Pantas saja dia yang paling berpotensi membunuh si Putri Mahkota, yang sekarang sedang Ellen perankan. Beberapa waktu lalu lelaki itu menyebutnya bisu dan tidak punya tata krama, kemudian sesaat sebelum memberi salam tiba-tiba saja si mata elang itu mengecup buku-buku jarinya. “Ravi, jangan cepat-cepat!”  Ellen berusaha mengimbangi langkah kaki jenjang pria itu yang terlihat sangat buru-buru. Si Putri Mahkota gadungan tampak kesulitan mengimbangi kecepatan Ravi yang didukung tungkai panjangnya. Sambil mengangkat gaun tinggi-tinggi, perempuan itu juga mempercepat langkah. “Ravi!” Dia berseru lagi, “Ravi, tunggu! Hhh!” Ravi berhenti, Ellen terengah-engah. Semilir angin musim panas yang kering menyapa mereka, sementara beberapa pohon meranti yang tumbuh tinggi rindang mengelilingi mereka. Membiaskan sinar mentari yang menyorot tepat di atas kepala menjadi cercah cahaya keemasan di balik daun-daun yang bergemerisik. Tanah kering dengan sedikit rumput yang mereka pijak ditumbuhi beberapa tanaman paku-pakuan. “Aku. Hhh. Tidak. Hhh. Kuat. Hhh. Lagi. Hhh.” Ellen menelan salivanya pada tenggorokan yang kering.  “Pasukan Ayahanda Raja sudah di depan, kalau kau lambat seperti ini bisa-bisa kita tertinggal jauh.” Ravi berdecak dan mendengkus sekaligus. “Lagi pula, kenapa pakai gaun untuk berburu?” “Ya, mana aku tahu kau mau mengajakku berburu!” Ellen masih sibuk mengambil napas, megap-megap seperti gurami nyasar ke darat. “Aku sudah bilang padamu untuk memakai pakaian yang simpel dan ringan, ‘kan?” Ravi berkacak pinggang, beberapa prajurit yang mengikutinya berbaris rapi beberapa meter di belakang. “Ayo, cepat!” Ellen menarik ujung kemeja Ravi, kemudian menatapnya memelas. “Tidak bisa naik kuda saja?” “Kau bahkan tidak bisa duduk di atas kuda dengan benar, Eleanor.” Ravi mendesah lelah.  Dia teringat bahwa keduanya hampir jatuh saat berkuda dari Istana Spica ke Barack Pegasus. Salahkan wanita merepotkan itu yang tiba-tiba melonjak sehingga membuat hewan berkaki empat itu terperanjat dan lari tidak karuan. Alasan tersebut juga yang membuat mereka harus berburu tanpa kuda, dan  hasilnya? Ellen malah kelelahan padahal baru setengah jam mereka memasuki hutan. Jangankan membawa pulang hasil buruan, keluar hutan dengan saja sepertinya sulit bagi sang Putri. “Eleanor, ayo.” Ravi melirik pada perempuan itu, tapi yang dilirik tajam malah merosot santai dan duduk bersandar di bawah pohon meranti. Ellen menatap manik kelam yang tertuju padanya, heh, tajam sekali sampai ingin kucolok.  “Eleanor,” Ravi melanjutkan ucapannya, “jangan membuatku terpaksa meninggalkanmu di sini.” Ellen memutar bola matanya malas, “Ya, ya, ya, tinggalkan saja. Biarkan aku dimakan harimau atau beruang, paling besok jadi bangkai.” “Tidak ada yang seperti itu di hutan istana, ck!” Ravi berbalik, menarik tangan Ellen yang masih bersandar di batang pohon meranti. “Ayo bangun, merepotkan sekali!” “Kalau begitu tinggalkan saja aku!” Ellen menepis tangan pria itu. “Jemput aku di sini kalau sudah selesai. Jangan lupa bawakan air.” Ravi tertawa hambar, menunjukkan sarkasme pada perempuan itu. “Oh begitu, ya?” Dia mendengkus pelan. “Baik, kita lihat seberapa lama kau bisa duduk di dekat sarang ular.” Mata Ellen membola, secepat kilat dia bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk gaunnya. “Oke, ayo jalan.” Sang Pangeran kembali mencangklong set anak panah dan busurnya ke punggung, menarik napas panjang. Sementara Ellen mengerjap beberapa kali sebelum menatap Ravi dengan senyuman yang dibuat-buat. Satu pertanyaan terlintas di kepalanya, kenapa seorang Putri Mahkota harus ikut kegiatan berburu?  Baru beberapa langkah, Ellen terhenti lagi. Dari sudut bibirnya tertarik lengkung miring yang diarahkan pada punggung Ravi. Kurasa aku tahu kenapa harus. Sekarang berburu, besok memanah, lalu menggunakan pedang. Mana tahu aku bisa menebas kepalanya sebelum dia membunuhku! “Memangnya kau tidak takut kalau aku serba bisa?” Ellen duduk lagi di rerumputan rindang, di bawah pohon besar. “Kenapa?” Ravi menarik napas, tapi akhirnya ikut duduk di sana. Ellen melirik sekilas, “Bagaimana kalau nanti aku membunuhmu?” “Baru dua minggu, dan kau sudah punya rencana membunuh suamimu.” Lelaki itu menyandarkan punggungnya pada dahan besar pohon itu. “Apa aku seburuk itu?” “Apanya?” “Kau takut padaku?” Ravi bertanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Ellen. “Jangan khawatir, aku belum gila.” Wanita itu mendengkus, kemudian menatap langit biru cerah dengan gumpalan awan putih. Sekarang memang belum, tapi nanti. Apa aku harus duduk diam saja sambil menunggu kematianku? Memangnya itu masuk akal? Dasar psikopat gila! “Yah, mana tahu suatu saat nanti kita akan saling memburu.” Ellen ikut menyandarkan tubuhnya, sementara Ravi tampak memejamkan mata. Mungkin terlelap, atau dia hanya pura-pura. “Kalau kau mendengarkan, tolong ingat ini. Aku tidak akan menyerah dan mati dengan mudah. Jadi, berusahalah lebih keras kalau kau ingin membunuhku suatu saat nanti. Atau … abaikan saja aku, dan hiduplah seolah diriku tak pernah ada.” “Apa gosip tentangku separah itu di luaran sana?” Ravi berdeham pelan. “Aku tidak tahu apa saja yang kau dengar, tapi sungguh, aku bukan orang yang sekeji itu.” Aku benar-benar tidak yakin padamu, tahu! “Kalau kau memang tidak yakin, kenapa malah menyetujui pernikahan ini?” Pria itu masih memejamkan mata, dan itu terlihat sangat menyebalkan. “Sayang, sekarang sudah terlambat, Eleanor. Mungkin ini yang dinamakan takdir.” Ellen terhenyak saat Ravi seolah bisa membaca pikirannya. Kalau takdir benar-benar sekejam ini, lebih baik aku jadi batu saja di kehidupan yang berikutnya. Aku … benar-benar tidak mau bersamamu, Ravilliam. Semoga hatiku yang lemah ini tetap kukuh dan tidak akan berkhianat. ◇•◇•◇ Uhuk, Ravi sama El pergi berburu di hutan istana. Jadi apakah Ellen akan mulai menerima semua kenyataan ini? Atau dia akan lari lebih jauh lagi? Nah, jangan kemana-mana! Langsung tekan LOVE supaya kamu dapat update terbaru FAKE PRINCESS LOVE. Kenapa? Karena cerita ini akan di update setiap hari, lho! Iya, kalian enggak salah baca. SETIAP HARI. Kabar baiknya lagi ... akan ada lebih dari satu chapter yang di update. GImana? Seru banget 'kan? So, semoga kalian suka, and see you on next chapter~! Oh, iya, sampai lupa! Aku mau rekomendasiin ke kalian cerita yang seru banget ini. Author: Depa CBS Judul : Romancehip Nessa menyimpan perasaan sejak lama terhadap Gama. Cowok dengan tingkat kecerewetan maksimal. Semua menyebut Gama adalah Killer Boy. Kata-katanya setajam belati. Tapi kenapa Nessa malah bisa menyukainya? Di sisi lain, ada Anna -sahabat Nessa- terjebak dengan sang mantan yang notabene adalah kakak dari Nessa. Ia masih susah move on pada mantan terindahnya, meski bibir selalu mengatakan ia sudah lupa pada perasaannya terhadap Juna. Sementara seseorang yang tak disangka, Niko (teman karibnya sekaligus si tukang rayu dengan lebel gombalan kentang yang krenyes-krenyes) malah menyatakan perasaan pada Anna. Apakah Niko mampu menghapuskan kenangan sang mantan terindah? Kisah persahabatan mereka pun menjadi bumbu pemanis di antara asinnya garam kehidupan.  Oke, jangan lupa mampir ya~!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN