If you are not to become a monster,
you must care what they think.
If you care what they think,
how will you not hate them,
and so become a monster
of the opposite kind? From where then
is love to come—love for your enemy
that is the way of liberty?
From forgiveness. Forgiven, they go
free of you, and you of them;
they are to you as sunlight
on a green branch. You must not
think of them again, except
as monsters like yourself,
pitiable because unforgiving.
Enemies poem By WENDELL BERRY
◇•◇•◇
Ellen pikir Ravi tidak akan serius dengan ucapannya soal ia yang akan menduduki puncak pemerintahan sementara Kerajaan Orient. Perempuan itu mengira bahwa setidaknya mereka akan menyisakan minimal satu atau dua orang yang bisa membantunya di istana. Namun, ternyata tidak begitu. Janggal sekali sebenarnya melihat fakta bahwa Raja Damian ikut turun ke medan perang. Seharusnya mereka cukup mengirim beberapa perwakilan. Umumnya begitu ‘kan?
“Kerjakan tugas-tugas ringan saja. Tanyakan hal yang tidak kau mengerti pada Perdana Menteri. Paham?”
Ravi sedang menyiapkan satu set peralatan memanah dan baju zirah lengkap ketika Ellen masuk. Di belakangnya Frita mengekori, berusaha mengikat pita pada gaun belakang Ellen.
“Kenapa semua orang harus pergi?” Ellen menatap langsung netra kelam yang sibuk dengan anak panahnya.
Sang Pangeran berbalik, kemudian menatap manik karamel itu lekat-lekat. Satu detik kemudian ia tersenyum lembut, sorot kelam itu lantas menginvasi Ellen. Membuat wanita itu mau tak mau ikut tersenyum tipis.
“Jangan khawatir, Ell. Aku janji akan pulang dengan selamat. Begitu juga dengan Ayahanda Raja dan Ibunda Ratu. Bahkan kami memiliki Yonathan.” Ravi menangkup wajah mungil Ellen, kemudian mengecup sekilas bibir kemerahan sang Putri.
Ellen mengulum senyum, lalu melingkarkan tangan pada leher Ravi. Ia tahu bahwa tak semestinya ada perasaan yang menggebu-gebu di antara mereka. Wanita muda itu paham bahwa cinta yang tumbuh karena kebersamaannya dengan Ravi adalah semu. Isabella bisa kapan saja datang dan merebut semuanya. Bukan apa-apa, tapi Putri Mahkota masih ingat, bahwa ia bukan sang pemeran utama.
“Biar aku lihat, apakah Ellen-ku masih demam atau tidak.” Ravi tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. Lelaki itu lantas menarik tubuh Ellen agar lebih mendekat padanya, mengikis habis jarak di antara mereka. “Hmm….”
Ravi menempelkan keningnya langsung pada kening Ellen. Hidung mereka bersentuhan, dan embusan napas masing-masing saling menyapa wajah mereka secara langsung. Terkadang Ellen harus mengakui kesalahan terbesarnya. Bahwa aktingnya sembilan puluh persen akan luntur kalau Raci sudah bertindak semanis ini. Jantungnya akan bekerja lebih keras dan bertalu-talu tanpa henti.
“Aku tidak mau kau pergi.” Ellen akhirnya berucap pelan, “Aku juga tidak siap menanggung Orient di pundakku, walau hanya sementara.”
Ravi tidak menjawab, tetapi ia mengeratkan pelukannya. Lalu pria itu meletakan dagunya di antara ceruk bahu dan tengkuk Ellen, menghirup aroma mawar lembut yang menguar dari sana. “Aku percaya kau bisa.”
“Kenapa Ayahanda Raja juga harus pergi?” Ellen melepaskan pelukannya, lebih memilih untuk menatap langsung bola mata pekat yang biasa mengintimidasi itu.
“Karena kita berada di bawah kekuasaan mereka.” Ravi menjawab singkat. “Selama mereka masih lebih berkuasa, Raja Orient tidak akan ada apa-apanya, bahkan di mata bangsawan Trevian.”
“Karena itu kita berusaha mati-matian untuk menyerang balik? Maksudku merebut kembali semua yang mereka ambil.” Ellen masih menatap Ravi hangat.
Putra Mahkota mengangguk sekali, dengan gerakan lambat yang beriringan dengan perasaan berat di dalam hatinya saat mengiyakan ucapan Ellen.
“Kemuliaan dan Kejayaan bagi Putra dan Putri Mahkota Orient.” Jayden masuk terburu-buru setelah mengetuk pintu tiga kali, yang ia lakukan dengan sangat cepat.
Atensi Ravi sontak teralih sepenuhnya pada prajurit yang tampak siap maju ke garis depan itu. Jayden berdiri tegap, dengan baju zirah lengkap yang melindungi hampir seluruh tubuhnya. “Semua orang sudah siap, dan tengah menunggu Anda, Yang Mulia.”
Ellen menatap dengan mimik kaget. “Kalian akan pergi sekarang?!”
“Ell--”
“Lalu bagaimana aku bisa melakukan semua pekerjaan istana?” Perempuan itu tertawa hambar, “Memangnya Eleanor Thyra terkenal secerdas apa di negeri ini, huh?”
“Secerdas kedua orang tua Anda yang sanggup mengelola lembaga pendidikan sihir resmi terbesar di Orient, Tuan Putri.” Jayden menjawab serius dan sopan.
Rahang Ellen terjun bebas.
“Perdana Menteri Saac akan membantumu, Sayang. Tenang saja.” Ravi memeluk istrinya sekilas.
Lalu detik berikutnya seorang pria tua berperawakan kurus, tinggi, dan berjanggut putih memasuki ruangan dengan sopan. Ia membungkuk dengan sangat lambat disertai penghormatan yang tinggi. Sekali lihat, Ellen tahu betul bahwa orang ini adalah Octavius Saac. Ular licik yang mempunyai peranan besar dalam pembunuhan Eleanor Thyra di dalam naskah.
“Salam hormat saya kepada Yang Mulia Putri Mahkota, Eleanor Thyra Orient. Mohon perintah Anda untuk menjalankan pemerintahan sementara, Tuan Putri.” Octavius tersenyum lebar.
◇•◇•◇
Beberapa hari setelahnya Ellen mulai mengurus beberapa urusan di istana. Ada berkas-berkas kecil yang ia bubuhkan tanda tangan serta stempel kerajaan. Dan sudah selama ini semua orang pergi, Putri Mahkota belum juga menerima kabar baik. Di film-film yang Eleanor mainkan sewaktu jadi aktris dulu, seharusnya ada satu dua orang pembawa pesan yang memberikan kabar soal perang. Tapi nihil, sampai sekarang belum ada yang seperti itu.
“Tuan Putri, bolehkah saya mengganggu waktu Anda sebentar?” Pria tua yang langsung bisa ditebak Ellen sebagai Octavius masuk ke dalam. Ah, padahal baru beberapa hari, kenapa juga sudah mengganggu?
“Ya, apa Anda memiliki kabar baik, Tuan Saac?”
Ellen mengangkat wajahnya, kemudian beralih dari dokumen-dokumen minor yang sudah berani ia kerjakan. Di depannya berdiri seorang pria bertubuh tinggi kurus, dengan mata jernih dan rambut keemasan yang memutih. Sekali lihat saja sang Putri tahu bahwa lawannya sudah muncul.
“Pertama, izinkan saya memperkenalkan diri dengan resmi. Saya adalah Octavius Saac, Perdana Menteri yang bertugas mendampingi Yang Mulia Putri Mahkota Eleanor Thyra Orient.” lelaki yang berusia lebih dari setengah abad itu tersenyum lebar, dan Ellen dapat melihat kelicikan di dalamnya.
“Baiklah, aku yakin masih ingat pertemuan kita beberapa hari yang lalu. Senang bisa bertemu denganmu, Tuan Saac,” Ellen tersenyum sopan, kemudian ia menegakkan duduknya dan bersikap layaknya putri raja. “Apa ada yang bisa kubantu?”
“Ah, tidak, Putri.” Lelaki itu masih tersenyum lebar, persis ular yang menjulurkan lidahnya, “Saya lihat beberapa hari ini Anda terlalu sibuk mengurusi berbagai hal di Orient, jadi saya mau mengusulkan sesuatu.”
“Apa Anda punya kabar dari perbatasan?” Ellen menatap netra biru jernih yang kelihatan tua itu. “Atau Anda punya masalah lain untuk kita diskusikan bersama?”
Octavius mengangguk sopan. “Kurang lebih begitu, Yang Mulia.”
“Apa ini soal dua orang yang berbuat kekacauan di pasar tadi pagi? Atau soal penyebar berita bohong di Oalia?” Ellen berusaha terlihat serius dalam pekerjaannya, itu karena dia benar-benar serius melakukan semua pekerjaan memusingkan ini.
“Masalah pengacau pasar, dan penyebar berita palsu sudah selesai.” Octavius menarik napas lalu melanjutkan, “tapi saya punya usulan lain.”
Ellen masih tersenyum sopan, “Langsung saja, Tuan Saac, waktuku tidak banyak.”
Octavius mengangguk paham, kemudian dia melirik sekilas ke arah pintu. Ellen mengikuti arah pandangan lelaki tua itu. Sumpah, perasaannya sangat tidak enak sekarang. Dia sudah tahu bahwa ini adalah detik-detik kemunculan Isabella. Meskipun tidak seperti alur aslinya, pada kenyataannya Isabella Saac tetap muncul. Tenangkan dirimu, Ellen, jangan panik, jangan gugup … pokoknya jangan tunjukkan apapun, dan beraktinglah dengan sempurna. Wajah datar … wajah datar.
“Tuan Putri, ini adalah Isabella, satu-satunya putri saya.” Octavius memperkenalkan putrinya, “Beberapa hari ini sepertinya Yang Mulia sibuk sekali dengan berbagai urusan di istana, dan saya agak cemas karena Anda hanya seorang diri. Oleh karena itu saya terpikirkan ide ini semata-mata agar Anda tidak kesepian. Saya membawanya kemari untuk menemani Yang Mulia Putri Mahkota sampai semua orang pulang.”
Gadis yang dipanggil Isabella itu maju ke depan, ia menyilangkan kakinya sambil membungkuk dan mengangkat sedikit roknya. Sebuah penghormatan yang mulus dan sempurna sekali.
“Perkenalkan nama saya Isabella Saac. Hormat saya untuk Yang Mulia Putri Mahkota Eleanor Thyra Orient.”
Begitu ia berbicara, suaranya lembut sekali. Seperti mendengar alunan musik klasik yang dipetik dari pemain biola profesional. Kulitnya seputih s**u, tubuhnya mungil dan ramping. Ia tidak terlalu tinggi, mungkin hanya beda satu jengkal dengan Ellen. Wajahnya lonjong dengan dagu lancip, dan bibirnya sewarna ceri. Hal yang paling menarik adalah bola mata gadis itu. Dia sempurna karena matanya biru jernih dan tampak mirip dengan air sungai yang mengalir.
Ellen menahan napas, rasanya seperti ada yang menyangkut di kerongkongannya. Nah, Eleanor, inilah musuhmu yang sebenarnya!
◇•◇•◇
Halo! Maaf ya baru muncul lagi hari ini. Niat hati mau double atau triple update tapi ternyata enggak bisa, hiks! Beneran enggak keburu, akrena ternyata aku masih haru kerja padahal hari ini tanggal merah #uhuk. iya, emang gini amat yah nasib anak korporasi tuh. Percayalah, WFH itu malah makin capek soalnya jadi malah bisa standby dan harus standby, malah enggak jelas dong waktu istirahat, kelar kerjaan dan lakukan hal lain .... sedih aku tuh hiks //ini lagi curhat// #plakk.
Oke. sekarang kita lupakan masalah kerja, yang terpenting adalah ... ISABELLA SAAC SUDAH MUNCUL LHO! Ada yang excited? Kemunculan Bella ini kayak apa yah ... sejenis kunci untuk membuka konflik utama #uwuuu~ jadi gimana? Part ini lengkap lho, aku kasih scene sayang sayangan Ellen dan Ravi ditambah aku kasih scene sebel sebel manjah antara Ellen dan Isabella wkwkwkwk. Baiklahh, jangan lupa tap LOVE untuk terus mendukung ELLEN, and see you in the next chapter~!