Barrack Pegasus, tulisan ke 1588
Salju masih turun lebat sejak beberapa hari terakhir mulai ditelan waktu, terlewat begitu saja tanpa aktivitas berarti. Sejak Octavius membawa putrinya kemari, Isabella selalu saja mengekori aku seperti anak anjing. Sebenarnya mood-ku tidak dalam kondisi yang bagus. Jelas, aku sangat menghindari Isabella dan berusaha terus menjauh. Namun, pesona pemeran utama memang begitu kuat. Bahkan aku sempat merasa ciut saat pertama kali bertemu dengannya.
Sudah beberapa hari juga Ravi pergi. Aktivitasku tak lebih dari pada melakukan hal-hal di luar nalar, seperti melerai pertikaian, atau menyelesaikan masalah-masalah sepele. Aku baru tahu kalau para penduduk boleh mengadukan masalah mereka pada Raja, atau orang dengan posisi tertinggi di kerajaan. Bukan apa-apa, hanya saja aku rasa tidak cukup penting bagiku mengurus pertikaian dua orang pria dari Oalia yang saling berebut lahan. Entah apa yang dipikirkan oleh Octavius, pun Isabella. Mereka tampaknya tidak kunjung lelah mengikuti aku kemana-mana.
Pun begitu aku tetap khawatir, mengapa sampai saat ini belum ada kabar juga mengenai pasukan yang pergi ke perbatasan Orient? Terlebih Raja juga ikut pergi, itu benar-benar sama sekali masih tidak masuk akal untukku. Apakah memang Raja setidak berharga itu di mata mereka? Sudah lama aku tinggal di sini, akan tetapi aku masih saja belum paham betul dengan sistem yang ada. Bahkan, bagaimana kehidupan Eleanor Thyra sebelum memasuki istana pun aku tidak tahu.
Tapi memang ada yang aneh sepertinya, terlebih pada Yonathan yang entah sejak kapan mulai menarik perhatianku. Bukan menarik ‘perhatian’ yang seperti itu, tapi rasanya seperti aku begitu familiar terhadap pemuda itu. Aku merasa pernah mengenalnya, tapi entah dimana. Apakah seluruh memoriku memang tidak bisa ditarik kembali? Padahal, dari pada sisa ingatan di New York, aku lebih membutuhkan memori lamaku di sini. Saat Eleanor masih menjadi putri seorang bangsawan terhormat. Saat Ellen versi Orient masih begitu dikasihani karena kematian kedua orang tua yang begitu mendadak. Juga, karena posisi yang katanya aku dapatkan berkat belas kasihan Raja.
Ada apa dengan hidupku di kerajaan kecil ini? Mengapa semua orang menganggap aku seberuntung itu? Siapakah sosok bangsawan Thyra di mata masyarakat Orient? Pertanyaan-pertanyaan itu begitu sulit dijawab. Pasalnya tiada hal lain lagi yang memenuhi kepalaku selain misi melarikan diri, dan bagaimana cara menghindar dari Isabella Saac. Fakta kecil ini nyatanya masih mengusik pikiranku hingga sekarang. Katanya dulu calon putri mahkotanya adalah Isabella Saac. Para dayang dari istana Antares mengatakan begitu. Lantas kenapa tiba-tiba Eleanor Thyra yang menikah dengan Putra Mahkota?
Pertanyaan itu benar-benar masih belum bisa aku jawab.
Eleanor Thyra, sebelum membaca surat Ravi.
◇•◇•◇
Ellen menatap puas pada tiga anak panah yang tertancap sempurna pada lingkaran merah di papan sasaran. Hujan salju sudah berhenti sejak semalam, akan tetapi suhu udaranya semakin menusuk. Sudah dua minggu sejak kepergian Raja, Ratu, Ravi dan seluruh pasukannya, akan tetapi belum ada satu pun kabar yang terdengar. Kekhawatiran perempuan itu juga bertambah dengan adanya Isabella.
“Putri, silahkan diminum dulu,” Bella tersenyum lembut sambil menyodorkan segelas air pada Ellen, “Kemampuan memanah Anda luar biasa sekali, Putri.”
Perempuan itu cuma tersenyum kecil, tapi tetap menerima air yang di sodorkan tangan ringkih Bella. Sebenarnya Ellen sangat tidak nyaman dengan keberadaan gadis pucat ini, namun Octavius terus saja mendesak untuk melakukan segala sesuatunya bersama-sama. Lagi pula Putri Keluarga Saac itu bukan orang jahat. Justru kelewat lembut dan penuh tata krama. Ellen jadi khawatir, respon seperti apa yang akan Ravi berikan nantinya.
“Bella, bisa tinggalkan aku sebentar?” Ellen mengayunkan tangannya dan sebuah pena melayang ke arahnya, “Aku harus melakukan sesuatu sebelum kembali ke Istana Spica. Kau boleh kesana duluan dan menunggu di ruang tengah.”
“Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Putri Mahkota.” Bella memberikan penghormatan terbaiknya sebelum beranjak dari sana.
Ellen menghela napas, sebenarnya Bella itu sangat penurut. Tapi justru karena itu ia jadi semakin tak tega kalau harus mengusir anak sebaik dan selembut itu. Gadis bersurai karamel itu kemudian membuka sepucuk surat yang sebenarnya sudah sejak kemarin ia terima. Tenda peristirahatan Barack Pegasus juga dibuat lebih tertutup dan hangat, khusus musim dingin, dan belakangan ini Ellen cukup sering menghabiskan waktunya disana. Lantas perempuan itu membuka suratnya.
======================================
Teruntuk yang kucintai, Eleanor,
Bagaimana kabarmu? Disini kami masih harus
berjuang sedikit lagi. Pertemuan yang direncana-
kan tidak berakhir baik. Kaum Trevian menuduh
kami membelot, dan memenjarakan kami untuk
sementara di sini. Tapi jangan khawatir, akan ku-
pastikan kami bisa keluar hidup-hidup dari tem-
pat ini.
Apakah Orient baik-baik saja? Apa kau bisa me-
lewati semuanya sendirian, Ell? Aku sungguh
minta maaf karena menempatkanmu dalam
posisi yang sangat menyulitkan ini. Tunggulah
beberapa hari lagi sampai kami menyerang pa-
sukan perbatasan Trevian dan kembali dengan
selamat.
Kuharap dengan sepucuk surat ini dapat me-
ngurangi kerinduanku padamu. Dan kuharap
ini dapat meringankan bebanmu di sana.
Jangan tidur terlalu malam, dan mintalah
bantuan pada Tuan Octavius kalau ada sesuatu
yang tidak kau mengerti. Aku akan segera pulang.
Aku sangat-sangat-sangat mencintaimu,
Ravilliam,
======================================
Ellen tersenyum tipis begitu mendapati surat dari Ravi. Sesuai yang sudah ia perkirakan sebelumnya, mereka semua akan berada dalam kesulitan. Meskipun wanita itu sudah bersusah payah mengubah cerita, alurnya tetap mengalir sebagaimana mestinya. Takdir tetap mempertemukan Ellen dengan Bella, dan Orient harus kalah agar sang pangeran juga bisa bertemu wanita yang seharusnya menjadi pujaan hatinya.
Aku beserta Orient baik-baik saja, dan aku juga sangat-sangat-sangat-sangat mencintaimu, Ravi. Jadi, pulanglah dengan selamat. Eleanor.
Ellen menuliskan sebaris balasan singkat pada secarik kertas yang ia masukkan ke amplop, kemudian di tuangkannya cairan perak dan stempel untuk menyegel suratnya. Wanita itu kemudian membaca beberapa mantra, lalu meniupkannya pada surat balasan untuk Ravi. Detik berikutnya kilauan cahaya keemasan mengelilingi suratnya dan benda itu mulai bergerak menuju tempat dimana Ravi berada. Putri Mahkota sudah semakin pandai menggunakan sihir, walau sekedar mantra sederhana yang kelihatannya sangat tidak berguna.
◇•◇•◇
Hai, maafkan aku ya, chapter kali ini pendek banget, huhu. Aku entah kenapa enggak bisa mengejar waktu. Tapi aku tetap berharap kalian akan terus mendukung ceritaku ya. Wkwk. Disini aku cuma membahas sedikit soal Isabella. Anggap aja masih perkenalan gitu yak wkwkwk. Pokoknya nanti akan banyak adegan seru antara Ellen dan Isabella. Kalian stay tune yaaa~ Dan jangan lupa untuk terus dukung hubungan Ellen dan Ravi, caranya gampang banget, cukup TAP LOVE pada cerita FAKE PRINCESS LOVE. Serius, dukungan kalian adalah asupan banget buat aku. Haha.
Doakan aku segera longgar supaya bisa update double atau triple kayak kemarin yaa~! See you on the next chapter, guys~! Love you to the moon! //kiss//