Chapter 24: I Wanna See Them

1423 Kata
Nobody knows it's empty, The smile that I wear. The real one is left behind in the past Because I left you there... Nobody knows I am crying. They won't even see my tears. When they think I am laughing, I wish you were here... Nobody knows it's painful. They think that I am strong. They say it won't kill me, But I wonder if they are wrong... Nobody knows I miss you. They think I am all set free, But I feel like I am bound with chains, Trapped in the mystery... Nobody knows I need you. They think I can do it on my own, But they don't know I am crying When I am all alone... a poem by Azumi Zaima ◇•◇•◇   Seminggu setelah balasan surat terakhir dari Ellen, pasukan Orient pulang dengan kekalahan telak. Entah apa yang terjadi disana, akan tetapi Ratu Arielle terluka parah. Begitu pintu gerbang dibuka, sang Putri menghambur pada Pangerannya lebih dulu, memeluknya erat-erat seolah tiada lagi hari esok. Kemudian perempuan itu mencelos, saat fokusnya beralih pada sosok Ratu Arielle yang terbaring lemah dalam dekapan Raja Damian. “Apa yang terjadi?” Ellen membelai lembut wajah sang Ratu yang tak sadarkan diri, “Kenapa Ibunda Ratu bisa begini?” Ravi melengos begitu saja, sementara seluruh istana panik akan keadaan Yang Mulia Ratu. Perempuan itu kemudian mengekor sang Pangeran, berjalan perlahan menuju ke Istana Spica.  Saat itu Ellen langsung ingat, bahwasanya ada Bella yang sedang menikmati teh di teras. Detik itu juga ia was-was, memikirkan bagaimana respon Putra Mahkota terhadap pemeran utama wanita yang sebenarnya. “Siapa kau?”  Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Ravi, dengan tatapan tajam dan nada suara ketus yang membuat siapa saja takut. Bella tersentak, kemudian menoleh lalu mendapati Ravi dan Ellen berdiri di belakangnya. Wanita bersurai pirang itu tersenyum simpul, kemudian bangkit dan berniat memberi hormat pada Putra Mahkota. “Saya Isabella Saac, Pangeran,” Bella hampir menyelesaikan hormatnya, “Selamat datang di-” “Keluar.” Bella menunduk ngeri, “Ma-maaf,” “Kubilang keluar, apa kau tuli?!” Suara Ravi meninggi tiba-tiba, tatapannya nyalang dan tertuju pada Bella, “Apa kau tidak tahu kalau istana ini adalah privasiku?” Bella berdiri kaku, sementara Ellen tercengang melihat kemarahan Ravi yang sangat tiba-tiba itu. Entah apa yang membuatnya naik darah, tapi seharusnya dia masih bisa bersikap sewajarnya pada Isabella. Ada perasaan lega begitu melihat respon sang Putra Mahkota, akan tetapi Ellen benar-benar takut pada kemarahan Ravi. Imajinasinya bahkan sudah melalang buana entah kemana, dia takut kalau suatu hari nanti harus menghadapi kemarahan itu. “Kau masih belum bergerak juga?” Ravi mendelik tajam, mata elangnya menatap sengit, “Aku tidak suka ada orang asing di istanaku.” Ravi lantas bergegas masuk, melangkahkan tungkainya lebar-lebar dan menghilang di balik koridor kamar. Ellen menarik napas, selega apapun perasaannya tapi ia tidak bisa membenarkan sikap ravi yang demikian kasar. Terlebih Bella sangat lembut dan sopan, dia pasti sangat terkejut dimarahi seperti itu. “Bella, aku sungguh minta maaf atas sikap kasar Ravi,” Ellen menggenggam buku-buku jari Bella, kemudian kehilangan kata-kata. Diluar dugaan, Bella terlihat lebih santai daripada Ellen sendiri. Gadis pirang itu kemudian tersenyum tipis dan menarik sang Putri Mahkota ke dalam pelukannya. “Tidak apa-apa, Yang Mulia Putra Mahkota sedang kalut,” Mata jernih Bella menatap Ellen sendu, “Ada banyak masalah yang dihadapi Orient saat ini, wajar kalau Putra Mahkota bersikap seperti itu. Terlebih lagi kudengar Yang Mulia ratu sakit keras.” Bella melepaskan pelukannya, kemudian menunduk hormat pada Ellen sebelum beranjak pergi dari Istana Spica, “Kemuliaan dan Kejayaan Orient bagi Putra dan Putri Mahkota.” Ellen bergeming di bingkai pintu, kemudian menatapi punggung Bella yang kian menjauh seiring langkah kaki perempuan itu. Dalam hatinya sang Putri bertanya-tanya, bagaimana bisa gadis sebaik Isabella menghancurkan kehidupan Eleanor?--tapi meskipun berpikir begitu, pada kenyataannya Putri Mahkota akan mati karena gadis bangsawan itu. Dan Ellen tetap takut pada fakta tersebut. Wanita itu memutuskan untuk masuk, mencari keberadaan suaminya di kamar mereka. Bola mata karamel itu bergerak kesana-kemari, menyusuri seisi ruang tidur mereka dan berhenti pada pintu kamar mandi. Rungunya mendengar suara air mengalir, serta isak tangis tertahan yang sudah pasti berasal dari Ravi. Ellen memberanikan diri meraih gagang pintu, kemudian membukanya perlahan. “Ravi,” Ellen memanggil pelan, hampir berbisik. Perempuan itu menggigit bibir, tidak tahan dengan pemandangan semenyakitkan ini. Tadinya wanita itu mengira bahwa perasaannya pada Ravi tidak akan sedalam ini. Bahwa yang ia rasakan selama ini hanya karena kebersamaan mereka belaka, tapi begitu melihat sosok sang pangeran semenyedihkan ini Ellen langsung sadar. Kalau sebenarnya ia juga sudah jatuh terperosok pada pesona Putra Mahkota. “Ravi, tenanglah ….” Ellen masuk ke dalam, kemudian berjongkok di depan Ravi yang meringkuk di bawah pancuran air. Lelaki itu terisak, kemudian menarik Ellen ke dalam pelukannya. Ravi tidak mengucapkan apa-apa, akan tetapi terus terisak dalam dekapan wanita itu. Hening, mereka bergeming dalam waktu yang cukup lama. Suara air mengalir itu meredam isak tangis Putra Mahkota, dan Ellen cuma bisa menepuk-nepuk pelan punggung lebar pria itu. “Sudah ya, tidak apa-apa,” Ellen mengusap puncak kepala Ravi, kemudian berbisik di telinganya, “Semua akan baik-baik saja, Ravi, aku akan selalu di sini untukmu.” Ravi tidak menjawab, tapi isak tangisnya semakin keras. Tubuh lelaki itu bergetar sambil sesegukan. Sepanjang hidupnya, baru kali ini ia melihat seorang pria menangis, terlebih sosok itu adalah Ravilliam. Orang yang terkenal dingin dan punya tatapan sangat tajam. Hati Ellen mencelos, ini sama sekali bukan cinta bertepuk sebelah tangan seperti yang ia kira. Sama sekali bukan. Melainkan dua hati yang sudah saling terpaut satu sama lain entah sejak kapan. "Aku mengacaukannya Ell," Ravi berbisik, suaranya jadi parau. "Aku tidak bisa melindungi Ayahanda dan Ibunda. Aku tidak berdaya saat mereka bahkan menginjak harga diri penguasa negeri ini." Ellen masih mendengarkan, tangannya terus mengusap punggung Ravi lembut. "Aku tidak tahu apa saja yang terjadi disana, tahu-tahu kami di penjara dan dikurung dalam ruangan anti sihir. Tepat saat aku menerima suratmu kami melarikan diri." Ravi terus berbicara, "Karena melindungiku Ibunda jadi begini." Ravi terisak lagi, "Bagaimana bisa aku mewarisi tahta kalau selemah ini, Eleanor?" Ellen menarik napas, kemudian memeluk Ravi lebih erat. "Aku tidak tahu apakah ini bisa meringankan rasa bersalahmu atau tidak …." Perempuan itu membelai lembut wajah suaminya, "Setiap orang punya garis waktunya masing-masing. Seberapa panjang, seberapa jauh, seberapa cepat atau lambat itu berjalan berbeda-beda bagi setiap orang. Dan hal itu berlaku juga untukmu, Ravilliam." "Sekalipun kau adalah calon penguasa negeri ini, tapi kalau belum tiba saatnya untukmu mengalahkan Trevian, maka kegagalan akan terus datang. Sama seperti kejadian hari ini," Ellen menjeda sebentar, "akan tetapi semuanya pasti berlalu. Kekalahan ini tidak akan bertahan lama, aku yakin. Kau pasti bisa melakukan semuanya dengan baik, hanya saja  waktunya bukan sekarang." "Aku mempercayaimu sepenuhnya." Ellen tersenyum, kemudian mencium pipi Ravi sekilas, "Pangeranku ini pasti akan melakukan yang terbaik bagi bangsa ini. Jadi, jangan pernah menyerah." Ravi bergeming di tempatnya; sementara Ellen beranjak dari sana dan mematikan air pancuran yang mengucur membasahi keduanya. Wanita itu kemudian mengambil dua helai handuk, mengeringkan tubuhnya sendiri lalu membantu mengeringkan tubuh Ravi. Lelaki itu masih betah diam, dan Ellen hampir selesai mengeringkan tubuhnya.  "Ayo keluar, kita harus mengobati luka-lukamu." Wanita itu tersenyum hangat, "Ibunda Ratu tengah sakit, jangan sampai kau juga ikut sakit dan menambah beban pikiran Yang Mulia Raja." Ravi nampak mau tak mau, tapi akhirnya berdiri juga. Ucapan Ellen memang benar, setidaknya dia harus bisa mengurus dirinya sendiri. Minimal supaya tidak menambah beban pikiran Ayahanda Raja. "Ell, kau tahu, 'kan, kalau aku benar-benar mencintaimu?"  Ravi menarik Ellen yang hendak keluar ke dalam dekapannya. Wanita itu tersenyum kecil, kemudian membalik tubuhnya lalu menangkup wajah Putra Mahkota. Tungkai mungilnya kemudian berjinjit seraya mendekatkan wajahnya pada Ravi. Lantas detik berikutnya bibir mereka bertabrakan, saling mengecil dan bertaut erat. Mengisi kerinduan yang meluap-luap satu sama lain. ◇•◇•◇   Hai, hai, aku akhirnya bisa datang hari ini. sengaja, hehe. Aku update untuk kalian lho. Haha. Masih ada kan yah yang menunggu aku di lapak ini? Ada dong ya, ada lah, pasti lah wkwkwk. Betewe scene ini cheesy banget. Aku entah kenapa suka banget sih waktu nulis Ravi kayak agak lemah gitu lalu butuh Ellen sebagai kekuatannya #eaaa. Oh iya ada adegan pembuka antara Ravi sama Isabella. Gimana, gimana? Apakah kalian happy? Wkwk. Tetap ya, jangan lupa untuk TAP LOVE untuk mendukung Ellen dan Ravi. Juga kalian harus waspada dengan Isabella. Anak anjing itu bir kayaknya lucu, tapi bukan berarti enggak bisa menggigit kan? Haha. Semoga next Ravi sama Ellen makin lengket, uwu~ See you on the next chapter!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN