The past is the past for a reason.
That is where it is supposed to stay,
But some cannot let it go.
In their heads, it eats away
Until all their focus becomes
The person they used to be,
The mistakes they made in their life.
Oh, if only they could see
That you cannot change what happened,
No matter how hard you try,
No matter how much you think about it,
No matter how much you cry.
What happens in your lifetime
Happens for reasons unknown,
So you have to let the cards unfold.
Let your story be shown.
Don't get wrapped up in the negative.
Be happy with what you have been given.
Live for today not tomorrow.
Get up, get out, and start living,
Because the past is the past for a reason.
It's been, and now it is gone,
So stop trying to think of ways to fix it.
It's done, it's unchangeable; move on.
a poem by Donna
◇•◇•◇
Sampai beberapa hari kemudian kabar sakitnya Ratu Arielle tersebar hingga ke seluruh pelosok Orient. Hari itu Bella datang lagi ke istana untuk menjenguk Permaisuri. Ellen baru saja mengambilkan ramuan obat untuk Baginda Ratu saat Bella datang bersama ayahnya.
"Hormat kami, Yang Mulia Putri Mahkota." Bella dan ayahnya membungkuk hormat bersama-sama.
Ellen tersenyum simpul, kemudian mengangguk kecil, "Apa Anda memiliki janji temu dengan Ayahanda Raja?"
"Kami kemari untuk menjenguk Yang Mulia Ratu, Tuan Putri." Octavius menjawab lugas, "Mana tahu kami dapat meringankan beban Yang Mulia Raja."
Ellen sebenarnya agak sangsi dengan kedatangan Keluarga Saac, akan tetapi akan sangat tidak sopan kalau menolak mereka mentah-mentah.
"Siapa, Ell?"
Suara bariton Ravi menyapa rungu mereka bertiga. Octavius dan Isabella langsung memberi hormat pada Putra Mahkota. Sementara itu Ravi menyadari sesuatu, bahwa ia sudah berbuat salah pada wanita yang berdiri di sebelah Tuan Saac ini.
Bella menarik diri, ia mundur selangkah saat Putra Mahkota maju dan menyalami Ayahnya.
"Nona Saac, maafkan ketidaksopanan saya tempo hari." Ravi mengulurkan tangannya dan bersiap menjabat tangan Bella.
Ellen tersenyum puas saat Ravi mendadak meminta maaf pada Bella. Akan tetapi entah mengapa tetap ada ganjalan yang mengganggu di hatinya. Yaitu saat Ellen melihat Bella yang tersipu malu saat menyalami Ravi. Mungkin dia sedang cemburu, tapi tidak juga. Ellen tahu betul bahwa dibandingkan rasa cemburu, ia lebih takut kalau Ravilliam akan berpindah hatinya pada Isabella.
"Mari masuk, Ayahanda Raja berada di dalam." Ravi mengangguk kecil, kemudian tangannya meraih pinggang Ellen dan menggamit tangannya masuk.
Demi apapun, meski Ravi menggamit tangannya mesra, akan tetapi pikirkan Ellen tidak bisa lepas dari seorang Bella. Perempuan berparas super cantik itu pasalnya sukses membuat sang Putri Mahkota rendah diri. Dengan surai pirang yang diimpikan semua gadis bangsawan, ia benar-benar memesona.
"Hormat kami, Paduka Raja Damian Areez Orient. Damai negeri ini menyertaimu." Octavius membungkuk hormat, diikuti Bella.
Selain surai keemasannya, Ellen juga iri sekali pada kulit porselen Bella. Belum lagi bola matanya yang sejernih air di sungai Amoa, serta bibir tipis yang entah kenapa tetap terlihat sensual walaupun tidak penuh. Kalau Ravi ibarat mencuri ketampanan para dewa, maka Bella mungkin saja sudah mewarisi kecantikan dewi athena.
"Paduka Raja, jika Anda mengizinkan, bolehkah saya melihat keadaan Yang Mulia Ratu lebih dekat?" Isabella tiba-tiba saja mengajukan sebuah ide.
Ellen yang tengah menyuapi ramuan obat pada Ratu Arielle yang terbaring lemah sontak menoleh. Respon yang tak jauh berbeda juga ditunjukkan Ravi. Sebelah alis pria itu terangkat, tanda bahwa ia meragukan apa yang Bella usulkan.
"Putri semata wayang saya, Isabella, mempelajari secara khusus mengenai sihir penyembuh di Akademi Gerrard." Octavius berdeham, seolah paham dengan situasinya, "Dan kalau Paduka Raja tidak keberatan, bolehkah putri saya mencoba mengobati Yang Mulia Ratu?"
"Akan ada penghargaan yang pantas apabila putrimu dapat menyembuhkan Ratuku, Octavius." Raja Damian yang tengah berada dalam keputusasaan tidak bisa menolaknya.
Ellen tahu diri. Ia menyingkir dari sisi Ratu Arielle yang terbaring sakit, kemudian ia mundur ke belakang. Bella pun melangkah maju, mengambil tempat bekas Putri Mahkota di sebelah Permaisuri. Detik berikutnya gadis pucat itu membaca beberapa mantra, dan cahaya berpendar dari kedua tangannya.
Bella mengarahkan tangannya pada Yang Mulia Ratu. Dia melakukannya lagi, berulang-ulang. Sampai pada titik tertentu luka-luka di tubuh sang Ratu nampak menghilang perlahan. Dan tak lama kemudian Permaisuri pun membuka matanya.
"Ratuku!" Raja tersentak kaget, lantas memeluk Ratu Arielle yang baru tersadar dari sakitnya, "Astaga, Arielle, aku sangat mengkhawatirkanmu!"
Semua orang terkejut senang. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Paduka Raja dan Putra Mahkota. Mungkin cuma Ellen yang bimbang, tidak tahu harus sedih atau senang. Karena dengan ini keberadaan Bella akan semakin di perhitungkan.
"Nona Saac, sungguh, aku sangat berterima kasih pada kemampuan sihirmu yang luar biasa itu." Ravi menghampiri Bella, kemudian mengambil tangannya dan mengecup buku-buku jarinya.
Ellen menatap miris pemandangan di depannya. Ia masih ingat betul bahwa dulu Ravi juga melakukan hal yang sama padanya. Tepat saat mereka akan pergi untuk memberi salam pada Raja, kala senja hampir tiba di hari pertamanya menginjakkan kaki di Orient. Isabella Saac, apa yang seharusnya kulakukan padamu?
Sementara itu Octavius menyeringai dalam diam.
◇•◇•◇
Istana Sirius, tulisan ke 1589
Aku sudah tau kalau Isabella Saac adalah pemeran utamanya. Sejak awal, naskah ini ditulis seperti itu. Namun, entah mengapa rasanya aku jadi bodoh secara mendadak. Hanya karena melihat sikap Ravi yang melunak padanya, kepalaku langsung dipenuhi dengan pikiran macam-macam. Aneh sekali mengingat kemarin aku yang marah-marah karena Ravi terkesan tidak punya sopan santun. Lalu sekarang, saat ia memperbaiki hubungannya dengan Isabella dan bersikap layaknya seorang pria, aku malah kesal setelah mati. Kulihat sebuah senyum licik tersungging pada bibir Octavius. Dasar ular tua sialan!
Ratu Arielle entah bagaimana terkena serangan musuh. Seluruh orang Orient di anggap berkhianat dan mereka di kurung dalam penjara bawah tanah. Aku semakin tidak mengerti saja bagaimana seharusnya keadaan berjalan di Negeri Orient ini. Sayup sayup aku mendengar, alasannya adalah karena Putri Mahkota mempelajari ilmu sihir. Apa salahnya dengan itu? Toh, lumayan. Kalau aku bisa menguasai beberapa mantra, aku yakin bisa lepas dari hukuman mati Ravi.
Entah penulis naskah, atau memang jalan ceritanya yang aneh. Yonathan ikut pulang dan tampak diam sekali. Ia ditempatkan di Istana Antares dan segera dipulangkan. Beberapa kali aku mendapati lelaki itu menatapku lekat. Namun begitu aku tersadar dan menoleh biasanya ia langsung membuang muka. Aku tidak tahu apa alasannya, dan tidak mau tahu. Hidupku sudah mulai memusingkan. Padahal tujuanku cuma hidup santai lalu kabur dengan uang simpanan. Sepertinya itu semua cuma angan-angan sekarang.
Dengan bodohnya aku jatuh cinta pada Ravi, lalu terlibat sejauh ini dengan orang-orang Orient. Tidak terlalu sulit berperan sebagai Putri Mahkota, kehidupanku cenderung nyaman dan super enak. Aku yakin, bahkan jika aku mati di sini dan hidup kembali sebagai Eleanor Thyra di New York, lalu menjadi aktris papan atas … rasanya tetap tidak mungkin kalau aku mau menggantikan Kate Middleton di London. Ah, sebenarnya apa, sih, yang sedang aku lakukan?
Eleanor Thyra, setelah menjenguk Ratu.
◇•◇•◇
Hai, aku kembali~ akhirnya bisa menyapa kalian lagi haha. By the way, Ellen mulai galau tuh #uhuk. Udah ada interaksi antara Ravi sama Bella ya? Gimana, gimana? Apa udah muncul bibit-bibit kekesalah buat mereka? Hihi. Pokoknya jangan lupa untuk TAP LOVE untuk mendukung Ellen dan Ravi, ya. FAKE PRINCESS LOVE akan aku usahakan banget terbit setiap hari, jadi, yuk enggak usah pake mikir, langsung aja cuss baca. Haha. Baiklah aku terlalu banyak cuap-cuap. See you on the next chapter, dear~!